Antara Cinta dan Persahabatan # 37

0
134
views

Shofa memandangi Yusuf dengan tatapan syahdunya,
Yusuf yang menyadarinya membalasnya dengan senyuman tulus yang terukir dari bibir Yusuf.

“Kenapa memperhatikan aku seperti itu?”

Shofa mengalihkan pandangannya dari Yusuf, kini Shofa memperhatikan sungai yang tenang dari atas gondola itu.

“Shofa, jujur sebenarnya aku masih takut, berada diatas ini, kamu peganng deh tangan aku, dingin banget Fa! ”

Shofa melihat Yusuf dan memegang lengan Yusuf, benar-benar basah oleh keringat dingin yang mengucur dari tubuh Yusuf, Shofa menatap heran Yusuf, ” Kalau kamu masih takut, kenapa kamu mau ikut naik gondola ini, Suf? ”

terlihat kekhawatiran dari wajah Shofa, ” Coba berbalik! ” ucap Shofa lagi, yang ingin melihat kearah punggung Yusuf.

Yusuf tersenyum, ” Baju ku basah Fa.”

“Kenapa kamu lakukan ini Suf,? ”

“Mau tau kenapa? karena aku ingin melindungi dan menjaga kamu, aku harus hilangin rasa takut aku, ketika aku bersama kamu, aku merasa aman ketika bersama kamu, Fa, aku juga ingin kamu seperti aku, melawan rasa takut akan penyakit kamu, ketika bersama aku.”

Shofa tidak dapat berbicara apapun lagi, dalam hatinya menyimpan rasa kagum pada lelaki yang duduk dihadapannya.

“Habis ini udahan aja Suf, aku gak mau main lagi. ”

” Iya, kita pulang ya.”

Saat Shofa dan Yusuf turun, Dini dan Arif sudah menunggu ditepi sungai.

“Oh ya, aku masih mempunyai sesuatu nih buat kita berempat. ”

“Apa?” jawab ketiganya secara bersamaan.

Shofa tertawa, “Bisa kompak gitu.”

Shofa mengeluarkan 4 gelang, dari dalam tasnya,
“Aku bikin ini sendiri, buat kenang-kenangan kita, aku gak bisa kasih kalian apa-apa, seperti yang kalian berikan kepada aku, gelang ini aku rajut sendiri, di pake ya? ”

” Pakein!! ” ucap Arif pada Shofa.

” Wah, ga adil ini, Yusuf dibikinin Switter, kita gak Din.”

“Gw kan orang yang spesial bagi Shofa, ngiri aja lu. ”

” Bagus Fa, gw suka banget. ” ucap Dini.

” Aku ada juga koq, bikini kalian switter, tapi belum selesai, aku dulukan Yusuf, karena dia kan ulang tahun. ”

Hari sudah sore, keempat sahabat itu mengakhiri pertemuannya dengan berfoto-foto ria. Dan kini kembali kerumah masing-masing.

****

Sebelum pulang, Shofa dan Yusuf menyempatkan waktunya untuk sholat Ashar terlebih dahulu, karena takut gak keburu, karena kejebak macet kota.
Selesai Sholat, Shofa menunggu Yusuf diteras masjid, tidak berapa lama kemudian Yusuf datang menghampiri Shofa.

Gerimis masih menari bersama irama angin. Hanya suara jatuhnya bulir-bulir air yang menjadi pengiring antara Shofa dan Yusuf yang sedang duduk diteras masjid itu.

“Masih hujan, Suf. ” ucap Shofa.

” Aku parkir mobil agak jauh lagi, kamu tunggu disini ya, kamu pakai jaket aku nih. ” Yusuf berlari kecil kearah parkiran mobil, lalu membawa mobil masuk ke halaman masjid, ” Shofa masuk kedalam mobil, ” perintah Yusuf.

” Kamu basah Suf, kamu aneh.. Udah tau mau lari, malah kasih jaketnya ke aku. ”

” Iyah, aku takut kamu kedinginan Fa, lagian aku ada switter baru, aku mau ganti baju dulu, pakai switter yang kamu kasih tadi. ”

Saat Yusuf hendak membukan kaosnya, Shofa kaget, dan spontan menutup mata dengan kedua telapak tangannya, melihat tingkah Shofa, Yusuf hanya tertawa, seraya berkata, ” Aku gak telanjang Shofa, aku hanya membuka kaos luar aku, ngapain juga tutup mata.”

“Fa, aku juga punya sesuatu untuk kamu, di baca ya. ”
Yusuf memberikan satu novel berjudul The Hazel Wood.

” THE HAZEL WOOD” ucap Shofa ketika membaca sampul novel itu.

“Iya, bukunya bagus, tapi itu gak ada romansa-romansa percintaannya Fa, buku itu lebih menekankan cerita tentang bagaimana belajar untuk mencintai diri sendiri dan menerima diri sendiri dengan apa adanya. ”

Shofa tersenyum,” Makasih ya Suf. ”

****

Yusuf duduk terpaku menatap seraut wajah indah yang terselip dalam dompetnya. Senyum yang manis i selalu bisa menyejukkan hati Yusuf.

Hujan yang begitu deras sejak sore mengguyur bumi, suara gemuruh yang terkadang diselingi sambaran kilat pun tak kunjung mereda.

“Ngelihat dompet senyum-senyum sendiri, kenapa? ”

Yusuf kaget mendengar suara itu, dia langsung menoleh kearah suara itu, ” Papa”

“Shofa memang manis, baik, pintar, dan tegar, sampai bisa membuat anak papa seperti orang gila, senyum-senyum sendiri. ”

“Papa kayak ga pernah muda aja.” ucap Yusuf malu-malu.

“Ternyata seorang Shofa telah mampu merebut tiap detak dari jantung anak Papa, makanya belajar yang giat, dan segera nikahi dia.”

“Papa restui Yusuf dengan Shofa, Pa? ”

Papa Yusuf mengangguk, ” Gak ada alasan buat Papa untuk menolak pilihan anak papa satu-satunya ini. ”

Yusuf memeluk papanya,” Yusuf janji Pa, aku akan belajar dan akan selalu serius dalam study aku, demi masa depan aku, makasih Pa, atas dukungannya. ”

****

Selesai jam kuliah, Shofa membereskan buku-bukunya,
Shofa buru-buru hendak ketoko buku, sesampainya di toko buku, Shofa langsung menuju rak dimana buku yang dicari di pajangkan.

Shofa sibuk mencari buku yang diinginkannya, saat menemukan buku yang dia inginkan dan hendak mengambilnya “Gua juga menginginkan buku itu!! ” Shofa berbalik saat mendengar suara itu.

“Arif? ”

Shofa tidak menyadari kalau ada Arif dibelakangnya dan juga ingin membelikan buku yang sama.

“Sejak kapan ada disini? ”

” Sejak tadi Lu ada disini, sendiri aja nih, mana cowok Lu? ”

” Yusuf, lagi ke bengkel Rif. ”

” Dah selesai belum cari bukunya, ngopi yuk! ” ajak Arif.

****

” Praaannnk” Gelas yang digenggam Shofa jatuh kelantai.
Semua yang ada didalam Kafe itu melihat ke arah Shofa dan Arif.

“Fa, kamu baik-baik aja”

“Maaf Rif, aku bikin kamu malu”

“Apa sih kamu. ”

” Rif, kaki aku gak bisa digerakin, kaki aku dah berdarah kena pecahan gelas itu. ”

Arif melihat kearah bawah kaki Shofa, tampa pikir panjang Arif menggendong Shofa dan mendudukannya dikursi lain.
Wajah Shofa begitu pucat, Arif bergegas membayar minuman yang dipesan tadi, dan langsung kembali kepada Shofa, lalu membawa Shofa pulang.

Baca selanjutnya

Kembali ke # 36

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here