Antara Cinta dan Persahabatan # 35

0
170
views

Hari ini kuliah di jam pertama dan kedua di tiadakan, biasanya Shofa dan Yusuf duduk-duduk di taman sebuah Kafe yang didekatnya ada bendungannya, dan lokasinya tidak jauh dari kampus. Suasana yang sejuk, angin semilir tanpa polusi, pemandangan wajah air yang bergelombang kecil, gemericik air bendungan, mengalunkan irama alam yang merdu.

Lokasi yang cocok untuk mengerjakan tugas dan membaca buku.
Shofa menerima Satu pesan whatsapp dari Dini,

“Suf, Dini ngajak ketemuan ini. ”

Yusuf yang berdiri di tepi bendungan, mengacungkan jempol tanda setuju, saat mendengar ucapan Shofa.

“Dini udah balik dari liburannya ya, Fa?”

Shofa menganggukan kepalanya, “Aku kangen sama dia, sama Arif juga.”

“Ehm… Arif itu pacar Dini, Fa! ”

Shofa tertawa mendengar ucapan Yusuf, ” Aku tau itu, emangnya aku ga boleh kangen sama sahabat aku? ”

***

“Ya Allah sungguh perih penyakit yang kau titipkan pada hamba-Mu yang lemah ini” lirih Shofa, sebisa mungkin Shofa menahan rasa sakitnya agar terlihat baik didepan Yusuf.

“Are you going to tell me who is that?” tanya Zidan, yang menghampiri Shofa.

Shofa menoleh ke arah Zidan, Shofa tersenyum kecil pada Zidan, “Maksud kakak?”

Zidan duduk di sebelah Shofa, “Itu, cowok yang bawain elo kopi latte ini.” ucap Zidan, sambil menunjuk kopi yang dipegang Shofa.

“Oh, dia Yusuf namanya kak, kenapa? ”

Belum lagi Zidan menjawab, “Eh, ada kak Zidan, udah lama kak?” tanya Yusuf, yang datang kembali ke Shofa dengan membawa makanan ringan ditangannya.

Zidan hanya tersenyum melihat kedatangan Yusuf, lalu berdiri dan pergi begitu saja.

Yusuf memperhatikan Shofa yang sibuk dengan sedotan dibibirnya dan tidak begitu memperdulikan kepergian Zidan.

“Aku bakalah dapat saingan lagi nih. ”

Shofa melihat Yusuf, ” Maksud kamu? ”

” Sepertinya Zidan suka sama kamu Fa,”

“Terus? ” jawab Shofa, yang kini matanya sudah tertuju pada Yusuf.

“Ya aku cemburulah,”

“Itu masalah kamu, emang yang kamu lihat sikap aku sama kak Zidan tadi bagaimana? ”

Yusuf tidak langsung menjawab pertanyaan Shofa, dia melihat Shofa.

“Kenapa lihatin aku seperti itu? ”

Saat Shofa melihat Yusuf, Yusuf mengerlingkan matanya sebelah ke arah Shofa, Shofa membulatkan matanya.

” Dasar genit!! ” ucap Shofa, melihat tingkah Shofa, Yusuf tertawa geli, “Aku ingin segera menikahi mu, Gadisku.” ucap Yusuf pelan.

***

Saat hendak pulang menuju parkiran kampus, langit saat itu sudah sangat terlihat mendung, pertanda hujan akan segera turun, Shofa yang berjalan sendiri mempercepat langkahnya. Saat melangkah, entah mengapa Shofa merasakan langkahnya terasa berat dan kakinya sulit untuk di gerakkan, hingga pada akhirnya Shofa hampir terjatuh.

Namun tiba-tiba sebuah tangan menahan tubuh Shofa yang hampir terjatuh.

“Eh, Keong, Wajah lo kok pucat banget” ucap Rindu.

“Kak Rindu, ehm.. Aku baik-baik aja kok, Kak.”

“Baik-baik apa, muka lo dah kayak mayat hidup, lo mau kemana? Gw anterin nih. ”

“Jutek-jutek baik juga nih orang.” guman Shofa dalam hatinya.

“Woiii!! Keong, cepetan, mau kemana lo? ”

” Makasih kak, aku mau keparkiran, Yusuf nungguin aku disana.”

“Ya, udah!! Gw anterin. ” ucap Rindu seraya kembali berjalan sambil memegangi Shofa.

Namun rasa sakit itu kembali menyerang Shofa, yang pada akhirnya membuat Shofa hampir menjerit menahan sakit, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan akhirnya Shofa pun terjerembab ketanah.

” Yee.. malah pingsan dia. ” ucap Rindu kebingungan.

***

Perlahan-lahan Shofa membuka matanya, seberkas cahaya pun masuk melalui kornea matanya. Suasana ruangan yang sudah tak asing lagi bagi Shofa.
Shofa melihat Rindu dan Yusuf dengan matanya yang sembab.

” Kenapa mata kamu bengkak seperti itu? ”

” A… Aku, gak kenapa-kenapa. ” Yusuf keluar ruangan tempat Shofa terbaring. Rindu tersenyum mendengar jawaban Yusuf.

“Itu cowok lo ya, Keong!! ”

Shofa tersenyum kecil, ” Nama aku Shofa, kak, bye the way, makasih ya kak, dah nolongin aku”

Rindu tertawa, “Entah kenapa gw lebih senang manggil lo keong, maaf ya Fa,”

***

Dengan langkah yang masih gontai, Shofa berjalan di tuntun Yusuf, sebelumnya Shofa sudah mengatakan kepada Yusuf bahwa dirinya tidak ingin ibunya tau, jika penyakitnya tadi kambuh lagi, mengingat kondisi ibunya belakangan ini.

Yusuf, mengetuk pintu rumahnya, dan menarik nafas dalam-dalam dan bersiap-siap, mendapat omelan Papanya lagi, karena pulang sudah agak larut.

***

Baca selanjutnya

Kembali ke # 34

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here