Antara Cinta dan Persahabatan # 33

0
188
views

Yusuf membeku di tempatnya saat mendengar teriakan Shofa, dia melihat sekelilingnya dan menemukan sosok Shofa yang berdiri tidak jauh dari dirinya dengan wajah yang pucat serta darah segar yang mengalir dari hidung Shofa.

“Shofaaaa!!!! ” Yusuf terperanjat dari tidurnya, dia duduk menepi diranjangnya, ” Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah. ” ucapnya berulang kali.

Yusuf kembali bermimpi tentang Shofa, membuatnya semakin takut apa arti dibalik mimpi- mimpinya yang selalu berkaitan dengan darah.

Yusuf melirik jam dinding kamarnya, “Jam 02.00”, Yusuf bangun dari ranjangnya bermaksud hendak berwudhu dan sholat malam, saat baru mau memasuki kamar mandi, terdengar suara Tasya adik Shofa yang kecil menangis memanggil namanya, “Kak Yusuuuuf, om Musaaa, tolongin ibuuuu. ”

Yusuf berlari keluar kamar dan menuju kamar Shofa, Yusuf melihat Shofa sedang menangis disamping ibunya, “Kak, tolong bawa ibu” isak Tasya.

“Ibu kamu kenapa Fa, kamu tenang dulu ya sya,”

“Ibu pingsan, Hipertensi ibu kambuh, tolong aku Suf. ” ucap Shofa.

Papa Yusuf mencoba memeriksa ibu Shofa, dan mengecek tekanan darah ibu Shofa, ” 180/90, mba mikirin apa sampai setinggi itu tekanan darahnya” tanya Papa Yusuf.

“Gak ada mikirin apa-apa pak, ”

Shofa bangun dari tempatnya dan hendak mengambil air buat ibunya, dan “Praaannnkk” Gelas yang dipegang Shofa jatuh, “Tangan gak guna” Shofa menggerutui dirinya sendiri, Yusuf mendekatinya, dan memunguti pecahan- pecahan gelas itu, “Gak seharusnya kamu mengumpat diri kamu sendiri, aku ga suka kamu berkata seperti itu.”

Shofa hanya diam mendengar Yusuf berkata seperti itu kepadanya.

“Sekarang istirahat lah Fa, ibu kamu sudah gak apa- apa lagi”.

***

Masih dalam suasana liburan sekolah, setelah selesai mendaftar ulang Yusuf mengajak Shofa jalan- jalan, Yusuf mengajak Shofa ke Dufan.

“Kamu berani naik bianglala gak Fa? ”

“Berani, ayo kita naik, eit tunggu dulu, bukannya kamu takut akan ketinggian Suf. ”

“Aku dah sembuh dari Fobia itu, kamu lupa, kamu yang menyembuhkan aku. ”
Shofa melihat Yusuf, “Aku? Kapan?”

Yusuf tersenyum, “Saat kamu berniat bunuh diri, setelah kejadian itu aku tidak takut lagi akan ketinggian. ”

“Wah, jadi ada hikmahnya juga ya, waktu itu aku hampir bunuh diri. ”

Yusuf mengacak-acak rambut Shofa, ” Gak lucu tau,” mendengar jawaban Yusuf, Shofa hanya tersenyum, sembari membenari rambutnya dengan jarinya.

***

Hanya angin dari atas bianglala Dufan yang terdengar memecahkan keheningan di antara Yusuf dan Shofa. Yusuf menatap mata indah milik Shofa. Pandangan kasih sayang yang ditujukan kepada Shofa.

“Bismillah, Aku mencintaimu Fa, sanggupkah kamu menunggu aku? Sampai kita dapat bersama” suara lirih Yusuf yang terdengar memecahkan kebeningan malam itu.

Senyum terlukis di wajahnya Shofa, Shofa tidak dapat membohongi dirinya lagi, betapa bahagianya dia mendengar apa yang dikatakan Yusuf kepadanya.

“Aku tidak tau Suf, aku tidak tau apa yang harus aku katakan, untuk saat ini, ya.. Aku sayang kamu, tapi aku takut ketika kamu sudah berharap lebih kepadaku, penyakit itu… ” Yusuf memotong ucapan Shofa yang belum dia ungkapkan.

” Sudah sering aku katakan, aku tidak perduli dengan penyakit kamu, kamu pasti sembuh!! ”

Shofa memandang Yusuf dengan tatapan sendunya.

“Jika ada yang lebih indah dari kata benci, aku ingin membencimu setulusnya Suf. ”

Yusuf memeluk Shofa, ” Aku tau, kamu tidak akan pernah bisa membenciku Fa.”

“Kita pulang” ucap Shofa.

***

Pekatnya malam yang dinginnya menusuk hingga ke jantung, membuat Yusuf sulit memejamkan matanya.
Kembali Yusuf terbayang akan mimpi-mimpi buruknya, yang membuat dia takut untuk tidur.

Baca selanjutnya

Kembali ke # 32

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here