Antara Cinta dan Persahabatan # 22

0
277
views

Dikamarnya Shofa tidak langsung tidur, karena dirinya tidak bisa tidur, Shofa berjalan menuju Gazebo yang terbuat dari bambu yang ada dibelakang rumah Yusuf,
Shofa mengambil Gitar miliknya dan membawanya ke Gazebo tersebut,
Dengan cekatan tangan Shofa memetik Gitar tua peninggalan Ayahnya yang diberikan kepada Shofa.
Sambil memetik Gitar itu dengan suaranya yang pelan dia pun menyanyikan lagu yang sering ia dengar setelah ayah nya meninggal.

Ku berjalan terus tanpa henti
Dan dia pun kini telah pergi
Ku berdoa di tengah
Indahnya dunia
Ku berdoa untuk dia yang kurindukan

Ku mohon untuk tetap tinggal
Dan jangan engkau pergi lagi
Berselimut di tengah dingin dunia
Berselimut dengan dia yang kurindukan

Would it be nice to hold you ..
Would it be nice to take you home..
Would it be nice to kiss you

Mendengar suara gitar yang dipetikan Shofa, Yusuf yang telah selesai mengajarkan Tasya belajar, menghampiri Shofa.
Dan Yusuf langsung mengikuti Shofa menyanyi.

Jangan pernah lupakan aku
Jangan hilangkan diriku
Jangan pernah lupakan aku
Jangan hilangkan diriku
Jangan pernah lupakan aku
Jangan pergi dari aku

***

Shofa menghentikan petikan jarinya pada Gitarnya itu, lalu Yusuf langsung bertanya pada Shofa.

“Kenapa belum tidur, tadi aku sudah nyuruh kamu tidur loh”
“Aku belum ngantuk Suf, tiba- tiba aku ingat Ayah aku”
“Kalo kamu ingat Ayah kamu, kamu doakan ayah kamu fa, ”
” Iya”
“Aku gak mau kamu sedih Fa, sini gitarnya, aku main kamu yang nyanyi ya? ”
” Mau nyanyi apa? Ehm kamu masih ingat ga suf lagu jadul Richard Marx yang kamu suka nyanyikan dulu”
“Kamu aja masih aku ingat sampe sekarang, apalagi lagu favorit kita, mana mungkin aku lupa semua kesukaan dari orang yang aku sayang”

Wajah Shofa memerah, melihat wajah Shofa yang memerah Yusuf bermaksud hendak menggoda Shofa.

“tumben malu- malu, biasanya langsung ngegas, nyubit”
“Aku bosan nyubit kamu, mana mungkin aku terus- terusan kasar dan marah sama orang yang benar- benar sayang sama aku”

Mendengar ucapan Shofa, mendadak Yusuf menjadi terbatuk- batuk,
Wajah Yusuf pun menjadi merah.
“eh busyet fa, kamu belajar ngegombal dari siapa, kamu gak lagi kerasukan kan fa”
“Iya, aku kerasukan, kerasukan Cinta kamu”
“Fa, kamu jangan bikin aku ngerih deh Fa, ini beneran kamu kan? ”
” Jadi nyanyiin lagu nya ngga? ”
Yusuf menggaruk kepala nya yang sama sekali tidak gatal,
” i.. Iya ja.. Di… Duh aku koq gugup gini jadinya, ”
” Ya udah, mainkan donk Yusuf sayang” ucap Shofa.

sebenarnya Shofa juga merasa geli sendiri dia ngegodain Yusuf seperti itu, dia berusaha menahan tawa nya yang hampir meledak karena melihat Yusuf yang ketakutan melihat akan tingkahnya yang ga biasa.
Beberapa kali Yusuf salah memetik kunci gitar yang dimainkan, karena ditatap Shofa.

“Sumpah Fa, kamu ga usah genit gitu deh, aku ngerih, kaya bukan kamu, aku lebih suka kamu ngomel- ngomel deh.. Marah- marah, aku lebih ikhlas Fa”
“Siniin Gitarnya, aku aja yang main, kamu yang nyanyiin, baru di godain kaya gitu, dah gugup gitu”
” aku senang sih, tapi aku takut, sumpah bukan kaya kamuFa, pengen aku siram deh lu, biar sadar”
“Hahah, emang berani siram alu, amu ceburin kamu kekolam ikan itu ”
” Nah, ini baru Shofa, akhirnya kamu kembali Fa”
“Aku yang gila apa kamu si Suf, jadi nyanyi ga?? ”
” Iya iya, habis ini kamu harus tidur ya Fa, ”
” iya, yusuf” ucap Shofa dengan lembutnya.
“Dih dia kumat lagi” Shofa tersenyum mendengar ucapan Yusuf.

Shofa memetik Gitarnya menyanyikan lagu Richard Marx yang berjudul
Right Here Waiting For You itu.
Jari- jari Shofa mulai memetik Gitar itu, dia pun dengan pelan mengikuti Yusuf yang bernyanyi untuk nya.

” langsung Reff nya aja Fa” ucap Yusuf.

Wherever you go
Whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes
Or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Yusuf berhenti menyanyikan lagu itu dan berkata,
“Lagu itu sesuai kan Fa dengan janji aku sama kamu dulu, ”

Shofa mengentikan permainannya,
” Kenapa kamu berbuat itu padaku Suf, kenapa sih kamu ga pernah benci aku, aku selalu kasar sama kamu, aku udah jahat sama kamu, tapi kenapa kamu… ”
” Karena aku Cinta kamu, ” ucap Yusuf memotong pembicaraan Shofa yang belum selesai ia ucapkan.
” aku belum. Selesai ngomong Suf”
“Ga perlu kamu lanjutin, kamu itu hanya manusia, kamu itu ga jahat, tapi kamu itu keras, ibarat nya Batu, Sekeras-kerasnya batu bila tertimpa hujan akan retak juga, begitu juga dengan hati kamu Fa, aku akan hujani terus dengan Kasih sayang, dan pada akhirnya kamu pasti akan luluh juga”

“Sekarang pun kamu udah berhasil meluluhkan Batu itu Suf, dan Jangan tanya mengapa, Aku pun tak tahu jika pada akhirnya akan jatuh hati padamu”ucap Shofa dalam hatinya sambil menatap Yusuf.

“Kamu jangan lihatin aku seperti itu donk Fa, Tidur sana, istirahat Fa, ”
” Kamu juga ya Suf, karena aku gak mau kamu ikut- ikutan jadi sakit, karena aku takut, kamu ga bisa jagain aku”
“Iya, aku juga udah ngantuk, kamu gak perlu takut Fa”

Akhirnya Shofa dan Yusuf meninggalkan gazebo itu, dan kembali kekamar masing- masing.

***

” Fa, Aku belajar arti sebuah kesetiaan dari pengkhianatanmu dan Aku belajar arti kejujuran dari kebohonganmu dan Tak banyak yang dapat kulakukan tuh mempertahankan cinta sejati ini, hanya kesetiaan dan ketulusan yang kupunya untuk kamu” ucap Yusuf dalam hatinya yang kini diapun tidak bisa tidur, masih teringat akan kejadian di Gazebo tadi yang membuat dia senyum- senyum sendiri akan tingkah Shofa.

Baca selanjutnya

Kembali ke # 21

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here