Antara Cinta dan Persahabatan # 15

0
70
views

Bagian lima belas


sesaat sebelum mereka kembali keruangan Dokter Musa,

“fa, sekali lagi, aku mohon.. Jangan pernah lakukan hal gila ini lagi ya, aku mohon.. Aku ga tau apa jadinya jika Arif tadi tidak menemui kamu, aku yakin kamu kuat fa, bener kata Dini, kita ada, kita sahabat kamu, aku mohon fa” ucap Yusuf sambil mengenggam tangan Shofa.
Shofa hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
“ya sudah, ayo kita kembali kesana” ucap Arif.
“tunggu suf, rif, din, maafin aku, makasih ya rif, aku mohon pada kalian hal tadi jangan sampai ibu aku tau, aku janji aku tidak akan melakukan hal itu lagi, aku janji”
“iya, aku janji tidak akan memberitahukan hal ini pada ibu kamu” ucap Yusuf dan diikuti anggukan oleh Dini dan Arif. Merekapun kembali keruangan dokter Musa.

Sesampainya didalam ruangan dokter Musa, Shofa langsung memeluk ibunya yang masih menunggunya kembali.

“Maafkan Shofa ibu, Shofa banyak nyusahin ibu” ucapnya sambil menangis.
“gak nak, kamu gak pernah nyusahin ibu sayang, kamu yang sabar ya”
Dini pun meneteskan airmatanya melihat Shofa dan ibunya, lalu keluar dari ruangan dokter Musa. Lalu Arif pun menyusul Dini.

***

“kenapa keluar? ” tanya Arif.
Dini cepat- cepat menghapus air matanya ketika melihat Arif menghampirinya.
” kenapa nangis? ”
” aku gak tega lihat Shofa rif, aku gak pernah lihat dia sehancur itu perasaannya, aku gak pernah lihat dia menangis seperti itu, apa yang harus kita lakukan untuk Shofa biar dy kembali seperti dulu”
“aku memang belum lama mengenal dia, tapi aku kagum sama dia Din, yang aku tau dia anak yang kuat, kita sebagai sahabatnya harus tetap mendukung dan selalu ada untuknya Din, karena itu yang dibutuhkan Shofa, dukungan yang kuat dari orang- orang terdekatnya”
“dan aku juga kagum sama persahabatan kamu dan Shofa, meskipun kalian mencintai orang yang sama, tapi kalian bisa mengalahkan ego kalian masing- masing, terutama kamu din, kamu bisa dengan lapang dada menerima kenyataan yang sebenarnya, sungguh persahabatan yang luar biasa. ”
” aku mengenal Shofa dari Smp suf, cukup banyak kenangan kita, keluarga aku berhutang budi pada keluarga Shofa, terutama Ayahnya, ayah Shofa pernah mendonorkan ginjalnya untuk papaku rif, hingga ayahku berhasil diselamatkan, tapi Ayah Shofa yang mengalami pendarahaan hebat setelah operasi itu, sampai Ayah shofa kehilangan nyawanya”
Arif merangkul punggung Dini. ” kamu gak usah ingat kejadian itu lagi Din, ayah aku meninggal itu sudah ketetapanNya, jangan pernah berpikir itu hutang budi, toh keluarga kamu juga udah banyak membantu aku dan ibu aku,” ucap Shofa yang tiba- tiba menghampiri Dini bersama Yusuf.
“itu belum sebanding fa, dengan apa yang ayah kamu lakukan untuk papa aku”
“cukup Din, kamu sahabat aku kan? Stop mengingat kejadian itu lagi ya? ”
” aku bukan sahabat kamu fa”
Shofa terdiam dan menatap dini “ma… Maksud kamu din?” Shofa heran, begitu juga dengan Arif dan Yusuf yang mendengar Ucapan Dini.
“iya, aku bukan lagi sahabat kamu fa, aku saudara kamu,” ucap Dini yang langsung dipeluk Shofa.
Melihat itu Arif dan Yusuf hanya saling pandang dan tersenyum.
“semoga kita terus begini ya, sampai nanti kita masing- masing menikah, dan mempunyai anak, persaudaraan kita harus tetap seperti ini” ucap Yusuf dan diikuti anggukan oleh Dini dan Arif.

***

Sekolah
“aku pokoknya gak mau tau, Shofa harus ajarin aku, kita harus tetap. Belajar kelompok” ucap dini.
“iya.. Iya nanti kita belajar bareng semuanya” ucap Shofa.
“whaaaat??? Beneran fa.. Berarti kamu mau kan jika ada Yusuf juga, mau ya fa.. Mau” paksa Dini manja.
“mau nggak ya.. Iya boleh”
“yesss, makasih shofa sayang” ucap Dini lalu memeluk Shofa.
“Din.. Pelan- pelan, hati- hati loh, Shofa lagi minum itu, takut kesedak gua” ucap Arif.
“ya Tuhan… Astaghfirullah… Maaf fa”
“udah gk apa-apa”
“hati- hati donk din” ucap Yusuf.
“udah-udah, jadi mulai kapan nih kita belajarnya, selagi kita masih bisa belajar bersama”
“kamu ngomong apa sih fa, gak usah yang aneh-aneh” ucap Yusuf.
“loh, bener kan? Nanti kalau kita udah masing-masing kuliah dikejuruan masing- masing apa masih bisa belajar bersama, nggak kan? ”
” aku ikut kejuruan yang kamu ambil fa” ucap Dini, Arif, dan Yusuf bersamaan.
“apaan sih kalian, ga lucu tau, gw gak kuliah, lagian pada aneh, masa pada ngekorin aku, ”
“aku ga jadi ambil tehnik fa” ucap Yusuf.
“kenapa? Bukan kah kamu ingin itu suf” tanya Dini.
“aku mau ambik kedokteran, demi Shofa”
“wow, ide bagus, “ucap Dini.
” suf, itu bukan cita- cita kamu kan? Aku tau kamu ingin menjadi seorang arsitek, kenapa berubah” tanya Shofa.
“udah aku jawab fa, demi kamu, cukup ga perlu penjelasan panjang, demi kamu fa”

Bel sekolahpun berbunyi, murid- murid berhamburan keluar kelas,
Saat Shofa berjalan, tiba- tiba langkahnya terhenti dan “brrruuuuuukkkk” shofa terjerembap kelantai sekolahnya.
“shofaaaaaa” pekik Yusuf yang kaget melihat Shofa terjatuh.
Yusuf yang melihat Shofa terjatuh, langsung membantu Shofa berdiri,
“kita ke uks dulu fa”
Sambil mengobati luka dikening Shofa, yusuf bertanya pada Shofa.
“kenapa bisa jatuh? Kening kamu berdarah ini,””
“kaki ku ga bisa digerakan tiba-tiba suf, dan serasa ada yang ngedorong aku, dan jatuh begitu aja suf”
“oh ya fa, hampir aku lupa, tadi papaku pesan, pulang sekolah aku disuruh bawa kamu kerumah”
“kenapa? ”
” aku gak tau Shofa, papa hanya menyuruh seperti itu”

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian empat belas

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here