Antara Cinta dan Persahabatan # 14

0
54
views

Bagian empat belas


Akhirnya Dini dan Yusuf kembali ketenda, sesampainya disana Dini langsung memeluk Shofa, dan menangis dipelukan Shofa.
“Din..kamu kenapa, kamu gak apa- apakan? ”
“nggak, gua gak apa- apa, aku mau minta maaf sama kamu fa, aku terlalu emosi, maafin aku ya”
“sama- sama din, aku juga minta maaf sama kamu ya” Shofa belum mengetahui kalau Dini sudah mengetahui semuanya dari Yusuf tentang hubungannya dengan Yusuf.
“kamu udah baikan sama Yusuf kan din? ” tanya Shofa pada Dini yang lagi sibuk berberes.
Dini tersenyum manis pada Shofa ” udah, Yusuf udah menceritakan semuanya”

Kini anak- anak sudah siap untuk segera berangkat pulang, Yusuf yang masih khawatir dengan keadaan Shofa apakah akan sanggup berjalan keluar dari tempat perkemehan menuju bus terparkir langsung menghampiri Shofa.

“kalian sudah selesai Din, Fa”tanya Yusuf.
“sudah” jawab Dini.
“oh ya Rif, aku minta tolong kamu bawakan sebagian barang- barang Shofa ya, ga mungkin Shofa bawa barangnya sendiri keadaan dia masih ga memungkinkan”
“siap tuan putri Dini, aku siap membantu kamu dan Shofa, disuruh ngegendong Shofa juga aku rela” ucap Arif yang juga ada bersama Yusuf dan Dini.
“Enggak boleh!!! ” jawab Dini dan Yusuf bersamaan.
“kalian kenapa sih, bisa kompak gitu ngomongnya” ucap Arif sambil tertawa.

“Shofa, kamu bagaimana, sanggupkah jalan kedepan? ” tanya pak Ilham pada Shofa.
” in syaa Allah sanggup pak”
“kalau kamu gak sanggup, minta tolong cepat ya fa, bapak masih khawatirkan keadaan kamu”
“kamu aku gendong aja fa” ucap Yusuf.
“aku sanggup jalan suf, ” jawab Shofa
” ga usah bandel deh fa, biar kamu digendong Yusuf, belum apa- apa aja muka lo udah pucetnya minta ampun gitu”
“gak, ini mungkin karena aku gak pake bedak din, aku sanggup jalan koq”
“ya sudah Din, susah ngomong sama orang keras kepala” ucap Yusuf.

Akhirnya mereka pun berjalan menuju tempat bis terparkir,
“lihat tuh Shofa, gua ga tega lihat dia suf” ucap Arif.
“mau bagaimana lagi, anaknya ga mau dibantuin”
“paksa.. “bisik Arif.
“ya biarlah, kalo dy pingsan lagi tinggal angkat aja”

sampailah mereka ditempat bis terparkir, saat mau menaiki bis Shofa hapir terjatuh, namun dengan cepat ditangkap pak Ilham yang kebetulan berada dibelakang Shofa.
“kamu hati- hati donk Shofa”
“i… Iya pak, maaf, makasih udah nolongin” jawab Shofa terbata- bata.

Didalam bis menuju kota,
“rif, lu duduk sama gua sini, biar Yusuf sama Shofa” ucap Dini.
“eh.. Ga salah denger gua ini” jawab arif.
“udah cepat buruan… Keburu Shofa naik tuh”
“ah.. Bilang aja lu mau deket- deket gua”
“his… Geer lu”
Yusuf yang melihat Dini dan Arif hanya bisa tersenyum.
“kamu duduk dekat jendela aja fa” ucap Yusuf pada Shofa saat baru menaiki bis bersama pak ilham.
“badan kamu masih panas banget gini, ga turun- turun dari kemaren, sampai disekolah kita langsung kedokter ya”
“ga usah suf, besok juga dah sehat koq”
“terserah kamu lah fa, aku heran kenapa untuk diri kamu sendiri juga masih keras kepala seperti ini”
Shofa hanya diam, lalu dia menyenderkan kepalanya pada jendela bis tersebut, melihat itu yusuf membenarkan posisi tidur Shofa menyender pada bahunya.
“Rif, lihat tuh, yusuf romantis banget ya sama Shofa” ucap Dini.
“haaa?? Lu gak cemburu din? ” tanya Arif.
” gua udah tau semuanya, gua sadar Cinta itu gak bisa dipaksakan”
“eh lu yakin din? ”
” iya lah, semoga gua mendapatkan lelaki seperti Yusuf”
“aamiin” ucap Arif.

***

Sesampainya disekolah, semua anak- anak pada turun dari bis, tinggal Shofa, Yusuf, Arif dan Dini, saat hendak turun Yusuf membangunkan Shofa, namun Shofa tidak bangun, Yusuf merasa bajunya basah dan melihatnya “Darah” ucapnya.
“Din, rif, bantu gua, Shofa koq banyak ngeluarin darah dihidungnya” ucap Yusuf.
“kenapa, kita bawa Shofa kerumah sakit sekarang, gua panasin Mobil dulu ya suf, kamu bantuin Yusuf din” ucap Arif yang panik lalu lari menuju mobilnya.
“kamu tolong bawa tas Shofa ya Din, biar aku bawa turun dia”
Dini pun mengangguk..Shofa pun langsung dibawa kerumah sakit.

***

Tampak Yusuf mondar- mandir diruangan periksa dokter,
“duduk dulu suf, “ucap Arif
“aku telp ibunya Shofa dulu ya, “ucap Dini.
Dokter keluar dari ruangan periksa, ” pa, bagaimana Shofa fa” tanya Yusuf pada Dokter itu yang kebetulan papanya.
“Shofa harus segera cek laboratorium, dan CT scan pada bagian kepalanya”
“lakuin pa, tolong Shofa fa, sekarang Shofa bagaimana fa”
Tidak berapa lama ibu Shofa datang, dan langsung menemui Yusuf dan Dini.
“nak Yusuf, Dini, kenapa ini, ada apa dengan Shofa”
“tante tenang ya, Shofa lagi diperiksa papa didalam”
“kenapa Shofa bisa seperti ini? ”

Yusuf menceritakan kepada ibu Shofa tentang kecelakaan yang dialami Shofa sewaktu diperkemahan.

“Ya Allah.. Shofa.. Kamu kenapa seperti ini” ibu Shofa menangis.
Tidak berapa lama papa Yusuf keluar, dan membawa Shofa kepada ibunya,
“kita bicarakan diruangan saya saja ya mba, Shofa ikut om juga, yusuf juga boleh ikut” ucap Papa Yusuf.
“mba, saya mau tanya Shofa apa pernah jatuh waktu kecil? ”
“pernah pak, waktu Shofa berumur 9 tahun Shofa pernah terjatuh dan mengalami kebocoran dikepalanya sehingga harus dijahit”
“Bagaimana saya harus mengatakan ini ya, tapi saya akan cek ulang lagi biar mendapat kepastian yang jelas tentang penyakit Shofa”
“emang Shofa sakit apa om? “tanya Shofa.
” ataxia”
“pa.. Pasti papa salah, ga mungkin Shofa mempunyai penyakit langkah itu” ucap Yusuf.

Air mata shofa mulai membasahi pipinya, ibu Shofa yang belum mengerti apa maksud dari ayah Yusuf menanyakan kembali.

“ataxia itu pak”tanya ibu Shofa.
“ataxia itu penyakit yang menyerang otak kecil dan tulang belakang dan menyebabkan gangguan pada saraf motorik pada Shofa, hal ini akan membuat Shofa akan mengalami Pergerakan terhambat bisa jadi tiba-tiba jatuh tanpa sebab, tidak bisa menjaga keseimbangannya, dan bisa menyebab kan kelmpuhan tiba- tiba, dan Shofa kalau minum atau makan harus hati- hati ya, jangan sampe tersedak, ini sangat bahaya jika Shofa sampai tersedak”
“ini pasti salah, om pasti salah memeriksa Shofa, kaya dini yang juga salah divonis dokter, Shofa ga mau.. Shofa ga mau sakit bu” Shofa menangis dipelukan ibunya, yusuf yang mendengar ucapan Shofa pun tak terasa airmatanya menetes.
“suf, bilang sama ayah kamu, kalau om Musa salah, ayah kamu salah”

Shofa berlari keluar dari ruangan papanya Yusuf, melewati kedua temannya, Dini dan Arif juga tidak dihiraukannya saat dirinya dipanggil.

“kejar Shofa rif” ucap Yusuf yang lari mengejar Shofa.
“Shofa, kamu dimana fa… “teriak Yusuf.

Shofa berlari keatas gedung rumah sakit, Arif dapat menemuinya, dengan cepat Arif menelpon Yusuf dan Dini.
Shofa berdiri tepat diujung gedung berlantai 15 itu, Arif mencoba mendekati Shofa, ” fa kamu mau apa”
“pergi rif, aku lompat nih”
” kamu kenapa? Fa kamu jangan gila fa”
“pergi aku bilang”

Pandangan Shofa sudah mulai goyang, tubunya serasa ringan dan siap untuk melompat kebawah. Saat tubuh Shofa sudah melemah dan hampir terlempar kebawah dengan cepat Arif dan Yusuf menarik lengan Shofa.

“Shofaaaaaaaa” Yusuf dan Arif teriak bersamaaan, Dini yang melihat kejadian itu hanya bisa bengong dan seakan gak percaya Shofa melakukan hal senekat itu.

“pegang yang kuat Suf, aku akan coba menarik dia”
“lepas.. Biar aku mati, lepas rif… ” Shofa meronta agar Arif melepaskannya.
“gak.. Lu jangan gila, lu gak boleh kaya gini” ucap Arif.
Sesaat Yusuf dan Arif berhasil menarik Shofa keatas. Yusuf menarik nafas nya lega, dan Yusuf masih belum dapat berkata apa- apa, hanya bisa menatap tajam Shofa, dan shofa masih menangis.
“bodoh… Kenapa kamu selamatin aku, kenapa gak biarkan aku jatuh, aku udah gak ada gunanya lagi hidup”
“kamu yang bodoh, “bentak Arif.
“kamu pikir kamu aja yang punya masalah hidup fa, kamu pikir cuma kamu aja yang punya penyakit berbahaya itu, mana Shofa yang aku kenal dulu, mana shofa yang kuat, mana Shofa yang pantang menyerah, Mana!!!” ucap Yusuf.
“kamu jangan lakuin hal ini lagi fa, please aku mohon”ucap Arif.

Dini mendekati Shofa, “PLAAAAAAKK” satu tamparan mendarat dipipi Shofa oleh Dini.
“Diiiiinnnn” ucap Yusuf.
“kenapa? Kamu mau marah aku gampar Shofa suf? Kamu fa mau bunuh diri kan, lompat sana, lompat lagi, biar ibu kamu semakin sedih, melihat anak kebanggaannya mati konyol, gua gak nyangka punya sahabat yang lemah imannya seperti lu , sana lompat fa, gua akan ngelarang Arif dan Yusuf untuk nolongin lu”
Shofa hanya bisa menangis, lalu dini berjongkok dan memeluk Shofa.
“maafin gua fa, gua khilaf, gua gak suka lu kaya gini, apa gunanya kita sahabat kamu, ada aku, ada Yusuf, ada Arif, kamu gak sendiri fa, ada ibu dan adik- adik kamu yang sayang sama kamu, kamu mikir ga bagaimana nasib mereka kalau kamu tidak berhasil diselamatkan Arif dan Yusuf, jangan lakukan hal gila ini lagi fa, gua sayang lu,” ucap Dini.
“Sekarang kita kembali kedalam ya, ibu kamu nunggu itu,” ucap Yusuf.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian tiga belas

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here