Annisa #26

0
716
views

Aku mematung mendengar perkataan ayah, selama ini aku kira ayah ingin aku kembali pada Yusuf dan tetap menjadi menantunya. Bukannya aku masih berharap tapi ayah selama ini tidak pernah menyuruhku melupakan Yusuf, hanya kata maaf yang selalu ayah ucapkan atas apa yang Yusuf lakukan padaku.

“Nak…. Kau berhak bahagia”

“Maksud ayah?”

“Nak maafkan ayah nak” kulihat bulir air mata jatuh di sudut mata ayah.

“Ada apa ayah?ayah kenapa?”aku duduk didepan ayah sambil menggenggam tangan ayah,air mataku menetes melihat wajah ayah.

“Nak sebenarnya ayah sangat berharap kau kembali pada Yusuf dan tetap menjadi menantu ayah lagi, karna itu ayah memundurkan rencana pernikahan Yusuf dan Mira . Tapi nak ayah mengerti memang sudah saatnya ayah merelakanmu menjadi menantu ayah, ayah bahagia kau tetap menganggap ayah adalah ayahmu. Oleh karna itu nak, carilah kebahagianmu dan ayah tau kau tidak akan bahagia jika kembali dengan Yusuf. Ayah berhak mengatakn ini karna kau anakku dan aku mau anakku bahagia”

“Ayah….”ku tatap sedih pada ayah

“Annisa….Annisa” Yusuf mulai berteriak kembali,ayah mulai tak sabar akhirnya ayah ke luar.

Ayah tergesa keluar rumah,aku terpaku karna keterjutanku mendengar permintaan ayah.

“Annisa…”ummi dan bibi Salma menghampiriku

“Nak, bagaimana ini?sebaiknya kau jangan keluar biar mereka yang menghadapi Yusuf, ini tak baik untukmu dan kandunganmu jika stress lagi nak”kata bibi Salma

“Mbok minah….Tolong ambilkan Annisa air gula hangat agar tenang”perintah ummi

Beberapa saat mbok minah datang dan memberikan air gula. Aki meminumnya dan mulai mengusap air mataku.

“Ummi…. Annisa akan menghadapi ummi”

“Tapi Annisa” sahut ummi

“Nak jangan” bibi Salma berkomentar.

“Ummi dan bibi tenanglah,sekarang Annisa gak akan goyah dan lemah,Annisa kuat kok. Dan tolong ummi,bibi dan Nia jangan keluar apapun yang terjadi”

“Tapi kak” Nia hendak protes

“Tolonglah” aku meyakinkan mereka dan mereka mengangguk

Aku keluar dari rumah dengan tenang dan mantap, kulihat ayah dan Yusuf berdebat. Disana juga ada Fitri yang sudah geram sedang Rian dan Amar hanya menunduk melihat perdebatan Yusuf dan ayahnya walau itu bukan layaknya perdebatan dengan suara yang tinggi sekali tapi terlihat mereka berdebat seolah Yusuf tidak bisa menerima apa yang dikatakan dan jelaskan oleh ayah tapi dia tak bisa mengeluarkan amarahnya pada ayah.

Yusuf berhenti menjawab tiap perkataan ayah dan melihat kearahku yang datang, ada sedikit ketakutan dengan apa yang dirasakan hati ini karna tatapan Yusuf ke arahku tapi aku akan mulai mencoba kuatkan hati sekeras batu.

“assalamualaikum Yusuf”

“Waalaikum salam Annisa”

“Ada apa ini Yusuf?”

“Aku ingin tahu ada apa ini kenapa semua orang kesini termasuk ayah dan Nia?”

“Hanya itu?” Aku menatapnya tak percaya tapi Yusuf hanya mengangguk “lalu kenapa kau membuat keributan jika hanya ingin tahu mengenai itu?”

“Aku hanya marah karna mereka bisa masuk sedang aku tak pernah kau beri kesempatan masuk”

“Aku memanggil mereka ”

“Bolehkan aku masuk Annisa bersama mereka?”

“Masuk?disini ada Amar,kau lihat Yusuf” aku menunjuk kearah Amar “dia selingkuhanku kan katamu?”

“Maaf Annisa aku tau aku salah oleh karna itu aku mau kita kembali”

“Maksudmu Yusuf” aku mencoba tenang dan memendam amarah yang mulai tersulut

“Aku ingin kita bersama,aku minta maaf karna kau sampai keguguran,maaf karna aku anak kita meninggal” Yusuf tertunduk

“Yusuf apa maksudmu ha?” Amar mulai bersuara, semua mulai kaget takut Amar memberitahu Yusuf bahwa aku tidak keguguran, aku memberi isyarat pada Fitri untuk menenangkan Amar

“Aku tahu aku gegabah menuduhmu dan Annisa berselingkuh, itu semua karna aku tahu kau mencintai Annisa. Andai saja kau tak pernah mencintai Annisa aku tak akan mengira kalian selingkuh,aku pasti menyangka kau menyelamatkannya karna kau sahabatnya,kau bersalah juga Amar”

“Yusuf apa kau memang suka menyalahkan orang karna sikap bodohmu?”Fitri tak terima dengan kata -kata Yusuf, Rian mencoba menghentikan Fitri dibantu Amar.

“Yusuf aku diam selama ini,aku menerima semua hinaanmu,tapi kali ini aku akan menjawab semua pernyataanmu. Aku mencintai Annisa sejak lama sejak awal aku bertemu dengannya bahkan ketika kau mengatakan jatuh cinta dengan gadis dalam bus hatiku sudah mulai merasa bahwa aku akan kehilangan cintaku, bahkan Mira dan orang tuaku tahu seberapa besar cintaku pada Annisa. Yusuf aku mencintai Annisa tapi aku tahu aku harus merelakannya karna dia telah menikah denganmu”

“Merelakan?jangan bohong bukankah kau masih mencintainya bahkan kau mengambil kesempatan saat kecelakaanmu itu” Yusuf makin emosi

“Benar aku mencintainya saat kecelakaan itu bahkan aku yakin Annisa akan luluh meninggalkanmu andaikan aku memintanya”

“Hahahahahahaha dasar brengsek sini kau kalau berani”

“Kau sungguh tak sabaran Yusuf, kau tau kenapa aku tak melakukannya karna Annisa seorang istri sholehah yang tetap menjaga marwahnya sebagai istrimu dan semenjak itu aku mengubur rasa cintaku padanya”

“Yusuf hentikan, pulang!” Ayah menaikkan suaranya

“Tidak ayah, aku akan tetap disini sampai Annisa mau bersatu lagi denganku”

“Terlambat Yusuf,kita sudah bercerai tidak akan bersatu kembali”

“Tapi Annisa aku mencintaimu ,aku tau kau mencintaiku”

“Aku tidak mencintaimu Yusuf”

“Bersumpahlah kalau tidak ada sedikit cinta dihatimu untukku dan tataplah aku”

Aku terkejut begitupun semua orang disana,bahkan mereka semua menatapku menunggu jawaban dariku, sedang aku hanya tertuduk karna tak tahu harus menjawab apa sedangkan aku tak tahu apakah dihatiku masih ada rasa untuk Yusuf atau tidak.Saat aku yakin akan menjawab pertanyaan Yusuf

“Dia tidak mencintaimu,apa kau sudah mendengar jawabanmu?” Kak Ilham datang bersama paman Adi. Semua kaget dan menoleh ke asal suara, aku lega tak harus menjawab pertanyaan Yusuf .Tapi berbeda dengan Yusuf emosinya makin tersulut.

“Apa hakmu menjawab?aku tak perlu jawaban darimu” Yusuf menarik krah baju kak Ilham.

“Yusuf…”teriak ayah,membuat Yusuf melepas krah baju kak Ilham

“Tidak apa paman” kak Ilham menenangkan ayah “aku punya hak Yusuf karna Aku orang pertama yang akan melamar Annisa setelah dia siap akan menikah

“Dasar brengsek” kak Ilham tersungkur karna pukulan Yusuf,

“Kak ilham” teriakku membuka pintu pagar,semua orang terkejut dan melihat keadaan Ilham.

“Hentikan Yusuf, tenangkan dirimu” paman Adi memegangi Yusuf

“Plak….” ayah menampar Yusuf “sudah puas? Kau tetap gegabah”

“Ayah dia memang laki-laki brengsek,dia mencintai Annisa dari sebelum kami menikah,dia memang ingin merebut Annisa dariku”

“Kau salah paham nak memang kami melamar Annisa bersamaan dengan kamu melamar tapi setelah itu Ilham pergi tak ingin mengganggumu dan Annisa yang sudah menikah” kata paman Adi bijak,membuat Yusuf menundukkan kepala.

Aku menghampiri Fitri dan menyuruhnya memanggil Mira dan mengatakan Yusuf disini, aku berfikir mungkin Mira yang bisa meredam emosi Yusuf. Setelah itu aku juga meminta tolong Fitri menyuruh Amar dan kakaknya membawa kak Ilham masuk.

“Kak Ilham masuklah”

“Kakak gak apa apa Annisa, aku akan menemanimu disini”

“Tidak kak ini masalahku” aku tersenyum pada kak Ilham untuk menenangkannya. Aku melihat semua orang masuk terkecuali aku, Fitri, ayah,Yusuf dan pak Yanto

“Annisa maafkan aku gegabah” yusuf meraih tanganku, hendak kulepas genggaman tangannya tapi dia makin erat menggenggamnya”

“Tolong hentikan ini,lepaskan Yusuf”

“Aku tidak akan melepaskannya sampai kau memaafkanku” aku membiarkannya karna aku tau kami masih punya hubungan sampai anak ini lahir,karna massa idaahku berakhir setelah anak ini lahir.

“Kau tau sesuatu Yusuf?aku mengharapkan genggamanmu saat itu bukan sekarang. Saat aku disekap dan diselamatkan oleh Amar aku sangat rindu padamu,inginku memelukmu ketika aku tiba tapi tidak kau hancurkan harapan dan hatiku saat kau menolak dan tidak mempercayaiku.”

“Saat itu aku….”

“Tolong Yusuf biarkan aku meneruskan semua perkataanku” Yusuf menunduk tapi tetap menggenggam tanganku. ” Saat abi masuk rumah sakit aku berharap kau menenangkanku dan ada disaat itu karna dihatiku hanya ada orang tuaku dan kau suamiku tapi kau bahkan tak khawatir saat itu” air mataku mulai menetes ” dan bahkan saat abi meninggal kau tidak bersamaku dan kau tidak mengantar abi ke tempat terakhirnya di dunia padahal kau anaknya” ayah yang disamping Yusuf meneteskan air mata sedang Fitri menangis dengan air mata yang terus menangis

“Maafkan aku Annisa aku….”

“Saat aku sakit aku bahagia dan memberikan kesempatan padamu memberitahu aku hamil,saat itu aku ingin menjelaskan aku hamil udah 3 bulan tapi kau memutuskan tak mendengar penjelasanku dan menghinaku karna kau pikir aku selingkuh dengan Amar,kau ingat?” Aku menyeka air mataku

“Maafkan aku Annisa”

“Aku memafkanmu Yusuf,itulah wujud rasa cintaku yang terakhir untukmu”.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here