Annisa #25

0
664
views

Kulihat ayah mengajak Yusuf pulang, Yusuf mematung mendengar jawaban dariku. Ya jawaban yang sebenarnya untuk mengucapkannya saja hatiku ini masih terasa sakit tapi aku tetap berusaha tegar sembari memegangi perutku. Kutatap tubuh Yusuf yang mematung dituntun ayah menjauh, hatiku hancur melihatnya menangis entah kenapa cinta ini terlalu besar untuknya tapi rasa sakit yang ditorehkan olehnya membuatku lebih sakit.

“Kak Annisa maafkan kak Yusuf ya, tolong tenanglah aku takut sesuatu terjadi padamu dan bayi dalam kandunganmu” kata Nia padaku, aku tak sadar kapan Nia menghampiriku karna terlalu fokus pada Yusuf.

“Nia tolonglah jauhkan Yusuf dariku, aku tak ingin terluka lagi” air mata menetes dari kedua mataku, kata-kataku pada Nia sebenarnya bukan karna ketakutan yusuf menggores luka pada hatiku lagi tapi ketakutan aku goyah pada pendirianku saat ini.

Nia hanya mengangguk sedih, dia sempat mencium tanganku sebelum pergi. Sedangkan aku mematung melihat kepergian mereka semua. Setelah mereka tak terlihat olehku kakiku tiba2 saja lemah tak kuat menopang badanku, belum sempat jatuh aku telah dipegangi ummi dan bibi Salma. Mereka memapahku ke dalam rumah dan membawaku ke dalam kamar untuk istirahat, mbok Minah membawakanku air gula hangat untuk aku minum.

“Ummi, bibi kita pindah lusa, bagaimana?”

“Tapi kandunganmu Annisa?” ummi tampak khawatir

“Iya Annisa tunggulah beberapa hari lagi” bibi Salma menimpali

“Annisa sehat kok, Annisa cuma takut Yusuf kembali lagi, dan ketika itu terjadi lagi mungkin Annisa akan luluh padanya” air mata ini tumpah sekali lagi.

“Baiklah nak jangan menangis, istirahatlah sekarang” ummi membaringkanku dan menyelimutiku.

Mereka semua pergi dari kamarku, sedang aku hanya memikirkan apa yang terjadi tadi, aku terus teringat tatapan wajah Yusuf, aku tau dia menyesal atas semua yang terjadi tapi apakah aku harus kembali padanya ketika semua terasa sangat berat sekali. Hampir sejam aku terus memikirkan apa yang terjadi sampai getaran handphoneku membuyarkan lamunanku. Kulihat nama Nia tertera dipanggilan masuk, segera ku angkat panggilan Nia.

“Assalamualaikum Nia”

“Waalaikum salam kak, kak maafkan Nia ya?” Nia terisak

“Ada apa Nia?” Aku terkejut dan khawatir sekali

“Tadi kak Yusuf bertanya tentang anak dikandungan kakak apakah anak kak Yusuf, dia bahkkan membujuk ayah untuk membujuk kak Annisa agar kembali padanya. Karna itu aku mengatakan padanya bahwa kandungan kak Annisa keguguran” Suara Nia bergetar dan hatiku makin sakit mendengar Yusuf menanyakan setelah dia tak mengakuinya dan menuduh Amar ayah anak ini

“Tidak apa Nia itu lebih baik, kakak gak marah kok malah kakak berterima kasih padamu, kalau Nia tak mengatakan itu dan mengatakan sebenarnya dia akan terus menemui kakak”

“Terima kasih kak, tapi kak apakah mungkin jika kakak kembali pada kak Yusuf? Nia tau kak Yusuf menyakiti kakak sangat dalam tapi dia sudah paham kesalahannya”

“Nia maafkan kakak tapi kami sudah bercerai dan Yusuf akan menikah”

“Tidak kak pernikahannya diundur sampai 1 tahun lagi, itu syarat ayah pada mereka tapi sebenarnya ayah mengulur waktu sampai kak Annisa melahirkan karna bagaimanapun kak Yusuf ayah anak itu.” Kata Nia membuat hatiku tak karuan dan mulai goyah

” Mungkin jika Yusuf tidak mengatakan ini anak Amar mungkin kak Annisa dengan mudah memaafkannya”

“Maafkan Nia kak karna lancang mengatakan itu padahal Nia tau bagaimana perlakuan kak Yusuf pada kak Annisa”

“Tak apa Nia jangan khawatir kak Annisa tidak apa-apa”

” Tapi kita tetap bersaudara kan?”

“Tentu saja seperti kakak bilang ayah tetap ayah kakak dan Nia tetap adik kakak”

“Terimakasih kak, aku tak ingin kehilanganmu kak”

“Iya Nia….Nia kakak akan segera pindah lusa ke Bali, tolong sampaikan pada ayah”

“Apa kak bukannya masih 5 hari lagi, apa semua ini karna kejadian tadi?”

“Maafkan kakak Nia tapi ini untuk kebaikan bayi dikandungan kakak”

“Baiklah kak Nia ngerti,besok setelah sekolah Nia langsung kesana”

“Jangan sorean saja agar Nia bisa istirahat dulu sepulang sekolah dan kakak takut Yusuf dan ibu tahu”

“Gak apa-apa kak Nia sehat kok dan ibu juga kak Yusuf gak akan tahu Nia kesana”

“Baiklah kalau begitu, tidurlah ini sudah sangat malam”

“Baik kak”

Nia memutuskan telepon setelah mengucapkan salam. Aku memtuskan tidur setelah mengirim pesan pada Fitri

“Assalamualaikum Fitri kita berangkat lusa, tolong siapkan perlengkapanmu, sudah dapat izin kan? Kalo besok tidak repot mampirlah sebentar aku akan jelaskan semuanya”

Kuletakkan handphone di nakas disamping ranjangnku, kuputuskan untuk tidur dan tak memikirkan semuanya.

Keesokan harinya aku memanggil mbok minah ke kamar

“Mbok tolong siapakan keperluanku ya mbok, baju yang akn kubawa semuanya ada disana, dan juga perlengkapan lainnya” aku menunjukkan semua barang yang harus aku bawa. Ada sekitar 3 koper yang telah mbok minah bereskan

“Assalamualaikum” suara Fitri terdengar, rupanya ummi menyambut Fitri dan menyuruhnya bergegas ke kamarku.

“Annisa…”

“Iya masuklah cepat”

“Wah mbok minah hebat sudah beres ya,aku pinjam mbok minah ya Annisa?”Fitri terkekeh

“Baik non ayo lerumah non Fitri”kata mbok minah sambil bergegas berdiri

“Gak mbok bercanda,aku udah beres 2 koper lengkap, maunya sih 4 koper”

“Serius?”mataku terbelalak gak percaya

“Hebat non Fitri” mbok minah kagum mendengar penjelasan Fitri

“Siapa dulu mbok…Fitri”kata Fitri sambil menepuk dadanya bangga “gak Annisa 2 koper aja udah bikin kak Rian terkejut dipikir aku ikut setahun kesana”

“Gak apa-a sich setahun aku seneng banget kalo bisa kau pulang saat hari pernikahan kurang sehari aja” kataku

“Hmmm maunya,kan aku mau lamaran sama Amar gak mungkin lamaran disana kan?”

“Yah pas kau lamaran gak bisa hadir, mbok minah pas lamaran Fitri tolong bantu Fitri dirumahnya ya mbok?”

“Siap non Annisa”

“Oh ya mbok inget pesenku ya siapapun yang mencariku saat aku sudah pergi bilang gak tau kemana walau ngaku sahabat atau saudara dan tolong bilang ke pak yanto ya?”

“Baik non Annisa, mbok ke dapur dulu ya non, buat suguhan buat non Fitri”

“Mbok minah memang paling top, makasi mbok”teriak Fitri

Saat kami sedang berdua aku menceritakan apa yang terjadi semalam, Fitri sempat tak percaya dan menceritakan apa yang terjadi sebelum itu di restoran yang membuat aku tak kalah terkejut.

“Jadi itu alasannya Annisa?” Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan Fitri

“Kamu dapat izin kan?”

“Iya dua bulan aku disana lalu pulang sebulan untuk lamaran dan balik lagi ke bali”

“Syukurlah kalau begitu, terima kasih Fitri”aku memeluk erat Fitri

“Oh ya Annisa apa kau masih mencintai Yusuf?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan Fitri tapi aku langsung menggeleng

“Dia masa laluku Fitri,oh ya kamu dan kaakmu juga Amar kesini ya nanti malam”

“Oke” Fitri bersemangat,lalu dia berpamitan pulang karna ada urusan yang harus diurusnya. Aku mengantarnya ke depan setelah itu ketemui ummi,dan bibi Salma di dapur.

“Ummi kita makan malam ya disini sama semua orang,Annisa mau syukuran sebelum pindah”

“Tapi kita pgak sempet belanja”kata ummi bingung

“Udah p jangan khawatir nanti Annisa pesan di restoran, mbok gak apa-apa kan kalo banyak cucian?”

“Beres non”

“Tolong siapkan piring dan minuman dimeja ya mbok sekiranya saat tamu maakn mbok dan pak Yanto juga ikut makan bersama kami”

“Tapi non kami kan”

“Mbok dan pak Yanto keluarga Annisa juga”

“Iya mbok, mbok dah lama disini dan kami dah anggap keluarga”

“Terimakasih ummi dan non Annisa”mata mbok Minah berkaca kaca.

“Bibi, paman Adi dan kak Ilham jangan lupa ya”

“Iya nak”

Aku kembali kekamar dan mengirim pesan pada Nia tentang makan malam ini.Setelah itu aku menelepon ayah, ayah mengangkat dan mengucapkan salam

“Ayah nanti malam makan dirumah ya sama Nia,besok Annisa berangkat”

“Maafkan ayah nak”

“Ayah jangan begini, ayah gak salah”

“Tapi nak”

“Pokoknya gak salah, ayah kan ayah Annisa”

“Terimakasih nak, ayah akan datang”

“Annisa yang makasih yah karna ayah menjadi ayah Annisa”

Sepanjang hari aku hanya dikamar beristirahat,pesanan makanan telah aku pesan dan akan datang jam 7 malam tepat.

Setelah magrib ayah ,Nia ,Amar,Fitri dan kakanya sudah sampai dirumah,ayah mengajakku berbicara berdua sedang yang lainnya tetap diruang tengah.

“Annisa….Ini” ayah memberikan amplop coklat padaku

“Apa ini ayah?” Aku kaget melihat isi di dalam amplop ternyata sebuah tabungan dan sebuah ATM, ketika ku buka tabungan itu kulihat angka yang cukup besar

“100 juta?untuk apa ayah?”

“Untukmu dan cucu ayah”

“Tapi Annisa ada uang kok ayah, perusahaan abi juga lumayan besar dan ayah tak perlu repot begini, Annisa berkecukupan ayah”

“Tolong jangan kau tolak, ini tak seberapa, ayah sudah menyiapkan uang untukmu dan cucu ayah kelak, tolong jangan ditolak nak,ini permintaan seorang ayah pada putrinya”air mata ayah menetes, sungguh remuk hariku melihat ayah menangis

“Baiklah yah,jangan menangis Annisa akan simpan tapi gak akan Annisa gunakan, ini untuk cucu ayah saja” kuhapus air mata ayah dan ayah menghapus air mataku yang juga mengalir.

Tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara dari gerbang rumah

“Annisa…Annisa, ayah…….Nia aku tau kalian di dalam keluarlah aku mohon”

Semua orang berhambur keluar melihat yang terjadi,saat aku hendak keluar juga ayah menahan tanganku.

“Annisa tolong lupakan Yusuf dan berbahagialah dengan kehidupan yang baru”kata ayah.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here