Annisa #24

0
624
views

Rian, Fitri dan Amar terpaku melihat Yusuf yang berdiri di belakang mereka, mereka bingung apakah Yusuf mendengar Annisa akan pergi.

“Apa kau mencintai Annisa Rian?” Yusuf mengulangi pertanyaannya.

“Mari aku jelaskan Yusuf” kata Rian berusaha meredakan amarah Yusuf

“Aku hanya tak menyangka dan tak tega melihatmu mencintai wanita pezina itu, dan aku tak habis pikir bagaimana kau bisa duduk dengan sahabat yg berzina dan menghancurkan sahabatmu sendiri” Yusuf menunjuk Amar. Suara Yusuf terdengar oleh pengunjung lainnya dan mereka mulai berbisik, tentu saja hal ini membuat Fitri tak terima

“Apa pezina?mulutmu jahat sekali, jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain. Kalau kau tak mampu menjadi suami yang baik jangan menyalahkan orang lain. Kau itu buta Yusuf bahkan seorang istri yang sholehah seperti Annisa tak mampu membuatmu terbuka mata hatinya.” Pembelaan Fitri makin menjadi perhatian semua orang seolah ada babak baru dalam drama yang membuat orang makin tertarik dengan pertengkaran ini.

“Sudahlah Fitri, diam” Rian menenangkan Fitri, Amar juga mulai menenangkan Fitri.

“Tidak kak ini harus jelas agar dia sadar dan berhenti menghina Amar dan Annisa terus-terusan. Dengar ya Yusuf , kak Rian mencintai Annisa apa tidak boleh?dia sudah menjadi janda, tidak ada kaitannya denganmu. ” Fitri berapi-api

“Dia sahabatku” Yusuf mulai bersuara

“Sahabat?iya memang sahabatmu, hentikan omong kosongmu bukankah kau memutus persahabatanmu dengan kak Rian karna dia membela Annisa? Sahabat mana yang tak mendengar perkataan sahabatnya hah? Dan lagipula apa urusanmu jika kak Rian mencintainya? Aku sebagai adiknya sangat setuju sekali Rian dan Annisa tapi kau tau karna kau Wanita sholehah itu hancur berkeping-keping hingga meninggalkan segalanya. Bahkan ketenangan dirumahnya tak bisa diperoleh karna kau. Tega sekali kamu Yusuf memberikan undangan pernikahan padahal hari itu baru kau ikrarkan talaq padanya, dasar manusia rendah”

“Kumohon tenanglah Fitri” Rian meninggikan suaranya

“Tidak kak biar aku menyelesaikan semuanya, kau tahu Yusuf tiap laki-laki yang mengenal Annisa bersorak bahagia melihat Annisa menjanda karna mereka punya kesempatan menikahi Annisa. Tapi kau memilih Mira si wanita laknat itu? Selamat menikmati kebahagiaanmu . Kau selalu mengatakan Amar mengkhianatimu sebagai sahabat apa kau lupa dulu Mira sahabat Annisa? Dan sekarang apa yang kau lakukan percaya pada kata-kata Mira dan tak mempercayai Annisa bahkan saat kau tahu sebersih apa hati istrimu itu.”

Perkataan Fitri bagai belati menancap dijantung Yusuf, bahkan air mata Fitri yang jatuh diikuti air mata dari beberapa wanita tamu restoran tersebutkarna terenyuh mendengar cerita Fitri

“Tolong hentikan,ayo Yusuf” Rian menarik Yusuf ke parkiran

“Rian” lirih Yusuf

“Maaf Yusuf aku mencintai Annisa, aku merasakan penderitaannya tapi tentu saja itu hanya cinta bertepuk sebelah tangan karna sesungguhnya hatinya hanya tertambat padamu, dan masih tak ada orang yang menggatikannya”

“Rian tapi dia dengan Amar?” Kata Yusuf

“Itulah salahmu Yusuf, kau tak mempercayai istrimu sendiri, Kau telah dibutakan juga diperdayai setan dan ternyata kau menghancurkan rumah tanggamu sendiri bahkan bukti yang ku berikan kau tak percaya dan menghancurkannya”

“Rian maafkan aku”

“Bukan padaku Yusuf, sebenarnya aku sedih saat kau menceraikannya tapi saat ini aku mencintainya dan berusaha mendapatkannya untuk menjadiikan jodoh dunia dan akhiratku, maafkan aku Yusuf dan maafkan kesalahan adikku” Rian meninggalkan Yusuf yang berdiri mematung

Rian melangkah ke dalam restoran dan melihat Fitri menangis sedang Amar menenangkan Fitri.

“Sudah sebaiknya kita pulang” ajak Rian pada adiknya dan Amar

******

Malam ini terlihat mendung sekali seperti hatiku yang selalu mendung sampai saat ini.aku duduk sendirian sedangkan ummi dan bibi Salma sedang berbincang di dalam

“Non ini minum teh” mbok minah menghampiriku, aku hanya tersenyum

“Mbok minah, tolong sekalian panggilkan pak yanto di depan aku ingin bicara dengan kalian berdua”

“Baik non” mbok minah berjalan setengah berlari memanggil pak yanto.

Dua orang ini kini berada didepanku,

“Mbok pak duduk dikursi jangan dibawah,dingin”

“Gak apa-apa non” mereka kompak menjawab

“Jangan mbok, pak aku gak enak kalo begini” akhirnya mereka duduk dikursi

“Ada apa non”kata pak Yanto

“Pak yanto dan mbok minah sudah lama dibawa abi bekerja, apakah tidak apa-apa kalau kerja di rumah lagi?

“Tidak apa-apa non, ditempat kerja abi kami biasanya buat minuman dan bersih-bersih, disini jaga rumah abi sama saja kembali ke pekerjaan lama kami, sejujurnya kami senang dirumah ini non karna kami bisa mengenang abi dan dapat dekat dengan non juga ummi. Kami sedih dibawa ke kantor karna non udah tak anggap anak mbok sendiri.”bulir air mata jatuh dipipi mbok minah, sedang pak yanto mulai berkaca-kaca. Mereka memang menjadi asisiten rumah tangga kami bahkan sebelum aku lahir dan mereka sangat baik padaku karna mereka tidak punya keturunan

“Mbok jangan nangis, Annisa ikutan nangis ni, kata dokter gak baik untuk perkembangan bayiku”

“Iya non”mbok minah mengusap air matanya.

“Mbok Minah dan pak Yanto tolong jaga rumah baik-baik ya dan tolong jangan katakan pada siapapun kalau aku dan ummi pergi juga masalah kandunganku ini”

“Siapapun non?”kata pak Yanto menyakinkan pendengarannya.

“Iya pak siapapun itu karna orang yang Annisa beritahu hanya orang terdekat dan mereka juga akan menjaga sebagai rahasia” mbok Minah dan pak Yanto mengerti.

“Annisa….Annisa…Annisa” kami dikejutkan dengan suara laki-laki memanggilku, pak Yanto berlari keluar melihat siapa orang diluar yang berteriak. Aku mematung aku hafal sekali suara laki-laki itu.

Pak Yanto berlari kedalam tanpa membukakan pintu.

“Non dia memaksa ketemu non, dia seperti…”

“Iya pak itu mantan suamiku pak, tolong katakan aku tidur pak yanto”

“Baik non” pak yanto mengerti dan pergi

Ibu dan bibi Salma menghampiriku mendengar keributan itu sedang aku menghubungi Nia,

“Assalamualaikum Nia tolonglah Yusuf ada dirumahku, dia teriak-teriak”

“Waalaikum salam kak Annisa, Baik kak aku akan beritahu ayah dan pergi kesana segera”kata Nia setelah terkejut mendengar perkataanku

“Annisa aku tahu kau mendengarku, aku akan menunggumu sampai kau mau menemuiku” kata Yusuf setelah mendengar penjelasan pak Yanto

Kami semua bingung mendengar kata-kata Yusuf.

“Apa kita telfon Ilham dan paman Adi saja Annisa?”

“Jangan bibi ini sudah malam mereka pasti lelah seharian bekerja aku tak mau mereka khawatir dan datang jauh-jauh kesini”

Teriakan Yusuf membuat para tetangga keluar, itu membuatku makin gelisah.

“Biar Annisa hampiri Yusuf saja”

“Jangan nak, ibu takut kamu drop lagi karna penghinaannya”

“Iya benar Annisa lebih baik jangan”kata bibi Salma

“Non” mbok minah menghalangiku juga, tapi teriakan Yusuf membuat makin banyak tetangga keluar.

“Tenanglah Annisa akan menemuinya ummi, Annisa akan menjaga diri dan kandungan ini agar tetap baik-baik saja”

Aku melangkah keluar rumah menghampiri Yusuf, dia mulai menghentikan teriakannya setelah melihatku keluar tapi para tetangga tetap berdiri di posisi masing masing seolah ingin tahu masalahu dan Yusuf

“Non, hati-hati jangan keluar pagar ya non” kata pak Yanto dan aku hanya mengangguk.

“Assalamualaikum Yusuf”

“Waalaikum salam Annisa” matanya menatapku nanar entah apa yang terjadi aku kaget melihat pandangan Yusuf padaku tak ku lihat kemarahan seperti terakhir kali melihat matanya.

“Tolong jangan memancing keributan disini, ini sudah malam Yusuf, pak Yanto tolong minta maaf pada tetangga” pak yanto mengangguk dan menghampiri para tetangga satu persatu tak lupa dia mengunci pagar ketika keluar

“Annisa bolehkah aku masuk,aku ingin….,”

“Maaf Yusuf kita tak punya hubungan lagi, dan aku melarangmu masuk” kupotong kata-katanya lebih dahulu.

“Annisa aku ingin mendengar penjelasanmu tentang yang terjadi padamu dan Amar”kata-kata Yusuf penuh tanda tanya tapi membuatku makin tak percaya apa yang ku dengar.

“Bagaimana bisa Yusuf?kau meminta penjelasan ketika perceraian ini sudah terjadi, apa maumu? Kurangkah kau menghinaku selama ini?” Ku reflek memegang perutku seakan takut terjadi apa-apa

“Aku ingin tahu yang sebenarnya Annisa” kata Yusuf penuh penekanan

“Yusuf…” teriak ayah memanggil Yusuf

“Kak tolong hentikan kasihan kak Annisa”kata Nia dengan wajah memelas.

Ayah mendekati Yusuf

“Ayah ” aku menatap lirih mencoba keluar pagar

“Sudah nak tetap disana”

“Ayah aku hanya ingin penjelasan”

“Pulanglah Yusuf”suara ayah meninggi

“Biarkan aku bertanya dulu ayah, Annisa apa itu anakku?apa kau mencintaiku?” Air mata yang sejak tadi ditahan Yusuf akhirnya tumpah

Aku tak tahu harus berkata apa, ummi dan bibi akhirnya keluar dari rumah dan berada disampingku, mereka menguatkanku. Hatiku hancur melihat air matanya, apakah itu ketulusan?dadaku mulai berkecamuk tapi undangan pernikahan Yusuf membuat hatiku sakit
.
“Rasa cintaku telah hilang untukmu Yusuf, berbahagialah dengan Mira.”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here