Annisa #23

0
601
views

Pertanyaan kak Ilham membuatku kaget, apakah sebegitu besar cinta kak Ilham padaku hingga dia tak peduli statusku. Memang tak kupungkiri siapapun wanita yang dipinang oleh kak Ilham pasti akan senang termasuk aku, bagaimana tidak dia laki-laki yang insyaallah sholeh, baik, pengertian dan yang paling penting dia mampu menjadi imam dan menjaga istrinya dengan baik. Tapi kutepis pikiran itu bagaimanapun kak Ilham pantas mendapat wanita yang lebih baik dariku.

“Kak Ilham andaikan aku belum menikah tak perlu aku berfikir untuk menerimamu bahkan ketika aku tahu kau meminangku, aku sempat tak terima karna abi dan ummi tak memilih kak Ilham. Tapi kak saat ini statusku menjadikan aku berat menerimamu apapun alasannya aku yakin kau akan mendapat seorang gadis yang lebih baik dariku”

“Aku tak masalah Annisa akan statusmu, tolong paling tidak fikirkan lamaranku sampai kau melahirkan anakmu”

“Tapi kak…”

“Annisa, Ilham benar dia tak masalah dan paman serta bibi juga tak akan masalah dengan statusmu bahkan dengan anakmu kelak”kata paman Adi padaku sedang bibi Salma menggenggam tanganku sedikit memohon memikirkan lamaran kak Ilham.

“Baiklah tapi ini bukan lamaran , tapi Annisa akan fikirkan kembali semua kata-kata kak Ilham. Jika suatu saat Allah menjodohkan kak Ilham dengan orang lain dan begitu juga aku, kita tak punya ikatan apapun.”

Kak Ilham bahagia dengan keputusanku begitu juga paman,bibi serta ummi yang terharu.

Fitri, kakak Fitri dan Amar berpamitan untuk pulang kepadaku dan yang lainnya.

“Makasi untuk semuanya ya, Fit….. Sini”panggilku ke Fitri.

“Ada apa Annissa?” Fitri mendekat dan menggenggam tanganku

“Kau adalah sahabatku yang paling istimewa, jangan hancurkan kebahagianmu hanya karna kau fikir aku bisa bahagia diatas penderitaanmu. Aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri, awas kalau lain kali kau berbuat bodoh aku akan menjewermu”kataku bercanda

“Tentu saja Annisa, maafkan aku” Fitri memelukku

“Terima kasih”aku membalas pelukannya dengan erat.

Mereka semua pergi, di ruangan itu hanya ada aku, ummi dan keluarga kak Ilham

“Paman Adi bisakah aku meninggalkan kota ini?” Perkataanku membuat semua terkejut

“Annisa” ummi memegang tanganku

“Ada apa Annisa? “kata paman Adi heran

“Tidak adakah pekerjaan yang perlu aku urus diluar kota jadi aku bisa pergi sampai aku melahirkan?” Air mataku menetes

“Sudahlah Annisa jangan banyak menangis itu tak baik untukmu dan anakmu” kak Ilham khawatir

“Iya nak Ilham benar” bibi Salma menimpali

Paman adi mulai memikirkan dimana tempat yang baik.

“Bagaimana kalau dirumah paman Adi saja” katanya

“Tidak paman aku ingin jauh dari sini dengan ummi, mau kan ummi?”

“Tentu saja asal denganmu nak dan memang ini terbaik untukmu”kata ummi mengelus kepalaku.

“Lalu bagaimana dengan bibi? Jika bibi kangen padamu?”bibi Salma kini yang meneteskan air mata

“Tentu bibi harus datang bila kangen lagipula kak Ilham akan sering menjengukku karna dia bawahanku”kataku tertawa diiringi tawa semua orang

“Bagaimana kalau di bali?ada pembangunan perumahan disana sudah rampung 80 % jadi tak terlalu berat untukmu dan paman jadi bisa sering kesana mengurus dokumen-dokumen penting”kata paman Adi

“Itu ide bagus nak” kata ummi langsung menyetujui Tapi sebenarnya aku takut kesana karna bagaimanapun aku berbulan madu disana. Kutepis pikiran itu karna ibu sudah menyetujuinya.

“Baiklah ummi kita pindah kesana, kak Ilham bisa tolong uruskan rumah kita disini, aku tak mau rumah menjadi rusak karna kita tinggalkan lama”

“Beres, nanti ada orang kantor yang akan kak Ilham tugaskan membersihkan rumah dan menginap disana”

“Tapi Annisa kamu berangkat setelah benar-benar pulih ya?” Bibi Salma khawatir. Aku mengangguk menuruti perkataan bibi.

Sudah seminggu aku dirawat di rumah sakit, tiap hari Fitri menjengukku sedang Nia karna sibuk dengan kegiatan sekolahnya dia susah menemuiku. Ayah senantiasa menjengukku dan membawakan makanan yang aku suka, sungguh ayah benar benar memberikan kasih sayang tulusnya padaku.

Hari ini aku pulang rumah sakit, perasaan lega menghampiriku. Jujur saja keadaan rumah sakit membuatku makin bosan dan capek harus berbaring diranjang terus, kini aku sering mengelus perutku. Aku bahagia ada buah hatiku ditubuhku, walau Yusuf tak ada disampingku tapi anak ini rupanya menjadi pengobat luka dihatiku karna perlakuan Yusuf.

Sesampainya dirumah aku sudah disambut bibi,Fitri juga Nia sedang ayah, kak Ilham , paman Adi serta ummi yang mengantarku pulang ke rumah dari rumah sakit.

“Assalamualaikum” kataku, sungguh rumah yang aku selalu rindukan dirumah sakit.

Bibi menyuruhku makan agar lebih sehat, kami semua akhirnya makan bersama.

“Karna semua kumpul disini, Annisa ingin mengatakan sesuatu”

“Assalamualaikum” Kudengar suara Amar

“Waalaikum salam” kompak kami semua

“Amar ayo masuk, ayo sini nak makan”kata ummi

“Wah kebetulan Amar lapar heheheh,makasi bibi”

“Kamu ini” Fitri melotot sedang Amar tersenyum.

“Baiklah Annisa lanjutkan, Annisa mau pamit pergi seminggu lagi”kataku mantap

Ayah, Nia dan Fitri kaget sedang Amar tersedak karna mendengar kata-kataku, Kak Ilham sigap memberi air pada Amar.

“Mau kemana nak?”raut sedih ayah tampak lagi

“Annisa pindah ayah tapi hanya sampai lahiran”

“Kamu ini kenapa baru bilang”tangis Fitri pecah

“Udah jangan nangis, aku akan kembali kok nanti pas pernikahan kalian”aku melirik Fitri dan Amar

“Mau kemana?”kata Amar serius menatap kearahku”

“Aku akan mengatakannya pada kalian asal kalian janji gak akan beritahu siapapun”

“Termasuk kakakku?”

“Gak apa-apa kakakmu asal dia menjaga rahasia ini juga”

Semua setuju dengan syaratku.

“Aku dan ummi akan pindah ke bali dan melahirkan disana”

“Apa ayah dan Nia boleh menjengukmu”kata ayah, dan kulihat Nia hanya menangis

“Boleh ayah asal ayah sehat selalu jangan sakit lagi, kan mau nimang cucu ! Nia jangan menangis,nanti kalau kak Annisa nangis juga gak baik loh buat ponakanmu ini”ku elus perutku

“Baiklah kak Nia gak nangis lagi.”

“Annisa aku akan kehilanganmu” kata Fitri meneteskan air mata

“Kamu harus sering ke bali ya, kau juga harus ikut mengantarku. Bolehkan Amar?”

“Dia belum jadi suamiku, izinnya ke orang tuaku” ketus Fitri disambut tawa yang lain

“Baiklah kamu izin ya nanti ikut sebulan disana,kamu kan gak sibuk sekarang”

“Iya baiklah,asyik akhirnya aku ke bali” tangis Fitri sudah hilang berganti senyuman.

“Nia juga kak?”

“Jangan Nia nanti saja pas liburan ya?”kataku halus

“Iya kak Annisa benar nanti bareng ayah aja” kata ayah

“Lalu aku Annisa, aku kan sahabatmu” giliran Amar merajuk

“Bareng kak Ilham aja, tapi kalau kamu diajak oleh kak Ilham”

“Ilham tolonglah”rajuk Amar sambil menyatukan kedua tangannya

“Akan ku fikirkan” tawa kak Ilham pecah,yang lain tertawa.

Semua orang sudah pulang hanya ummi dan aku dirumah juga penjaga rumahku yang kak Ilham tugaskan yang ternyata adalah pembantu rumah kita yang dulu ayah tarik ke kantornya. Sungguh pilihan kak Ilham sangat tepat, mereka sudah lama jadi orang kepercayaan keluargaku dan rasanya kami lebih tenang meninggalkan rumah karna mengenal baik mereka.

Aku tidur bersama ummi sekarang, kulihat foto kami bertiga terbingkai figura kecil yang terletak di meja kecil samping tempat tidur. Ku pandang foto kami bertiga

“Abi, Annisa rindu..Annisa hamil bi udah 3 bulan,andai Annisa lebih cepat tau abi pasti bahagia mengetahui Annisa hamil. Abi Annisa dan ummi mau pergi dulu ya, rumah ini kami tinggalkan sementara pada pak joko beserta istrinya yang akan menjaga sampai kami kembali kesini lagi.Abi maafin Annisa ya bi, annisa rindu” kupeluk foto kami dan meneteskan air mata, ibu memelukku juga dan ikut menangis.

*****

Fitri,kakaknya dan Amar berkumpul di sebuah restoran tenpat biasanya berkumpul

“Kak Annisa akan pergi”

“Pergi?maksudmu?”

“Dia akan pergi meninggalkan kota ini sampai melahirkan”

“Tapi kenapa? Apa karna perbuatan Yusuf?”

“Aku tak tahu ini termasuk apa gak tapi rasanya dia ingin menenangkan diri, tolong izinkan aku pada ibu dan ayah, Annisa mau aku ikut dulu sebulan, dia pasti butuh aku, ya kak” Fitri memelas

“Aku ikut” kata Rian

“Mana bisa?” Amar protes

“Ya aku akan menjaga Annisa” Rian spontan

“Emang kau siapanya? Jangan-jangan kau masih memendam rasa dengan Annisa ya?”

“Aku…Aku kan juga harus jaga adikku,ya kan Fitri?” Kata Rian mengalihkan pertanyaan Amar sedangkan Fitri mulai berpikir apa yang dikatakan Amar.

“Kakak cinta sama Annisa” tanya Fitri menembak kakaknya , Rian semakin bingung menjawab pertanyaan adiknya

“Kan bener dugaanku, dia masih cinta sama Annisa” kata Amar

“Kakak mau nerima Annisa dengan keadaannya?” Fitri makin penasaran

“Kamu gak mau sahabatmu menjadi saudaramu karna dia janda?”kata Rian

“Aku mau kak bagaimanapun Annisa wanita baik dan pasti akan senang menjadi saudaranya, tapi kak sainganmu sempurna, kamu ngerti kan?”kata Fitri

“Dengarkan adikmu dia benar, jangan bandingkan dengan Ilham kamu kalah telak dia paling cocok dengan Annisa,dia bisa menjaganya dan paling mempercayai Annisa. Aku saja akan mundur bila harus bersaing dengan Ilham untuk memperebutkan hati Annisa, apa kamu tak takut bersaing dengan Ilham?” kata Amar

“Aku tak takut harus bersaing dengan Ilham untuk bidadari seperti Annisa”kata-kata Rian lantang

“Kamu mencintai Annisa?”suara Yusuf mengagetkan mereka bertiga.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here