Annisa #22

0
561
views

Keadaan menjadi hening ketika permintaanku yang mungkin tak masuk akal bagi mereka tetap mau tak mau harus mereka turuti.

“Abi apa abi tak mau?” Kuteteskan air mata, abi melihat sedih ke arahku

“Kak jangan nangis,ini gak bagus buat bayi kakak”kata Nia yang melihatku menangis dan menghapus air mata yang terus menerus jatuh.

“Baiklah nak, Yusuf dan ibu bahkan siapapun diluar ruangan ini tak akan tahu”kata ayah sedih, aku tersenyum bahagia

“Makasi ayah, Annisa tau ayah tak akan menolak permintaaanku,kalian juga kan?”ku lihat wajah yang lainnya.

“Nak tapi ummi rasa ini salah, Yusuf adalah ayahnya dia harus tau”

“Iya nak bibi pikir apa yang dikatakan ummimu benar,bagaimanapun nama ayahnya akan tersemat di belakang namanya”

“Gak ummi,bibi tak mungkin aku memberitahu Yusuf, dia telah meninggalkanku,tak mempercayaiku, bahkan perkataannya telah sangat menyakitiku”air mata ini mengalir begitu saja.

Keadaan menjadi sunyi lagi dalam ruangan itu

“Tapi Annisa kak Ilham rasa ummi dan bibi Salma benar”

Pedebatan alot terjadi antara aku, kak Ilham, ummi dan bibi Salma, sedangkan ayah hanya diam. Nia,Fitri,Rian dan Amar tak berani mencampuri perdebatan kami.

“Baiklah kalo memang kalian ingin aku mengatakannya,aku akan mengatakannya sekarang padanya,” aku mulai lunak

“Benarkah nak?”tanya ummi

“Iya ummi”

Semua bahagia memdengar apa yang dikatakan olehku, ayah tampak bahagia sedang Fitri dan Nia memegang masing-masing salah satu tanganku.

Aku memang tidak ingin kembali ke Yusuf Lagi tapi dia harus tau ini anaknya dan paling tidak aku akan memberikan satu kali kesempatan untuk memperbaiki keadaan kita.

“Ayah tolong telfon Yusuf”

“Biar aku saja, ayah sudah lama tak berbicara dengan kak Yusuf setelah kak Yusuf mengajukan gugatan ke pengadilan” kata Nia, aku terkejut ternyata ayah melakukan hal sejauh itu demi rumah tanggaku dan Yusuf.

“Ayah maafkan Annisa”

“Tidak nak, kau adalah anakku, aku akan melakukan apa saja demi kebahagianmu nak”ayah memegang tanganku, aku terharu mendengar perkataan ayah

“Assalamualaikum kak Yusuf?bisa susul Nia ke rumah sakit, tolong jangan beritahu siapapun” Nia sedang menelepon Yusuf dan rupanya Yusuf akan datang kata Nia setelah menutup teleponnya.

“Ada satu syarat untuk semuanya, jika Yusuf menerima mungkin ini akan berakhir indah tapi kalo Yusuf menolak ato tak mengakui aku mohon jangan ada pertengkaran khususnya kak Ilham dan ayah,”kataku sambil memegang tangan ayah.

“Annisa sebaiknya aku pulang saja” kata Amar tiba-tiba

“Tidak Amar kalau memang Yusuf percaya padaku, ada kau disini ini bukan masalah.”

Tidak lama kemudian Yusuf datang

“As salamualaikum” katanya terbata-bata lalu kemudian dia bingung melihat banyak orang, dia terlihat marah ketika matanya tertuju pada Amar tapi dia tak bisa apa-apa ketika melihatku terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

“An nisa kau tak apa-apa?” Yusuf kaget menghampiriku dan memegang tanganku, hatiku berdesir karna sentuhan tangannya. Tak bisa kupungkiri walau aku bilang tak mencintainya hati ini masih merasakan rasa yang sama.

“Aku tak apa-apa Yusuf” aku tersenyum dan kulihat suasana kamar ini menjadi lebih ceria karna semua juga tersenyum dan bahagia melihat perlakuan Yusuf padaku.

“Syukurlah kalau begitu,jagalah kesehatanmu, ngomong-ngomong kamu sakit apa?”

“Aku hamil Yusuf, anak kita”kulebarkan senyumku nyaris membuatku tertawa bahagia.

Tapi yang Yusuf lakukan membuat senyumku sirna, dia menarik tanganku tepat saat aku mengatakan aku hamil.

“Ada apa Yusuf?”kucoba paksakan perasaan ini dan mengatakan ini bukan penolakan dari Yusuf.

“Selamat, akhirnya kalian dapat menikah” dia menatap Amar dengan tatapan penuh emosi. Semua di ruangan merasa ikut emosi dengan kata-kata Yusuf bahkan ayah hendak maju ke arah Yusuf tapi urung ayah lakukan karna instruksi gelengan kepala dariku.

“Tidak Yusuf ini anakmu” entah kenapa air mata ini mengalir

“Bagaimana bisa?”

“Percayalah kami tak pernah melakukan zina saat itu, kalau tak percaya tanyakan pada dokter usia kehamilanku sudah…”

“Cukup Annisa jangan diteruskan, aku tak menyangka kau akan terus berbohong hanya untuk bersamaku, lihatlah itu orang yang kau cintai, dan bertobatlah Annisa jangan sampai engkau mati dalam keadaan belum bertobat karna perbuatan zinamu”

“Yusuf “teriak kak Ilham penuh emosi, aku menggeleng pada kak Ilham. Sedang ayah terduduk sambil menangis.

“Baiklah Yusuf aku akan selalu mengingat semua kata-katamu, silahkan tinggalkan ruangan ini”

Yusuf pergi begitu saja, sempat dia melihat ayah dan mengajak ayah pergi tapi tangannya telah ditepis oleh ayah.

“Ayah” kucoba duduk dan turun dari ranjang tapi ayah menghampiriku.

“Jangan nak tetaplah tidur kau masih lemah”

“Maafkan aku ayah karna telah membuatmu menangis”air mataku jatuh entah keberapa kalinya.

“Jangan nak jangan minta maaf itu membuat ayah makin malu padamu bagaimanapun ayah yang harusnya minta maaf karna kelakuan Yusuf. Ayah pamit nak pulang dulu”

“Ayah tapi ayah ingat kan tak akan memarahi Yusuf, maafkanlah dia ayah, aku mohon”

Ayah makin menangis mendengar ucapanku dan ayah hanya bisa mengangguk dan pergi, untuk berpamitan saja aku yakin ayah malu menatap wajah mereka semua di ruangan ini.

“Kak Nia dan ayah pulang ya”Nia mengejar ayah setelah bersalaman dengan ummi, bibi dan juga Fitri.

“Nak maafkan ummi yang memaksamu tadi”

“Bibi juga”

Mereka berdua menangis dan menumpahkan penyesalannya.

“Ummi bibi kalian tidak salah, berhentilah menangis Annisa makin stress sekarang melihat kalian menangis”aku bersandiwara melemahkan diri lalu tersenyum.

“Kamu memang anak ummi”

“Anak bibi juga”. Mereka memelukku.

“Annisa menikahlah dengan Amar”kat Fitri tiba-tiba.

“Apa maksudmu Fitri, kau gila ya?”

“Tidak Annisa aku kasihan pada bayimu dan kamu”

“Jangan katakan itu kalau kau adalah sahabatku”

“Tapi Annisa”

“Jika aku menikah lagi kak Ilham pasti mau menikahiku,iya kan kak Ilham?”

Semua kaget mendengar perkataanku.

“Tentu saja”kata bibi Salma

“Benarkah kau mau menikah denganku?”kata kak Ilham

“Belum kak,saat ini aku tidak ingin menikah kak ,masa iddahku sampai setelah aku lahirkan anak ini jadi aku tak akan mungkin menikah lagipula aku yakin kak ilham akan mendapatkan gadis yang lebih baik dariku yang seorang janda

“Janda sepertimu tidak akan masalah bagi siapapun Annisa” kak Rian tiba-tiba menjawab pernyataanku padahal dari tadi dia diam tak mengatakan apapun bahkan aku lupa dia ada diruangan ini

“Terima kasih”jawabku singkat dengan penuh keraguan tapi kutepis semua itu

“Iya Annisa nak Rian benar dan bibi serta pamanmu akan senang sekali jika kau mau dengan Ilham”

“Malah Annisa yang senang dan bangga kalau kak Ilham menerima Annisa tapi maaf bi Annisa belum memikirkan menikah.”

“Beneran kamu senang dan bangga Ilham menjadi suamimu? Paman senang dan akan menunggumu menjadi menantu paman” paman Adi muncul dari pintu entah berapa lama paman berdiri disitu.

“Maukah kau menerima lamaranku setelah masa iddahmu berakhir Annisa?”kata ilham.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here