Annisa #21

0
450
views

Semua tampak terkejut, kulihat Nia hanya tertunduk, sedangkan Fitri berdiri dari kursinya, ku menepuk tangan Fitri untuk menenangkannya.Ku berdiri menghadap Mira dan Yusuf, lalu ku ambil undangan itu dari meja,

“Tentu saja kami semua akan hadir ,semoga kalian berdua bahagia” ku tersenyum semanis dan sebahgia mungkin, ku lihat Mira dan Yusuf kaget mendengar jawabanku.

“Kau mulai berani ya Annisa, awas saja kalau kau hanya membual dan tak datang aku akan…”

“Akan apa Mira? Tentu saja aku datang, aku bukan pengecut seperti kalian, aku ingin melihat kebahagian kalian dengan mata kepalaku sendiri ” Hardikku pada Mira dan tak lupa ku tersenyum bahagia

Kemarahan Mira tampak kentara sekali sedang Yusuf hanya tertunduk.

“Apa kalian sudah selesai? Atau kalian ingin aku mentraktir kalian juga?” Aku sengaja merendahkan mereka, mungkin sakit hatiku membuat setan berhasil dengan bujuk rayunya”

“Tidak perlu aku bisa bayar sendiri bukan seperti kalian manusia kere” dan Mira seperti biasa meledakkan emosinya.

“Baiklah kalau begitu sampai jumpa,assalamualaikum” kataku hendak duduk.

Mira tak membalas salamku, hanya Yusuf yang kudengar menjawab.

Kulihat semua tersenyum melihat tingkahku.

“Wah ini Annisa yang baru”ucap Fitri

Kak Ilham tersenyum dan memberikan jempolnya, kakak Fitri hanya tersenyum

“Siapa dulu yang ngajari, Amar “sambil menepuk dadanya bangga, membuat semua bersorak sedangkan Nia hanya tertuduk kulihat bulir air mata mengalir di pipinya.

“Hey Nia ada apa?”kataku cemas

“Maafkan aku kak, ini yang ingin Nia ceritakan tapi keburu mereka datang”

“Gak masalh kok,jangan menangis ya adikku” kulempar senyuman padanya dia memelukku erat.

Makanan datang dan kami mulai memakannya.

“Mantep banget kalau kata pak bondan maknyus” kata Fitri sambil meniru gaya pak bondan

“Sering-sering bos” kak Ilham menimpali

“Potong gaji kakak ya?” Kataku tertawa membuat semua tertawa sedang kak Ilham tertunduk malu.

Kami mengobrol dan tertawa bersama sampai lupa waktu, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Kulihat Nia menelepon ayah,

“Nia kak Annisa akan mengantarmu ya, gak usah telepon ayah kasihan sudah malam” kataku dan Nia mengangguk.

Kami akhirnya pulang dan mobil Amar di depan kami, dia mengantar Fitri dan kakak Fitri. Sesampainya kami dirumah Nia aku meminta maaf tak turun walau aku tau Nia juga akn sungkan menyuruhku mampir tapu tak lupa kutitipkan salam. Kak Ilham dan aku sampai dirumah,semua sudah tidur, aku pamit ke kamar pada kak Ilham masuk kamar.

Kubenamkan wajahku pada bantal dan kumenangis sejadinya,aku tak menyangka Yusuf akan segera menikah.

‘Kenapa secepat ini’
‘Apa tidak ada cinta sedikitpun untukku’
‘Walau sebentar kami menikah tapi kita menghabiskan waktu dan berbahagia setiap hari’
‘Ya ALLAH kenapa sesakit ini’ semua pikiran berputar di otakku, samalaman aku menangis, aku salah aku kira aku kuat ternyata aku masih rapuh dan lemah menghadapi semua ini.

Pagi hari aku rasakan berat sekali tubuhku,aku kehilangan tenagaku, untuk berdiripun dan untuk sholat aku setengah mati. Badanku panas tinggi aku hanya tiduran di ranjangku, aku tak jelas apa yang terjadi tapi ku lihat ummi menangis,Fitri dan bibi Salma menemaniku dikamarku.Untuk selanjutnya aku lupa apa yang terjadi.

Keesokan harinya aku sudah bisa membuka mata,badanku masih lemas tapi sudah mendingan dari hari kemarin.

“Annisa,kamu sudah bangun nak?”

“Ummi dimana aku ummi?”

“Kamu dirumah sakit nak”

“Aku mau dirumah saja ummi”

“Tidak bisa nak, kamu harus dirawat dirumah sakit untuk saat ini”

“Aku hanya panas ummi”

“Tidak Annisa kamu..” ummi tak melanjutkan “biar nanti dokter yang jelaskan” kata ummi

“Ada apa ummi?ummi sendirian?mana bibi salma?”

“Bibi Salma pulang, Fitri juga disini dari kemarin,, dia akan datang lagi setelah menyelesaikan urusan”. Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan ummi

*****

Di rumah Fitri telah berkumpul Fitri,Amar dan kakak Fitri.

“Annisa hamil 3 bulan”

“Apa?” Amar dan Rian kaget

“Bagaimana bisa” kata Rian

“Bisa dong kak, Yusuf adalah ayahnya” kata Fitri kesal dengan pertanyaan kakaknya

“Bukan itu, aku tahu Yusuf ayahnya cuma bagaimana Annisa tidak merasa?”

“Mungkin dia kelelahan dengan semua yang terjadi” Kata Amar yang sedari tadi diam.Fitri menoleh ke arah Amar

“Amar menikahlah dengan Annisa” Fitri hilang harapan

“Maksudmu?”Amar kebingungan

“Annisa tak akan mau kembali ke Yusuf, aku yakin dia sakit karna kepikiran dengan Yusuf”

“Lalu kenapa Amar?” Kata Rian

“Tak mungkin kak Rian kan?” Jelas Fitri

“Kenapa tak mungkin aku?aku…bisa” Rian menunduk

“Annisa tak akan mau padamu kak,bagaimana Amar ?”

“Aku…Aku…Bagaimana denganmu” Amar ragu

“Aku bisa tanpamu tapi Annisa tidak akan bisa sendiri?”

“Maksudnya kalian berhubungan?” Rian kaget mendengar percakapan dua orang di depannya.

“Atau kita beritahu Yusuf saja?”saran Amar

“Jangan,buat apa?dia tak mencintai Annisa”ketus Fitri

“Benar kata Fitri” jawab Rian

“Kita temui Annisa saja dulu, lihat perkembangannya” usul Amar

*****

Semua orang berada dikamarku ummi,bibi Salma dan keluarga,Fitri dan kakaknya, juga Amar.Mereka menemaniku dikamar dan menghiburku.Tiba jam visite dokter

“Bagaimana bu Annisa, apa sudah enakan”

“Iya dok alhamdulillah, saya ingin pulang tapi katanya tidak boleh,memangnya sakit apa?saya hanya merasakan deman seperti biasanya dok”

“Bu Annisa benar ibu memang demam tapi keadaan ibu bisa membahayakan janin jadi harus terus dipantau”

“Janin?”

“Iya bu Annisa, ibu hamil 3 bulan”

Kata-kata dokter membuat air mataku menetes, aku bahagia akhirnya aku hamil tapi bagaimana ayahnya menerima sedangkan Yusuf akan menikah

“Hamil? Alhamdulillah “ayah masuk ke ruangan sedangkan semua kaget melihat kedatangan ayah dan Nia termasuk aku.

“Kamu hamil nak, ayah akan jadi kakek Alhamdulillah ya ALLAH” ayah tertawa bahagia, belum pernah ayah sebahagia itu

“Sebentar ya ayah mau kabari Yusuf dan ibu”

“Ayah tunggu” aku kaget ayah akan memberitahu Yusuf

“Ada apa Annisa?”

“Aku tak mau Yusuf tau”

“Tapi dia ayahnya dan dia harus tau kau mengandung keturunannya”

“Tapi ayah dia tak mempercayaiku dan dia akan menikah,aku sudah menerima undangannya” aku meneteskan air mata,ayah diam

“Maaf ibu dan bapak, ibu Annisa tidak boleh stress ini akan fatal buat bayinya karna keadaan janin bu Annisa saat ini tak stabil.” Semua kaget mendengar perkataan dokter.

“Ayah bukankah aku mempunyai satu hadiah yang belum aku minta?”

“Iya benar” jawab ayah lesu

“Ayah aku tak mau Yusuf,ibu ataupun Mira tahu keaadaanku itu adalah permintaanku pada ayah dan semua yang ada diruangan ini”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here