Annisa #20

0
363
views

Aku bersyukur paling tidak aku mengerti cobaan yang menimpaku bukan ALLAH marah padaku tapi karna sangat mencintaku.

” Annisa surat dari siapa?” Kata bibi Salma membuyarkan lamunanku. Aku lupa ada bibi Salma,ummi dan Fitri sekarang,mereka menghampiriku.

” Dari pengadilan agama bi ” aku mencoba tersenyum bagaimanapun aku tak mau ini membuat ummi bersedih melihat aku bersedih. Semua kaget melihat jawabanku.

” Nak kamu tidak apa-apa” ummi menghampiriku dan memelukku, ummi menangis.

“Ummi gak apa-apa kok, belum ada keputusan kok, INSYAALLAH Annisa gak akan cerai, kita akan bersama tinggal bersama Yusuf disini.” Kataku meyakinkan.

Ku lihat bibi Salma mengusap air matanya lalu kedalam sedang Fitri menangis dan memelukku, aku tak mau ada kesedihan disini lagi jadi aku menggoda mereka dan bercanda cukup lama. Fitri pamit pulang karna sudah dari pagi dirumah sedangkan aku masuk kamar setelah mengantar Fitri kedepan.

Ku sengaja mengunci pintu kamar,ku baca baik baik surat pengadilan.
“Yusuf apa ini balasan suratmu? apa kau tak percaya padaku walau sudah aku jelaskan” air mataku tumpah makin lama makin deras, kuputuskan untuk mengambil wudhu dan sholat unyuk menenangkan hatiku.

“Ya ALLAH andai ini cobaan untukku aku ikhlas,kuatkan hatiku dan imanku sehingga aku tetap sabar dan kuat menjalani ini semua, YA ALLAH andai ini karna kau cemburu aku terlalu mencintai Yusuf hingga lalai pada cintaku padaMu tolong maafkan aku Ya ALLAH dan tolong tambahkan keimanan dalam hatiku. Ya ALLAH jika memang Yusuf membenciku hingga mentalaqku maka bukalah pintu hatinya padaku ya ALLAH sehingga dia tak terbujuk rayuan setan dan memaafkanku”aku panjatkan doa dan tak lupa doa untuk orang tuaku. Aku tertidur diatas sejadah hingga aku tersadar karna adzan telah berkumandang.

Aku ambil wudhu dan melaksanakan sholat dan membaca AL QURAN setelah itu keluar kamar.

“Annisa, paman Adi menunggumu di depan, cepat kau temui, bibi menemani ibumu.”

” baik bi” kumenemui paman Adi dan mencium tangannya.
“Apa kabar Annisa?”
” baik paman,paman adi gimana?kapan datang?”
“Alhamdulillah, baru saja dengan Ilham tapi Ilham keluar dengan temannya. Annisa bolehkah paman bertanya?”
“Oh gitu, iya paman silahkan”
“Bagaimana keadaanmu?paman dengar Yusuf mengajukan gugatan cerai ke pengadilan”
“Iya paman tapi masih ada harapan kok paman, jangan khawatir”kucoba tersenyum sekuat tenaga,sungguh pura-pura tersenyum saat hati terluka lebih berat dari bayanganku.

“Annisa kau bisa menumpahkan kesedihanmu pada paman,bibi dan Ilham, kau sudah seperti anak paman sendiri jangan pikul sendiri kesedihanmu, paman takut kau tak kuat”
“Gak papa paman Annisa kuat, dan tolong jangan khawatir Annisa baik-baik saja”.

” Baiklah Annisa paman percaya. Annisa paman kesini karna ada yang perlu kita bahas tentang harta warisan abimu, setelah kamu menikah awalnya akan dilimpahkan ke Yusuf saat dia menikahimu, tapi abimu tak enak karna Yusuf punya usaha sendiri, jadi saat Yusuf mentalaqmu abimu memanggil paman, paman tak menyangka itu permintaan terakhir abimu” Paman adi tampak sangat sedih.

“Paman Annisa tidak tahu bagaimana mengelola, tapi rumah,mobil dan usaha kecil2an abi akan Coba Annisa teruskan”
“Annisa peninggalan abimu tak cuma itu” paman Adi mengeluarkan isi koper yang sejak tadi ada di atas meja.

Aku tak menyangka abi tak cuma meninggalkan rumah ini saja, bahkan abi memiliki beberapa rumah di beberapa kota.Dan pekerjaan yang aku sangka kecil ternyata membawahi lebih dari 100 karyawan.

“Kau harus melanjutkan itu Annisa dan kau juga harus melanjutkan kuliahmu bagaimanapun ini semua menjadi tanggung jawabmu sekarang, dan jangan khawatir Ilham sudah ditunjuk abimu sebelum meninggal untuk mendampingimu.Paman juga ada dibelakangmu”
“Terima kasih paman,maaf jika ini merepotkan paman”
“Jangan berkata seperti itu kita adalah keluarga”
Setelah kami mengobrol beberapa lama masalah pekerjaan, aku pamit masuk menemui umi.Aku ceritakan semuanya
“Benar Annisa itu semua pesan abi untukmu dan paman adi”
“Tapi ummi kenapa abi tak pernah bilang,dari dulu memang kita orang mampu tapi abi tak pernah mengatakan kita semampu ini, setiap keluar kota ternyata itu bukan rumah orang itu rumah kita”
“Abimu ingin kau didik dengan harapan bekal akhiratmu cukup membawamu kesurga sedangkan bekal dunia biar abi yang mencari katanya dan abi ingin kau tetap rendah hati tak menjadi sombong”
Aku meneteskan air mataku mendengar penjelasan ummi,ku memeluk erat ummi.

*****

Ilham bertamu kerumah Fitri, dia datang bersama Amar. Fitri dan Rian menyambut mereka.

“Aku disini karna aku dengar Yusuf mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama”kata Ilham
“Benarkah Yusuf seserius itu, apakah dia tak memikirkan ini baru seminggu Annisa kehilangan abinya.”Amar kaget mendengar perkataan Ilham, sedangkan Rian dan Fitri hanya menunduk, Rian sudah diceritakan secara detail oleh Fitri.

“Apa yang harus kita lakukan?”kata Rian
“Hubungi Yusuf”Ilham menjawab singkat
“Tak mungkin, aku dengar dari Nia sudah hampir seminggu Mira kesana terus bahkan saat kematian abi Annisa mereka bertemu di rumah Yusuf”kata Fitri menejelaskan
“Benarkah?” Semua tampak kaget mendengar perkataan Fitri
” Dasaar bodoh”sahut Ilham
“Dia akan menyesal”kata Amar
“Dia berubah “jawab Rian
“Apakah Annisa tau?tanya Ilham
” tidak, Nia tidak ingin Annisa tersakiti” jawab Fitri.

“Apakah aku sebaiknya menelepon Yusuf?”
“Tidak perlu, biarlah dia merasakan penyesalan yang teranat dalam saat dia benar-benar kehilangan Annisa” kata Ilham dan disetujui oleh Amar
“Jangan begitu kak Ilham, Annisa masih ingin mempertahankan Yusuf, dia masih berharap bisa tinggal disana bersama Yusuf dan ummi sebagai keluarga,cobalah kak Rian siapa tahu Yusuf mrndengarkanmu”air mata Fitri mengalir tanpa bisa ditahan.

Rian mencoba telepon Yusuf,tapi Yusuf tak mengangkat panggilan Rian. Kedua kalinya dicoba hubungi baru Yusuf mengangkat.Yusuf mengucapkan salam dengan nada seperti orang malas berbicara,Rian dan yang lainnya menyadarinya karna panggilan itu sengaja di speaker oleh Rian.

“Apa kabarmu Yusuf?”
“Baik”
” apa kau sibuk?ada yang ingin kubicarakan masalah surat pengadilan yang diterima Annisa”
“Baguslah kalau cepat di proses,aku menggunakan pengacara hebat”
“Apakah itu perlu Yusuf? Kasihan Annisa, dia tak berharap bercerai darimu”
“Kalu kau masih ingin berteman denganku jangan sebut namanya”ancaman Yusuf membuat semua geram tapi Rian masih menahan amarahnya
“Baiklah kau dimana sekarang?aku akan menemuimu”
“Aku bersama seseorang dan tak bisa mengajakmu bergabung,maaf”
“Apa…. Kau bersama Mira?”tanya Rian ragu
“Bagaimana kau tahu?”
“Baiklah Yusuf aku tak akan mengganggumu, dan aku berharap Annisa cepat melupakanmu”
“Rian,aku sudah memperingatimu”
“Apa?tak mau berteman denganku?silahkan aku tak butuh teman atau sahabat sepertimu” Rian memutus panggilannya.Semua yang disana bertambah Amarahnya pada Yusuf sedangkan Fitri makin keras menangis.

*****

Seminggu telah berlalu, sidang pertama dilaksanakan Annisa datang bersama paman adi, sedangkan Yusuf bersama pengacaranya.
“Assalamualaikum Yusuf”Aku hendak mencium tangan Yusuf tapi dia menepisnya. “Aku masih istrimu biarkan aku melakukan baktiku”.
Yusuf memberikan tangannya lu segera menariknya cepat.

” apa kabar Yusuf? Aku tau persidangan ini akan panjang,ini aku bawakan bekal untukmu” ku sodorkan bekal padanya tapi melirikpun dia tak mau.
“Ayo kita jalan”kata Yusuf pada pengacaranya dan berlalu begitu saja
“Annisa sudah paman bilang kan”
“Paman dia suamiku”kupaksakan tersenyum
Sidang akan dimulai kami dipanggil untuk memasuki ruang sidang, kami diperkenankan untuk melakukan sidang mediasi.

“Apakah tergugat tetap dengan keputusan saudara?”kata majelis hakim. Yusuf tetap berpendirian untuk menceraikanku,aku menatapnya dengan tetesan air mata.

Beberapa sidang telah dilakukan olehku dan Yusuf tiap sidang hakim menanyakan apa tetap keputusan bercerai dan berkali kali Yusuf mengatakan dia mantap,bahkan ketika aku menolak. Mira menjadi saksi yang memberatkan aku,Yusuf menghakimiku bagai aku adalah orang penuh dosa dan hina,bahkan ketika aku mengajukan Fitri sebagai saksiku pengacara Yusuf membuat Fitri dan aku kelabakan,aku tetap pada pendirianku.

Banyak sidang yang kulalui selama sebulan,sungguh batinku capek karna semua usahaku sia-sia.Kulihat Yusuf berjalan bersama pengacaranya.
“Yusuf”panggilku,dia menoleh tapi tetap mengacuhkanku.Ku tetap mengejarnya
“Yusuf aku mohon bisakah kita bicara sebentar?selama ini kita tak pernah bicara.”

“Apa yang kau inginkan?”
“Yusuf aku mencintaimu,sunguh aku tak pernah berkhianat,kau duniaku Yusuf bagaimana aku tega menghancurkan duniaku?kau jalan singkatku menuju surga,bagaimana aku bisa berselingkuh dan berzina padahal itu jalan tercepat menuju neraka,Yusuf aku mengharapkan keridhoanmu karna kau suamiku, Ridho ALLAH terletak pada Ridhomu. Yusuf menyentuhmu, melayanimu,membuatmu bahagia adalah cara termudah mendapatkan surgaku,aku takkan membuatmu marah hanya untuk mendapatkan neraka yang tak pernah kuinginkan.Yusuf percayalah padaku ya? Ini belum terlambat.”ku coba meraih tangan Yusuf untuk meyakinkannya.

Jawaban Yusuf membuatku hilang harapan, aku tak tahu penghinaannya bisa sesakit ini padaku,air mata yang mengalir memberi tandaku bahwa ini akhirnya,sedangkan mulutku yang terkunci menjadi sinyal akhir percobaanku untuk membujuknya.Apa yang ku dengar telah merobohkan benteng keyakinanku untuk tetap bersamanya.Yusuf hendak beranjak meninggalkanku.

“Yusuf” bibir ini mulai dapat tergerak lagi. Ku lepaskan cincin di jariku,ku letakkan pada tangannya
“Terima kasih Yusuf ini akhir dari kita,perjuangan akhirku telah selesai,terima kasih”kubalikkan badan dan berjalan meninggalkannya,Fitri yang dari tadi menungguku berjalan memelukku.

“Fit jangan katakan apapun dgn siapapun,aku akan mengatakan saat ikrar talaq telah dibacakan.”Fitri mengangguk mengerti.

Hari ini sidang terakhir pembacaan talaq oleh Yusuf, kini air mata tak mengalir lagi dari mataku. Aku keluar ruang sidang bersama Fitri,tak lupa kuucapkan terima kasih pada pengacara yang ditunjuk oleh paman Adi,dan juga aku mengizinkannya untuk memberi tahu paman Adi karna selama ini aku memintanya tak melaporkan apapun.

“Annisa kau tak apa-apa”kata Fitri
“Tak apa-apa”aku tersenyum ceria mungkin ini senyum terbaik yang aku berikan setelah lama terpaksa tersenyum.
“Kau yakin?”kata Fitri.

“Tentu saja Fitri sahabat tersayangku”kupeluk Fitri dan mengajaknya berjalan pulang.

“Oh ya hubungi Nia,Amar,dan kakakmu nanti malam aku teraktir.Aku akan hubungi kak Ilham”
“Bukannya Ilham sibuk?”
“Tenang saja dia pasti datang”
Sesampainya dirumah ummi,bibi Salma juga kak Ilham sudah dirumah menyambut ku.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam”semua menjawab dan menghampiriku.
“Nak kau tak apa-apa?”kata ummi
“Pamanmu menelepon ternyata sekarang pembacaan ikrar talaq dan keputusan resminya,kenapa tidak bilang?” bibi Salma menimpali
“Kan bisa kita temani”kak Ilham juga mulai mencecarku
“Ummi maaf Annisa sudah berusaha tapi sepertinya tak berhasil,maafkan Annisa ya ummi?Annisa juga sudah menyerah sejak persidangan sebelumnya,malah Annisa lebih kuat jadi gak perlu didampingi,gimana kantor kak Ilham?”
“Ummi memaafkanmu nak,abi juga pasti tahu usahamu”jawab umi meneteskan air mata.

“Jangan menangis ummi kita harus kuat, Annisa gak pengen liat ummi menangis,nanti Annisa juga nangis”kupeluk erat ummi
“Kak Ilham gimana kantor hari ini?
“Baik-baik saja”
“Sana berangkat kerja ,keluar tanpa izinku bisa kupotong gaji kakak”aku tertawa dan semua tertawa
“Potong aja”
“Oh ya kak aku mau traktir kakak,juga yang lainnya,sahabat kita udah aku hubungi lewat Fitri”
“Asyikkk”
“Kalo traktiran semangat”kata bibi Salma
“Bossnya pelit jadi seneng ini sebuah kesempatan bu”kata kak Ilham
“Apa aku pelit?”semua tertawa.”oh ya ummi gak apa-apa kan Annisa keluar?”ummi hanya mengannguk dan tersenyum.

Aku dan kak Ilham melaju ke tempat pertemuan,saat sampai di parkiran kami bertemu dengan kakak Fitri,Fitri dan juga Amar.

“Annisa kamu yakin mau traktir disini?”kata Amar
“Iya kita beli sedikit makanan disini saja bisa makan sebulan penuh nasi padang ” kata Fitri menimpali
“Tenang bu boss yang mau bayarin” kata Ilham.Semua kaget mendengar ucapan Ilham dan tak mengerti maksudnya,lalu Ilhan menjelaskan sedikit dan semua mulai terpana melihatku
“Oh ya mana Nia?”tanyaku bingung
“Kau ajak Nia juga?”kata Ilham kaget
“Iya dia adikku kak”kataku padanya.Kami tak menyadari ternyata Nia dibelakangku dengan ayah.

“Kak Annisa”panggilan Nia mengagetkan kami,dia memelukku erat.
“Maafkan kak Yusuf ya kak”
“Tak apa-apa Nia”aku kemudian menghampiri ayah dan mencium tangannya takdzim.

“Ayah sehat?”
“Alhamdulillah, hati ayah yang sakit kehilangan anak sepertimu”
“Aku tetap anak ayah”aku tersenyum
“Kamu memang anak baik nak,ayah bersyukur kamu bahagia dan tak menjadi istri laki laki bodoh itu lagi”
“Ayah,jangan begitu Yusuf anak ayah yang baik”
“Oh ya sebentar ayah”aku berlari ke mobil dan mengambil bingkisan yang sengaja kupersiapkan untuk ayah dan rencananlnya aku titipkan pada Nia nanti.

“Ayah ini”
“Apa ini nak?”
“Ini madu dan kurma,Annisa dengar ayah tak sehat,jagalah kesehatan ayah”aku meneteskan air mata
“Nak jangan menangis ayah malu padamu,anakku telah membuatmu menangis sekarang aku,ayah tak tau harus bilang apa bila bertemu abimu”air mata mengalir disudut matanya.

“Sudahlah ayah jangan nangis,ayo masuk kita makan”
“Tidak usah ayah harus kembali kerumah,berbahagialah nak”
“Salam sama ibu ya ayah”ayah hanya menggeleng,aku mengerti ibu membenciku bahkan tak ingin bertemu denganku.
Kami masuk dan menempati meja yang telah direservasi untuk kami oleh kak Ilham.

“Ayo pesan sepuasnya”kata kak Ilham
“Yakin?”kat Fitri meledek
“Yakin dong,gajiku saja berkali-kali lipat dari harga makanan disini”celetuk Ilham yang sukses membuat Fitri melongo dan tak menyia-nyiakan kesempatan.

Saat kami menunggu pesanan, Nia tampak gelisah
“Ada apa Nia?”bisikku,kulihat Nia ingin mengatakan sesuatu
“Kak Yusuf akan…” belum selesai Nia menyelesaikan omongannya matanya membulat melihat sesuatu dibelakangku,ku menoleh ke arah pandangan Nia, kulihat Yusuf dan Mira jalan bersama menuju arah kami.

“Wah wah wah hebat bisa makan ditempat ini,gak patungan kan? Mira mengejek kami sedang Yusuf mencoba menghentikannya.Semua menoleh kaget ke arah Mira.

“Iya dong kami kan lagi di traktir sama Annisa,syukuran bercerai dengan Yusuf”kata-kata Fitri menusuk tajam dan sukses membuat Mira dan Yusuf terkejut.

“Ada apa kakak kesini ha?belum puas hari ini?”tanya Nia pada Yusuf,
Saat Yusuf hendak menjawab,Mira mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Datang ya kalian semua ke pernikahan kami”.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here