Annisa #19

0
161
views

Aku meminta maaf pada mereka bagaimanapun aku tak berhak meminta mereka bersumpah.

” Tapi Annisa Yusuf harus tau ini perbuatan Mira” kata Fitri tak habis pikir dengan permintaanku.

“Fitri ini adalah hadiah terakhirku sebagai sahabatnya,bagaimanapun dia pernah baik padaku walau aku tak tau ke ikhlasannya.”
“Lalu bagaimana dengan Yusuf?kau ditalak olehnya”
“Fitri aku tau ini baru talak pertama dan aku yakin dia masih emosi,aku tau dia tak sungguh-sungguh”

“Annisa aku tak ingin memperkeruh keadaan dan aku tak ingin membuatmu terluka, tapi hari ini aku menemuinya untuk memberitahu bukti kau tak bersalah, tetap dia tak percaya” giliran kakak Fitri menjelaskan.

“Iya Annisa” kak Ilham menimpali.
“Kak aku tahu Yusuf marah tapi aku yakin jika kita semua diposisinya kita juga akan marah dan tak percaya, aku yakin itu”
“Kau tidak akan menyerah pada Yusuf?” Tanya amar.
“Aku tak akan menyerah Amar aku akan melakukan apa saja agar dia percaya padaku,aku yakin suatu saat dia akan percaya”
Adzan magrib berkumandang,aku masuk melakukan sholat magrib, kuperbanyak doaku pada ALLAH, dan memohon semoga pintu hati Yusuf dibukakan untukku kembali.

Keluarga paman Adi memutuskan menginap disini, mereka banyak sekali membantu kami, menguatkan abi dan ummi yang masih syok karna anak semata wayangnya ditalaq oleh suaminya padahal baru saja menikah. Dan juga mereka menyiapkan semua untuk makan malam, sebenarnya aku enggan untuk makan karna aku memikirkan Yusuf tapi bibi Salma membujukku,agar tak sakit.

Akhirnya kami makan bersama di meja makan, aku sengaja makan sedikit karna aku tak bernafsu dan tak ingin menyisakan makanan,selesai makan aku pamit dan beranjak masuk kamar tapi abi memanggilku dan mengajak mengobrol berdua di kamar.

“Nak bersabarlah ” kulihat kesedihan yang besar di raut wajahnya
Kupaksakan tersenyum untuk menghibur abi,aku tak mau abi makin sedih jika melihatku sedih.

“Abi Annisa baik-baik saja, Annisa akan yakinkan Yusuf dan menjelaskan, gimanapun Annisa tahu Yusuf emosi saat mentalaq Annisa. Jangan khawatir ya abi?”kupeluk abi.

“Tapi Annisa bagaimana kalau Yusuf tetap kokoh dengan pendiriannya?”
“Tenang bi tenang ya? ALLAH akan membantu Annisa karna Annisa gak melakukan hal yang dibenci ALLAH,dan Annisa akan berusaha Annisa tak bercerai bagaimanapun perceraian memang diperbolehkan tapi sangat dibenci ALLAH.”

“Makasi nak,kau memang anak baik,anak sholehah abi dan ummi. Abi bangga karna kamu akan berusaha mempertahankan pernikahanmu. Annisa andaikan kau tetap harus bercerai jika memang terbaik untukmu abi Ridho nak”
Abi menyuruhku tidur,dan memintaku untuk jangan lupa selalu meminta pertolongan pada ALLAH, aku menuruti dan pergi ke kamar.

Sampai dikamar ku ingat segala hal yang telah aku lalui bersama Yusuf, kumenangis mengingat semuanya, ku ingat saat dia mencoba menciumku,walau aku pernah menolaknya.Aku tau ini kn sangat berat untuk mendapat maaf darinya tapi aku hanya bisa berdoa untuk diberikan kesabaran dan kekuatan untuk semua yang terjadi dan untuk meyakinkan Yusuf.

Saat tengah malam kudengar suara ibu menangis dan keadaan jadi ramai, kuberlari melihat keadaan ibu. Tapi kulihat abi di bopong paman Adi,Ilham dan beberapa tetangga ke dalam mobil.

“Abi…abi”kuikuti abi sampai mobil, bibi Salma memegangiku.
“Tenang Annisa abi gak apa-apa, ayo kerumah sakit”
Aku,ummi,bibi dan kak Ilham ke rumah sakit setelah berganti pakaian.Aku menangis tak berhenti melihat apa yang terjadi.Aku tak mau sesuatu terjadi pada abi dan menyesali semua terjadi karena aku.

Abi sedang ditangani dokter,hampir sejaman kami tak tau apa yang terjadi lalu seorang dokter keluar ruangan.
“Keluarga pasien?”
“Iya dok”jawabku dan ummi
“Bapak tidak sadar karna mendapat serangan jantung”
“Jantung dok?suami saya tidak ada riwayat jantung dok?”
“Kemungkinan serangan ini terjadi karna bapak mendapat tekanan berat atau stress berat,tapi kami akan memeriksa lebih seksama dengan beberapa tes yang dilakukan.”

“Bagaimana kondisi pasien saat ini dok?” Paman adi bertanya,sedang ummi dan aku syok dan terus menangis,aku menyalahkan diriku sendiri karna aku abi menjadi seperti ini.

“Pasien tidak sadar dan harus tetap di ICU agar kami dapat kontrol setiap saat.”
Tangisan ku makin menjadi mendengar perkataan dokter. Sedang ummi berusaha tetap tegar untuk menghiburku.

Setelah sholat subuh paman Adi dan kak Ilham menghubungi para kerabat dan sahabat untuk memberitahu kabar abi.

Sekitar jam 6, paman Adi dipanggil untuk mengurus administrasi sedangkan bibi Salma dan kak Ilham pulang untuk mengambil pakaian dan mengurus keperluan lainnya.Aku dan Ummi hanya duduk berdua didepan ruang ICU.

“Ummi maafkan Annisa karna Annisa ayah jadi begini”
“Nak jangan berkata begitu,sebenarnya abi mendengar semua omonganmu,abi tau siapa yang menyebabkan kesalahpahaman ini tapi abi mengatakan dia bangga karna kamu telah bijak mengambil keputusan” aku menangis mendengar perkataan ummi.

“Tadi malam setelah memanggilmu abi mengatakan kalau dia bersyukur memiliki anak sepertimu bahkan abi mengatakan kalau sekarang dia tenang jika harus meninggalkanmu selamanya”ummi terisak menangis,air mataku tumpah.

“Gak ummi abi gak akan apa-apa abi bakal sehat”tangisku pecah dan kami saling berpelukan.

*****

“Assalamualaikum Fitri”
“Waalaikum salam Ilham, ada apa ini masih subuh?Annisa tidak apa-apa kan?” Tanya fitri cemas
“Abi Annisa masuk rumah sakit,sekarang tak sadar”
“Apa? YA ALLAH cobaan apa lagi ini”
Kakak Fitri yang mendengar penasaran apa yang dikatakan Ilham pada Fitri.Lepas Fitri menutup teleponnya,Rian bertanya,
“Ada apa?”
“Abi Annisa masuk rumah sakit,tak sadarkan diri”
“Apa?ayo cepat kita kesana!”
“Iya,bentar Fitri siap-siap”
“Iya kakak juga,jadi bisa berangkat kerja dari rumah sakit”
Di dalam perjalanan Fitri dan kakaknya membahas apa yang terjadi
“Kak kasihan Annisa ya cobaan ini bertubi-tubi, dari sahabat, suami sekarang abinya.”

“Hus jangan ngomong begitu semua urusan ALLAH”
“Iya sich,oh ya kakak sudah hubungi Yusuf? aku sudah menghubungi Amar”
“Aku tak menghubunginya, dia pasti sudah tau, dan lagipula aku kesal padanya karna kejadian kemarin”
“Semoga saja dia mendengar kabar ini dan langsung menjenguk abi Annisa”kata Fitri

*****

Tak berapa lama aku lihat Amar dan kedua orang tuanya datang, mama Amar memeluk ummi,dan menenangkan kami berdua.
“Sabar Annisa”. Kata Amar aku mengangguk lemah.
Kemudian Fitri dan kakaknya datang,Fitri memelukku dan menangis,aku tak bisa lagi membendung air mataku
“Annisa tenanglah aku bersamamu”
“Abi akan baik baik saja kan Fit?aku tak tahu apa yanga akan kulakukan jika sesuatu terjadi pada abi”tangisku makin pecah
“Jangan begitu abi akan baik-baik saja Annisa”
Lalu kulihat Ayah dan Nia datang,tak kulihat kehadiran Yusuf dan ibu.
“Annisa,bagaimana abi?”kata ayah setelah mengucapkan salam,aku mencium tangannya takdzim dan menjelaskan kondisi abi.
“Kak sabar ya”kata Nia memelukku
“Makasi Nia,Nia mana Yusuf?”kataku, tapi Nia hanya menggeleng sedih, aku terdiam
‘Apakah sebenci itu dia denganku sampai dia tak menjenguk abi’fikirku
dokter dan beberapa perawat berlari ke ruang ICU, paman adi berlari dibelakang dokter.

“Ada apa Paman?”
“Ayo Annisa bawa ummi masuk”wajah paman Adi terlihat ketakutan.
Kulihat dokter menggunakan alat kejut jantung,membuatku lemas tak bertenaga dengan air mata yang mengalir,monitor menampilkan garis lurus,aku makin histeris
“Tolong keluar” kata seorang perawat
“Ini istri dan putrinya,paling tidak mereka disini”
“Maaf kami sudah melakukan yang terbaik”tiba-tiba dokter menghampiri kami
“Abi…..”teriakanku dan tangisku pecah,semua gelap, aku tak sadarkan diri.
Setelah sadar ternyata aku ada dirumah,aku mendekati jenazah abi dan tetap duduk disana bersama ummi,banyak orang yang mengucapakan agar aku bersabar tapi aku hanya diam,meninggalnya abi adalah pukulan berat bagiku.Bibi Salma,Fitri dan Nia selalu menemaniku dan tak beranjak selangkahpun dari sampingku.

Kulihat wajah abi sangat bersih sekali,wajahnya sama seperti saat abi tidur,dan kulihat bibirnya tersenyum. Kubisikkan kata-kata terakhir sebelum kafan abi ditutup,kutahan air mata agar tak jatuh di jenazah abi.
“Abi maafkan Annisa yang kurang berbakti,Annisa minta maaf belum bisa membahagiakan abi,Annisa berjanji akan selalu menjaga ummi dan Annisa akan berusaha menjadi anak sholehah agar doa Annisa untuk abi menjadi amal jariyah bagi abi”ku kecup kening abi untuk terakhir kali.Tak bisa lagi kutahan air mata ketika wajah abi ditutup
Jenazah abi akan dikuburkan, kami para wanita tak mengikuti kekuburan,kulihat keranda meninggalkan rumah,ku hanya menangisi tanpa terdengar sedikitpun suara. Aku tak mau menangis meraung raung agar abi pergi dengan tenang.

Para laki-laki datang dari kuburan,Fitri dan Nia tetap setia menemaniku lalu kak Ilham menghampiriku,dia terlihat sedih melihat keadaanku,
“Kak Yusuf mana?”hanya itu yang terucap dari bibirku.
“Tak ada”kata Ilham sedih tapi kulihat kemarahan diwajahnya.
“Maaf kak” kata Nia tertunduk
“Nia aku ingin menitipkan sesuatu pada Yusuf”.Aku masuk ke kamar agak lama,setelah keluar kamar aku berikan sepucuk surat pada Nia dan aku meminta balasan dari Yusuf.

Seminggu telah berlalu sejak kematian abi, masih banyak orang bertakziah, bibi Salma masih dirumah,sedang Paman Adi sudah pulang karna pekerjaan dan ummi sedang Iddah. Fitri dan Nia setia menemaniku tiap hari.

“Assalamuaalikum,benarkah ini rumah ibu Annisa”
Ternyata balasan Surat dari Yusuf datang melalui orang lain
” Terima kasih Ya ALLAH”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here