Annisa #02

0
98
views

Annisa masih terpaku ketika kedua mata bertemu.”Annisa..”panggilan itu menyadarkan Annisa kembali,segera dia beristighfar dalam hati sambil menenangkan hatinya,dia memberanikan diri melihat pria di depannya akan tetapi kali ini tidak berani melihat matanya.”ada apa kak Yusuf?”,kali ini yang diajak bicara tidak menjawab tetapi memberikan isyarat menghadap pintu bus,Annisa menoleh ke arah pandangan Yusuf ,dia melihat ada 2 pemuda menaiki bus seketika kemudian dia faham maksud Yusuf ingin duduk disebelahnya…

Setelah mempersilahkan Yusuf untuk duduk disebelahnya Annisa reflek menjauhi yusuf tapi tidak mungkin bisa menjauh karna meraka sudah sebangku bersama,begitupun Yusuf agak sedikit menjaga jarak agar gadis disebelahnya bisa duduk dengan nyaman tanpa bersentuhan.

“Terima kasih” Yusuf mencoba membuka pembicaraan

“Hmm…tidak apa-apa,aku yang harusnya berterima kasih karna kamu menjagaku”jawab Annisa cepat sambil mengalihkan pandangan kebawah dan tidak menoleh ke Yusuf ,dia menyembunyikan betapa malunya dia pada yusuf dan malu karna dia duduk pertama kali dengan seorang laki laki.

telfon Annisa bergetar terus menerus,dia yakin itu semua pesan di grup whatsappnya bagaimana tidak pasti para sahabatnya ingin tahu apa yang terjadi padanya dan itu membuat dia senang walau hanya sementara membayangkan wajah sahabatnya yang penasaran,sengaja Annisa mengheningkan telponnya agar tidak kaget terus menerus karna getaran tiba tiba,entah kenapa Annisa mudah kaget hari ini entah karna grogi atu hal lainnya.

Laju bus mulai melambat Annisa melihat kedepan ternyata banyak mobil terpaksa berhenti termasuk bus yang ditumpangi entah apa yang terjadi yang pasti tidak terlihat karna macetnya agak jauh.

“Annisa dari rumah ilham ya?

“Iya…kak yusuf dari mana?

“Jangan panggil kak,panggil yusuf saja lebih enak di dengar ,kebetulan dari rumah saudara juga”

“Oooh…..iya kak eh yusuf….”

Sebenarnya usia Annisa dan yusuf hanya selisih 4 tahun, usia Yusuf sama seperti usia kak Ilham dan mereka bersahabat cukup dekat…walau kak Ilham berbeda kota tapi sebelum kak Ilham kuliah dia bersekolah dikotaku entah kenapa alasan paman adi dan bibi salma menyekolahkan anak semata wayangnya di kotaku… karna itu banyak sahabat kak Ilham termasuk Yusuf salah satunya.

“ILHAM masih kuliah?di surabaya kan?”

“Iya ” jawab Annisa sekenanya karna dia bingung bukankah Yusuf terkenal pendiam apa lagi dengan perempuan kenapa ini berbeda seperti yang kulihat dan Fitri katakan.

Yusuf adalah laki laki pendiam semua orang tahu itu di kampungku ,dia jarang sekali terlihat berbicara atau menggoda perempuan,jangankan begitu melihat perempuan saja dia tidak pernah,dia terkenal sebagai ‘menantu idaman’ karna dia selalu sholat di masjid,tidak pernah pacaran,ahlaknya baik,penampilan sederhana dan diusia muda dia sudah mempunyai pekerjaan yang bisa dikatakan mapan karna bukan dari harta pemberian orang tuanya.

Apakah aku salah bisik Annisa dalam hati,sambil menatap wajah Yusuf,untung saja yang ditatapnya hanya menunduk.

“Annisah bolehkah aku menanyakan sesuatu?”tiba-tiba yusuf menoleh dan Annisa tertangkap basah sedang memandanginya

Annisa mencoba bersikap santai agar tidak terlalu malu karna tertangkap basah.”iya kak eh Yusuf” bodohnya aku gerutu Annisa menyesali perbuatannya

Bus mulai melaju kembali ketika Yusuf akan melontarkan pertanyaannya ternyata terjadi kecelakaan didepan masih ada serpihan di jalan raya…seisi bus menengok ke arah kanan jalan untuk melihat apa yang terjadi termasuk aku tapi bukannya melihat jalan raya aku malah melihat Yusuf yang seperti grogi untuk mengatakan sesuatu…aku salah ternyata dia orang yang sama seperti orang bilang dan aku fikir….tanpa kusadari senyumku tak bisa aku tutupi melihat pemandangan laki-laki sholeh ini…ku hapus senyum itu sebelum tertangkap basah oleh Yusuf lagi.

“Annisa apa pendapatmu tentang pacaran?”katanya cepat…
Aku terhenyak,”pacaran?” Berusaha meyakinkan apa yg aku dengar….Yusuf hanya mengangguk dan menoleh ke arahku.

“Dosa”jawabku singkat..

Aku melihat dia tersenyum mendengar jawaban tegasku tapi aku tak tau dia tersenyum bahagia ato tersenyum mengejekku…ku sudah tidak peduli bagaimana pendapatnya tentangku.Rasa maluku dan senyumku telah berubah menjadi kesal mendengar pertanyaan itu…kenapa orang memandang perlu berpacaran padahal jelas -jelas pacaran itu dosa,apakah mereka sudah tidak takut berbuat dosa,bisikku dalam hati.

Untuk meredaka kesalku aku memalingkan wajah ke arah jendela,benar saja kekuasaan Allah sangatlah besar kulihat indahnya hamparan sawah dan gnung gunung yang menjulang tidak terlalu tinggi membuat suasana hatiku berubah menjadi lebih baik.

“Annisa bolehkah aku meminta nomer telfonmu?

“Nomer telfon?maaf buat apa ya?

“Aku ingin menghubungimu,bila ada kajian agama”

“Ohhh baiklah”…tanpa basa basi aku sebutkan nomerku tapi yang kemudian terjadi adalah aku bingung kenapa aku memberikannya padahal hanya keluarga dan satu sahabat laki-laki yang punya nomerku,itupun karna dia aku anggap kakak sendiri dan dekat dengan keluargaku jadi aku berikan nomerku..

Tanpa terasa 5 menit lagi aku sampai rumah…aku mulai bersiap…

“Annisa bukankah pacaran itu dosa berarti kamu tidak pernah pacaran kan?kali ini dia menatapku….

“Tentu saja tidak pernah dan INSYAALLAH selamanya tidak akan pacaran”jawabku tegas

Lagi -lagi Dia tersenyum puas sedangkan aku tidak mengerti lagi apa maksud senyuman itu, tapi aku terlalu sibuk untuk memikirkan hal itu karna aku terburu-buru ingin memberi tanda bahwa aku akan turun pada kenek bus dan sang kenek mengerti,dia memberiku jalan..

“Mau kah kau menikah denganku?”

“Hah ?”aku kaget mendengar itu dan kakiku lemas seketika…aku menguatkan kaki dan berjalan turun dari bus…dan tanpa sadar aku mematung karna kaget tidak percaya apa yg aku dengar…

Kutepis semua pikiran itu lalu aku menyusuri jalan menuju rumahku sambil memastikan apakah benar yang aku dengar…tapi satu hal yang membuatku makin memperkuat dan mempercepat langkah kaki menuju rumah….aku masih sekolah walau benar aku tinggal menunggu kelulusan tapi dia tidak mengatakan pada orang tuaku jadi aku yakin ini hal yang tidak usah aku pikirkan…

” ASSALAMUALAIKUM…ummi…..abiiii Annisah pulang..”kataku lesu

“Annisah kamu dari mana bibi Salma dari tadi telfon-telfon terus,katanya kamu g ngankat telfon dan katanya kamu sudah pulang dari jam 2?”ummi mencecarku pertanyanyaan khawatir karna aku mestinya paling telat sampai jam 3 -an,dan aku dah telat setengah jam.

“Astagfirullah hal adzim iya ta ummi?”aku lalu mencium tangan ummi dan mengambil handphoneku dari tas ternyata banyak telfon dari bibi Salma,paman Adi,ummi bahkan kak Ilham,aku hanya bisa menyeringai ke ummi…

“Ummi tolong telfon bibi Salma ya Annisa mau sholat Ashar dulu ya sambil kucium kening ummi dan kabur ke dalam kamar….

kuletakkan tasku dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu…setelah itu aku sholat pada rakaat pertama aku mulai tidak khusyuk karna memikirkan kejadian dalam bus tadi sempatku beristigfar dalam hati lalu aku mulai tidak memikirkan lagi dan khusyuk sholat aku tidak mau setan berbahagia karna aku tidak khusyuk sholat.setelah kuselesaikan sholatku aku berdoa dan membaca dzikir petang.alhamdulillah setelah selesai kurebahkan badanku di kasur kesayanganku tapi tiba-tiba kudengar ada orang mengucapkan salam,aku hafal sekali dengan suara itu,aku ambil hijabku dan keluar kamar menuju ruang tamu.benar saja Fitri dan Mira sesuai tebakanku…mereka teriak melihatku lalu dengan sigap ku menyuruh mereka diam,dan mereka mengerti.

“Ummi….”

“Mau kemana,keluar lagi?”sahut ummi ketus

“Duduk di depan ummi hehehehehehe”

“Oh iya ummi bawakan kue ya?”

“Sippp tante….”sahut Fitri dan Mira bersamaan

Aku menarik kesal mereka berdua…

“gimana gimana ?”kata fitri penasaran,mira tak kalah penasaran menatapku

“Hmmmmm……”sengaja kubuat mereka penasaran

“Ini kuenya”ummi menyodorkan kue ,kami terperanjat kaget dan ummi melihat aneh ke arah kita

“Makasi tante pasti enak buatan tante ” Fitri sigap menutupi rasa penasaran ummi.memang fitri pandai berkata manis jadi kami terselamatkan ..
“Annisa jangan lupa telfon bibi Salma tadi umi dah telfon bilang kamu sampai”

“Iya ummi…”

Ummi pergi meninggalkan kami ke dalam rumah.sambil kuperhatikan kondisi aman aku memberitahu kedua sahabatku..

“Dia ngajak nikah” aku berpura pura tertunduk lesu untuk mengerjai kedua sahabatku

“Apa???”mereka kompak

“Ini semua karnamu Fit,aku kan bercandain kamu FIT ,Mira pun tau itu becanda,iya kan mir?”.aku memang pernah bercandain Fitri ketika Yusuf lewat mengendarai sepeda motornya depan rumahku,aku mengatakan yusuf manis pada mira sambil mengedipkan mata tanda menggoda Fitri…betapa kagetnya ketika Fitri mengatakan padaku dan Mira sudah disampaikan salamnya ke Yusuf,sungguh rasanya malu saat itu bagaikan tersambar petir di siang bolong,aku menyesali perbuatanku dan kebodohanku karna aku lupa Fitri memang polos sekali.

“Bener Fit itu bercanda,tenang Annisa itu mungkin g serius tenang aja,”mira menimpali

“Iya aku yakin itu becanda juga Mira,mana mungkin ngajak nikah di bus ?hahahhahahaha ” aku puas membuat takut mereka berdua

Aku dan Mira tertawa tapi Fitri diam saja,belum sempat aku bertanya..

“Siapa yang ngajak kamu nikah Annisa?abi tiba tiba datang entah dari mana.

——-

Maaf sebelumnya jika tulisan ini banyak kekurangan disegala sisi….tolong beri masukan karna ini pertama kali saya menulis….terima kasih

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here