Anak Rumahan Bukan Murahan #28

0
95
views
Anak rumahan bukan murahan

Rio mengatap rahang saat mendapati tubuhnya yang berbau anyir karena lemparan telur pecah.

“Apa-apaan ini?” hardik Rio.

“Happy birtday to you ….” Serentak para murid mengucapkan kalimat itu.

Lagi-lagi Rio mendapat kejutan dan dia pun tidak tahu siapa orang pertama dalam permainan ini.

Setelah beberapa menit kemudian Gina datang dengan membawa kotak segi empat.

“Potong dulu kuenya Pak,” titah Gina sambil menyodorkan pisau berserta kue.

Rio mengangguk dan meraih kue tersebut.
Potongan kue pertama Rio memberikannya pada Gina dengan senang hati Gina memakan kue yang diberikan Rio.

“Acieee!” sorak para murid sambil menepuk tangan.

Rio dan Gina saling membuang muka karena malu.

“Ih, sebel-sebel,” lirih Aurel yang melihat adegan romantis itu.

“Sabar, Rel,” sahut Aren sambil mengelus punggung Aurel.

“Masa Pak Rio gitu sama aku Ren, aku nggak dikasih potongan kue pun, padahal yang ngucapin selamatkan aku yang lebih awal daripada Gina,” keluh Aurel.

“Tak boleh cemburu,” ledek Aren sambil menggoyangkan satu telunjuknya.

“Is, apaan sih.”

Acara pun selesai kini semuanya bubar dan kembali ke rumah masing-masing.

“Pak, aku nebeng ya,” ucap Gina memamerkan deretan gigi putihnya.

“Ya elah, itu anak ambil kesempatan dalam kesempitan saja,” cibir Aurel.

“Ih bau amat.” ketus Gina sambil menutup hidung.

“Ya elah, sombong! saya kayak inikan karena ulahmu,” todong Rio.

“Ya elah, saya kayak inikan karena kamu itu ulang tahun,” sahut Gina mengikuti nada bicara Rio.

“Coba saja kamu merayakannya tidak pakai telur pasti ngak anyir gini,” pungkas Rio.

“Coba saja kamu tidak ultah hari ini, pasti ngak ada bau anyir seperti gini,” sambung Gina tidak mau kalah.

Rio tepak jidat sekaligus melotot mendengar ucapan Gina yang memakai kata ‘kamu’ meskipun itu hanya ucapan tiruan. Rio geleng-geleng kepala.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here