Anak Rumahan Bukan Murahan #03

0
106
views
Anak rumahan bukan murahan

“Hey Gina, kenapa kamu dari tadi sibuk mulu, mondar-mandir, geser sini geser situ pantatmu panas ya kalo lama duduk di atas kursi,” tegur Rio geram.

Semua murida pada tercengang.

“Bapak itu Aurel bukan Gina,” teriak para murid.

“Ahaha, bapak … bapak,” ledek para murid merasa begitu lucu.

Rio membulatkan kedua bola matanya kemudian nyengir kuda.

“Oh ya Aurel, maaf Gina,” ucapnya dengan nada malu.

“Cie bapak, ingatnya cuma Gina. tau amat sama cewek populer di sini.” sahut salah satu murid cowok ngeledek.

Raut wajah Gina menjadi tidak bersahabat dia sangat tidak suka bila namanya menjadi bahan pembicaraan.

“Iya nih bapak, sembarangan aja sebut nama orang,” ketus Gina berkacak pinggang.

Murid kok gitu, adehhhh.

“Maaf … maaf.”

“Huh, upst.” Gina mengambil posisi duduknya kembali.

“Menyebalkan,” batinnya.

“Huuh bapak ini, masa cuma ingat sama Gina doang,” gerutu Aurel mencabik-cabik bukunya.

“Baiklah, sekarang lanjutkan tugas kalian,” ujar Rio menenangkan kelas.

“Bete aku jadinya, huaaa ….” Aurel mewek tetapi teman yang lainnya tidak tahu.

“Cie Gina, keknya guru baru itu naksir kamu deh,” bisik Rose teman sebangku Gina.

“Is, apaan sih,” ucap Gina sambil menoyor kepala Rose.

“Aduh, sakit tau, ceplok.” Rose mebalas toyolannya.

Rio menjelaskan apa itu pantun dengan singkat padat dan jelas. Namun, Gina dan Rose tidak begitu memperhatikannya dan asyik bercanda.

Hari ini Gina tidak seperti biasanya. Hari ini dia yang paling ribut di kelad. Entah apa yang terjadi dengan Gina tetapi yang jelas dia terlihat berbeda.

“Kalian berdua dari tadi bapak perhatikan kalian ribut terus, sekarang coba kalian jelaskan ulang apa yang bapak sampaikan tadi!” sergah Rio melotot.

Gina dan Rose terbelalak kaget.

“Mana ada ribut pak, dari tadi kita diam kok,” jawab Rose mengelak.

“Udah pak, hukum aja emang dari tadi mereka ribut kok,” cetus Aurel dari seberang sana.

“Kamu ini usil aja,” balas Rose menatap tidak suka.

“Sudah, sudah. ayo kalian berdua coba jekaskan ulang.”

Gina dan Rose terdiam seperti orang kebingungan bahkan mereka berdua tidak berani menatap guru tampan yang ada di depan mereka. Gina dan Rose saling memberi isyarat supaya duluan menjawabnya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here