Anak Gunung # 01

- Advertisement -
- Advertisement -

Bagian Satu


Matahari masih enggan menampakkan wajahnya. 05.00 jam menunjukkan saat ini. Rintik masih setia menemani seolah membuai orang untuk lebih merapatkan selimut tebal pada tubuh mereka. Hawa teramat dingin terlebih lereng pegunungan itu memang berhawa sangat dingin. Halimun gunung menutupi jarak pandang .

Seorang gadis nampak berjalan dengan tergesa. Ditentengnya sebuah bungkusan kantong plastik hitam ditangan kirinya. Tangan kanannya sibuk menganggkat rok abu miliknya. Baju seragam putih abu bahkan tidak terlihat jelas warnanya terhalang gelapnya pagi yang mendung.

Kakinya tertatih meringis menahan lancipnya batu koral untuk pengaspalan. Entah kapan janji pembangunan infrastuktur itu akan terlaksana. Nyatanya hampir setahun batu koral itu terongok begitu saja.

Sepasang mata memperhatikan dari jauh. Matanya fokus menatap kaki sang gadis yang telanjang. Nggak takut luka apa…? Apakah sepatunya lebih berharga dari pada kakinya yang sewaktu waktu bisa terluka. Yudistira hadi wijaya menggelengkan kepala. Tak habis pikir dibuatnya.

Lu ngapa bengong Dis ”
Tepukan tangan Utari dipundak membuyarkan fokus pandangannya .

Lu lihat ..”jemarinya menunjuk sesosok gadis yang nampak dari kejauhan

“Kenalan dong ..Itu namanya Ayu..Anaknya pak Rahmat. Itu yang rumahnya sebelah mesjid..kenapa ..?”Jawab Utari.

“Gila tuh cewek. lu lihat nggak pake alas kaki jalan di koral berbatu kayak gitu ..”mulutnya monyong menunjuk .

“Gadis hebat. Lu tahu nggak hanya ada beberapa orang yang sekolah loh dari kampung ini. sisanya jadi PRT atau penjaga toko di kota ..”

“Beneran ..?kok bisa ..”

“Pandangan orang sini masih kolot, buat mereka pendidikan tidaklah penting apalagi buat perempuan. Perempuan hanya harus pandai di ..kasur, sumur dan dapur ..gitu bang Yudis”

“Tapi tuh cewek kok bisa sekolah juga akhirnya ..?”

“Makanya hebat..coba bayangkan dia katanya sampe mogok makan pengen sekolah.. sebenarnya orang tuanya mampu Dis. Hanya pemikiran kolot mereka yang membuatnya harus berjuang cuma sekadar ingin sekolah. Salut gue. Lo bayangin kita malah kadang ogah ogahan sekolah tapi tuh bocah..masya Allah .”Utari menganggkat kedua jempolnya.

Yudistira terdiam. Teringat semangatnya yang kendor ketika belajar padahal segala pasilitas selalu didapatinya. Terselip malu dalam hatinya. Kalah gue dari ANAK GUNUNG .

***

“Innalillahi ..”Ayu tertatih kelingkingnya berdarah. Kuku jari kakinya tampak mengelupas. Rasa ngilu dirasakannya .

“Ya Allah selalu begini kalau hujan ..”ujarnya seraya memijit luka dikakinya .

“Makanya pakai tuh sepatu ..!ini pake plester tapi bersihkan dulu lukanya ..”
Yudis mengulurkan plester.

Ayu tersipu di ambilnya plester dari tangan Yudis. Seraya mengucap terima kasih

Manis juga puji Yudis dihati. Wajah gadis itu tampak legam. Yudis juga tahu jika untuk pulang dan pergi sekolah Ayu harus kehujanan dan kepanasan. Perjalan rumah sampai ke jalan raya menempuh waktu hampir satu jam lamanya dengan berjalan kaki. Jika musim panas maka wajahnya jadi korban. Jika musim hujan maka kaki dan tubuhnya yang terjatuh ditanah yang licin adalah hal yang biasa.

Sungguh luar biassa gadis ini.

Yudis memandang dari kejauhan. Dilihatnya gadis itu mencuci kaki di anak sungai. Dipakainya pantopel hitam kesayangannya. Berpatut diri di kaca kecil merapihkan kerudung putihnya. Pantas tak di pakai pantopelnya bisa rusak. Alamat ganti setiap hari jika dipakai. Yudis menggelengkan kepala. Senyum sendiri.

“Saya duluan..”pamit Ayu. Yudistira mengangguk menatap gadis itu membelakanginya.

***

“Alhamdulillah ..ada banyak temen ..”senyum kelegaan nampak di wajahnya ketika turun dari angkutan kota. Dilihatnya kerumunan pelajar sepertinya yang menunggu di luar gerbang sekolah .

Hari ini adalah hari senin. Lagi lagi Ayu kesiangan. Padahal dari subuh buta sudah berangkat ke sekolah.

Jalanan memang tidak macet seperti kota besar lainnya. Namun kendaraan masih jarang. Jangankan mobil pribadi satu sekolahpun tak ada yang membawa motor. Hanya ada beberapa guru yang mbawa vespa kesekolah .

“Ayu..kita wek wek lagi ..”Eva terkekeh menirukan suara bebek

“Yang habis mudik kesiangan juga ..”goda Ayu. Eva sahabat dekatnya memang berasal dari subang tiap hari sabtu sepulang sekolah pulang ke kampung halamannya. Eva mondok disebuah ponpres tak jauh dari sekolah .

Eva tersenyum mengiyakan .

“Ayo bebek ku sayang silahkan masuk..jalan biasa saja sekarang mah. Masuk lapangan upacara ya..” suara kang Ismail memanggil bebek peliharaannya .

Wajah wajah malu tertunduk memasuki lapangan upacara.

“Ini jangan dicontoh oleh yang lain ..tidak taat aturan. Malah pada kesiangan ..”Pak Abdurahman Ali mulai dengan pidato panjangnya. Makin membuat bebek-bebek itu tertunduk. Entah karena malu atau silau dengan matahari jam 8 pagi yang persis menuju bola mata mereka .

“Ayo laksanakan kalian jalan 5 putaran” kembali pak Ali memerintahkan .

“Wek wek wek …”Bergema suara bebek jadi jadian memutari lapangan upacara yang lebar dan besar itu. Disaksikan para peserta upacara.

Kadang Ayu geli selalu jadi bebek hampir stiap hari. Namun lebih lagi rasa sedih menggelayuti. Andai saja diperkenankan kost atau mondok seperti sahabatnya yang lain. Tentu tidak terlalu sering menjadi bebek jadi-jadian. Hanya pemikiran kolot orang tuanya selalu jadi penghalang takut anaknya MBA kayak seniornya. Ya beberapa orang memang pernah mencap bangku SMA namun belum lagi lulus kandas karena hamil diluar nikah akibat pergaulan bebas .

***

Ayu membuka pantopelnya. Kakinya yang luka kian bertambah setelah 5 putaran mengelilingi lapangan upacara.

Baca selanjutnya

 

- Advertisement -
Rita Setia Asih
Rita Setia Asih
Sabisa bisa kudu bisa pasti bisa.

Latest news

Related news

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here