Anak Gunung #46 (Ending)

0
126
views

Keringat bercucuran deras membasahi tubuh. Ayu memegang perut yang kontraksi. Kian kencang tak tertahan. Tangan yang menggendong Naura mulai bergetar. Sudah dua hari merasakan kontraksi. Ayu mencoba melupakan rasa sakit yang mendera.

Pemakaman Risma membuatnya harus sejenak melupakan sakit. Menahan dan mencoba bertahan, tak ingin melewatkan penghormatan terakhir bagi sahabat dan ibu Naura.

“Kak, kita langsung ke rumah sakit. Sepertinya dedek bayi sudah tak sabar ingin bertemu kita,” ujarnya dengan merintih.

Yudis terkejut dan langsung mengambil Naura dan memberikan pada Mak Inah. Gadis kecil itu menggeleng kepala.

“Pengen sama mama,” rengeknya.

“Mama perutnya sakit. Nau sama emak saja! Nanti menyusul melihat dedek bayi, ya!”

Si kecil merenggut tapi segera Om Wijaya menggendong dan menenangkan.

Segera Yudis membopong Ayu yang sudah kesulitan melangkah di tengah pemakaman.

Yudis berjalan pelan dan gemetaran. Salah tingkah. Muka Ayu yang pucat dan kesakitan kian menambah kalut hati.

Melajukan mobil dengan secepatnya. Rintih Ayu yang tertahan membuatnya begitu cemas. Bayangan kehilangan Risma membuat ketakutan. Bagaimana jika Ayu menyusul Risma.

Persalinan adalah ambang hidup dan mati. Banyak perempuan syahid saat melahirkan buah hati. Ya Rabb, jaga dan lindungi Ayu. Selamatkan bayi dan ibunya.

Membuka pintu mobil tergesa. Yudis membopong Ayu memasuki IGD rumah sakit. Air bening mengalir dari jalan lahir. Yudis kian cemas. Berteriak meminta bantuan petugas rumah sakit.

“Blankar segera bawa! pasien sudah pecah air ketuban,” perintah dokter jaga.

“Yu, kuat ya sayang. Kamu pasti bisa. Berjuanglah, sayang. Aku di sini bersamamu.”

Yudis mengelus pucuk kepala. Ayu menangis dan menggenggam erat tangan Yudis.

“Dok, pembukaan sudah sempurna. Ibu Ayu, insyaa Allah bisa persalinan normal. Bersiaplah!” Seorang suster menghampiri.

Ayu di bawa ke ruang persalinan. Yudis setia mendampingi. Menggenggam erat tangan. Menyeka keringat dan mengelus perut dengan perlahan.

Setelah berjuang setengah jam, junior yang dinanti akhirnya lahir kedunia. Tangisan tanda sapaan pada Ayah bunda membahana mengisi ruang persalinan.

Seorang bayi laki-laki terlahir dengan selamat dan sempurna. Air mata Ayu menyambut kedatangan Yudistira junior. Hilang sudah sakit tertahan selama dua hari.

Segala letih, perih, dan rintih selama mengandung serta melahirkan musnah seketika.

Menyusui si kecil untuk pertama kali. Melihat mata yang bening mengedip manja. Tangan mungilnya merah serta begitu lucu mengecap bekal makanan istimewa.

Yudis mengadzani di kuping kanan. Menyeru sang buah hati untuk ingat seruan menghadap Tuhan. Berharap jika kelak baligh usia takan lupa bersujud pada penciptanya.

Mengiqamatkan di kuping kiri, semoga junior menjadi insan yang tanggap akan panggilan Tuhan.

*****

Letupan bahagia, ungkapan suka cita terlontar tiada habis. Tetamu datang silih berganti menyambut junior yang hadir ke dunia.

Aqiqah sederhana terselenggara. Semua keluarga, handai taulan, para sahabat sejawat, tak terkecuali teman dinas hadir dalam acara penuh suka cita.

Seminggu sudah junior hadir melengkapi kesempurnaan hidup Yudis dan Ayu.

Naura paling bahagia menyambut boneka yang dapat bergerak dan menjadi mainan barunya.

Cindy datang dengan bersama Aldo dan Salma, putrinya. Mereka tampak sudah sukses menjadi keluarga penuh cinta. Aldo mampu menjadi raja di hati menyingkirkan Yudistira. Mereka bergandengan tangan mesra dan menunjukkan keharmonisan keluarga.

Yoga Haditama datang menggandeng Linda yang baru sebulan dipersunting menjadi ibu baru Cecilia. Entah jurus apa yang dipakai Linda, gadis petakilan itu bisa meluluhkan hati Yoga si pemilih dan putrinya. Mereka juga pamer kemesraan keluarga.

Bagas datang meski tak di undang. Mencoba meminta maaf atas semua yang dulu dilakukan. Membawa kabar pertunangan dan rencana pernikahan dengan seseorang dari luar negeri. Yudis dan Ayu menerima permintaan maaf dengan tangan terbuka.

Keempat sahabat Ayu, Irniaty, Eva, Nurasiah Jamillah, Thien Luthfie juga tak melewatkan pertemuan yang lama tak di gelar.

Keluarga besar Ayu datang dari kampung. Membawa oleh-oleh penganan khas untuk jamuan. Mereka tak henti mengucap syukur atas kebahagiaan Ayu dan Yudistira.

Kolega Hadi Wijaya juga datang dengan ucapan selamat. Turut bahagia pada sang jendral yang akhirnya berhenti menanti setelah sekian lama.

Teman satu profesi Yudis juga datang untuk memberi selamat. Mereka juga akhirnya bisa melihat betapa elok rupa si junior. Mewakili separuh kecantikan dan ketampanan ayah ibunya.

Junior sang pemeran utama hanya tidur terlelap di pangkuan ibunya. Tampak tenang tanpa terganggu tetamu yang bising berebut ingin melihat dan menciumnya. Beruntung junior terlelap sehingga tetamu urung mencium dan mengendong.

Jika tidak sudah barang tentu menjadi rebutan yang datang melihat.

“Yu …. Nambah tiga lagi ya!”

“Aih, satu saja susah. Masih sakit tahu,” ujar Ayu melotot.

“Kan biar rame, satu sepi.”

Yudis membelitkan tangan di pinggang.

“Jangan lupa bukan satu. Sudah dua. Tuh malu sama Naura, sana yang jauh! jealous dia.”

Usir Ayu. Naura melotot melihat mamanya di dekati papa.

“Aih kok marah cantik, sini pengen dipeluk juga!”

Naura mendekat dan tertawa bahagia.
Nyaman dalam pelukan dan gendongan papanya.

“Makanya jangan macam-macam. Ingat ada satpam,” ledek Ayu terkekeh.

Yudis merenggut tapi sungguh bahagia bersama keluarga tercinta. Segala badai sudah pernah datang menghadang. Jika tsunami datang jua, Yudis telah siap menghalau.

*****

Ruang serbaguna ramai dengan ribuan orang yang datang. Ratusan mahasiswa akan diwisuda hari ini.

Mahasiswa berbalut pakaian toga tampak berderet rapi di jajaran paling depan. Keluarga menunggu di barisan belakang.

Ayu begitu cantik dengan kebaya dan toga, kerudung membuat penampilan begitu paripurna.

Setitik air mata jatuh di pipi, ketika namanya di sebut sebagai mahasiswa dengan gelar cumlaude.

Tertatih berdiri dengan susah payah maju ke podium. Teringat belasan tahun silam akan perpisahan saat SMA. Dulu sudah mengucap selamat tinggal pada gelar sarjana. Rasanya tak mungkin bisa memakai baju toga.

Hari ini hadir di gedung megah dengan ribuan pasang mata yang menuju padanya. Mereka kagum atas prestasi akademik Seperti dulu. Kini mengenakan baju toga impian.

Tepukan tangan menggema saat sah menjadi salah satu lulusan terbaik di universitas negeri ternama.

Mata Ayu berkaca melihat bapak dan Emak menyeka air mata. ANAK GUNUNG yang menjadi ledekan keluarga dan tetangga kini sudah meraih cita-cita. Meski tertatih akhirnya bisa membuktikan mampu meraih impian.

“Aku akan menggantungkan harapan setinggi langit, pak. Kulambungkan asa setinggi angkasa. Biar orang mencibir atau menghina. Aku percaya dengan keyakinan dan usaha semua akan menjadi nyata.”

Demikian ucapnya belasan tahun silam.

Yudis menatap istrinya haru. Si putih abu yang mampu menjadi pemilik hati, kini sudah menjadi istri dan ibu bagi anak-anaknya. Perjuangan tanpa lelah kini telah berbuah. Semoga anak kita juga menjadi sosok tangguh dan tanpa menyerah. Harap Yudis di hati.

Ayu melangkah menghampiri keluarga. Mereka menyambut dengan buket bunga. Memeluk dan mencium anggota keluarga kebanggaan.

Saat sedang asyik berphoto ria, Bu Tias, guru Ayu sewaktu SD datang menghampiri.

“Assalamualaikum, sayang,” sapanya

“Wa’alaikum salam, masyaa Allah …. Bu Tias.”

Ayu memeluk dan merangkul panutan dan teladannya. Ibu guru yang tak henti memberi semangat Ayu untuk melanjutkan pendidikan. Ayu menangis haru.

“Jangan menangis. Alhamdulillah cita-cita akhirnya terlaksana. Selamat ya, sayang,” ucapnya dengan berbinar.

“Ya, Bu, berkat do’a dan bantuan ibu, Ayu bisa sampai ke titik ini. Semua karena sokongan dan dukungan ibu. Terima kasih atas segalanya.”

“Seorang guru akan bangga jika muridnya sukses dan mampu meraih cita-cita. Ibu juga sedang menghadiri wisuda putri ibu. Alhamdulillah ternyata teman satu angkatan Ayu.” jawabnya.

Bu Tias pamit saat keluarganya hendak pulang.

Terima kasih Bu, aku akan menjadi generasi penerusmu. Berjuang mencerdaskan bangsa dengan menjadi tenaga pengajar.

Tak akan aku biarkan seorang anak didik putus asa dalam meraih asa dan cita-cita. Membuat mereka takan cepat pasrah dan menyerah dengan keadaan yang ada.

Aku akan menjadi guru yang patut di gugu dan ditiru. Teladan bagi anak didik dan menjadikan mereka insan harapan bangsa. Aamiin ya rabbal alamiin.

Ending.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Mulai dari awal

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here