Anak Gunung #44

0
46
views

Ruangan itu mendadak hening. Berjuta kata direka dalam benak dan kepala semua yang hadir disana.

Perempuan bercadar tertunduk dengan isak yang tertahan. Naura lelap dalam dekapan Yudistira. Yudis enggan melepaskan atau menidurkan si cantik.

Ayu mendekap kaki Naura. Mengelus lembut dengan penuh kasih sayang. Tamu itu kian merana melihat perhatian dan kasih sayang keluarga itu pada Naura. Sedih bercampur bahagia.

“Maaf dek, siapa adek ini? Apa maksud kedatangan ke sini?” tanya Om Wijaya.

Perempuan itu menarik napas panjang. Mengatur napas yang sedikit tersengal. Tampak dada agak turun naik karena sesak. Mencoba memperbaiki posisi duduknya.

Lama semua menunggu. Dengan seribu satu pertanyaan.

“Mohon maaf jika kedatangan saya menggangu ketenangan kalian. Saya ….”

Ucapnya tertahan tangisan. Semua sabar menunggu.

“Ya, siapa anda? Mengapa bisa bersama Naura tadi di gerbang komplek. Bisa jelaskan semua pada kami!” tanya Om wijaya

Perempuan itu menunduk dalam. Tangannya perlahan membuka cadar yang menutupi wajah.

“Risma!!!”

Yudis dan Ayu kompak menyebut nama.

“Maaf saya datang lagi. Menggangu lagi,” ucapnya terisak.

Yudis dan Ayu tak mengenali Risma. Tubuh kurus dengan napas yang tak normal. Wajahnya pucat dan tak bercahaya. Seperti menderita. Padahal Risma dulu begitu cantik dan berwajah segar.

Jantung Yudis berdegup kencang. Bayangan kejadian malam itu membayang.

Ayu mulai menelisik wajah Naura. Cantik mirip Risma. Hidung dan bibir mirip Yudistira. Deg!!! Hatinya bagai di cabik rasanya. Mungkinkah Naura?

“Maaf saya tidak bermaksud menggangu ketenangan kalian. Saya datang karena terpaksa. Maaf … ”

Semua makin bingung dengan ucapan Risma.

“Saya ingin memberikan Naura pada kalian. Saya meminjam Naura seharian. Malam ini dikembalikan.”

“Naura itu anakmu?” Om Wijaya kian penasaran.

Risma mengangguk.

“Naura adalah anak saya dan juga ….”

“Yudistira Hadi Wijaya,” sambung Ayu memotong ucapan Risma.

Om Wijaya terkejut bukan kepalang. Lututnya mendadak lemas. Beruntung tidak koleps.

Bagaimana mungkin anak kesayangan akan berbuat durjana. Sebandel apapun Yudis tak pernah melecehkan perempuan. Terlebih ia tahu betapa Yudis mencintai Ayu. Takan mungkin berpaling dan menghianati.

Risma dengan suara serak dan parau menceritakan semua yang terjadi tanpa ada yang disembunyikan.

Om Wijaya terhenyak. Mengapa Anak menantu menyimpan rahasia sebesar ini darinya. Menutup rapi tanpa pernah terendus. Tak dinyana rahasia itu terbongkar juga.

“Jadi Naura itu cucuku? Darah daging Yudis?”

“Ya, pah. Maaf kami merahasiakan kejadian itu. Kami menutup aib itu rapat karena tak ingin melukai papa. Tak di sangka akan terlahir Naura dari kisah tak sengaja itu,” jawab Yudis menunduk.

Om Wijaya tak bisa berkata apa-apa. Tak ada yang bisa disalahkan atas peristiwa malam itu. Yudis tak tahu jika itu bukan Ayu. Risma juga dalam pengaruh alkohol. Semua terjadi tanpa disengaja.

“Saya tidak akan mengambil Naura kembali. Saya datang justru memberi. Kalian Sangat mencintai dan menyayangi Naura sepenuh hati. Saya akan tenang meninggalkan dan menitipkan. Toh Naura bukan orang asing tapi memang bagian rumah ini,” ucap Risma dengan tatapan kosong.

“Kami mencintai Naura meski tak tahu asal-usul dan latar belakangnya. Apalagi sekarang ternyata Naura adalah bagian dari kami. Kami mencintai dan menyayangi tanpa harus diminta. Insyaa Allah kami sangat terbuka menyambut kehadirannya,” jawab Ayu.

Semua diam membenarkan.

“Kenapa kita tidak membesarkan Naura bersama. Dia membutuhkan Ayah juga ibunya,”

Ucap Ayu yang tak sejalan dengan hati. Gemetar memendam rasa lara. Lidah mengucap bertolak belakang dengan rasa. Hati tercabik dengan keadaan yang ada.

Tapi siapa sanggup menepis takdir. Kenyataan Naura adalah buah yang di tanam Yudistira, sang suami. Ayu bukan orang yang tak punya nurani dan perasaan. Cukup memendam dalam diam.

“Aku sakit, Yu. Mungkin waktuku tak lama lagi. Mohon jaga Naura, sayangi dan cintai layaknya anakmu sendiri. Aku percaya padamu. Sudah melihat langsung cinta dan perhatian kalian. Jika kelak pergi akan tenang. Naura tak sendiri ada kalian yang lebih mencintai melebihi cintaku padanya.”

Semua orang terdiam. Ucapan Risma begitu dalam seolah telah menyerah akan takdir.

“Kamu sakit apa?”

“Aku …. ODHA,” jawab Risma dengan pelan.

Bak petir menyambar di tengah hari. Suara Pelan itu ibarat guntur menggelegar menghancurkan hati dan perasaan. ODHA ( orang dengan HIV atau AIDS)

Risma berhubungan badan dengan Yudis, Yudis juga melakukan hal yang sama dengan Ayu, maka sudah barang tentu Naura, Ayu ataupun bayi dalam rahim terjangkit penyakit serupa.

Keturunan Hadi Wijaya sudah musnah terjangkit virus menakutkan. Innalilahi wa innailaihi Raji’un. Mereka langsung pucat pasi. Lutut gemetar karena syok. Tulang penopang seolah copot dari pangkal.

Lemah, lesu tiada daya. Jantung berdetak lebih kencang. Ritmenya tak beraturan. Enggan menerima kenyataan. Tinggal air bening tak kuasa mengalir dari mata semua yang hadir.

Mak Inah dan pak Agus ternganga saat mendengar dari ruang sebelah. Mereka juga meratapi nasib majikan yang malang nian.

“Hanya aku yang menderita HIV, Naura tidak. Kalian tak usah khawatir. Saya tertular penyakit ini dari almarhum suami saya yang kedua. Rio terjangkit HIV karena ia pecandu narkoba, morfinis. Jarum suntik yang dipakai bersamaan menularkan virus mematikan.”

Risma menarik napas berat. Dadanya sesak mengenang peristiwa kelam yang terjadi padanya.

Keluarga Hadi Wijaya menarik napas lega. Hilang sudah ketakutan mereka.

Ayu berhambur memeluk Risma. Tak tega melihat wajah pucat yang tinggal tulang berbalut kulit.

“Jangan sentuh dan dekati aku, Ayu. Pergilah! Jauhi aku atau kamu akan tertular. Aku punya penyakit kutukan.”

Risma mendorong tubuh Ayu. Meronta tak ingin di dekati. Terbayang perlakuan keluarga dekat dan sahabat yang mengucilkan. Risma dianggap noda dan najis yang harus dijauhi. Hanya aib bagi keluarga, sahabat, serta masyarakat.

“Kami bukan orang yang awam dalam masalah kesehatan. Jika Naura saja yang tumbuh dan besar dalam pengasuhanmu tak tertular maka kami takan terpapar hanya karena memeluk dan menyentuhmu. Hanya lewat transfusi darah, hubungan badan atau pemakaian alat suntik narkoba kami bisa menderita penyakit yang sama. Jangan menghindar! Kamu memerlukan dukungan dan sokongan, Risma.”

“Aku tahu, tapi kebanyakan orang mengucilkan bahkan menganggapku manusia pembawa sial dan kutukan. Aku sudah biasa terusir dari lingkungan. Sudah biasa terbuang,” ucap Risma terbata.

“Kami bukan mereka. Jangan sungkan, Nak. Jika ingin menemui Naura kamu bisa datang kapan saja. Anggap keluarga ini adalah keluargamu. Kami akan menerima dengan tangan terbuka,” tutur om Wijaya yang membuat Risma menangis kian menjadi.

Ayu memeluk tubuh yang tinggal tulang dengan isakan pula. Sungguh malang nasib sahabatnya. Sedari kecil terbiasa dimanja dan disanjung puja harus tragis kini hidup penuh tangis.

Risma merasa hidup beruntung ditengah derita yang melanda. Nasib mempertemukan dengan keluarga sebaik Hadi Wijaya. Jika orang lain mungkin sudah mengusir dan menggusur, menyeret paksa kejalan. Menendang saat datang.

Keluarga ini menyambut dengan tangan terbuka. Membuka pintu lebar dan memanusiakan dirinya. Merasa masih berharga sebagai manusia.

“Salah besar jika berpikir penyakit HIV itu kutukan. Banyak yang menjadi korban tanpa melakukan kesalahan. Ok! Jika memang dia pecandu narkoba yang sudah paham resiko tertular penyakit ini. Lalu bagaimana dengan seorang bayi yang dikandung ibu penderita positif yang tak tahu menahu. Seorang istri yang suami suka bergonta-ganti pasangan. Apakah mereka bersalah? Tidak! Seorang bayi yang dikandung ibu ODHA bahkan bisa melahirkan anak negatif HIV. Jika ditangani dengan benar,” jelas Yudis.

“Maha besar Allah dengan segala penciptaan. Jangan pernah merasa menjadi aib bagi masyarakat. Jika kamu adalah pembawa petaka mungkin setiap kamu bernapas orang sekitar akan mati terpapar. Tapi, masyaa Allah. Lihatlah Naura! Terlahir dengan sehat dan begitu sehat. Tinggalah di sini jika kamu mau. Mari besarkan Naura bersama. Dia membutuhkan ibu kandungnya,” tambah Ayu.

Risma mengedar pandangan, mencari ketulusan di mata mereka yang berbicara padanya. Tulus, murni, dan tanpa dusta dimata mereka. Sungguh sekumpulan manusia langka. Andai keluarga dan masyarakat memiliki pemikiran serupa.

Mungkin panti tempat tinggalnya kini akan sepi dari penghuni. Tak ada yang terbuang. Tiada yang terlunta dan mati dalam nestapa.

“Aku sudah menemukan tempat terbaik, bersama orang senasib. Mereka adalah keluargaku sekarang. Kami saling berbagi suka dan duka bersama. Aku tinggal di sebuah yayasan peduli HIV. Insyaa Allah, itu tempat terbaik bagiku. Maaf bukan menolak kalian. Namun, disanalah tempat paling nyaman buatku menghabiskan sisa usia,” ujar Risma.

“Jangan berkata seolah usiamu tak lama. Umur adalah rahasia Tuhan. Semoga kamu panjang umur untuk bisa melihat Naura tumbuh dewasa,” hibur Ayu.

“Aamiin … seandainya jika usiaku tak lama, sekarang tak khawatir lagi. Aku sudah berusaha memperbaiki diri. Naura tak sendiri, ada kalian yang menjaga dan menyayangi. Aku akan pergi dengan tenang,” jawab Risma dengan senyuman.

Sesekali terdengar napas yang tersengal.

“Tinggallah di sini! Jangan pergi lagi. Naura membutuhkanmu,” bujuk Ayu lagi.

“Maaf, saatnya aku harus pergi. Hari sudah malam. Kalian juga harus beristirahat. Maaf mengganggu. Aku titip Naura, jaga dia, aku percaya kalian akan menyayanginya.”

“Menginap di sini saja. Hari sudah malam,” bujuk Om Wijaya

Risma menggeleng kepala. Bangkit dan pamit. Mengelus pucuk kepala Naura dan mencium dengan linangan air mata.

“I love you so much, Nauraku. Jaga dirimu baik-baik, Nak. Maaf mama harus pergi,” gumamnya lirih.

Risma pergi diiringi tatapan pilu keluarga Hadi Wijaya. Naura mengucek mata. Sebutir air mata yang menetes di pipi Yudis membuatnya terjaga. Air bening itu jatuh tepat di pelupuk mata si mungil.

“Mama …. ” Mata mungil mencari ibunya.

Langkah Risma terhenti. Naura minta turun dan berlari mengejar Risma. Memeluk lutut, memegang kencang. Langkah Risma tak lagi bisa dilanjutkan.

“Mama, Nau itut,” rengeknya disertai tangisan.

Risma jongkok.

“Nak, Mama pergi sebentar. Nanti kembali, itu sudah ada mama Ayu, katanya kangen sama papa dan opa juga,”

Risma berusaha menahan air mata yang menghianati. Tak ingin Naura melihatnya menangis.

“Mama sini, jangan pegi,” rengek Naura lagi.

“Mama harus pergi dulu. Nanti akan sering datang buat anak cantik, ini sudah malam, sayang. Bobo lagi ya. Mama pergi dulu sekarang.”

Naura merenggut. Risma memeluk dan menciumi anaknya. Seolah ini pertemuan terakhir. Memandang setiap inci tanpa terlewat. Memeluk erat.

Semua yang melihat terharu. Entah sampai kapan Naura masih bisa memeluk dan mencium ibunya. Melihat raga Risma sudah lemah tiada daya. Mungkin sisa umur sudah tiada lama.

Ayu memeluk Naura yang menjerit, meronta, menagisi ibunya yang pergi. Risma berjalan gontai meninggalkan kediaman Hadi Wijaya.

******

Malam kian kelam. Suara Guntur dan kilat bersahutan. Rinai mulai membasahi. Titik kecil penghuni awan itu mulai menjadi hujan besar.

Risma masih juga berjalan dengan sempoyongan. Raga begitu letih, lemah tiada daya. Sesak dada terasa, napas mulai tersengal.

Virus itu menjalar, mengikis imunitas. Melemahkan beberapa fungsi anggota tubuh inti.

Jantung kian lemah fungsi, hati pankreas yang terjangkit juga sudah hampir mati fungsi. Belum lagi komplikasi penyakit yang menghimpit.

Hujan badai malam itu tak jua berhenti mengguyur tubuh Risma. Rintik kian menghujani tubuh ringkih. Raga tinggal tulang bersalut kulit mulai terseok. Limbung, hilang keseimbangan.

Risma mulai merasa gelap. Sesosok bayi dalam dekapan ibunya yang telah berpulang datang dengan semburat cahaya menjemput. Merentangkan tangan seolah mengajak pulang.

‘Mah, aku lelah, aku ikut bersamamu.”

Tubuh Risma limbung, jatuh di jalan yang tergenang air hujan. Mata Risma terpejam setelah mengucap kalimat thoyibah. Hujan kian deras mengguyur bumi. Merendam tubuh yang mulai kaku.

Rintik penghuni langit seolah menangisi raga yang mengakhiri perjalanan di muka bumi. Setelah lelah dengan perjalan yang berliku. Kini diam dan tenang. Tersenyum dalam damai. Malaikat maut datang menjemput.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here