Anak Gunung #43

0
56
views

Seorang suster tersenyum mengulurkan amplop pada Yudis.

“Selamat, Dok. Turut berbahagia,” ujarnya.

Yudis mengambil dengan berdebar. Selamat atas apa? Hasil cek darah ini apakah merupakan hal yang begitu membahagiakan?

Perlahan dibuka

“Alhamdulillah,”

Yudis sujud syukur dan menangis bersimpuh di lantai yang kotor. Kening berada dititik terendah. Memuji Sang Maha Tinggi.

“Kenapa, Dis? Ada apa?” tanya Om Wijaya penasaran.

“Papa akan punya cucu,” pekik Yudis.

Om Wijaya terdiam tak percaya. Setelah menunggu sekian lama akhirnya … kabar bahagia itu tiba.

“Alhamdulillah,” gumamnya.

Setetes air mata meluncur mulus di pipi renta.

Yudis memeluk papa. Tak ada kata terucap untuk mengekspresikan kebahagiaan. Hanya linangan air mata bahagia yang mewakili perasaan.

Yudis bergegas menuju kamar perawatan Ayu.

“Ayu …. ”

Pelukan dan ciuman mendarat sebagai ucapan terima kasih pada sang istri yang mematung, bingung.

“Kita akan punya anak, kamu sedang hamil delapan minggu. Pantas moody, sikapmu juga berlebihan, ternyata mengidam.”

Ayu tak mampu berkata. Air mata meluncur di pipi. Rasa bahagia tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Akhirnya, Alhamdulillah,” ujarnya.

“Aku akan jadi papa dan kamu mama, Naura akan punya adik. Dia pasti bahagia.”

“Ya, kak. Aku rindu Naura kemana dia?”

Yudis menggeleng kepala. Masih juga mengkhawatirkan Naura. Badannya lemah juga.

“Kandungan kamu lemah, jangan banyak beraktivitas. Aku sewa baby sitter untuk menjaga Naura. Ingat! Jangan terlalu capek. Bisa bahaya. Mulai Senin urus cuti kuliah. Fokus untuk kesehatan saja. Jangan yang lain. Stt …. Tak ada lagi alasan.”

Yudis membungkam mulut ayu dengan jemarinya. Ayu pasti protes. Jika tidak kilat menutup mulut bawel itu.

Ayu tersenyum. Mengangguk.

Dua insan larut dalam euforia kebahagiaan. Tersenyum setelah sejumlah badai menghantam.

*****

Sebagai praktisi kesehatan, Yudis tahu benar apa itu kehamilan. Gambaran penderitaan dan kesakitan saat persalinan. Juga bagaimana menderita perempuan yang mengidam.

Hanya sebatas teori. Itu cukup membuat rengkuh takjim dengan penghormatan akan perjuangan perempuan. Mereka bertaruh nyawa untuk menghadirkan seorang anak lahir kedunia.

Yudis tak pernah berniat ingin menyakiti kaum yang telah membuatnya hadir kedunia. Betapa tidak gambaran perjuangan mereka sudah begitu nyata dalam benak.

Yudis melihat Ayu yang sudah payah melewati trimester pertama kehamilan dengan mulai merasakan morning sick.

Gejala sakit di pagi hari. Mual serta muntah yang begitu menyiksa. Mulut terasa pahit. Nafsu makan sirna. Satu suap makanan dan minuman mampir di mulut, bisa satu ember dimuntahkan. Mulut kering karena cairan yang terkuras. Badan lemas.

Emosi labil dan selalu minta perhatian lebih. Tubuh ringkih dan mudah letih. Disaat inilah suami harus selalu siaga memberi perhatian dan cinta. Raga perempuan lemah tiada daya.

Trimester kedua nafsu makan sudah mendingan. Asupan makanan sudah banyak dan dapat memenuhi kebutuhan ibu dan bayi.

Beban perut yang kian membesar membuat kian susah pergerakan badan. Sudah lelet berjalan dengan susah payah.

Trimester ketiga sudah susah memejamkan mata. Keringat sebesar biji jagung terus membasahi tubuh jika malam tiba.

Tidur tak bisa pulas karena tagihan ke kamar mandi terus terjadi. Tidur miring kanan salah, kiri ogah karena begah. Telentang dada sesak, tengkurap hal yang tak mungkin dilakukan.

Yudis nikmati setiap perkembangan janin dan kesehatan Ayu yang sedikit lemah. Menjaga dan menjadi suami yang siaga sepanjang masa.

“Makasih, Kak. Kakak yang terbaik selalu siaga dan ada untukku. Bukan hanya sekedar kata.”

“Kalian adalah permata berharga. Amanah paling indah Yang Allah titipkan. Akan aku jaga dan sayangi sepenuh hati.”

Ayu mengangguk bahagia.

“Bagaimana nasib seorang perempuan yang harus berjuang sendiri membesarkan anak dari mengandung hingga melahirkan tanpa di dampingi suami?”

“Mengalami kepahitan dan kesedihan yang mendalam. Itu pasti. Sudahlah, bersyukur Allah memberi kita umur untuk saling menjaga dan mencintai.”

Ayu terdiam. Entahlah, Ayu merasa jika ibu Naura pasti mengalami apa yang dipikirkan barusan.

Ayu mengelus perut yang membulat. Gerakan halus janin membuatnya tersenyum. Geli dan lucu melihat perut bergerak kesana kemari.

“Kamu ingin segera bertemu kami, Nak?”

“Ayo datanglah! papa sudah tak sabar menanti. Mamamu manja karena kamu ada disana. Dia menjadikan alasan keberadaanmu untuk meminta ini dan itu.”

Ayu melotot. Yudis terkekeh.

“Mama …. ” Naura datang dan memeluk Ayu.

“Ya, sayang. Sini! Tuh Naura ngiri. Papa lupa kamu, ya sayang.”

“Nggak Nak. Kamu nomor satu dan yang lainnya ada pada tempat yang berbeda. Papa cinta kalian semua. Kalian takan tergantikan.”

Yudis merangkul Naura dan Ayu bahagia.

Ayu bersyukur bisa menikmati perhatian dan kasih sayang sang suami. Tidak semua perempuan mendapati suami siaga Seperti Yudistira.

Perjuangan seorang Ayah dalam menjaga buah hati yang hadir kedunia tak dapat dipandang sebelah mata. Meski raga tak tersiksa mengandung sembilan bulan lamanya.

Namun, dengan peluh dan air mata menjaga keluarga agar tak kurang satu apapun. Menjaga agar anak dan istri cukup materi. Menjauhkan mereka dari marabahaya. Itulah beratnya perjuangan seorang Ayah.

******

Hari sudah sore. Mak inah kelimpungan sendiri. Sudah satu jam mencari Naura tak juga didapati. Bingung harus bagaimana.

Melapor Yudis sedang dinas. Om Wijaya tengah keluar kota. Ayu terbaring lemah. Semenjak hamil harus banyak bedrest. Menggangu dengan kabar duka akan membuat kian lemah. Tak baik bagi kesehatan ibu dan janin.

Mak Inah menyuapi dihalaman rumah. Baru beberapa menit meninggalkan Naura untuk mengambil minuman Naura sudah raib entah kemana.

Mak Inah mengatakan pada Ayu setelah mencari kian kemari dan tiada hasil.

“Yu, Naura hilang. Emak sudah mencari kian kemari tapi tak ada juga,” ujar Mak Inah dengan linangan air mata bersalah.

“Nggak usah nangis, Mak. Naura paling main disebelah. Dulu juga sudah dicari main di pos satpam. Sekarang juga paling disana.”

“Emak sudah mencari keliling komplek, namun semua tak melihatnya. Naura hilang gara-gara Emak. Kalau saja tidak emak tinggal mengambil minum Naura takan hilang,” Mak Inah menangis lagi.

Ayu kian panik. Hingga lupa jika tengah hamil tua. Ayu bak kesetanan mencari kian kemari. Hampir semua tetangga didatangi. Berlari memegangi perut yang sudah mulai kontraksi palsu.

Dengan derai air mata berjalan tanpa kenal letih. Meski gadis mungil itu bukan darah dagingnya, namun tak sekalipun Ayu menganggap demikian. Bagi Ayu Naura teramat berharga.

Ayu terkulai lemas. Duduk di gazebo dengan menangis. Dalam bayangan Naura tengah bermain dengannya. Menggambar dan berceloteh banyak hal.

Naura berlari kian kemari memutari halaman. Bermain kejar-kejaran dengan Yudistira. Bergelayut manja di kursi rotan kebesaran Om Wijaya. Bermain cilukba.

Melihat kolam renang Naura ada di sana. Berenang riang dengan ceria. Perlu bujukan ekstra untuk bisa menghentikan hobynya bermain air.

Semua hanya angan dan bayang. Gadis mungil itu kini menghilang. Bagaimana nasibmu, sayang. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu.

“Nau …. Naura! Sini neng! Opa bawa boneka besar buat kamu,” teriak Om Wijaya saat datang dari luar kota. Tangan menenteng Tedy bear pesanan si kecil.

Ayu menangis kian kencang. Tedy bear membuat kian ingat si kecil.

“Pah, Naura menghilang.”

Sambutnya dengan linangan air mata. Menceritakan semua tanpa ada yang terlewat.

“Sudah kasih tahu Yudis?”

“Sudah tapi off ponselnya. Mungkin sedang di meja operasi.”

“Kita lapor polisi. Papa telpon kenalan di kepolisian,” jawab Om Wijaya.

“Kita tidak bisa melapor sebelum 24 jam.”

“Ya sudah kita tunggu dulu. Sudah periksa CCTV?”

“Ya Allah, lupa Pah. Ayo kita periksa rekaman CCTV, “ajak Ayu.

Rekaman CCTV mereka lihat dengan teliti. Naura tampak asyik bermain di halaman. Seorang wanita bercadar menghampiri. Naura tampak begitu mengenalnya.

Naura merangkul dan mencium perempuan itu. Mereka tertawa dan bahagia. Perempuan itu dengan mudah mengajak Naura ikut serta.

“Itu pasti ibunya Naura. Mengapa tidak masuk saja jika ingin bertemu atau bahkan mengambil kembali. Naura sudah seperti anakku sendiri, Pah. Mengapa mengambil tanpa permisi,” ucap Ayu dengan diiringi tangisan.

“Ya, sungguh disayangkan. Padahal jika meminta baik-baik juga akan diperkenankan. Kita mungkin sudah kehilangan dia,” ujar Om Wijaya sedih.

“Naura itu putriku, Pah. Sudah menjadi bagian hidup Ayu. Jika memang ibunya yang mengambil itu haknya. Tapi, Ayu ingin tetap bisa melihat dan menyayangi Naura. Mengapa ibu itu tega mengambil tanpa permisi.”

Kringgg.

Dering ponsel menghentikan tangis Ayu. Segera di angkat panggilan masuk.

‘assalamu’alaikum, ada apa sayang? Maaf tadi kakak lagi ada operasi.’

‘waa’alikumumus salam, kak … ”

Suara Ayu tertahan berganti tangisan.

‘kenapa? Perut kamu sudah kontraksi?’

‘Naura hilang, diambil ibunya. Kami melihat seorang perempuan bercadar mengambil tanpa paksa. Tidak ada paksaan jadi bukan penculikan. Naura pergi dengan kemauan sendiri. Itu pasti ibunya’

Yudis lemas. Sudah kadung sayang malah diambil orang. Memang bukan terlahir dari benihnya tapi Yudis merasakan sayang yang luar biasa. Jika Naura hilang pasti hidup berasa hampa.

Ayu terdiam. Berhenti mengeluarkan air mata. Hanya hatinya menangis darah. Tak selalu yang dipanggil ibu harus seseorang yang menyebabkan hadir di dunia. Meski tak ada hubungan darah baginya Naura Seperti anak sendiri.

Tak akan terganti meski ada jabang bayi, anak kandung dalam rahim. Naura sudah menjadi bagian penting dari kehidupannya.

******

Malam sudah menyelimuti bumi, gelap, kelam, hitam. Segelap dan kelam perasaan keluarga Hadi Wijaya.

Mobil Yudis masuk ke halaman. Sunyi. Hening. Rumah megah itu kehilangan keceriaan. Tak ada lagi tawa sikecil menyambut riang.

Ayu diam membisu terduduk di ruang tamu. Om Wijaya berada di kursi rotan tua kesayangan. Hanya duduk dengan tatapan kosong. Mak Inah selalu menangis di samping pak Agus. Merasa diri paling bersalah.

“Assalamualaikum …. ”

“Wa’alaikum salam …. Naura,” pekik Ayu.

Yudis datang membopong Naura di dada. Naura terlelap tanpa tahu seisi rumah begitu mengkhawatirkan dirinya.

Ayu memburu simungil dengan kilat. Menciumi wajah yang hanya beberapa jam hilang itu dengan linangan air mata. Seakan mimpi bertemu lagi.

Seisi rumah datang menghampiri. Semua bersuka cita akan kepulangan cahaya kecil dalam rumah ini.

“Assalamualaikum” suara perempuan menghentikan euforia.

Seorang perempuan bercadar berdiri di ambang pintu. Perempuan yang terekam CCTV tadi. Di duga sebagai ibu kandung Naura.

Matanya menatap pilu pemandangan di hadapan. Menyaksikan sendiri bagaimana cinta keluarga Hadi Wijaya pada Naura. Cadar yang dikenakan sudah basah oleh air mata.

Suaranya juga terdengar serak dan parau kemungkinan karena banyak tangisan.

Siapakah perempuan itu?


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here