Anak Gunung #42

0
174
views

Lorong rumah sakit sepi. Waktu kunjungan sudah habis. Yudis berjalan gontai, tubuhnya terasa sangat lelah. Seharian melayani pasien dan berdiri di meja operasi menguras energi.

Biasanya Yudis ingin segera pulang ke rumah. Tempat membuang penat dan lelah kerja. Ayu akan menjadi obat pusing kepala.

Entah apa yang terjadi dengan Ayu. Sudah hampir sebulan berubah, sikapnya menyebalkan. Seolah selalu menabuh genderang perang.

Ayu sangat berubah. Bukan lagi Ayu lestari yang lembut dan pengertian lagi. Sikap dan tindakan Yudis serta anggota rumah salah. Memantik emosi dan amarah Ayu.

Menjadi pemalas dan hanya ingin terbaring di sofa. Yudis kian bingung dengan permintaan anehnya. Selalu ingin dituruti seketika.

Apakah Ayu tengah hamil ? Ah, tidak mungkin belum seminggu dia mendapat haid. Tanda kehamilan juga tak nampak. Morning sick dan mual muntah juga tidak.

Hanya saja sikapnya yang menyebalkan dan bikin puyeng kepala.

Yudis hendak masuk mobil, ketika suara tangisan anak kecil mampir ditelinga.

“Huaa …. Mama … Mama ….”

Langkah Yudis terhenti. Tampak di depan mobilnya seorang anak usia kira-kira satu tahun menangis dan memanggil Mama.

“Hallo, sayang. Mamamu mana?”

Gadis kecil itu ketakutan dan menangis kian kencang.

Yudis mendekat dan mengelus lembut pipinya yang basah oleh air mata. Manik lembut itu menatap tajam. Menelisik dan mengidentifikasi lawan bicaranya.

Yudis tertegun. Betapa cantik rupa anak itu. Rambut lurus sebahu. Matanya lentik dengan sorot lembut menatap seolah minta dimanja. Pipinya gembil dan merona merah. Wajahnya oval dengan dagu lancip membuatnya kian menggemaskan.

Gadis itu diam. Instingnya mengidentifikasi jika pria dihadapan adalah orang yang baik. Itulah insting seorang anak kecil takan bisa dibohongi.

“Mama mana?”

Gadis kecil menggeleng kepala. Apakah anak ini terpisah dari orangtuanya. Kasihan. Lebih baik aku ajak pulang. Siapa tahu nanti mood Ayu baikan. Ayu sangat suka anak kecil. Mana tahan melihat anak secantik dan selucu gadis ini. Gumam Yudis dihati.

Yudis membawa pulang gadis itu setelah melapor satpam. Jika ada yang kehilangan anak suruh menghubunginya.

Sepasang mata basah oleh air mata saat melihat Yudis membawa serta gadis mungil itu. Hatinya sedikit lega bercampur lara. Yakin jika Yudis akan mengasihi dan mencintai tanpa tapi simungil.

“Alhamdulillah, kamu akan aman dan nyaman sekarang, mereka akan menjagamu dengan baik, Nak. Maafkanlah ketidak berdayaan ibumu,” ucapnya seraya pergi. Menyeka air mata yang membasahi pipi.

******

Ayu pulang lagi-lagi dengan kesal. Mengapa emosinya meledak-ledak akhir-akhir ini. Semua orang seolah menyebalkan, menabuh genderang perang padanya.

‘Ada apa denganku? Emosi tingkat tinggi. Selalu marah tanpa alasan. Mengapa jadi orang yang menyebalkan’

Tanya hati yang tak bisa dijawab sendiri. Tubuhnya terasa selalu letih. Merasa sering kecapean tanpa alasan.

“Hi hi hi …. Ayo cantik sini om peluk”

Suara tawa Yudis seolah memperolok. Membuat ayu kian kesal. Tawanya renyah benar. Bilang cantik pada siapa? Yudis nyari perkara ini mah. Emosi Ayu mulai lagi.

Bergegas menuju kolam renang dan ingin mendamprat suaminya. Wanita mana yang berani kau bawa ke rumah. Nyari mati kamu, ya.

Ayu melongo melihat gadis mungil tengah dimandikan oleh Yudis. Cuma anak kecil. Anak siapa? Selingkuhan yudiskah?

“Assalamualaikum?” Ayu mengucap salam dengan pelan.

Yudis asyik saja tak mendengar.

“Udah wangi kalau mandi, yuk pake baju!” Yudis tertawa menggendong si mungil.

Ayu marah. Bergegas pergi ke kamar. Menutup pintu kasar. Mak Inah yang melihat istigfar. Sungguh seperti bukan Ayu. Ada apa dengannya?

Yudis melenggang tanpa merasa berdosa. Memakaikan baju pada si mungil.

“Kamu lupa namamu, mulai sekarang namamu adalah Naura. Ok, nama yang cantik. Kau seperti cahaya.”

“Den … Ayu sudah pulang.” Panggil Mak Inah.

“Kok nggak mengucap salam?”

“Ayu mengucap salam tapi Den Yudis malah anteng sama Naura. Ayu kabur ke kamar dengan marah. Lihat sana gih,” jelas Mak Inah yang melanjutkan tugas Yudis mengurus Naura.

Gawat singa betina pasti meradang. Sekarang Ayu mudah tersinggung dan marah. Yudis setengah berlari menuju kamar.

Kosong. Kamar tak berpenghuni. Ayu tampak berdiri mematung di balkon, menatap jauh keluar sana. Mata menerawang entah memandang apa.

“Assalamualaikum, cantik. Sudah lama pulang? Kok nggak mengucap salam ya?.” Goda Yudis.

“Kakak lupa ada Ayu, anteng sendiri. Mana dengar ucapan salam,” ketus Ayu.

Mulutnya manyun beberapa centimeter. Ayu merenggut. Marah. Biasanya melihat mimik muka itu lucu tapi jika setiap hari, eneg.

“Cemburu? Sama si cantik itu ya? Mau Kenalan nggak?”

Ayu kian merenggut. Kemarahan malah jadi guyonan.

“Naura namanya, kakak temukan tadi diparkiran. Jadi kakak ajak pulang, kasihan. Menangis sendiri memanggil mamanya,” jelas Yudis.

“Naura? Nama yang bagus. Dari mana kakak bisa tahu namanya? Ini anak belum bisa bicara selain mama. Dia masih kecil mana mungkin bisa menyebut nama” tanya Ayu melunak.

Bukan anak selingkuhan Yudis ternyata. Astaghfirullah, kenapa denganku. Tanya Ayu yang bingung dirinya mendadak menjadi pencemburu.

“Kakak reka sendiri namanya. Itu nama yang bagus. Tadinya buat anak kita. Tak apa masih banyak nama yang bagus buat buah hati kita. Jadi kakak panggil dia Naura.”

Ayu manyun, enak saja. Nama buat anaknya dikasih ke orang. Tega. Menyebut nama lain juga bisa.

Yudis menggaruk kepala tak gatal. Salah lagi. Ini macan cantik kok jadi ngambekan ya. Heran.

“Kakak tega,” ketus Ayu.

Naura datang dengan Mak Inah. Baju merah muda berpita yang dibelikan tampak begitu membuat Naura cantik. Rambut dikepang dua diikat dengan pita. Sungguh gadis mungil yang menggemaskan dan mencuri perhatian.

“Aih, si cantik sudah pake baju. Sudah wangi, sini sayang!” Yudis menyambut sikecil yang sudah rapi memakai baju.

Naura tak menoleh Yudis.

“Mama …. ” Naura memeluk lutut Ayu.

Yudis hanya diam terpaku. Takut Ayu malah akan berbuat kasar padanya. Ayu tengah bertanduk.

Ayu tak bergeming. Tapi …. Sentuhan lembut jemari Naura menyentuh kulit tangannya. Begitu lembut. Ada getaran aneh yang menjalar di hati. Getar halus tanpa bisa dimengerti.

Meski malas menoleh juga pada wajah simungil yang tengadah di lututnya. Mata mulai beradu. Polos dan mengiba mata menagih cinta.

Mata bening, bulu mata lentik, kedipan manja itu membuat Ayu terpana. Bibir mungil memanggil Mama. Pipinya bersemu merah. Tangan menarik lembut gamis Ayu.

Ayu terkesima.

Mata mungil itu berembun, Ayu kian tertegun. Bibir tipis nan manis bergetar, beberapa detik kemudian pecah tangis. Mimik muka lucu tapi penuh pilu.

Ayu jongkok menatap Naura. Perlahan didekap gadis mungil itu. Mengelus perlahan dengan kasih sayang.

“Jangan menangis! Mama ada di sini. Anak cantik tak boleh nangis nanti jadi jelek,” bujuk Ayu.

Naura berhenti menangis dan tersenyum bahagia.

Yudis dan Mak Inah bernapas lega. Alhamdulillah ini baru Ayu lestari, istri dokter Yudistira. Perhatian, berhati lembut dan penuh kasih sayang. Bukan singa betina marah mencari mangsa.

Ayu menyentuh pipi Naura perlahan. Ditelusuri tiap inci wajah manisnya dengan tangan. Ayu jatuh cinta. Langsung sayang. Amarah lenyap seketika. Murka hilang entah kemana. Rasa hangat menjalar di sanubari. Mengisi kerontang hati.

“Jangan kembalikan Naura, kak! Ayu ingin dia menjadi anak kita, ” tegas Ayu dengan menggendong dan mendekap erat takut Naura pergi.

“Kakak pengennya begitu, tapi Naura pasti punya orang tua. Besok atau lusa orang tuanya pasti akan datang mencari. Jangan terlalu mengharapkan, jika Naura pergi, Ayu akan sangat kehilangan.”

Raut bahagia mendung seketika. Ayu menangis. Yudis dan Mak Inah kian bingung. Walah, bagaimana cara melunakkan hati singa yang patah hati.

“Kalau orang tuanya tidak diketemukan, kita akan mengadopsi Naura dengan prosedur yang benar,” ujar Yudis menghibur.

Mata Ayu berbinar.

“Bagaimana dengan Bapak, den?” Seloroh Mak Inah yang kembali meluluhkan lantakan semangat Ayu dan Yudis.

“Papa?” Ayu menunduk lesu.

“Kita akan bicarakan pada papa. Insyaa Allah, papa akan mengijinkan,” hibur Yudis walau hatinya ragu.

Ayu memeluk Naura yang tampak mulai mengantuk. Lelah bermain dan air segar membuat tubuh nyaman. Sepoi angin membelai lembut wajah kecil. Elusan tangan Ayu kian membuat lelap.

******

Muka Ayu dan Yudis begitu tegang. Om Wijaya seumpama hakim yang akan mengetuk palu dan menentukan perkara hidup mati mereka di meja pengadilan.

Pria tua itu termenung. Yudis sudah panjang lebar mengutarakan keinginan untuk mengadopsi Naura. Tanpa terlewat menjelaskan semua.

“Kalian harus memastikan identitas Naura, cari dulu keluarga, kerabat, atau hal apapun tentangnya sedetil mungkin.”

Yudis mengangguk setuju.

“Jangan sampai ada masalah dikemudian hari. Naura bukan anak tanpa asal usul. Bukan terlahir dari batu. Pasti ada orang tuanya. Cari jatidirinya dengan benar atau kalian akan menyesal,” tegas Om Wijaya.

“Ya, Pah. Yudis akan lakukan itu. Jadi boleh kami mengadopsinya?”

“Kalian sudah yakin konsekuensi dengan kehadiran Naura? Ingat jangan cuma sayang dan cinta hari ini. Kalian harus mencintai dan menyayangi selamanya.”

Ayu dan Yudis diam. Berpikir kilat, tanpa banyak memikirkan konsekuensi ketika Naura akan mengisi hari mereka, sudah barang tentu banyak yang harus dipertimbangkan. Bukan karena cinta lalu mematikan logika.

“Suatu hari kalian akan punya anak. Jangan sampai cinta kalian berubah karena ada anak kandung. Naura kalian jadikan anak tiri. Jika kalian sanggup mencintai dan menyayangi setulus hati tanpa berubah, papa akan pertimbangkan,” ujar Om Wijaya panjang lebar.

“Insyaa Allah, Pah. Memang kami sadar akan hal itu. Naura akan kami anggap anak kami sendiri. Semoga jadi pancingan untuk hadir adiknya nanti,” jawab Yudis berbinar.

“Aamiin,” tambah Ayu.

“Sesayang apapun kalian pada Naura, ingat! Jangan putuskan silaturahmi Naura dan keluarganya. Naura harus tahu jika dia bukan darah daging kalian. Juga dia tidak akan menjadi ahli waris kalian. Sebanyak apapun harta kalian dia hanya bisa mendapatkan hadiah dan wasiat kalian sejumlah 1/3 dari jumlah harta. Kau, Dis. Temukan ayahnya! Yudis tak berhak menjadi wali untuk pernikahan Naura. Ingat itu!”

Yudis dan Ayu mengangguk. Adopsi bukan perkara mudah. Urusan menyangkut dunia akhirat.

“Mama …. ”

Naura yang terbangun berjalan mencari ibunya. Mengucek mata dan melihat sekitar. Saat beradu pandang dengan Om Wijaya, Naura tampak ketakutan. Berlari menghampiri Ayu dan menangis.

“Ini mama sayang, itu Opa. Jangan takut bukan orang lain.” bujuk Ayu.

Om Wijaya tertegun melihat gadis mungil itu. Cantik dan lucu. Menggemaskan. Andai dia adalah cucunya.

“Taring papa masih ada ternyata. Masih juga anak kecil ciut melihat papa,” ujar Om Wijaya tersenyum.

Naura mengintip dan melihat senyum jendral tua. Mata mereka beradu pandang. Gadis itu tersenyum melihat gigi Om Wijaya yang telah tanggal.

“Sini!” Panggil Om Wijaya.

Naura mendekat dengan malu-malu. Memeluk kakek tua itu dan menggelayut manja pada akhirnya.

Semua tersenyum. Dalam dada menyemai harap agar anak itu tak punya keluarga. Semoga bisa menjadi anggota baru yang akan memberi ceria di rumah ini.

******

Sebulan berlalu. Keberadaan orang tua Naura hilang entah kemana. Yudis dan Ayu menjadi orang tua baru.

Naura bagaikan magnet perekat kebahagian di rumah Hadiwijaya. Senyum dan tangisan menjadi warna di rumah yang dulu begitu sepi.

Ayu begitu mencintai dan menyayangi. Tanpa lelah menjaga dan mengurus Naura. Bahkan kadang lupa beristirahat mengurus si lucu.

Hari ini kepala Ayu pusing tujuh keliling. Sudah beberapa hari tubuhnya letih. Kurang istirahat dan makan. Entah mengapa tak ada sedikitpun selera.

“Mak tolong jaga Naura. Saya kurang enak badan. Mau istirahat sebentar,” pintanya pada Mak Inah.

Mak Inah mengangguk. Mengiyakan.

Ayu hanya terbaring di ranjang. Tertidur pulas. Tak tahu ketika Yudis pulang ke rumah.

“Ya Allah, badanmu panas sekali. Yu, kamu demam,” ucapnya kaget begitu memeriksa kondisi istrinya.

“Ya kak, sedikit pusing.”

Yudis cekatan memeriksa kondisi Ayu

“Kamu makan dan minum obat ya, sayang. Bed rest jangan mengasuh Naura dulu. Ingat! Jangan bandel. Naura aku dan Mak Inah yang akan mengurusnya.”

“Siap pak bos,” ujar Ayu tersenyum.

Yudis mencium kening istrinya.

‘Kasihan pasti kecapean. Naura super aktif pasti membuatmu sangat letih. Bandel sih. Mau dicarikan baby sitter selalu bilang nggak, begini jadinya’

Tidur seharian membuat Ayu bosan. Tubuh terasa kian lemah. Mencoba berdiri namun tak kuat kaki menopang. Ayu limbung. Atap seakan runtuh. Kepala pusing tujuh keliling. Mata berkunang-kunang.

Mencoba berdiri namun hilang keseimbangan. Terjatuh dan pingsan di ranjang.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here