Anak Gunung #41

0
78
views

Suasana bandara hiruk pikuk, hilir mudik manusia berjalan kian kemari. Bongkar muat barang bawaan penumpang juga mewarnai aktivitas siang itu.

Sepasang suami istri tampak sumringah. Telah lulus dari satu ujian besar yang menghadang kehidupan mereka. Menguji kekokohan cinta mereka. Satu ujian lagi mereka menangkan.

Ayu dan Yudistira berjalan bergandengan tangan. Senyum menghiasi wajah mereka. Lima belas hari berdua, hanya berdua tak ada orang lain. Cukup membuat mereka bisa menikmati kebersamaan tanpa gangguan.

Ayu dan Yudis akhir-akhir ini selalu sibuk. Tak ada waktu lama untuk bersama. Dinas dan kuliah jadi penghalang mereka.

Ayu terdiam, matanya terpaku pada sudut bandara. Seorang pemuda dengan kasar menepis tangan ibunya yang memberi satu kantong kresek besar. Ibu tampak begitu sedih. Matanya berkaca. Entah apa topik pembicaraan mereka.

Ibu berjalan meninggalkan sang anak yang murka. Raut kesedihan tergambar dari wajah sepuhnya. Berjalan gontai tak tahu arah tujuan.

“Jangan! Bukan urusan kita,” cegah Yudis pada Ayu.

Hampir saja Ayu menghampiri dan berniat merangkul tubuh ibu. Yudis mencegah. Menggeleng kepala tanda larangan.

Hati Ayu terlalu lembut untuk tak merasakan kesedihan melihat kejadian itu. Tapi memang bukan ranahnya untuk masuk dan menggangu.

“Kita makan dulu,” ajak Yudis mendahului masuk ke sebuah restauran. Ayu membuntuti.

“Pesan apa?”

“Terserah kakak yang penting enak” jawab Ayu pelan masih juga teringat ibu sepuh tadi.

“Jangan rusak nafsu makan untuk memikirkan orang lain. Ingat! Kamu dalam masa penyembuhan. Harus banyak makan nanti drop lagi.”

“Ya, kak, Ayu tahu. Tapi wajah ibu itu membuat Ayu merasa sangat kasihan. Kak …. Itu ibu tadi ….”

Tangan Ayu menunjuk seorang ibu yang berdiri persis didepan restauran. Duduk termenung memeluk kantong kresek hitam dalam dada. Pandangan mata menerawang. Sesekali menyeka air mata yang mengalir di pipi.

“Boleh Ayu mengajaknya makan? Kita ajak duduk di sini, kasihan sendirian.”

Yudis hanya tersenyum. Bukan Ayu namanya jika tak merasa empati pada orang. Kucing masuk got dan luka juga bisa membuatnya menangis lama. Mengangguk.

Ayu mendekati sang ibu. Membujuk dengan susah payah untuk duduk bersama.

Ibu duduk dengan enggan. Mata sembab terlalu lama menangis. Tangan setia mendekap kantong kresek hitam. Seolah itu benda paling berharga dalam hidupnya.

Yudis dan Ayu saling berpandangan. Bingung harus melakukan apa.

“Bu …. apa ibu baik-baik saja?” tanya Ayu.

Hening tak ada jawaban. Tangan kian erat menggenggam kantong hitam.

“Bu, kita makan ya! Ibu mau makan apa? Saya pesankan,” bujuk Yudis supaya ibu mau bicara.

Ibu hanya diam dan menunduk dalam. Seketika tangis pecah. Bahunya terguncang hebat. Sontak menjadi fokus perhatian seluruh pengunjung restauran.

Ayu dan Yudis salah tingkah. Takut melihat pandangan semua orang yang menatap tajam pada mereka. Menyalahkan.

“Bu, boleh saya simpan kantong kresek ini? Jika ibu berkenan bisa bercerita pada kami. Katakan apa yang terjadi! Supaya ibu merasa berkurang beban,” bujuk Ayu.

Ayu mencoba mengambil kantong yang didekap erat.

“Jangan! Ini kenangan terakhir anak saya,” cegahnya.

“Tangan ibu lelah, kita makan dulu, nanti ibu ambil lagi,” ujar Ayu.

Ibu menggeleng kepala.

“Ini punya ibu tapi tangan ibu sudah lelah memegang. Jika ibu percaya kami, bicaralah. Siapa tahu kami bisa bantu,” ucap Ayu menatap manik mata ibu yang mulai melunak.

Perlahan kantong hitam diletakan.

Seteguk air putih membasahi kerongkongan yang kerontang.

“Aryan, anakku akan pergi ke Jepang. Kantong ini berisi makanan kesukaannya, kasihan nanti kalau di pesawat lapar bagaimana? Makanya saya bawakan makanan,” ujarnya dengan raut muka mendung.

Oo …. Itu penyebab sang pemuda tampak murka. Menganggap ibu begitu kuno dan kampungan. Tapi, itulah cinta seorang ibu. Selalu ingin memberi pada anaknya. Terlebih buah hati akan pergi untuk waktu yang lama.

“Dasar anak tak tahu diuntung. Saya besarkan sendiri tanpa kehadiran seorang Ayah. Ayahnya meninggal ketika dia usia tiga tahun.”

Ibu menghela napas.

“Saya memanjakan bak raja meski orang tak berpunya. Saya turuti semua yang dimau. Dia sekolah di tempat pavorit. Berharap supaya dia bisa bergaul dan berkenalan dengan orang hebat. Kelak pasti akan mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan koneksi, itu pikir ibu, neng.”

“Aryan anak yang cerdas, sejak kecil menjadi murid paling pintar dalam sekolah. Bahkan loncat kelas beberapa kali. Akselerasi atau apa ibu lupa namanya. Usianya kini tujuh belas tahun tapi menjadi mahasiswa dengan beasiswa ke Jepang karena prestasinya.”

“Masyaa Allah, anak yang hebat dan pintar. Ibu tak salah tapi Aryan juga tak salah Bu. Di dalam pesawat penumpang sudah disediakan makanan dan minuman, jadi kita usah membawa bekal. Nanti juga kita diperiksa bawaannya. Kemungkinan besar makanan ibu takan boleh dibawa kedalam pesawat.”

“Oh …. Gitu ya, neng. Tapi sikapnya yang kasar membuat saya tak suka. Sejak masuk SMA dia berubah. Banyak bergaul dengan orang kaya membuat anak itu juga bergaya seperti mereka. Merasa malu punya ibu miskin dan berlagak sok kaya agar diterima dalam komunitas mereka. Ibu diam saja. Padahal segala kebutuhan untuk memenuhi gaya hidup selalu ibu penuhi, walau hutang sana-sini.”

Yudis menyayangkan sikap orang tua seperti ibu ini. Memanjakan dan memberi semua yang diinginkan. Sehingga anak besar kepala dan manja. Memberi ikan bukan umpan. Disayangkan.

Bersyukurlah Papanya yang notabene orang kayak juga selalu mendidik dengan benar. Memfasilitasi tapi bukan memberi percuma tanpa usaha. Sejak kecil jika menginginkan sesuatu, papa mendidik meraihnya dengan usaha bukan rengekan semata.

Ingat ingin mobil, papa memberi tantangan supaya memberi nilai brilian semester depan dan mobil akan menjadi rewardnya.

“Sesal saya sudah melahirkan dia. Mendingan tak punya anak sekalian daripada punya anak tak sopan,” rutuk ibu.

“Astaghfirullah, Bu jangan berkata demikian! Susah payah ibu mengandung. Ibu belai dia sedari dalam rahim. Menyusui dengan penuh kasih. Membelai tak ingin orang menyakiti, bahkan seekor nyamuk pun tak dibiarkan hinggap dan menghisap tubuh mulusnya. Bagaimana jika hal yang tak baik terjadi padanya atas umpatan tadi, naudzubillah.”

“Kesel tuda, neng. Dia tak menganggap saya ada. Malu mengakui saya ibunya. Padahal susah payah saya membesarkan tanpa bantuan siapapun.”

“Bu …. Saya sudah hampir empat tahun menikah belum juga Allah karuniakan anak. Bu …. betapa siang malam saya mendamba hadirnya buah hati. Jika Allah menitipkan akan dijaga dari marabahaya atau paparan negatif dunia. Ibu tentu tak ingin jika terjadi sesuatu yang buruk padanya. Berkatalah yang baik atau simpan kemarahan ibu dalam hati serta do’akan hidayah menghampiri.”

Ibu terdiam. Mengakui sering terlontar kata kasar mengupat anaknya. Memanjakan berlebihan. Ucapannya kadang keluar bahasa binatang. Sungguh tak layak diucap seorang ibu. Pantas Aryan mencontohnya.

“Kita akan menuai apa yang ditanam. Jika perangai ibu kasar maka anak ibu juga takan jauh berbeda,” ucap yudis.

“Kapan jadwal penerbangan Aryan?” tanya Ayu

“Lima belas menit lagi. Mungkin sekarang sudah berangkat,” ucapnya lesu.

“Kita temui dia sebelum pergi. Saya yakin ibu tak mau berpisah dengan Aryan dengan cara ini. Rengkuhlah dia dalam do’a. Semoga cahaya hidayah menerangi hati. Pada dasarnya seorang anak akan selalu bergantung pada orang yang menyebabkan hadir di dunia, ibu. Darah lebih kental daripada air. kasih sayangmu yang akan membawa dia pulang kembali. Jika memang Aryan telah tersesat maka cintamu yang akan membuat merapat,” ucap Ayu lembut.

“Jangan salahkan anak semata, Bu. Mungkin pola asuh orang tua juga yang membentuk karakter mereka. Memanjakan akan membuat anak angkuh dan tak mau menerima kenyataan. Padahal hakikat hidup adalah berjuang. Semua akan sesuai hasil bukan sekedar meminta tanpa usaha. Saya pikir kasih sayang ibu telah membutakan hatinya,” Yudis menimpali.

“Kami bukan sok pintar dan ingin menggurui. Saya terlahir dari keluarga yang miskin harta. Ingin sekolahpun harus berusaha keras membujuk orang tua. Akhirnya mereka bilang iya. Timbal balik buat mereka saya berjuang memberi yang terbaik, karena tahu tiap tetesan peluh mereka juga beserta do’a agar anaknya menjadi insan terbaik dan membanggakan.” Ayu menatap si ibu yang kian merasa jika pola asuh selama ini salah.

“Saya, Alhamdulillah terlahir dari keluarga berada. Apapun fasilitas tak perlu minta. Tapi, papa sebagai orang tua tunggal selalu mendisiplinkan anak. Mendidik kalau hidup itu perjuangan. Setiap yang didapat tidak cuma-cuma tapi harus diraih dengan usaha. Mari kita antar Aryan pergi untuk kembali pulang. Nanti jika sudah jauh dari orang tua, dia akan paham betapa susah payah ibu membesarkan dengan peluh dan air mata. Kita harus cepat! Semoga tidak terlambat,” ajak Yudis yang berjalan mendahului menuju tempat Aryan.

Ibu dan Ayu membuntuti. Mata ibu tak henti meneteskan air bening. Seluruh ucapan dua orang itu benar.

*****

Aryan Maulana, pemuda usia 17 tahun itu tertunduk di kursi ruang tunggu. Matanya sembab. Sesal menghinggapi atas sikap kasar pada ibunya.

Entah kapan lagi bisa melihat ibu kembali. Kemungkinan bertahun lamanya.

Sejak kecil ibu selalu memanjakan. Tapi, tak bisa berlembut tutur kata dan sikap. Hingga membentuk karakter Aryan yang kasar juga.

Sering bahasa binatang terlontar, umpatan kasar. Maka hanya bahasa itu yang Aryan tahu.

Terlebih bergaul dengan teman yang dari kalangan atas membuatnya kian sama seperti mereka, materialistis, hedonis.

Ibu adalah wanita tua tanpa pendidikan. Terbentuk dari kehidupan keras semenjak remaja. Maka tak heran pola pikir dan tindakan adalah pengalaman hidupnya.

Hal yang wajar setiap hari bertengkar dan bersilang kata. Sudah biasa. Namun, hari ini Aryan akan berpisah untuk waktu yang lama.

Ingin mengakhiri pertemuan dengan kesan yang mendalam bukan sebuah pertengkaran.

Aryan menunduk penuh sesal. Tangisnya pecah. Walau bagaimanapun dia hanya seorang bocah. Pemikiran belum matang. Emosi masih labil. Ingin ibunya tak selalu emosi. Sesekali memahami dan mengerti keinginan diri, pikirnya.

Kain jarik ibu didekap. Rembesan air mata dihapus oleh benda panjang bermotif batik itu. Jarik basah air mata penyesalan.

‘Bu, sejak kecil, aku hanya punya ibu, sekarang saat harus pergi haruskah diakhiri seperti ini. Maafkan Aryan, ibu yang terlebih dahulu selalu marah dan berkata kasar, memantik emosi. Jadi Aryan mengatakan yang tak seharusnya. Sungguh Aryan menyesal,’ batinnya.

“Nak …. ,” Ucap Ibu dengan lirih.

“Ibu … ?”

“Ya, Sayang, ibu kembali. Ibu ingin melihat kamu tersenyum untuk terakhir kali sebelum pergi. Entah kapan kita akan bertemu lagi. Mungkin akan sangat lama. Ibu hanya ingin mengantarmu dengan restu bukan dengan amarah dan air mata.”

Aryan berhambur memeluk. Kesedihan yang menghampiri berganti bahagia. Aryan hanya punya ibu. Jika pergi tanpa restu lalu dengan bekal apa akan menghadapi kerasnya perjuangan hidup di negeri orang.

“Maafkan Aryan ….”

“Ibu memaafkan tanpa harus diminta, hanya kamu harta berharga ibu, Nak. Ibu harap kamu selalu bahagia, sehat selalu dan panjang usia. Temani ibu untuk waktu yang lama. Ibu tak punya siapa-siapa, hanya kamu.”

Dua anak beranak itu larut dalam haru.

Yudis dan Ayu mengucap hamdalah. Keegoisan yang kadang memutus cinta. Orang tua merasa jadi seseorang yang selalu benar sehingga harus selalu dituruti tanpa tapi. Anak berontak karena harga diri dan mencari hakikat siapa diri. Mereka tak mau disalahkan. Komunikasi yang salah membuat kehilangan orang terkasih.

Pelukan mengakhiri pertemuan itu. Ibu melepas dengan ikhlas. Aryan meninggalkan dengan senyuman.

“Hati-hati, jaga diri, kembalilah! Ibumu menunggu. Carilah ilmu di negeri orang. Kembali bawa ilmumu untuk membangun negeri. Jangan tergiur jumlah rupiah meninggalkan tanah kelahiran. Pulang dan abdikan diri pada bangsa dan negara. Sejauh engkau melesat terbang nanti satu hari kau harus jua menapak tanah kelahiran. Jaga nama baik ibumu dan kepercayaannya.” Yudis menepuk bahu Yudis saat Aryan memeluk dan menitipkan ibunya.

“Makasih, Om, insyaa Allah. Saya titip ibu, beliau sebatang kara. Saya mengkhawatirkan kesehatan beliau.” jawabnya sambil merengkuh tanda hormat.

“Tanpa diminta kami akan menjadikan Ibu kerabat kami, orang tua kami. Insyaa Allah, pergilah jangan risaukan beliau. Jaga diri! Sebisa mungkin sering hubungi ibumu, Aryan.”

“Ya, Tante. Saya akan sering menghubungi ibu,” ujarnya.

Aryan pergi dengan lambaian tangan. Tubuhnya lenyap diantara ribuan penumpang lainnya. Mencoba menggapai asa dan harapan di negeri orang.

Ibu pulang dengan taksi yang dipesan Yudis. Berulang mengucap terima kasih. Ponsel Ayu diberikan padanya. Ibu membutuhkan untuk menghubungi anak tercinta. Mobil melaju pergi. Satu lagi pelajaran hidup Ayu dan Yudis dapatkan. Semua yang berlebihan adalah hal yang tak baik dan bijak.

“Inilah rahasia Allah mengapa menangguhkan kita memiliki momongan. Kita jadi banyak belajar tentang sabar dan ikhtiar, sayang.”

Yudis memeluk Ayu.

“Ya, kak. Jangan berkecil hati belum diberi keturunan. Tak selamanya punya anak adalah anugrah. Bagi sebagian orang anak adalah sebesar-besarnya fitnah. Jangan merasa menjadi wanita tidak sempurna ketika tak jua hadir buah cinta. Semua hanya titipan. Jika Allah berkehendak semua akan berjalan sesuai harapan. Andai tidak, kewajiban manusia sekedar ikhtiar dan bersabar. Alhamdulillah Ayu sudah banyak belajar dari semua masalah yang kita hadapi, kak.”

“Mari bergandengan tangan saling menguatkan. Insyaa Allah kita akan mendapatkan yang terbaik. Allah memberi yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.”

Dua sejoli melangkah pulang. Langkah tegap penuh harapan. Semua akan indah pada waktunya. Semoga.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here