Anak Gunung #37

0
58
views

Yudistira tertunduk lesu. Deretan persentase dan istilah medis terpampang dihadapannya . Tak perlu penjelasan Dokter Yulia tentang hasil tes itu. Yudis yang seorang praktisi kesehatan paham benar dengan catatan itu. Ayu mengalami masalah dengan kandungannya. Ayu harus operasi untuk mengangkat salah satu sel indung telurnya.

Operasi yang membuatnya sulit untuk mendapatkan keturunan . Bukan mustahil Ayu dapat hamil dengan hanya satu indung telur. Hanya jika Allah memberinya keajaiban.

jika demikian program bayi tabung juga sulit untuk memberikan hasil. Padahal program bayi tabung adalah pilihan terakhir bagi mereka. Bagaimana kaget dan sedihnya Ayu jika melihat hasil tes ini.

” Sabar dok, tak ada yang tak mungkin buat kalian . jangan berputus asa. Keajaiban itu ada. segeralah beritahukan istrimu , supaya bisa mencegah infeksi pada satu indung telur yang lainnya . jika itu terjadi maka kalian harus benar benar melupakan mimpi menimang bayi.” Dokter yulia menepuk pundak Yudis yang tampak sangat terguncang .

Yudis hanya terdiam pikirannya kosong .

*****

” Dok , tolong hentikan. ” suara Utari menghentikan Yudis yang hendak memotong organ pasien di meja operasi malam itu.

Yudis kaget. Tangannya gemetar menatap Usus 12 jari yang nyaris di potongnya. Padahal saat itu tengah melakukan operasi usus buntu.

Yudis terhuyung ke belakang dan nyaris ambruk saking kagetnya. Untung Utari sigap menyangga tubuh Yudis.

Utari memberi kode Dokter Yuda supaya melanjutkan tugas Yudis. Dokter Yuda mengangguk. Segera melanjutkan operasi.

Utari memapah tubuh Yudis yang lemah tiada tenaga. menuju bangku di taman rumah sakit.

Lampu taman agak redup . Tanaman dan bunga di taman tampak sedikit basah, sisa air hujan. Berkelip tersinari lampu.

” Dis , ada masalah ? tak biasanya kamu tidak konsentrasi di meja operasi. Kamu tahu jika pisau bedah kita itu bisa jadi dua mata pisau. Menjadi penyelamat jika kita melakukan prosedur yang benar . Menjadi pisau jagal , pembunuh kejam. Walau hanya dengan satu sayatan. Jika kamu tidak dalam keadaan terbaik bisa katakan pada dokter yang lain untuk menggantikan . Nyawa pasien jadi taruhan keteledoranmu. ”

Utari menatap tajam Yudis.

Yudis tak menjawab, hanya guncangan bahunya nampak kian kencang . Yudis seumpama anak kecil menangis sejadinya tanpa malu.

Utari kian bingung .

” Dis ayolah , jangan buat aku jadi bingung , ada apa ? ”

Yudis merogoh kantongnya . Selembar kertas di berikan pada Utari.

Utari menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Air matanya menetes di kedua pipinya.

Pantas seorang Yudis yang terkenal degan kemahirannya begitu terguncang dan hampir membuat kesalahan fatal. Utari membayangkan betapa hancur hati Ayu juga Om Hadiwijaya. Sehingga membuatnya tak mampu bicara.

*****

” Kak mana hasil tes kita … ? bukankah harusnya hari ini keluar . Jadi penasaran ” ucap Ayu.

Yudis pura pura tak mendengar .

“kak .. ? ”

” Dr yulia sedang dinas keluar kota. Hasil tesnya ada padanya . Gini nih kalau periksa sama teman sendiri hasil lab bukan di simpan di tempat seharusnya, malah di simpan sama dokternya. ”

Yudis berkilah . Ayu terlalu pintar untuk dibohongi jika hasil tes itu belum keluar . Pihak rumah sakit juga tentu akan melakukan prosedur seharusnya . Hasil tes tentu harusnya di ambil si pasien . Bukan dokter atau yang lain. Maka dia berkilah karena teman maka menjadi lumrah Yulia menyimpan hasil tesnya.

” padahal Ayu pengen cepet tahu ”

” Kasih tahu perlahan dis . Takutnya Ayu syok . Kasihan dia akan sulit menerima hasil tesnya tersebut. ” ucapan Utari terngiang ditelinga. Maafkan aku sayang . Aku akan katakan jika waktunya tepat.

” Lusa aku dapat cuti seminggu Yu, kita jalan jalan ke Gili trawangan . Kita sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua . Kita bisa honey moon lagi. ”

” mendadak , Apa ada masalah … ? ”

” Masalahnya sudah lama kita tak liburan . Jangan menolak dan ingin mengajak banyak orang . Ini hanya untuk kita berdua ok ”

Yudis mengerling mata . Ayu tersenyum . Katanya dulu ke Bali untuk honey moon tapi Ayu memboyong keluarganya . Masih teringat raut wajah Yudis saat itu. Namun Ayu memohon seluruh keluarga di bawa serta karena belum pernah sekalipun pergi kesana. meski terpaksa yudis mengatakan ya.

” Baiklah, sekarang pergi mandi gih . Badanmu bau kecut . ” tangan Ayu sigap mendorong suaminya ke kamar mandi . Sembari terkekeh, niat yudis mencium pipinya kandas.

kringg..

Dering ponsel Yudis terdengar

” Dis .. aku turut prihatin. Sabar selalu menghadapi ujian itu. Memang kalian pada dasarnya nggak cocok dalam hal apapun. Kamu hanya memilih dia karena papamu menyukainya. Kamu lihat sekarang Ayu bahkan tak bisa memberikan keturunan buat Papamu. Seandainya jika kamu tak memilihnya kamu punya banyak anak dari yang lain . hallo ..kamu masih di situ kan … ? ”

” Kamu ingat mantanmu Stevy .Dia terus menanyakan kabarmu . Bentaran aku kirim nomornya lewat sms . Siapa tahu masih rindu pada cinta pertamamu . he he he . ” suara cekikikan terdengar di sebrang sana . Ayu menangis . Tawanya seolah menertawakan kelemahan Ayu. Menertawakan nasib malang Ayu.

Mengapa kamu tak berterus terang dengan keadaanku Kak Yudis. Sampai kapan kamu akan menyembunyikannya.

” Dia sekarang di indonesia, sedang liburan di lombok . Kalau nggak salah di Gili … Aku tutup ada pasien nih .. ” suara Bagas diakhiri. Ayu tahu itu dari nama yang tertera di layar monitor ponsel.

Bagas sahabat Yudis yang selalu menatap tanpa simpati dan suka pada Ayu. Mungkin karena sahabatnya mendapatkan si upik abu yang tak sekufu dalam hal apapun.

Ayu menghapus air matanya. Ayu akan lihat sampai kapan, kau akan diam tanpa kata. Tuhan benarkah jika Yudis memilihnya hanya karena Papa . Jika ya sungguh aku benar benar melukai papa dan Yudis. Melukai Papa karena perempuan pilihan yang menjadi menantunya mandul. Tidak bisa membahagiakannya. Tidak bisa memberi pewaris buatnya. Tidak mampu meneruskan silsilah keluarga. Juga menyakiti yudis yang menikahinya karena terpaksa demi membahagiakan Papa.

Baiklah kalian sudah banyak berkorban untukku . Sudah banyak memberi padaku . Mungkin kini saatnya , aku yang memberi dan kalian menerima . Biarlah hati tercabik asal kalian bahagia . Apapun akan aku lakukan . Ayu lagi menyeka air matanya . Aku takan menangis di hadapan mereka . Aku akan menangis dalam diam dan sendiriku.

******

Ayu berjalan dengan tatapan kosong . Langkahnya terasa tak menapak di atas tanah . Beban jiwanya yang disimpan sendiri tanpa dibagi membuatnya begitu sepi . Ingin berteriak mamanggil pasukan sahabat tapi sekarang mereka juga sudah menikah semua. Sudah punya beban tanggungan masing masing. jangankan untuk memberi solusi baginya . Memikirkan masalah mereka sendiri sudah seabreg.

Mengadu pada orang tua tabu bagi Ayu. Tak ingin mereka malah sakit mendengar kisah pilunya. Ayu berjalan sendiri .Sungguh merasa sendiri diantara sekian banyak manusia hilir mudik .

Rintik hujan membasahi tubuhnya. Sayang tak mampu mendinginkan panasnya otak juga hatinya.

Sepasang mata terus menguntit. Hingga setelah sekian lama mulai berjalan dibelakangnya , khawatir melihat Ayu yang jalan sempoyongan.

Ayu masih berjalan dalam angannya sendiri. Orang lain pasti melihat Ayu sosok yang teramat bahagia. Harta berlimpah yang tak habis tujuh turunan. Nama besar yang membuat orang akan tertunduk . Tapi sesungguhnya harta tak bisa membeli bahagia. Seandainya bisa Papa yudis takan keberatan jika kehilangan seluruh harta asal mendapatkan si buah mata. Papa juga takan mengeluh kehilangan gelar jabatan asal bisa menghabiskan sisa umur dengan di temani canda tawa anak, cucu dan menantu.

Ayu menyebrang jalan masih dengan angan melayang. Sebuah kendaraan meluncur kencang menuju kearahnya.

” Awas Ayu … Sebuah tangan kekar menarik tubuh Ayu dalam pelukkannya. Ayu kaget . Gelap mata . pingsan seketika.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Kembali ke # 36

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here