Anak Gunung #35

0
50
views

Yoga memasuki ruangan tempatnya menjadi dosen di UPI Bandung. Tampak mahasiswanya sudah duduk rapi dengan posenya masing masing. Ada dengan gaya santai layaknya dipantai atau gaya serius dengan wajah tegang menanti sang dosen yang terkenal tegas. Katanya. Baru katanya. Nyatanya Yoga adalah dosen baru yang hari ini pertama kali mengajar di fakultas ini.

Semua aktifitas berhenti pandangan mahasiswa tertuju pada sosok muda yang ganteng penuh wibawa. Para mahasiswi menata rapi duduk mereka . Selentingan sang dosen adalah duren membuat mereka mengharap jika bisa menjadi pengganti sang istri. Semua tampak serius kecuali seorang mahasiswi yang tampak asyik sendiri dengan bacaan buku tebal di hadapannya.

“Ehm .. Assalamu alaikum … ”

Dehemannya membuyarkan konsentrasi sang mahasiswi. Mendongakkan wajahnya yang asyik meniti baris huruf dibuku super tebal itu

Deg ..keduanya terdiam

” Pak Yoga …. ” ucap Ayu lestari sang mahasiswi.

Yoga sebenarnya sama terkejutnya. Namun segera menguasai diri yang tak ingin kalah kharisma dengan berbuat konyol didepan mahasiswanya.

Desir lembut itu masih sama seperti 3 tahun lalu. Terlebih kini Ayu sudah menjadi nyonya besar. Penampilan kampungannya sudah hilang yang tertinggal hanya tampilan elegan sang istri dokter ternama di kota. Elegan tapi masih tetap sederhana. Masih tetap dengan hijab lebar dan gamis dengan gaya yang sama. Bukan gamis glamour penuh blink blink. Masih terlihat bukan penampilan yang wah dengan harga super mahal. Masih Ayu yang membuat debar jantungnya tak menentu. Ayu entah sampai kapan aku menghilangkan rasaku.

Ayu menutup mulutnya rapat . Masih malu ketika gema suaranya berisik mengganggu teman sekelasnya.

Jam seolah enggan berputar. Ayu merasa canggung dengan tatapan Yoga yang kadang mampir padanya . Gugup masih seperti 3 tahun lalu saat pria itu mencoba mendekati. Kenapa harus dia yang jadi dosen pengajar .

” Kamu kenal Yu … ? ” tanya Linda sahabatnya yang heran dengan perubahan sikap Ayu.

“Nanti aku cerita, sekarang fokus saja . Jangan lirik sana sini. Malu sama yang lain ok … ” si bawel Linda terdiam meski sungguh penasaran.

” Sekian untuk hari ini . Terima kasih semuanya . Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ” suara kharismatik nan tegas mengakhiri tugasnya.

Ayu merapikan barangnya dan Linda menguntinya dibelakang sungguh penasaran dengan penjelasan Ayu tentang Yoga.

“Ayolah kamu cerita sekarang dong .. ” matanya memelas .

Ayu hanya tersenyum . Kepo bener nih bocah .

” Assalamu alaikum Ayu … ” suara Yoga mengagetkan keduanya .

“Waalaikumus salam … ” jawab Ayu tanpa menatap lawan bicaranya.

” Alhamdulillah ternyata kuliah disini, bagus akhirnya bisa melanjutkan cita cita yang tertunda. Apa kabar keluarga di kampung … ? ”

” Alhamdulillah atas ijin Allah saya kuliah . Bapak sekeluarga sehat semua . Apa kabar bapa dan sisil juga. Pasti sudah besar sekarang . ”

Linda menjadi yakin ada sesuatu diantara Yoga dan Ayu . Ayu begitu kaku sedangkan Yoga tampak menatap dengan tatapan yang berbeda .

“Sisil sudah masuk Tk sekarang. Sudah besar. Alhamdulillah kami baik baik saja. ”

Ucapan terakhir Yoga menusuk hati . Yoga ingin Ayu tahu tanpanya baik baik saja . Seolah tersirat jika memang Yoga masih membutuhkan sosok seperti Ayu dalam hidupnya.

“Maaf pak, saya harus pergi duluan . Kebetulan ada janji sama sahabat . Assalamu alaikum. ”

Mengapa pak Yoga kamu seolah belum move on . Jangan lakukan itu sungguh itu menyakiti dirimu sendiri dan juga aku. Seandainya jika bisa akan kubagi hati ini . Maaf hanya ada satu nama takan pernah terganti . Hanya untuk Yudistira hadiwijaya.

Ayu pergi tanpa menunggu jawaban salam dari Yoga .

Linda makin curiga.

Yoga mematung.

Blug..

Ayu membanting kasar pintu mobilnya.

” kenapa harus mempertemukan kami lagi Tuhan . Aku selalu terluka melihat dia … ” ujar Ayu seraya menyandarkan kepalanya pada stir mobil.

“Wuih mantanmu keren banget yu … boleh juga buat aku . ” ledek Linda

” Bukan mantan Lin , tapi seseorang yang hampir bertunangan dan nikah sama aku. ”

Linda kian bingung . Bukakah itu namanya mantan .

“Kami tak pernah menjalin hubungan apapun tapi dia datang meminang sama bapak. Dihari aku sudah hampir mengatakan ya. Saat itu Yudis melamarku. Dia tahu itu dan menyaksikan Yudis melamar dengan bunga edelweis dilapangan. Dia pergi tanpa kata . Hanya meninggalkan surat dan sekotak perhiasan untuk lamaran. Selalu sesak dadaku mengingat itu. Tapi mau apalagi. Aku bukan untuknya juga dia bukan untukku .Hanya kenapa dia masih juga sendiri itu membuatku merasa bersalah . ”

Ayu menarik nafas panjang. Dadanya sesak .

” Jangan gitu dong Yu , bukan salah kamu . Kalian memang tak berjodoh itu saja. ” hibur Linda yang juga bingung mesti berkata apa .

Entah cerita apa yang akan menghubungkan kami tuhan mengapa harus berjumpa dengannya lagi.

******

Yoga memandang putri kecilnya dengan penjuru mata . Sisil tengah asyik memainkan boneka panda besar yang diimpikannya. Hanya itu yang dapat kau peluk Nak . Maaf belum bisa menghadirkan sosok mama buat kamu . Padahal keluhan dan iri hati akan belaian bunda teramat sering kau utarakan.

” kenapa kita tidak main ke rumah mama Ayu pah …? ”

Yoga mengelus pelan kepala putrinya . Masih kau sebut dia mama . Tak bosan meminta bertemu Ayu . Yoga sebenarnya rela menikahi siapapun demi Sisil namun, Sisil selalu tak memberi restu . Baginya kebahagiaan putrinya yang utama . Segala ingin dan harapnya sudah mati dibawa pergi sang istri . Ketika menyemai asa saat berjumpa Ayu . Semua harus pupus ketika suratan takdir tak jua menyatukan harapannya . Semua asa kini terbukur dalam . Aku takan mencari cinta, hanya akan memberi cinta bagi sibuah mata.

*****

“Papa mohon Dis, kali ini tolong dengarkan papa . Bicara sama Ayu untuk memeriksa kesehatan rahimnya. Supaya kalian secepatnya punya keturunan. Lakukan dengan cara apapun agar kalian secepatnya bisa punya anak. Tak usah takut biaya, Papa rela merogoh kocek yang dalam asal kalian segera punya keturunan.”

“Papa jangan seolah menitik beratkan kami tak punya keturunan gara gara Ayu. Bisa saja Yudis yang kurang…”

Yudis selalu tak pernah bisa mengerti jika ada pasangan yang belum dikaruniai keturunan maka seolah perempuan yang jadi kambing hitam . Seolah hanya perempuan yang menyimpan titik lemah dan pria selalu gagah dan tanpa cela.

” Bukan begitu maksud papa makanya papa nggak mau bicara sama istrimu yang super baik itu . Papa tak pernah mengeluhkan sikap dan kepribadian istrimu. Ayu seorang perempuan pembawa indahnya syurga kerumah ini. Hanya manusiawi papa ingin nama besar keluarga kita tak putus digenerasimu. Anak papa cuma kamu. Maka Papa ingin nama keluarga kita tak berakhir di namamu . Hanya itu Nak , me gertilah keinginan pria renta ini ”

Om Hadiwijaya menatap lekat Yudis yang tampak terpukul.

Yudis juga ingin segera menimang buah cinta. Namun jika harapan itu belum hadir maka Yudis hanya bisa menanti dan berdo’a semoga do’anya. Secepatnya Allah kabulkan . Tak ingin melukai Ayu dengan tuntutan keturunan. Meski Ayu bahkan berulang menyuruhnya poligami untuk bisa menyempurnakan angan serta mimpi.

“Yudis akan melakukan tes kesehatan . Jika harus maka akan program bayi tabung juga Pah . Asal Papa bahagia. Apapun yudis lakukan … ” Yudis menyeruput kopi yang terongok begitu saja di meja sedari tadi.

Dalam linangan Air mata Ayu tanpa sengaja menguping pembicaraan itu. Remuk hatinya merasa paling bersalah dan berdosa tak bisa menjadi perempuan yang sempurna . Asal Papa bahagia apapun akan aku lakukan . Ucapan itu menyiratkan ketidak berdayaan Yidistira . Ayu kian pilu . Perlahan berjalan gontai menuju kamar.

Mak Inah sang asisten rumah tangga menangis melihat Ayu menguping dan berlalu pergi dengan gontai

Mak inah terlalu tahu sakitnya tak diberi titipan anak . Luka itu kian lama kian menganga . Jika melihat orang lain bersama anak mereka . Dengan bahagia, maka luka itu seolah diguyur asam, garam, cuka . Rasanya perih tiada terperi.

Bayangan hari tua tanpa anak yang mengurus dan menyayangi . Memapah menyuapi ketika raga lemahnya sudah tiada kuasa berdiri. Memandikan mayatny, bahkan mengirim do’a ketika raga tak mampu juga berdiri sebagai penduduk bumi. Makin menambah lara hati. Beruntung Ayu selalu memperlakukannya seumpama ibunya sendiri .Tanpa canggung mengurusnya ketika sakit meski Mak Inah hanya seorang babu hina.

Ayu memandang jauh menembus beton penghalang dihadapannya . Serasa ingin berhambur kepelukan Emak saat itu menangis sejadinya seumpama anak kecil yang diganggu temannya mengadu tanpa merasa malu. Namun tak bisa. Ayu berjanji tak ingin membagi luka pada mereka. Biarlah mereka hanya tahu manis dan bahagianya Ayu bukan perih dan tetesan air mata.

Anak sungai cipeles dan semua pesona indah alam sumedang seolah memanggilnya pulang .Samar suara kokok ayam dan hembusan angin kencang khas pegunungan serta burung elang yang berputar mengeluarkan suara khasnya ketika mencari mangsa tampak jelas dipelupuk mata.

Sudah lama tak pulang. Rindu berjalan kaki dibawah rinai dengan bertelanjang kaki berpakaian putih abu. Mendaki dan menuruni bukit ketika pergi sekolah . Rindu dengan semua aktifitas sekolah yang dijalani tanpa beban. Seolah hidup hanya sebuah petualangan asyik dan menarik.

Ketika hidup berumah tangga ternyata inilah dunia seseungguhnya dimana harus dihadapi dengan penuh pertimbangan buka n asal asalan. Bukan hanya dengan senda gurau. Banyak tokoh yang tidak bisa diajak bercanda dalam peran rumah tangga bukan seperti status pelajar yang kadang urakan dan hanya sebatas kesenangan liar. Seumpama hidup dalam genggaman dan hanya sebuah kesenangan. Tiada beban. Mau apa tinggal minta pada orang tua. Berbeda sekarang, dimana fungsi orang tua hanya sebagai saksi dan penyeimbang. Saatnya harus berdiri dengan topangan kaki dan kemampuan sendiri. Orang tua bukan menjadi tumpuan lagi.

“Kenapa sayang … ? ”

Kehadiran Yudis membuyarkan angan.

” Ayu rindu sama keluarga dikampung kak.
Sudah lama tak pulang. ” mata Ayu menerawang.

” Pulanglah , minta restunya bapak sama emak sebelum kita lakukan tes kesehatan rahim. Kita program bayi tabung ya sayang … ” suara Yudis begitu berat.

” Ayo kita lakukan demi papa. Aku ingin memberi papa kado terindah . Entah hasil testnya seperti apa, tapi Ayu harap kakak tidak akan berubah . Berusahalah menerima Ayu apa adanya … ”

Ayu tak sanggup melanjutkan ucapan. Yudis membungkam mulut Ayu dengan jarinya . Menggelengkan kepalanya.

Menarik tubuh istrinya kedalam pelukannya.

“Bagiku tak perduli apapun dirimu, tanpa buah hati juga tak mengapa Ayu. Karena kamu adalah syurgaku, cahaya mataku.

Ayu membenamkan tubuhnya dengan nyaman. Seandainya jika menikah dengan Yoga tuntutan sesegera mungkin memberi keturunan takan begitu dikhawatirkan jikapun tak bisa memberi toh ada sisil. Berbeda dengan Yudistira sianak tunggal pensiunan jendral . Memberi penerus itu harus, jika tidak maka nama besarnya akan terhapus.

Tentulah papa yudis ingin pula. Mempunyai amalan tanpa putus dari anak keturunannya. Hanya tiga yang tersisa ketika raga telah terpisah nyawa yang kita bawa menghadapNYA . Salah satunya do’a anak shalih dan shalihat. Tuhan semoga aku engkau beri karunia indah tersebut.

Baca selanjutnya

Kembali ke # 34

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here