Anak Gunung #34

0
42
views

“Assalamu alaikum Yu, selamat malam maaf mengganggu … ” ucap Rhisma yang berdiri ketika siempunya rumah datang.

” walaikumus salam … ” jawab Ayu

Ayu memandang Rhisma masih sama seorang perempuan dengan hijab yang modis khasnya Rhisma sedari SMA. Celana jeans dan baju kaos tangan panjang yang menutup separuh bagian pahanya. Plus sepatu sket yang tak lupa kemana pun dia kenakan . Berbeda penampilan dengan Rhisma yang ditemuinya beberapa hari lalu direstaurant. Rhisma saat itu memakai tanktop dan rok mini plus highheel.

Yudis memandangnya dengan berdebar. Mengingat kejadian tempo hari bukan tak mungkin kedatangan Rhisma membawa badai yang lebih dahsyat lagi dan menyapu seluruh angan yang beberapa menit tadi baru disemai lagi.

Ayu sedikit gemetar menatap sedikit senyum simpul di wajah Rhisma. Jika tuhan berkehendak Rhisma akan membawa bencana dan kabar bahagia buat papa. Hati Ayu yang gemuruh kian tak menentu saat Rhisma memeluknya erat.

“Maafkan aku Yu … ! ”

Sesenggukan Rhisma . Tangisannya begitu pilu menyayat hati.

Yudis dan Ayu hanya diam tanpa ekspresi.

” Duduklah Ma, apa maksud kedatanganmu …. ? ”

Ayu mencoba mengendalikan diri dengan menyuruh tamunya duduk dan mengutarakan maksud kedatangannya.

Rhisma terdiam . Anak matanya menatap lekat sebuah photo ukuran jumbo yang terpasang di ruang tamu . Photo Ayu dan Yudis dengan pose begitu mesra tengah berdiri dengan lilitan tangan Yudis dipinggang Ayu. Tampak senyum keduanya seolah hendak berkata dunia hanya milik kami berdua. Pergilah.

Rhisma menarik nafas dalam dalam .

” Terima kasih sudah menolongku selama ini dok, kamu seumpama dewa penolong yang hadir disaat tergenting dalam hidupku …. ”

Semuanya hening seolah ingin menebak kemana arah ucapan Rhisma. Maka tak ada satupun yang menyela.

” perpisahan kita di restauran membuatku merenung untuk beberapa hari Ayu. Aku tahu ada yang salah dengan pemikiranmu akan Dokter Yudistira. Sungguh aku adalah orang yang paling tahu dan mengerti betapa sakitnya di khianati … ”

Rhisma menatap lawan bicaranya yang kian bingung mampir dimana ujung lidah tamunya.

” Beberapa tahun lalu aku harus memupus angan indah masa depan dengan MBA . Aku kira itu pilihan paling baik dalam hidupku. Tak dinyana itulah awal derita . Angga suamiku yang masih sama belianya sepertiku ternyata bukan sosok yang aku bertanggung jawab. Sikapnya mulai kasar setelah kami kehilangan bayi kami. Pencemburu dan ringan tangan. Bodohnya aku masih tetap bertahan dengan alasan cinta . Tak perduli lebam dan bekas sundutan rokok mampir ditubuhku, aku masih menerima… ”

Ayu mengusap bahu Rhisma yang terlihat guncangannya kian hebat disertai isak tangisnya yang kian deras.

” Sahabatku sendiri tempat aku mencurahkan segala beban dan perasaan ternyata begitu tega bermain cinta dengan Angga. ”

Ayu dan Yudis mengambil nafas serasa pilu mendengar kisah Rhisma . Hingga tak sanggup berkata.

“Dia paling tahu setiap titik sundutan rokok di tubuhku atau lebam karena tendangan dan pukulan . Tapi masih saja sanggup menambah goresan luka dihati dengan menghianati. ”

“Lantas mengapa kamu juga melakukan hal yang sama padahal tahu jika Kak Yudis telah beristri …. ? ”

Emosi Ayu kini terpancing juga .Matanya tajam menatap Rhisma .

” Yudis ibarat dewa penolong bagiku. Dia yang menolongku dari jurang kematian. Saat itu hatiku mulai menaruh rasa melihat lembut dan santun perangainya . Yudismu berbeda 180 derajat dengan Angga. Aku mulai berandai jika dia bisa menjadi pelindungku. Malam itu kekosongan jiwaku mengantarkanku ke kafe dan menghabiskan sebotol minuman . Aku hampir digagahi dua orang berandalan dijalan . Lagi, Yudis yang menolong . Dia membawaku kesini . Hampa kerontang jiwaku akan belaian kasih sayang, serta separuh kesadaraanku yang hilang mengantarkanku untuk ingin bersamanya.
Syetan memang bahagia mengantarkan anak adam berbuat durjana. Malam itu terjadi. Bukan karena inginku, juga bukan niatan Yudistira . Maaf jika aku membuat kalian dalam masalah. … ”

” kamu sukses membuatku merasa jijik dengan diriku sendiri . Membuat kami hampir hancur . Ku mohon jangan ganggu kami lagi. Kami sudah tenang sekarang ” ucap Yudis . Tak ingin melihat perempuan itu lama lama duduk dihadapannya.

” Aku tahu , karena itu aku datang untuk minta maaf . Hari ini aku pulang ke Jember . Angga sudah mendapatkan hukuman yang pantas atas ulahnya . Aku tak ingin pergi sebelum pergi masih menyisakan masalah diantara kalian . ”

” Ma … ”

Ayu tak sanggup meneruskan ucapannya .Berhambur memeluk sahabatnya.

“Maafkan aku Ayu, bantu aku dengan do’a supaya istiqamah . Aku lelah dengan hidupku dengan takdir yang tak bersahabat denganku . Aku mencari bahagia dengan melakukan kebebasan setiap tindakanku tanpa memandang halal dan haram . Aku ingin mencari bahagia. Namun belum aku temukan juga .” Rhisma terisak lagi.

“Kembalilah menjadi Rhisma yang dulu . Rhisma sang populer kebanggan sekolah kita. Masa depanmu belum usai . Allah telah memanggilmu kembali Ma . Jangan jauhi syariatnya maka kamu akan menemukan ketenangan dan kebahagiaan sejatimu .Bukan dengan urakan dan botol minuman . Khamer adalah ummul khabaits . Induk dari kejahatan . Kamu lihat apa yang kamu lakukan ketika dalam kendali alkohol . Kamu bukan dirimu sendiri. Syetan bahagia mengendalikan dirimu . Jadilah tuan bagi dirimu sendiri. Jangan mau diperbudak nafsu lagi. Kamu selamanya adalah Rhisma sahabatku … ”

Ayu memeluk Rhisma . Merutuki diri yang selalu menilai suatu peristiwa dengan hanya pandangannya saja . Tanpa tabayyun . Tak selalu yang terlihat mata adalah aslinya. Selalu ada penjelasan atas tindakan maka jangan dulu menghakimi. Karena kita bukan saksi bukan pelaku yang melewati dan merasakan peristiwa itu terjadi.

Ayu berjanji akan menghadapi masalah dengan musyawarah dan istikharah . Bicara dari hati ke hati hingga tak lagi saling sak wasangka yang tiada guna.

Ayu dan Yudis melepas kepergian Rhisma yang naik taksi dengan berjuta rasa. Ada kelegaan , kesedihan , juga bahagia melihat Rhisma yang mulai menemukan jalan kembali pulang ke asal.

Tak ada manusia yang jahat. Yang ada hanya makhluk tuhan yang tersesat.

“Berjanjillah setiap ada masalah kita akan bicara dan hadapi berdua kak . Jangan menghindar dan menambah masalah baru lagi . Semuanya akan kita hadapi bersama. …. ”

Yudis mengangguk dan memeluk istrinya. Alhamdulillah badai akhirnya usai . Semoga jika lain kali tsunami melanda kita akan tetap tegar menghadapinya bersama.

*****

Hari berlalu semuanya berangsur pulih namun ibarat sehelai kertas putih yang kau remas, semua tak lagi sama akan membekas selamanya .

Yudis hampir selesai merampungkan tesisnya. Ayu juga kian sibuk dengan kuliahnya mereka sedikit lupa dengan urusan keturunan . Karena saking sibuknya.

Tinggalah sang renta Om Hadiwijaya yang dalam diam merindu menimang cucu. Ingin mengutarakan hasrat hatinya namun rasa sayang dan cinta pada anak mantu membuatnya bungkam dan diam menyimpan dalam kesendirian.

Ayu sangat mencintai anak kecil banyak anak tetangga yang Ayu bawa kerumah untuk mengusir sepi . Seolah rumah adalah penampungan anak anak . Om Hadiwijaya selalu menengadah dalam pinta agar permata berharga itu selekas mungkin Allah semogakan untuk menyempurnakan kebahagiaan . Namun tanda tanda hadirnya rasanya jauh dipelupuk mata.

Baca selanjutnya

Kembali ke # 33

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here