Anak Gunung #30

0
1350
views

Mobil Yudis tertahan, Keributan didepan sana membuat laju kendraan mengular hingga 500 meter. Mulanya hanya diam tanpa ada reaksi darinya. Ah paling orang berantem karena saling senggol.

“Bawa rumah sakit terdekat cepat . ” terdengar teriakan seorang disamping kanan mobilnya seorang bapak nampak berlari dengan kecepatan penuh tak hirau banyaknya manusia di sana.

“Ada yang tenaga kesehatan disini, Mohon bantuannya…” lagi terdengar suara riuh dari luar sana.

Yudis dengan segera menghampiri. Seorang perempuan terkapar penuh darah. Sebuah pisau menancap di punggungnya.

“Jangan cabut,saya dokter….”cegahnya .

Yudis membawa segera perempuan itu dengan bantuan beberapa orang lainnya sesegera mungkin membawa perempuan tadi keRumah sakit.

Yudis sengaja tak mencabut pisau dipunggung perempuan itu . Berniat untuk tetap menutup jalan darah dengan benda tajam itu. Jika dicabut maka darah akan deras mengalir kemungkinan besar nyawa perempuan itu takan terselamatkan karena kehabisan darah. Hanya tindakan pertama itu yang dilakukan, Yudis tak membawa peralatan medisnya. Maklum dia tengah dalam perjalanan seminar dari Jakarta.

“Bantu pak,.. Pintanya pada dua orang yang juga mengantar kerumah sakit.

Sebuah blankar dan beberapa petugas Rumah sakit datang dengan segera karena Yudis telah menelpon sebelumnya.

Segera perempuan itu masuk meja operasi.

Yudis terlukai lemas .

Dengan berdebar menanti nasib perempuan yang ditolongnya.

“Dok kasihan Rhisma itu, Suaminya selalu saja menyiksanya. Tak habis pikir dia juga selalu diam. Padahal kami sudah berniat melaporkannya. Hanya saja Rhisma melarangnya..”

“Kenapa kok bisa sampai begitu ya pak …”

Yudis heran disiksa kok masih mau bersama

“Semua juga bingung, mungkin karena saking cintanya…”

Cinta apa bodoh. Gatal mendengarnya. Jika memang cinta mengapa menyakiti. Sudah kayak gini masa mau juga dia bertahan dengan alasan cinta. Tak masuk alasan logika.

“Dok … Alhamdulillah selamat .Untung saja sigap dibawa kemari. ..” keterangan Dr khusna membuat Yudis bernafas lega.
Jika perempuan itu sampai lewat profesinya sebagai dokter terasa sia sia.

Yudis pamit. Segera ingin bersua dengan istri tercinta.

******

“Ya allah kak, Kenapa ? Kakak baik saja kan ? Kakak terluka ? ” wajah Ayu begitu cemas saat melihat begitu banyak noda darah dibajunya Yudis.

“Sayang, Aku nggak apa apa. Jangan cemas hanya habis menolong seorang pasien korban KDRT. Dia terkapar dijalanan setelah ditusuk suaminya…”

Yudis memapah Ayu dan mengajaknya duduk di kursi. Nampak wajah khawatirnya belum juga hilang .

“Aku sungguh merindukanmu. Aku terus ingat kamu. Sehari rasaya sewindu, Coba kamu hitung kita berarti nggak bertemu berapa tahun . Kita seminggu kali sewindu,
Ah nggak usah dihitung pokoknya I miss you…”

Ayu tertawa lagi lagi gombalan tingkat dewa .Pake suruh ngitung segala. Bodoh.

“You no miss me honey ?”

“I miss you always ”

Memang ada baiknya juga jika tak ada anak. Mereka selalu romantis dan berlaku seperti pengantin baru. Setiap hari mereka hiasi dengan tawa dan canda penuh cinta. Tanpa ada yang mengganggu.

*****

Yudis memeriksa intens Rhisma. Pasien yang kemarin di tolongnya. Geram melihat lebam hampir diseluruh tubuhnya. Terlihat pula bekas sundutan rokok di tangan serta kakinya.

Manusia apa yang sampai hati tega melakukannya. Bukankah ketika menikah mereka melakukannya dengan alasan cinta.

Rhisma menatap wajah tampan Yudistira. Desir aneh hinggap dihatinya. Bahagianya jika beroleh suami seperti dokter ini. Tampan ramah juga sangat telaten dengan semua pasien.

Sungguh berbeda dengan Angga. Pembawaannya kasar dan selalu pencemburu.

Entah kenapa juga Rhisma begitu mencintai lelaki kasar dan pencemburu tersebut.

Hingga rela melepaskan mahkota suci sebelum akad terjadi.

Mengubur masa depan dengan putus sekolah. Karena saking cintanya.

“Tinggal penyembuhan Teh, insyaa Allah beberapa hari lagi juga sudah bisa pulang kerumah…” seraya bangkit dari tempat duduknya .

Rhisma hanya menganggukkan kepala. Matanya enggan untuk melepas pandangan. Sayang melewatkan pandangan pada wajah tampan yudistira.
Selalu menguntit hingga bayangan Yudis berlalu melewati pintu dan dinding rumah sakit.

“Sayang dokter yudis sudah nikah, Jika tidak aku mau jadi istrinya …” suara cekikikan perawat terdengar dikuping Rhisma.

Bahagia benar jika jadi istrinya . Rhisma menjadi sendu meratapi nasibnya yang harus mencintai Bangsat Angga . Rela berbuat apapun demi bersamanya, Lihat apa balasan darinya. Hampir saja Rhisma meregang nyawa karena emosi tak terkontrol Angga.

*****

“Dokter masih ingat saya..? ” tanya seorang perempuan cantik dengan rambut sebahu dan berpenampilan begitu fashionable.

Yudis memutar memori ratusan orang ditemuinya setiap hari bagaimana mengingatnya.

“Saya Rhisma pasien KDRT yang dokter selamatkan waktu itu.”

“Ohh ..ya saya ingat . Gimana kabarnya teteh…?”

Nggak enak memanggil ibu Usianya sepadan dengan Ayu.

“Kabar baik dok, Terima kasih atas bantuannya tempo hari. Jika tidak ada dokter nggak tahu nasib saya, ..ujarnya .

“Atas ijin Allah kita bersua teh…semoga sidang kasusnya cepat selesai. ”

Yudis tahu kasus penganiayaanya tengah proses pengadilan. Suaminya terciduk polisi setelah berusaha melarikan diri. Dan kini meringkuk di penjara.

“Ya Dok,Terima kasih. Boleh saya minta nomor ponselnya. Saya harus menjadikan dokter salah satu saksi penganiayaan tersebut, Mohon maaf bila tidak meminta ijin terlebih dahulu….” tegasnya akan alasan meminta nomor ponselnya.

“Oh ,nggak apa apa teh. Kewajiban saya menuntaskan juga tugas saya . Saya harus bisa menyeret pecundang itu lama ke penjara…” kata Yudis geram.

“Terima kasih dok, Entah harus dengan cara apa saya membalasnya…”

Rhisma kian mengagumi keelokan wajah Yudis. Sungguh seorang lelaki idaman. Seorang yang bisa menjadi tempat berbagi dan bersandar. Desiran rasa itu kian membara membakar kerontang hatinya. Sayang kau telah menjadi miliknya orang.

Mereka berpisah di lobi rumah sakit. Rhisma harus kembali kehotel tempat tinggalnya kini selama persidangan.

Rhisma berasal dari Jember sedangkan Angga dari Bandung . Karena perkara tersebut di Bandung meski enggan sidang kasus harus terlaksana disana.

******

Yudis menjadi saksi penganiayaan tersebut di pengadilan. Harus mendengar serangkaian cerita pilu dari rentetan saksi disana. Tentang betapa pencemburu dan ringan tangannya Angga terhadap sang istri.

Sayang sekali, mengapa tega menodai kulit mulus tubuh istrinya dengan sundutan rokok dan pukulan . Banyak yang mungkin ingin menjaga kecantikan Rhisma dengan kasih sayang. Banyak diluar sana yang akan menyayanginya.

Bagi Yudis kecantikan Rhisma tidaklah menarik. Wanita secantik apapun pernah dipacarinya hingga hatinya hanya terpaut dan hanyut pada Ayu lestari sang istri.

Seorang perempuan yang cantik fisik dan akhlaknya. Seorang yang kini menjadi penyempurna agamanya. Sumber tawa dan bahagianya.

*****

“Tolong, lepasin gua. Please…” teriakan dan rontaan Rhisma menggema memecah keheningan malam yang kian larut. Dua orang lelaki berperawakan kekar tengah mencoba memperkosanya.

“Hei kalian hentikan itu ! ” Suara Yudis mengganggu konsentrasi keduanya.

Yudis menghentikan mobilnya saat melihat seorang wanita tengah coba digagahi ditempat yang sepi sepulang dari tugas malamnya.

“Elu jangan ganggu, bukan urusanmu. Pergi sana atau muka ganteng lu nanti dibikin penyok semua…” usir salah satu dari mereka.

“Eh boy, kata siapa ini bukan urusan gua. Masa gua harus diem aja lu buat dia seperti itu…cepat lepaskan…!”

“Lu emang minta dihajar…” hardik laki laki tadi dengan segera meninjukan kepalan tangannya kepada Yudis.

Eit jangan anggap enteng gua boy. Gini juga gua lulusan terbaik, ban hitam sudah gua genggam. Tantang Yudis dihati.

Kelitan dan serangan balik Yudis membuat laki laki itu terhuyung . Susulan serangan teman yang satunya juga mampu ditaklukannya dengan mudah. Hingga dua pria itu lari tunggang langgang .

“Terima kasih dok, lagi lagi kamu menolongku…” Rhisma berhambur kepelukan Yudis .

“Maaf teh tolong jangan lakukan ini, saya sudah beristri takut jadi fitnah …” pinta Yudis dengan sopan. Bau alkohol menyeruak masuk kehidung yudis. Yudis juga menggeleng kepala melihat penampilan Rhisma . Dia menggunakan tanktop dan rok mini. Pantas saja perlakuan dua pria tadi tidak sopan.

“Maaf dok, saya sangat ketakutan…” Tubuhnya terlihat gemetar, mukanya pucat pasi namun mencoba berdiri dan melepaskan pelukannya. Rhisma limbung hampir ambruk. Mabuk nih perempuan .

Tanpa tanya Yudis memapahnya.

Rhisma menatap lekat wajah sang dokter yang hanya beberapa centimeter dari matanya. Dari dekat lebih tampan. Hatinya dag dig dug tak karuan.

Mobil melaju menuju rumah yudis. Yudis tak tega jika harus memulangkannya kehotel tempatnya menginap. Rhisma masih sangat syok.

Sepi sekali rumah. Pasti sudah tidur semua. Aku tak akan membuat kegaduhan dengan membangunkan penghuni rumah . Biar besok Aku akan ceritakan semuanya.

Yudis mempersilahkan Rhisma beristirahat di kamar tamu.

Segera dia merebahkan tubuhnya yang begitu letih setelah 2 jam tadi menghadapi meja operasi. Juga dengan perkelahian yang menguras tenaga dengan dua pria tadi.

Yudis tak berniat membangunkan istrinya yang sepertinya sudah lama terlelap. Yudis melihat kamarnya gelap tanpa cahaya menandakan penghuninya telah menina bobokan tubuhnya. Ayu memang selalu nyaman dalam keadaan gulita.

Baru sekejap menutup mata sebuah tangan membuka kancing bajunya.

“Kangen ya sayang ..” Yudis memeluk tubuh disampingnya .

Malam kian larut. Sepinya malam menjadi saksi keintiman .

*****

Assaholatu khoirumminanaum .

Lantunan adzan membuatnya terjaga. Ayu tumben tidak membangunkannya. Kecapean karena semalam. Yudis tersenyum.

Diraihnya stopkontak lampu dimeja samping ranjangnya.

Suasana temaram

“Say … kamu kenapa bisa ada disini.? ”

Yudis loncat dari pembaringannya.

Begitu kaget saat melihat yang terbaring bersamanya bukanlah Ayu istrinya.

“Dok, maaf. Bukankah kamu juga menikmatinya.. ” Rhisma mengucek mata.

“Pakai pakaianmu dan keluar sekarang dari kamarku .Enyah segera dari hadapanku …” Bentak Yudis dengan emosi .

Rhisma bergegas mengenakan pakaiannya dan beranjak pergi dengan kesal.

Yudis mengacak ngacak rambutnya gemas .

Kenapa Tuhan aku melakukannya. Di ranjang tempatku memadu kasih dengan istri tercinta. Maafkan kakak Ayu. Sungguh tak pernah ada niat untuk melakukan perbuatan terkutuk itu.

Yudis menangis sejadinya.

Kemanakah engkau sayang. Sungguh aku sangat mencintai dan merindukanmu.

Yudis mengambil kilat ponselnya.

“Assalamu alaikum. Kak kami semua pergi takziah kerumah Mak inah. Maaf pergi tanpa menunggu ijinmu. Ponselmu tak bisa dihubungi…”

Sebuah pesan singkat Ayu ternyata sudah lama masuk .

Yudis kian merana. Melewatkan shalat subuhnya dengan banjir air mata.

Baca selanjutnya

Kembali ke # 29

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here