Anak Gunung #18

0
1401
views

Bagian delapan belas


“Dis ..tolong keruanganku ..!”Dokter Eka memanggil Yudis melalui sambungan telepon. Tanpa tanya Yudis tergopoh datang .

“Ada apa ka ..?”

“Bantu aku lagi ..ini masalah Cindy ”

“Males gue ..udah jangan minta tolong gue ..ngedenger namanya sudah nggak enak, please ..”

“Jangan lihat masalah dia perkara pribadi. Coba tengok dari kaca mata profesi. Ingat kita dokter, masalah pribadi nomor kesekian dibanding keamanan, keselamatan, kenyamanan serta kesehatan pasien. Boleh lu marah sama dia tapi kewajiban profesi lu buat nyembuhin dia Dis.”

Yudis menarik nafas dalam dalam. Memang benar tapi fitnah kejam Cindy begitu melukainya. Perubahan sikap Ayu menambah rasa benci pada Cindy.

“Dis menghadapi pasien seperti Cindy harus ekstra sabar. Lu, tuh terkenal paling telaten dan penyabar. Tolong lakukan itu juga pada Cindy. Ingat dia juga pernah begitu berarti dalam hidup lu..”

Yudis memang sungguh heran kenapa rasa cintanya pada Cindy lenyap tiada sisa setelah mengenal Ayu. Padahal kemolekan tubuh Cindy melampaui Ayu. Wajah cindy yang oval dengan mata lentik nan indah serta hidung bangir dan bibir yang sensual itu pernah membuat Yudis mabuk kepayang .

Hanya Cindy adalah bunga di taman yang setiap orang mampu melihat serta menjamah berbeda dengan Ayu yang seumpama bunga di tepi jurang. Seorang pemberani serta penuh nyali dan pejuang hebatlah yang mampu untuk memiliki dan mengharumi baunya .

“Ya gue coba ka. Bantu gue ekstra sabar. Jangan lupa kasih tahu cara terbaik menghadapi orang depresi itu. Bantu aku juga dengan doa, karena sungguh aku bahkan tak ingin melihat wajahnya…”

Eka tersenyum mendengar kata terakhir Yudis. Sudah menjadi rahasia umum cerita cinta segitiga Yudis, Ayu dan Cindy. Lucu sekaligus sedih melihat sahabatnya yang dilema .

Gue bantu pake do’a …”
“Malah mesem ..gue serius ..”
“Ya Dokter Hadi Wijaya ..”

****

“Bissmillah,” Ucap yudis dihati.

Aku harus bisa bersikap wajar, dengan enggan dibukanya pintu kamar rawat inap Cindy.

“Yudis…Kamu akhirnya datang juga. Lu liat kan Do.Yudisku datang. Dia care sama gue..lu pergi sana ..”Usir Cindy pada Aldo yang setia duduk di sampingnya. Aldo tak bergeming .

“Bagaimana kabarmu Dy..?”

“Aku sakit tanpamu ..”

“Jangan sakit Dy..ingat kamu punya bayi di sini…”Yudis mengusap perut Cindy..”Bukankah kamu harus sayang padanya. kasihan dia kalau kamu sakit”Yudis berusaha menekah amarah di hati.

“Ya aku sayang bayiku..dia everything for me. Nggak akan kubiarkan dia menangis dan selalu sedih sepertiku..ya kan sayangku..”Cindy menggenggam tangan Yudis dan meletakannya diperut yang kini sudah tampak membulat. Aldo geram .

“Kalau kamu ingin dia bahagia ..seharusnya membiarkan bayimu bersama papanya Dy.
Sambar Aldo yang risih melihat pemandangan itu

“Kalau papanya orang bejad..aku rasa dia juga tak menginginkannya ya kan ..lagi tangan Yudis dipegang untuk mengelus perutnya. Yudis gugup, Aldo kian marah .

“Dy..jika kamu jadi debay..Apa kamu tidak marah sama mamamu jika nanti suatu hari debay kamu tahu kamu membohonginya.Jika kamu tidak memberikannya hak kasih sayang papanya..?”

Yudis berbicara lembut dan menatap pupil mata Cindy. Ingin dia mengetuk naluri keibuannya melalui jendela hatinya.

“Ya Dy..aku paling tahu hidup tanpa Papa. Aku selalu menangis saat teman yang lain utuh bersama keluarganya. Bayi kita juga memerlukan kelurga yang utuh Dy ..aku tahu kamu kuat tanpa papa bayimu tapi dia akan selalu membutuhkan papanya..”Aldo kini lirih .

Yudis bernafas lega .Terimakasih ya rabb.Ternyata Aldo Ayah biologis bayi Cindy. Sabar Dis . Ketuk hati Cindy yang keras itu dengan lembut. Semoga nanti akan luruh.

Cindy terdiam. Matanya silih berganti menatap dua pria dihadapannya. Tatapan liarnya kian meredup.

“Aku ingin anakku punya papa yang baik dan bertanggung jawab. Yudis orangnya, bukan Aldo,ya kan sayang.. lagi tangan Yudis yang masih digenggam dipaksa mengelus perut bulatnya. Yudis hanya diam meski risih. “Sabar Dis sabar,” bisik hatinya.

“Itu kata siapa..?kata mamanya kan. Kalau kamu jadi debay kamu akan mengatakan apa ..? Jangan egois Dy..sekarang kamu akan jadi ibu. Kamu akan menatap wajahnya penuh cinta berserta papa biologisnya. Sesempurna apapun kasih sayang yang orang lain berikan takan sesempurna kasih sayang orang tua ..”Yudis lembut menggenggam tangan Cindy dengan kedua tangannya. Matanya tajam seolah ingin menghancurkan kerasnya hati cindy. Dengan tatapan matanya.

“Aku hanya cinta kamu Dis..aku bersama Aldo hanya pelampiasan sesaat …”

“Meski sesaat tapi kalian akan punya pengikat kuat. Anak kalian, dia adalah alasan kalian untuk bersama Dy ..Titipan kecil di rahimmu jangan jadi korban kearogananmu. Bukankah kamu sering mengeluh kurangnya cinta dan kasih sayang orang tuamu. Maka apa kamu akan tega merenggut kasih sayang orang tua bayimu ..”

Cindy terdiam namun tetesan air mata menyertai kebisuannya .

“Dy..maaf hatiku telah aku berikan pada Ayu. Aku tak bisa mencintaimu seperti dulu. Ayu adalah pilihan hatiku. Allah telah condongkan hati kami untuk bertaut bukan karena rupa atau harta. Tapi aku rasa karena dia memang tulang rusukku. Tulang yang takan tertukar karena apapun. Hatiku mantap memilihnya sejak pertama aku melihatnya..”

“Apa istimewanya dia Dis ..?”

“Entahlah, Allah berikan rasa yang berbeda saat memandangnya. Bukan syahwat untuk memiliki namun perasaan untuk bersama dan saling berbagi..”

“Kamu buang manjamu Dy ..kamu harus mulai berfikir perasaan orang lain. Bersikaplah layaknya seorang ibu. Kamu lebih tahu ssosok ideal seorang ibu seperti apa. Karena kamu yang selalu menuntut kesempurnaan peran mamamu, maka sekarang jadilah ibu idaman dalam khayalanmu. Jika mamamu tak bisa merealisasikannya, maka done dy ..you must be best mom for your baby .you can do …”

Cindy kian bungkam. Hatinya menjerit ucapan Yudis seluruhnya benar. Idealismenya tentang seorang ibu membuatnya menuntut mamanya supaya jadi ibu sempurna. Selalu banyak kritik akan mamanya. Namun kini dia egois ingin bahagia sendiri. Ingin memperoleh cinta Yudis. Tanpa berfikir kalau bayinya kelak juga akan menuntut cinta yang sama dari orang tuanya.

“Aku harus memeriksa pasien lain ..berfikirlah dengan jernih Dy …jangan egois. Kalian bisa memperbaiki kesalahan kalian. Semoga kalian bisa lakukan itu. Bayi kalian ingin melihat ayah ibunya bahagia dan utuh ..Aku harap kalian akan bersikap dewasa..”

Yudis pamit dan perlahan melepas genggaman tangan Cindy.

Tuhan bantu bukakan pintu hati Cindy. Berikanlah sedikit cinta dalam hatinya untuk Aldo. Biarkanlah aku dan Ayu bahagia. Begitu pun dengan mereka berdua ..

Setiap orang punya masa lalu, namun juga punya masa depan. Semoga akan bahagia di akhir cerita..

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian tujuh belas

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here