Anak Gunung #17

0
1381
views

Bagian tujuh belas


Kringggg

Dering ponsel memaksa Ayu menghentikan bacaan novel helvy tiana rosa. Yudis tahu kesukaan dan hoby Ayu. Jika perempuan lain pasti pakaian serta seluruh aksesoris dan perhiasan adalah pilihan. Namun Ayu malah asyik dengan Pilihan novel kesayangannya. Hampir tiap seminggu mengirim buku. Entah novel atau baocaan lain. Maka tak heran meski tak kuliah wawasan Ayu luas .

“Assalamu alaikum..?” Sapanya dengan lembut.

“Lu musti meninggalkan Yudis ..dia nggak sepadan buat lu. Ngaca sebelum ngarep. Dia nggak pantes buat lu..”hardik kasar suara perempuan di sebrang sana menggangu kuping Ayu.

Cindy ..bisik hati Ayu.Ayu menghela nafas.

“Bukan kamu atau aku yang bisa menilai pantas atau tidak. Jika karena aku berpendidikan rendah maka tak layak. Maka salah. Pilihan hati tak memandang aku ini lulusan apa. Jika karena aku seorang papa. Maka juga salah. Cinta adalah hak setiap orang baik miskin ataupun kaya. Silahkan kamu tebus cinta kak Yudis dengan pendidikanmu kalau bisa. Silahkan kamu beli sayang dan rindunya untukku kalau mampu..”

Aku takan diam Cindy. Aku akan pertahankan apa yang memang aku sayang. Karena aku tahu hati Yudis hanya untukku.

“Lu ..huh..”Cindy geram .

“Maaf Cindy ..kamu mungkin bisa memaksanya tetap bersamamu tapi sampai kapan ..? Haruskah kamu hidup dalam kebohongan ..?”

“Gue mohon bisakah merelakan Yudis bersamaku demi anak kami …?”suara Cindy lembut memelas tapi bagi Ayu seumpama topan yang menghantam tubuhnya dan meremukkan seluruh sendinya .

“Gue hamil 2 bulan Yu..dia mungkin lupa pernah melakukannya. Karena saat itu aku memasukan obat ke minumannya, maka jika kamu tanya dia takan ingat semua. Hanya sekali melakukan tapi akan lahir buah cinta…Anakku membutuhkan papa biologisnya …maka biarkan Yudis kembali padaku atau anakku akan lahir tanpa kasih sayang papanya.
Apa kamu tak punya hati untuk membiarkan seorang bayi tanpa dosa di abaikan papanya…?”

Ayu hanya diam. Apakah harus percaya ucapan wanita gila ini atau Yudis. Ayu tak bisa memungkiri jika selalu ragu akan cinta Yudis. Membandingkan rupanya tak secantik dan semenarik Cindy dalam fisik.
Lantas mungkinkah dia lebih akan dicintai dibandingkan Cindy. Tapi apa juga harus percaya dengan ucapan Cindy yang nyatanya rela menghalalkan segala cara demi tercapai tujuannya. Ayu menutup telpon dan terduduk lemas di ranjang besi reyot itu membantingkan tubuhnya sehingga menimbulkan bunyi yang sedikit mengganggu pendengaran. Bantalnya dijadikan teman berbagi air mata. Di peluknya erat guling sebagai teman dikala sahabatnya tak bisa memeluk dan dipeluknya dalam nyata.

****

Yudis mulai bisa tersenyum setelah meyakinkan Ayu. Raut wajahnya tak lagi sekusut benang jahitan mak yang kacau karena mesin jahit tuanya. Aku akan datang sayang aku akan menemuimu. Sungguh Yu ingin detik ini juga aku menghalalkanmu. Agar rindu ini menjadi ibadah, agar gundah ini berganti bahagia..

Laju kendaraan Yudis dalam keadaan sedang. Senyum tersungging dari bibirnya. Sudah hampir sebulan wajah cintanya tak ditemui dalam nyata. Hanya bisa membayangkan dalam angan. Ayu tak berkenan memberikannya photo pribadi padanya.

Entah mengapa mobilnya berbelok ke lapangan tempat Favoritnya dan Ayu. Ingin menghirup kencangnya angin pegunungan yang selalu dirindukan yang datang menyertai cinta sipemilik hatinya.

Saat itu matahari sudah sempurna menampakkan wajah cantiknya. Menghias kerlip embun dengan sinarnya sehingga nampak seolah permata terkena pantulan cahaya .Suara khas pagi kampung yang sayup suara ciap anak ayam mengalun senada suara burung elang mengangkasa mencari mangsa.

Yudis menghentikkan mobilnya. Dari jauh dilihatnya sosok dalam angan yang dirindukkan siang dan malam. Nampak Ayu tengah memainkan bunga ilalang yang tumbuh liar dilapangan. Pandangannya menerawang jauh . “Tatapan yang melukiskan kesan pilu. Kenapa denganmu Ayu,”pikir Yudis.

“Assalamu alaikum cinta..”lirih suaranya memendam rindu, menatap lekat wajah terkasih.

“Waalaikum salam ..”jawab Ayu tanpa sadar angannya masih menghilang entah kemana saat mata mereka beradu pandang. Ayu menatap tak percaya jika Yudis nyata di hadapannya. Bulir air mata tak kuasa ditahan meluncur karena rindu dan beban hatinya .Yudis menyekanya .Ingin rasanya kupeluk tubuh rampingmu Yu. Namun nanti jika kamu telah halal untukku tak ingin kunodai rasa ini dengan nafsu.

“Kenapa Yu…? Kamu sepertinya dalam masalah ”

Air mata Ayu kian deras menetes. Tenang Yu, kendalikan diri .Tabayyun. Jangan tuduh tanpa bukti. Hanya sebatas pernyataan sepihak tanpa bukti yang nyata pula, Ayu menghela nafas panjang .

“Kak ..Cindy kemarin menelponku. Katanya kakak yang bertanggung jawab atas kehamilannya. Ayu mohon kakak bisa melepas Ayu walau perasaan kakak buat Ayu. Bayi dalam rahim Cindy lebih memerlukanmu ketimbang aku..”kali ini Ayu menatap mata Yudis tak berkedip. Ayu ingin mencari kejujuran di sana. Bukankah mata adalah jendela hati. Mata akan bicara nyata meski mulut terkunci.

“Ayu percaya siapa …?” Lagi lagi gadis gila itu membuat renggang hubunganku. Yudis geram bukan kepalang .

Ayu hanya diam. Hatinya percaya Yudis tapi pendengarannya mengabaikan. Mata Yudis menyatakan kejujuran. Namun tetap ragu itu menggelayuti.

“Aku tak bisa memaksamu untuk percaya Yu ..tapi setahun lamanya aku tidak berkomunikasi dengan Cindy, pertemuan pertama dalam setahun adalah saat bersamamu. Itu sekitar 2 bulan yang lalu. Lantas bagaimana aku bisa berzinah dengannya. Tak munafik kalau aku suka mencium atau memeluknya. Hanya sebatas itu. Aku tak ingin menodai perempuan jika bukan yang halal untukku ..Aku bisa buktikan itu bukan darah dagingku. Teknologi kian mutakhir Yu .Namun apa guna jika hatimu tak lagi percaya..”

Yudis menatap hamparan pesawahan nan jauh di sana. Dia datang membawa bahagia yang secepat kilat berubah duka. Ayu mengapa kau ragu. Harus dengan apa aku buktikan cintaku padamu.

“Jika seseorang disebut berzina maka harus ada 4 saksi membuktikan bukan. Bisakah Cindy membuktikan. Baiklah jika memang kamu masih tak percaya aku bisa tes DNA…yang penting buatku kamu percaya padaku Yu. Entah esok atau lusa Cindy mengumumkan pada dunia jika dia hamil karena aku. Aku tak perduli yang penting adalah kamu percaya padaku, meski seluruh dunia meragukanku..”

“Ayu tak bisa percaya kakak atau Cindy 100% segala kemungkinan mungkin terjadi. Ayu akan percaya bukti. Toh pada akhirnya kebenaran takan tertukar.”Ucap Ayu menunduk

“Baiklah Yu..sebaiknya aku pulang .Akan kubuktikan kebenaran itu. Tolong sabar menungguku. Beri aku waktu. Aku ingin saat hari bahagia pernikahan kita kamu bersanding tanpa ada ragu dan tanya .. Aku pulang. Assalamu alaikum …”Yudis berdiri dan berpaling hendak beranjak pergi. Hatinya begitu sakit. Angan datang jauh dengan senyuman nyatanya pulang dengan tangisan. Ingin tertawa dengan orang tercinta nyatanya banjir air mata.

“Kak maafkan Ayu ..Kakak mau ke mana. Nggak kerumah Ayu dulu..?”Ingin rasanya Ayu memeluk Yudis dari belakang. Mencegahnya pergi kemanapun. Ingin .Tapi ..

“Aku harus secepatnya pulang dan membuktikan segala kebenaran. Salam buat kelurga Yu ..” Yudis pergi tanpa menoleh. Hati Ayu sakit. Merindu sekian lama namun ketika jumpa harus berakhir seperti ini.

Mobil Yudis melaju lesu. Bingung harus bagaimana membuktikan kebenaran. Ya Rabb mohon tunjukkan jalan. Biarkan Waktu waktu kelak akan menjawab .

****

“Dy…maaf aku nggak bisa jenguk kamu di rumah sakit…”Aldo datang dengan sebuket mawar ditangan. Tergopoh menghampiri Cindy yang tengah asyik berjemur dan menikmati sarapan di samping kolam renang .

“Ngapain kamu datang ..?pergi sana aku nggak mau lihat wajahmu ..jijik..”

Cindy menatap Aldo dengan kemarahan. Teringat kejadian lalu saat mahkotanya di renggut paksa dalam keadaan mabuk minuman dan narkoba. Aldo mencekokinya kemudian menggaulinya.

“Tapi aku datang tak hanya untukmu saja aku datang untuk bayi kita Dy…”

“Nggak do ..gua nggak mau lihat lagi muka lu ..gua mau Yudis yang jadi papa anak ini bukan cowok nggak tanggung jawab macam lu ..”

“Nggak kasihan sama dia Dy…dia sudah tunangan mau nikah lagi. Lagian mengapa dia harus bertanggung jawab atas dosa yang tak diperbuat. Aku memang salah maka ijinkan aku tebus kesalahanku…”

Mata Cindy liar teriakan dan erangan menyertai emosinya mulai tak terkonrol. Tante Mira yang datang menenangkan malah terpental masuk kolam renang Aldo mendekap tubuh Cindy yang kesetanan. Tamparan dan tendangan kuat Cindy kalah perkasa dengan tubuh atletis dan tinggi besarnya .

Cindy tetap meronta. Nafasnya tersengal. Setelah sekian lama tubuhnya terlukai hanya celotehan tak jelasnya yang masih terdengar.

“Do..kamu lihat kan apa yang kamu perbuat pada anakku ..?Dia menderita gangguan jiwa. Masa depannya hancur karena pergaulan dan narkoba ..”

“Aku tahu tante…aku sangat mencintai Cindy. Aku akan ada di sampingnya selalu. Aku janji. Aku pernah berbuat salah. Aku takan mengulangi lagi dengan membiarkannya sendiri. Suatu saat Cindy akan membaik hanya kita harus bersabar tan..”

Aldo seorang pemuda yang tak mengenal sosok ayah dalam hidupnya. Dia terlahir ketika Ayahnya telah tiada karena suatu kecelakaan. Maka perih dan sedihnya tanpa mengenal orang tua tak ingin dirasakan Anak biologis dalam rahim Cindy.

Sungguh Aldo merasa bersalah mengenalkan dunia malam pada Cindy. Kondisi kejiwaan Cindy memang berbeda efek minuman serta narkoba yang merasuki tubuhnya menambah hancur kondisi kejiwaanya .

Sungguhlah benar jika khamer dan sejenisnya adalah ummul khabaits. Induk dari segala kejahatan. Seorang alim bisa menjadi pezina dan pembunuh karena efeknya dalam suatu waktu. Naudzubillah.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian enam belas

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here