Anak Gunung #05

0
279
views

Bagian Lima


Ayu menatap lekat bayangan wajahnya dari pantulan cermin. Bodohkali, keberapa pagi ini dia mengaca. Ah ternyata jatuh cinta itu menyiksa. Mau sejuta kali bercermin yang nampak hanyalah seorang gadis desa yang sederhana. Bermasa depan suram tiada harapan. Jangankan untuk merenda harapan akan masa depan bisa menamatkan pendidikannya juga sudah merupakan hal yang membanggakan

Ternyata seperti inilah rasanya jatuh cinta. Saat membuka atau menutup mata bayangan wajahnya nyata nampak di depan mata. Bahkan kadang singgah mengganggu nyenyak tidurnya. Membuat Ayu juga senang mematut diri didepan cermin dengan menangis dan tertawa dalam waktu yang sama.

Ayu masih ingat ketika Thien menangis sejadinya. Seorang yang dicintainya menikah dengan gadis pilihan hatinya. Remuk redam hatinya saat menerima undangan pernikahan sang pujaan. Ayu dan sahabat lainnya selalu menghibur dan menemani saat sulit itu.

Atau Irniaty yang memendam cinta sepihak sehingga melukai jiwa dan harga dirinya. Mengharap nampaknya bintang disiang terang tentulah mustahil akan terjadi.

Nurasiah yang cintanya bersemi sedari masa SMP. Juga dengan cerita putus nyambung dan konflik rumit sebagai bumbunya .

Sedari dulu cinta memang selalu mengharu biru. Membuat pecandunya terbuai akan rasa dalam pahit dan manisnya .

“Yu..sudah siang nak. Entar kesiangan lagi.” suara emak menyadarkan Ayu dari lamunannya

“Ya mak ..makananya Ayu bekal saja takut kesiangan ..”Ayu bergegas menghampiri emaknya yang sudah menenteng makanan

“Nuhun mak..Ayu pulang minggu sore..kalau kemaleman nginep di Irniaty ..”

“Hati hati nak,jangan banyak sompral (berbicara buruk dan berlebihan)
Inget di gunung mah banyak penunggunya …”emak menasihati

Ayu hanya manggut hari ini ada perjusami di lereng gubung tampomas. Kegiatan tahunan memperingati hari pramuka. Kegiatan yang selalu menyenangkan buat Ayu. Ayu bisa bertemu dengan banyak sahabat dari berbagai sekolah.

Selain pramuka Ayu juga aktif di Rohis dan Osis. Baginya sekolah adalah gerbang kebebasan diri untuk mengekspresikan diri. Makanya tak heran wajahnya legam terbakar matahari karena aktivitas yang seabreg disekolah tanpa pernah merasakan perawatan.

***

“Maafkan aku ya ..dulu aku pernah menertawakan kalian ketika konyol saat jatuh cinta. Aku kini merasakannya. Ternyata cinta membuat kita jadi pribadi yang berbeda …”Ayu menatap hamparan bunga edelwis dihadapannya. Sebuah hadiah indah atas 3 jam pendakiannya bersama seluruh peserta perjusami.

“Sudahlah Yu..bukan salah kita jatuh hati. Siapa yang bisa menepis kala hati kita dihinggapinya. Yang penting jangan jadi konyol kayak aku. Tetap tak mampu move on padahal dia sudah bahagia bahkan mau punya anak sekarang ..”Thien tertunduk

“Kamu senasib sama aku, kayaknya bertepuk sebelah tangan. Tapi yang penting jangan tunjukkan perasaan kamu di depan dia Yu ..aku juga hanya menyimpannya dalam diam. langitkan namanya dalam do’a Ya Allah jika dia tak cinta aku ..buatlah dia tergila gila padaku gitu …agak maksa do’a nya juga nggak apa apa ..”Irniaty meringis toyoran Nurasiah mendarat dikepalanya. Dia terkekeh .

“Kalian lihat hamparan edelweis ini katanya bunga ini adalah simbol cinta sejati loh. Untuk mendapatkan bunga ini berapa ribu langkah kaki yang harus diayun. Berapa susah payahnya hanya untuk sekedar menatap dan memetiknya. Berapa jarak yang harus kita tempuh untuk bisa mencium aromanya. Bunga ini tumbuh di tempat yang tak mudah terjamah. Hanya tumbuh dalam sepi. Alangkah bahagia kalau jika kita dikhitbah dengan bunga ini saat someone bilang ..will you married me …?” Nurasiah merentangkan tangannya. seolah ingin memeluk gagahnya gunung Tampomas. Angin gunung berhembus meniup kencang baju dan jilbab empat sahabat itu..

“Bahagianya jika kak Yudis datang dan berlutut dihadapanku..mau kah kau menikah dengan ku Ayu..?”Thien memicing mata pada Irniaty.

Ayu melotot …

“Pake melotot segala hati ngarep…hi hi hi..”Nur ketawa

“Siapapun yang menjadi jodoh kita semoga dapat menjadi imam dunia akhirat kita ..
Aamiin ya rabbal alamiin …”Irniaty mencairkan suasana

“Amiin ya rabbal alamiin..”kompak semua mengaminkan

***

Sudah tiga hari ini kemana Ayu bisik hati Yudis. Rasa kehilangan tak dapat disembunyikan lagi. Anak matanya sibuk mencari sosok gadis sederhana itu.

Pagi buta selalu dilihatnya ayu lewat di depan tempat tinggal sementaranya.

“Cari apa Dis ..kayak orang bingung,” Tegur Utari meski hatinya tahu apa yang dicari

“Nggak nyari apa apa..hanya menatap indahnya pemandangan alam sekitar …Masyaa Allah indahnya ..”bantah Yudis

“Hanya tetap nggak indah tanpa gadis putih abu tanpa alas kaki kan ..?”Utari menggoda sepupunya. Yudis mendelik. Utari kabur dengan tertawa.

Pantas saja tidak melihatnya pramuka. Yudis melihat sosok Ayu yang nampak lelah dengan tentengan tas di pundak dan tangan kanannya. Serta baju pramuka yang dikenakannya nampak kumal

“Ayo nek Ayu bantu ..”Ayu memapah seorang nenek tua dengan tongkat kayu dan tertatih kesusahan melangkah .
Si nenek berkali mengucap terima kasih dan mengelus kepala Ayu.

Yudis memandang gadis itu takjub. Pemandangan langka yang susah didapatinya di kota .Ayu yang lelah dan bawaan sebanyak itu masih sempat memapah nenek tua itu sampai ke rumahnya .

Karena inilah Dis kamu suka padanya. Kamu memandang bukan karena indahnya fisik tapi menatap indahnya akhlak. Memang cinta karena nyaman akan kalah dengan cinta karena iman.

Ayu memang tak serupawan seluruh wanita yang singgah dalam hidupnya tapi perangai, budi bahasa serta akhlak Ayu mengalahkan semuanya.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian empat

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here