Anak Gunung # 04

0
203
views

Bagian Empat


Yudis memperhatikan dari Jauh Ayu yang tampak melewati tempat tinggal sementaranya. Entah mengapa kini ada rasa hawatir menyelinap dalam jiwanya. Bagaimana jika gadis iitu akan terluka lagi kakinya atau terjerembab masuk jurang yang ada di kiri kanan jalan yang dilewatinya setiap hari. Ah ..siapa elu Dis..hatinya bertanya tanya .

Yudis menggelengkan kepalanya. Manamungkin suka GADIS GUNUNG macam Ayu. Yudis tahu sendiri bagaimana seleranya. Pacrnya Cindy adalah seorang photo model, pemenang gadis sampul sebuah majalah ternama remaja tahun 2000. Seorang yang bebusana trendy dan dengan gaya remaja masa kini .

Yudis bahkan alergi melihat Husna teman satu almamaternya yang sama seprti Ayu jilbaber sejati dengan pakaian longgar dan jilbab lebarnya.

Lalu apa mungkin dia akan suka dengan Ayu. GADIS GUNUNG Yang wajahnya pun gosong korban sinar matahari. Ayu memang berbeda tak ada pesan make up di wajahnya. Tanpa baju indah dengan segala model terkini.

Yudis mengapa selalu ingat akan wajah Ayu yang ketakutan saat di boncengnya semalam. Wajah lugu dan polos Namun begitu teduh menentramkan jika memandang. Berbeda jika mandang wajah pacarnya. Cantik, manja gemesin dan kadang suka membikin Yudis iseng untuk sekedar mendaratkan ciumannya. Melihat wajah Ayu serasa ingin melindunginya dari apapun .

“Kesambet setan gunung lu Dis ..”Panji meledek Yudis yang bengong kayak kambing ompong .

Kesambet cinta ji..”Utari menimpali

Lu berdua ini ngapa ya ..”

“Nyadarin elu ..lu itu udah jatuh cinta. bengong sendiri, senyum sendiri, apa namanya kalau nggak jatuh cinta. Ngaku aja ..”Utari tersenyum

“Gue jatuh cinta ama siapa …? Pada ngaco nih ..gue udah punya Cindy. Loh tahu kan dia cewek gue ..”

“Di bilangin kesambet setan gunung masih kagak nyadar ..”Panji terkekeh

“Siapa lagi orang yang selalu lu lihatin lewat saban subuh .noh….”bibir monyong utari menunjuk Ayu yang kini menjauh .

Ah kalian ..mana mungkin gua suka ama dia .lu pada tahu gimana selera gua ..ngaco ah ..”Yudis pergi takut jadi korban bully lagi.

Apa iya gue suka dia .Apa mungkin ya ..Yudis bingung dengan rasanya sendiri.

***

Ayu melangkah dengan pikiran entah kemana. Kenapa ingat kak Yudis terus ya .
Apa ini yang namanya jatuh cinta. Ah Ayu ingat ingat pesan bapa..ting ..Ayu senyum sendiri.

“Yudistira hadi wijaya seorang tampan dan bermasa depan gemilang”. “Lalu siapakah aku,” Ucap Ayu seorang anak gunung yang tak cantik dan menarik. Masa iya seorang pemuda sekelas Yudis akan jatuh hati padanya. Konyol.

“Yu pulang sekolah kami nginep di rumah kamu..”Irniaty menyambut Ayu

“Rumah aku beneran ..?” Tanya ayu nggak percaya

“Kita pengen lihat kak Yudis kamu..”Thien senyum

“Kali aja ada yang nyangkut jadi someone kita …”Nurasiah juga tak kalah heboh menggoda. Kayaknya pengen lihat kakak mahasiswa.

“Aku juga nggak mudik, udah ijin maen ke rumah kamu Yu. Semuanya sudah dapat restu ortu masing masing..”

Aduh pasukan mau maen kerumah apa nggak semaput, entar pingsan di jalan lagi. Tanjakan dan jurang siap menanti.

“Yu..kapan nyampe nya nih ..tanjakannya kok nggak habis habis ..”gerutu Nur yang tampak terengah.

“Baru segitu udah nyerah, aku tiap hari tahu ..”Ayu senyum saja melihat sahabatnya hampir pingsan kecapean .

Yang lain no coment hanya nafas mereka yang naik turun tampak kelelahan .

“Suruh siapa pengen ngikut segala.
Emang enak .”Ayu terkekeh melihat sahabatnya kepayahan .

“Alhamdulillah akhirnya sampai juga …”Ucap Thien merebahkan tubuhnya dengan santai sesampainya ke rumah Ayu.

“Untungnya pemandangan disini bagus bener Yu ..sejuk dan nyaman ..jadi lumayan obat lelahku..”Irniaty memandang berkeliling .

Hamparan hijau hutan sekeliling menyejukkan mata. Terdengar sayup suara gemercik air dari pancuran bambu di sebelah rumah Ayu kian menentramkan jiwa. Suara jangkrik dan burung bersahutan menambah keasyikan tersendiri bagi tiga  sahabat Ayu yang berasal dari kota .

***

Yudis kok jadi deg degan. Bisa nggak yah ni bocah ..

Suasana hening ketika Ayu hendak memulai acara di bale desa. Tiga sahabat Ayu memberi semangat. Ayu tersenyum sedemikian manisnya. Yudis terpesona dengan senyuman manis gadis itu yang tampak anggun dengan gamis coklat muda dan jilbab motif bunga dengan warna senada .

“Assalamu alaikum warahmatulahi wabarakatuh..”

“Alhamdulillahi rabbil alamiin ….Kata kata Ayu selanjutnya mengalir begitu lancarnya. Diskusi dan penyuluhan kesehatan itu begitu hangat jauh dari kesan diskusi dan penyuluhan. Ayu mengubahnya menjadi ajang temu wicara yang penuh makna .

Utari tersenyum melihat Yudis  yang menahan nafas namun nampak lega ketika Ayu mampu menguasai acara.

Sudah saatnya kamu sadar Dis. Hentikanlah petualangan cintamu. Ayu dapat merubahmu. Ayu adalah calon ideal menantu buat om Wijaya papamu. Berulang kali kau kenalkan banyak gadis tapi om Wijaya tetap tak suka. Om hanya ingin calon ibu buat cucunya. Ayu memang kriterianya.

Yudis kian kagum dengan Ayu .Siapa nyana gadis gunung itu bahkan menguasai seluruh materi dalam dua hari ,tanpa contekkan pula. Cindy juga kalau urusan begini nggak ada apa apanya. Cindy cuma pintar berdandan dan berpenampilan. Namun prestasi akademiknya nol besar .

“Bay..itu yang lu ledek sebagai anak kampung ..lu lihat kemampuannya dalam mengolah bahasa bahkan jauh melampaui kemampuanmu ..”Bayu tersipu teringat ucapannya sendiri tempo hari

“Alah tari, lu puji puji anak kampaungan kayak gitu amat kemampuannya palingan juga nggak jauh beda dari penduduk sini. Orang kampung tetap aja ndeso..”ucapnya saat Utari memuji semangat Ayu menuntut ilmu.

“Makanya jangan menilai sesuatu dari cover . Tampilan kadang menipu …”Utari menengahi.

Bapa Ayu memandang anaknya bangga tak sia sia nak bapak menyekolahkanmu. Ternyata kamu sungguh bisa membuktikan jadi kebanggaan. Prestasi terbaik selalu kau persembahkan. Air mata menetes perlahan di pipi rentanya.

Sungguh benar sebuah pepatah jika Usaha tak pernah menipu hasil. Berusahalah yang terbaik agar mendapatkan hasil yang terbaik. Jika ternyata usaha berbuah kegagalan saatnya kita ikhlas menerima setiap ketentuanNya. Karena jika gagal bukanlah akhir segalanya. Namun teguran untuk bangkit dan berbuat lebih baik lagi.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian tiga

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here