Anak Gunung #03

0
202
views

Bagian Tiga


Yudistira hadi wijaya selalu paling enggan untuk bangun pagi. Seolah perekat menempelkan kelopak matanya erat. Namun apa daya kini bukanlah di tinggal di gedung mewah tempat tinggalnya, hanya sebuah rumah bambu dan kayu sederhana tempat tinggalnya kini. Seabrek kegiatan sudah menunggunya sedari subuh .

“Juragan bangun jatah loh tuh belanja. Selamat jalan kaki, motor lu sekalian ambil bukannya lagi diservis. Rasain mobil sedan lu kagak bisa masuk sini. kangen bener kayaknya ama tunggangan lu..” Utari mengobrak abrik nikmatnya tidur Yudis yang tengah asyik dalam buaian mimpi.

“Masih pagi juga tari..hujan lagi. Malas gue ..”selimut ditariknya menutupi wajah dan seluruh tubuhnya.

Oy..sudah bedug Dis.. kalau lu kesiangan barangnya keburu abis nggak inget apa kalau lusa itu kita ada acara bareng warga. Oh ..jangan lupa kasih tahu sama Ayu kalau entar dia jadi moderator diskusi dan penyuluhan warga. Kasih tahu bahan diskusinya ..”Utari geram ditarik paksa selimut Yudis, sahabat yang juga sepupunya itu.

Meski enggan mandi pagi dicuaca sedingin itu. Dilakukannya juga meski terpaksa. Akhirnya juga membuatnya terjaga dari kantuknya. Shalat kilat dilakoninya ..

***

“Kenapa lagi Yu..”Yudis melihat Ayu yang tengah membersihkan rok abunya yang tampak kotor karena tanah merah. Oon udah tahu jatuh masih nanya..😊bisik
Hatinya. Yudis menahan ketawa. Dia pun ingat waktu pertama kali melewati tempat itu beberapa waktu lalu bernasib serupa. Sakit iya.. malunya itu yang luar biasa.

“Gimana tuh roknya..alamat basah sampe sekolah ..”Kasian nih bocah

“Ya beginilah kak mau apalagi..Saya elapin pake kain saja..mudah mudahan tar sampe sekolah bisa kering ..”Ayu asyik melap rok abunya tanpa menatap Yudis. Nggak mau lihat ah kebayang tuh mukanya pasti menahan ketawa atas kemalangan yang menimpaku .

“Lusa Ayu jadi moderator ya..ada acara di desa. Tentang lingkungan. Ini bahan diskusinya. Ayu kan asli orang sini, kakak yakin bisa membuat peserta diskusi proaktif? Soalnya karakter orang sini banyakan pendiam dan pemalu. Kagak enak kalau diskusi hanya sepihak..”Yudis menyerahkan sebuah buku pada Ayu

“Insya Allah kak ..”jawabnya.

Mereka berjalan beriringan. Ayu mempersilahkan Yudis berjalan dimuka.
Tak patut jika seorang akhwat berjalan didepan ikhwan .

***

“Aduh ..ieu deui..?”Kang Ismail menggeleng kepala. Mungkin bosan melihat the queen of late yang satu ini.

“Menghadap dulu ke pak Abdurahman Ajid ya ke kantor …”

Deg Ayu lemas. Ruang BP.. Ya Allah meski pak Ajid nggak kiler mendengar ruang BP..Sudahlah nasib apes seharian ini. Paling siap di omelin ujungnya panggilan orang tua. Ayu melangkah dengan pasrah.

Masuk ruangan guru, pak Abdurahman Ajid memperhatikan Ayu dari atas sampai ke bawah.. Baju lecek dan sepatu penuh lumpur jadi perhatiaannya . Ini bocah mau sekolah apa mau nandur padi di sawah. Acak-acakan .

“Rumahmu di mana ..?”

“Tanjung Sari pak.. daerah Cadas Pangeran..tapi masih jauh dari jalan raya.Jalan kaki lagi hampir satu jam ..”jawab Ayu.

“Terus kenapa baju kamu..?”

“Maaf acak-acakan jatuh pak.. soalnya jalanan tempat saya tanah merah tanpa aspal. Menurun jadi kalau hujan licin …”Ayu tersipu

“Dalam catatan kang Isma kamu hampir tiaphari kesiangan kenapa…? jangan berangkat siang kalau rumahnya jauh. Kalau nggak ngekost di sini..”pak Ajid menatap kasihan melihat baju Ayu dan sepatu kotornya .

“Saya berangkat jam 5 pagi pak. Tapi kendaraannya selalu penuh jadi kesiangan. Kalau kost orang tua tidak mengijinkan …”bela Ayu yang menahan air mata agar tak terjatuh. Bagaikan dihakimi andaikan saja setiap orang melihat perjuangannya untuk bisa sampai ke sekolah.

“Ya sudah masuk kelas sana ..”pak Ajid tak sanggup menahan gadis itu terlalu lama. Melihat raut muka Ayu yang hampir menangis membuatnya tak tega.

Apa bisa tidak percaya pada pandangan polos dan Baju kotor dan sepatu penuh lumpur yang menjadi saksi nyata .

Ayu pergi setelah pamit dengan menyeka air mata yang akhirnya terjun bebas di kedua pipinya.

“Yu…jangan nangis dong.. kamu nggak ketinggalan pelajaran. Pak wawan biologi nggak masuk..”Nurasiah, Jamilah mencoba menghibur melihat Ayu yang menangis memasuki kelas tak seperti biasanya. Dikiranya karena kesiangan dan kecewa ketinggalan pelajaran.

“Di panggil ke kantor BP terasa jadi pesakitan rasanya begitu tegang..”

“Dapat surat panggilan buat orang tua ..”Thien penasaran. Biasanya jika dipanggil akhirnya pasti begitu.

Nggak di introgasi kemudian suruh pergi…”

“Karena baju sama sepatu kamu jawaban paling jujur neng. Kolong bangku paling rame sama lumpur juga ..jadi percaya kalau kamu jujur. hhi hi hi..sekelas kamu doang tukang ngangkut tanah ..”Eva mencairkan suasana dengan ketawanya yang renyah

Ayu tersipu. Benar juga kayaknya yang lain dapat panggilan orang tua,  jika dipanggil guru BP kok aku nggak . Bibirnya tersenyum lega .

“Jajan di perpus yuk sekalian nyantai baca buku…tenang aku traktir…”Nursiah memicingkan mata,..Anak super big bos dia mah, makanya uang sakunya selalu tebal. Kalau Ayu mah uang jajan pas pasan. Alhamdulillah rejeki nggak kemana pelajaran nggak ada gurunya bisa mencari bahan buat diskusi besok sekalian perut kenyang makasih Nur..Panggilan sayang buat nurasiah .

***

“Ya Allah sudah adzan nih macet kapan kelarnya tahu gini nginep dirumah Irniaty …”

Ayu bengong sendiri kebingungan. Kemacetan panjang mengular hingga belasan km karena sebuah truk mengalami kecelakaan tunggal. Bapak kalau telat gini nggak bakalan menjemput. Sudah perjanjian jika bubar kegiatan sekolah jam 4 lewat maka Ayu akan menginap di rumah Irniaty yang letaknya tak jauh dari sekolah. Karena yakin kemalaman sampai rumah. Bubaran tadi nggak sore tapi kecelakaan itu membuat mobil angkot tumpangannya akhirnya berbalik arah, bosan menunggu macet yang tak kunjung terurai. Meninggalkannya dalam kebingungan. Jika kembali ke rumah Irniaty …?pilunya ditatap uang receh sisa ongkos yang tak mungkin cukup untuk sampai ke sana .

Andai jika rumahnya ada telpon rumah. Tentu akan dibelnya bapak untuk menjemputnya. Sedih ditatapnya wartel diseberang jalan. Kalau ada juga percuma toh bapak nggak punya motor. Dikampungnya yang punya motor hanya tukang ojeg buat kendaraan umum itupun kondisinya lebih layak disebut odong-odonng tua lengkap dengan suara berisik.

“Kenapa Yu..”Suara Yudis membuyarkan lamunannya

“Kak yudis ini ada kecelakaan di depan saya jadi nggak bisa pulang. Sudah hampir dua jam macet total ..”Ayu menjawab dengan bingung .

“Pulang bareng saja yuk …aku kan pake motor bisa nyelip di kemacetan…ajaknya .

Ayu terdiam ikut malu tak ikut nggak ada solusi dari masalahnya kecuali pergi bersama Yudis.

“Ayo sudah malam ini ..oh ya naik jangan meyamping duduknya kamu kan pakai celana dalam panjang angkat saja roknya. Aku mau ngebut lagian jalan ketempat kamu licin juga takut jatuh nanti…”cegah Yudis yang melihat Ayu hendak duduk menyamping. Ayu akhirnya menurut.

Motor sport itu membelah kemacetan. Jiwa muda Yudis membuat motor itu seakan terbang diatas hitamnya aspal panas. Ayu yang ketakutan memegang erat baju Hasan. Aduh ini orang dikira bawa kambing apa dibelakang. Aku manusia bang. Ayu istigfar. Yudis mendengar dan perlahan menurunkan kecepatan motornya.

“Pegangan ya Ayu ..kita bentar lagi masuk jalan koral yang licin ..”Entah mengapa Yudis berharap jika Ayu akan memeluknya seperti pacarnya yang mesra menggelayut manja ketika dibonceng olehnya .Imposible

Namun harapannya sirna, Ayu hanya memegang erat jaket kesayangannya hingga mereka sampai ke tempat tujuan .

Malam larut baru kedua insan itu akhirnya sampai ke tempat tujuan .

Pandangan heran orang yang melihat mereka berboncengan bersama akhirnya sirna setelah panjang lebar Yudis menjelaskan .

Orang kampung juga tahu siapa Ayu maka mereka takan pernah memandang Ayu dengan prasangka yang buruk .

Malam kian larut dan mengantarkan setiap insan dalam lelap sejenak melepaskan penat. Sehingga esok pagi semangat menyambut datangnya sang mentari.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian dua

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here