Anak Gunung #02

- Advertisement -
- Advertisement -

Bagian Dua


Ayu meringis memijit kelingkingnya. Namun sejurus kemudian tersenyum menatap plester di kakinya. Malu tadi diledekin kak Yudis. Mahasiswa kedokteran yang KKN paling keren diantara seluruh pasukan. Astagfirullah ih. Mulai nih naluri kewanitaanya memuji lawan jenis. Segera ditepisnya. Haram hukumnya bagi Ayu suka pada ikhwan inget konsekwensi bahwa jika terdengar ada main sama ikhwan maka putus sudah sekolahnya. Kadang pengen seperti yang lain juga punya kekasih hati.

“Pokoknya kedengeran pacaran. stop sekolah langsung ema sama bapa suruh nikah. Makanya jangan kecewakan orang tua. Sekarang pilih mana sekolah atau nikah .. “Ancaman bapa terngiang di telinga. Bapa yang lembut jadi super killer kalau menyangkut hal ini. Takut putri kesayangannya salah langkah .

“Cie kayaknya ada something dengan tuh plester. Thien luthfie menyikut eva yang terkekeh meledek.

“Apaan kalian.. ini plester pemberian kak yudis mahasiswa kedokteran yang KKN di tempatku. Tadi diledekin gara gara kelingking nih.. jadi geli sendiri. Hanya itu ..”bela Ayu .

“Pantesan nggak suka seumuran seleranya anak kuliahan ..hi hi “lagi lagi thien meledek

“Jatuh cinta juga boleh biar nggak jadi jomblo sejati sendiri. Masa selalu jadi kambing congeknya mengantar temen pacaran doang. sekali kali kita yang jadi ya. ngelihatin kamu sama some one. “Eva meledek juga. Utami senyum memang selalu jadi penguntit mengantar temannya pacaran. Jangan kira bisa macem macem jangankan pegangan tangan duduk dempetan juga jarang pacaran ala sahabatnya. Mungkin karena anak madrasah yang tahu jika bersentuhan dengan non mahram dilarang hanya mengobrol dan tersipu berdua disaksikan sang kambing dari jauh. Ih jadi kambing mulu, kapan juga ya dua sahabatnya berubah posisi jadi kambing juga. Utami tersenyum

“Tuh va beneran jatuh cinta..” Thien lagi lagi terkekeh

“Belajar yang baik neng. Kita pelajar bukan mencari pacar. “Udah ah kita masuk bel nih. Selamat pusing bahasa arab menanti..”Utami bergegas memasuki kelas.

***

Yudistira hadiwijaya. Mahasiswa kedokteran yang tampan ,seorang anak tunggal dari pensiunan jendral. Seorang play boy sejati. Setiap cewek yang di taksirnya selalu klepek klepek tak berdaya menolak pesonanya. Seorang pemuda pintar tapi pemalas. Sekolah atau kuliah selalu ogah ogahan. Anehnya prestasi akademik Yudis nama panggilannya selalu deretan terbaik.

Yudis jatuh cinta pada kampung asing yang kini menjadi tempat KKNnya. Sebuah kampung dilereng gunung yang harus di tujunya dengan menempuh perjalanan 2 jam dari bandung. Jalan yang dilalui setelah hitamnya hotmik hanya jalan koral yang terabaikan seumpama sungai kering di musim kemarau. Batu batu yang tersusun malah sudah tiada berbentuk tersapu aliran air hujan jika musim hujan tiba. Debu beterbangan juga jika kemarau karena sebagian juga jalan masih berupa tanah merah tiada terjamah .

Penduduk desa yang selalu ramah dan makanan kampung yang tak didapatinya di kota membuatnya semakin betah. Memang hawa dingin menusuk atau pasilitas sederhana yang didapatinya juga sungguh berbeda denga gaya hidupnya selama ini namun Yudis memang sang petualang sejati suka sesuatu yang berbeda. Hobinya mendaki gunung membuatnya tak kesulitan jika harus seperti Utami pulang pergi dengan berjalan kaki ketika hendak ke kota.

“Neng mau kemana ..? Kita kita ikut dong..”Goda sekelompok pemuda pada tiga gadis yang berjalan cepat karena takut digoda

“Ih pengen tahu saja ..hi hi hi “salah satunya menjawab dengan cekikikan

Yudis memandangi pakaian mereka yang tinggal jauh dari daerah terpencil tapi terlihat tak kalah dari pakaian orang kota .Maaf bahkan kelihatan norak. Mungkin benar ucapan Utari jika gaya hidup orang disini sudah terkontaminasi budaya kota. Andai pengaruh pendidikan dan pembangunan juga masuk secepat gaya bahasa dan busana .

Dilihat dari jauh Ayu dengan muka letih mendekati kerumunan pemuda itu. Cuma ini nih yang tampilannya berbeda .Ayu juga mengenakan hijab dirumahnya. Selalu memakai baju longgar dan rok panjang. Gayanya kayak emak emak ..ups tapi memang benar dalam pandangan Yudis cewek kayak gitu ya emak emak. Atau baju gamis dan hijab lebar bahkan seolah seperti mukena ketika dikenakan. Sungguh pemandangan yang mencolok mata dibanding yang lainnya .

Ayu lewat tanpa gangguan atau ucapan apapun dari para pemuda. Bahkan suara riuh mereka menjadi senyap ketika Ayu lewat. Apa yang terjadi. Luar biasa decak kagum Yudis melihatnya .

“Kok nggak di goda ..dia jauh lebih cantik loh dibanding yang tiga tadi ..?” Tanya Yudis pada pasukan pemuda itu.

“Serem ah kak. Dia mah galak. Orangnya pendiam tapi kalau ada yang nggak sopan bisa kayak bangunin macan tidur…beda lah godainnya juga malas. Padahal banyak yang suka kak cuma kalau sama Ayu nggak ada yang berani.”

“Kenapa nggak berani dia bukan pemakan manusia loh ..”Yudis tertawa.

“Harus pinter ngaji dulu pengen jadi pacarnya dia mah. Tar di tes baca qur’an lagi ..”jawab Ade tersenyum .

Yudis terdiam memang orang yang menjaga dirinya maka Allah menjaga pula dirinya dari gangguan makhluk. Masya Allah hebat ni bocah. Kekaguman Yudis kian bertambah .

Seumpama sebuah permen yang terbungkus dengan kemasan rapi maka semut yang sangat pintar mencari yang manis pun tak sanggup menembus .

Tapi ketika permen dengan kemasan yang terbuka maka segala rupa semut yang jauh pun akan datang dengan sengaja mencicipinya ..

Semoga kita adalah permen yang terbungkus rapi sehingga tidak setiap semut akan mudah untuk mencicip.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian satu

- Advertisement -
Rita Setia Asih
Rita Setia Asih
Sabisa bisa kudu bisa pasti bisa.

Latest news

Related news

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here