Aku Tak Mengenali Ibuku

0
75
views

Ibu resmi bercerai dengan ayah. Aku yang hanya anak kecil berusia tujuh tahun ini hanya mampu terpengkur di depan pintu kamar Ibu. Kudengar isak pilu di dalam sana. Menyayat hati, mengiris kelopak mata, berhambur air mata.

Pelan, aku melangkah mundur lalu berjalan ke kamar. Aku beringsut naik ke tempat tidur. Menangis sendirian.

Esoknya, aku melihat Ibu di meja makan. Mata sembabnya tak bisa dihilangkan. Ibu diam seribu bahasa, walau tangannya telaten menyiapkan sarapan untukku. Aku yang mengerti Ibu tengah bersedih, tak berani bicara.

Pukul tujuh, aku berangkat ke sekolah. Seperti biasa, Ibu yang akan mengantarkan diriku menggunakan mobil putih yang sudah cukup tua. Lagi, sepanjang perjalanan itu. Hanya keheningan yang memeluk erat kami berdua.

Aku mulai kehilangan kehangatan Ibu secara perlahan. Aku tak sadar bagaimana itu terjadi. Perlahan tapi pasti, Ibu berubah.

“Kevin! Bagaimana mungkin kau mendapatkan nilai kecil seperti ini?!” Ibu kembali berteriak. Aku hanya menatap nanar kertas ulanganku di atas meja. Sebenarnya, nilai ulanganku tidak jelek. Hanya tepat di rata-rata.

“Apakah kau tidak belajar?! Kau tahu, ibu susah payah mencari uang demi dirimu. Dan kau menyianyiakan dirimu dengan mendapatkan nilai seperti ini?!”

Aku hanya mampu membisu. Aku tak berani membantah perkataan Ibu atau sekedar membela diri. Di mataku, aku salah dan Ibu selalu benar.

Di rumah hanya ada kami berdua. Setiap pulang sekolah, maka aku akan sendirian. Setiap hari, aku berharap Ibu memberiku kebebasan dapat bergaul dengan teman-teman. Tapi, ibu adalah sosok disiplin. Ibu tak mengizinkan diriku bermain dengan orang yang menurutnya kurang baik atau mencurigakan. Ibu selalu berkata ‘Ibu khawatir kau kenapa-napa.’

Aku tak pernah bisa membantah Ibu. Selalu diam dan menurut. Perlahan, aku pun jarang banyak bicara. Aku lebih senang menghabiskan dengan buku-buku yang kubeli tentang pengembangan diri atau komik.

Tepat saat akan masuk SMP, Ibu mengajakku pindah ke luar negeri tepatnya Tianjin, China. Sebelum masuk sekolah, Ibu menuntut diriku untuk belajar dengan keras karena khawatir aku tidak akan lolos. Di sana, masuk sekolah sangatlah ketat.

Malamnya, karena aku lelah terus belajar. Aku bermain komputer. Namun, tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan Ibu menatapku berang.

“Kevin?! Kau tidak belajar?”

Lagi, aku hanya diam.

Ibu berjalan mendekat dan tiba-tiba mencabut kabel utama komputer sampai layar komputer mati. “Belajarlah dengan giat dan fokus! Ibu sudah jauh-jauh datang kemari untuk berkerja! Memberi kehidupan untuk dirimu! Bisakah kau lakukan itu demi ibu?”

Aku hanya mampu mengangguk dan kembali berkutat dengan buku-buku pelajaran. Tanpa Ibu tahu, sebenarnya aku sudah hampir menguasai beberapa materi untuk nanti. Dan benar, saat ujian tiba, aku langsung masuk sekali coba. Padahal, masih banyak siswa China lain yang tidak bisa masuk.

Perjalanan SMP-ku cukup berkesan di sana. Aku sudah mempunyai teman yang baik. Walau aku tidak cukup baik dalam berkomunikasi.

Beberapa tahun kemudian, Ibu kembali mengajakku pindah ke Toronto, Kanada. Ibu bilang, di sana ada pekerjaan. Aku ingin menolak, sebab aku di sini punya teman yang akan masuk sama-sama ke SMA. Tapi, permintaan Ibu tak bisa ditolak. Aku pun ikut.

Di Toronto, ujian semakin sulit. Aku adalah tipe mudah tersentuh oleh hal kecil. Sementara Ibu adalah orang yang mudah marah dengan hal kecil. Sore itu, langit Toronto tengah turun salju, aku dan Ibu baru pulang dari supermarket. Di perjalanan, aku melihat pengemis. Aku langsung terdiam menatap pengemis. Hatiku sedih, tapi sayang aku tak punya uang.

“Kevin! Ayolah kita harus cepat sampai ke rumah. Di luar cuaca mulai dingin!”

Tapi aku tetap terdiam menatap pengemis. Ibu yang mengerti, bergegas mengeluarkan satu dolar dan memberikannya kepada pengemis itu. Setiap jalan ada pengemis, maka aku akan diam. Pertanda agar Ibu memberikan mereka uang.

Tapi, pada saat ke lima kalinya, Ibu terlihat kesal. “Kevin! Jangan membuat ibu kesal! Hidup kita juga sulit! Ibu sedang tidak ada penghasilan! Ayo kita pulang!” Ibu langsung menarik tanganku. Sementara aku hanya diam.

Memasuki SMA, aku ikut tim basket. Dan dari sana lah, mimpiku hidup. Aku merasakan kehidupan yang membaik, lingkungan pertemanan yang menyenangkan, dan ambisi menggapai mimpi. Bahkan, kala itu aku mendapat kepercayaan menjadi ketua tim basket. Mimpi memasuki dunia basket pun menjadi angan-angan terbesarku.

Aku terus latihan hampir setiap pulang sekolah. Latihan itu tidak sia-sia karena perlahan, aku masuk ke dalam tim inti. Aku pun berharap agar bisa masuk NBA – National Basketball Association.

Tapi, sayang harapanku pupus. Lagi, Ibu mematahkan sayapku. Ibu kembali memaksa diriku pindah ke Tianjin. Aku sedih luar biasa kala itu. Benar-benar merasa sebagaian diriku hilang.

“Ibu, aku di sini sudah masuk tim basket. Aku tidak bisa pindah,” ucapku dengan nada rendah.

“Kau tidak boleh ikut basket, Kevin! Olahraga itu dapat membuatmu terluka. Dan olahraga basket hanya membuat karirmu mudah pupus,” tegas Ibu.

Aku tak berdaya. Aku mengikuti Ibu ke Tianjin. Aku tidak punya siapa-siapa selain Ibu. Maka kemana pun kakinya melangkah, aku ikut.

Setiba di Tianjin aku lebih banyak diam. Aku masuk sekolah baru, aku tak punya teman satu pun. Setiap jam istirahat rasanya sangat canggung.

Dua tahun kulalui dengan berat. Memasuki bangku universitas. Aku ditekan mati-matian. Ibu menghabiskan semua tabungannya agar aku bisa kuliah. Tentunya aku harus lebih giat belajar. Lingkungan pertemanan kiat menyempit. Ibu sangat hati-hati mengizinkan diriku dengan siapa aku harus dan tidaknya berteman. Semua Ibu yang mengatur. Aku semakin kehilangan komunikasi dengan orang-orang, bahkan Ibu sekali pun.

Kami menjadi sering bertengkar. Sosok Ibu perlahan hilang. Yang ada hanya sosok disiplin yang egois. Merasa semua pemikirannya benar, dan yang lain salah. Tak merasa butuh masukkan, sebab yang ia yakini hanya ia yang benar.

Karena tak ingin terus membuat Ibu susah, aku bekerja paruh waktu di sebuah restauran, sebagai tukang cuci piring. Gajinya tak seberapa, tapi aku merasa bahagia karena tak selalu mengandalkan Ibu.

Setelah kelulusan SMA, temanku memintaku mengantar dia audisi. Karena tak enak, aku setuju. Setiba di sana, entah bagaimana, malah aku yang ikut audisi. Aku lolos, dan pihak management memintaku menandatangi sebuah kontrak. Sepulang dari sana, aku izin kepada Ibu. Aku yakin Ibu akan menolak dan dugaanku benar sebab katanya aku harus kuliah. Tapi, aku sudah tak tahan hidup berdua dengan Ibu. Hidup berdua dengan salah satu orang yang egois hanya akan membuat suasana kian terus menegang. Sebab, tak ada sosok penyambung yang menengahi.

Aku memaksa. Akhirnya Ibu luluh dan menyetujui sehingga harapan agar aku kuliah pupus. Siang itu, aku dan Ibu di bandara. Aku dan Ibu menandatangani kontrak untuk pelatihan menjadi penyanyi. Saat itu, pertama kalinya aku melihat Ibu menangis.

“Hati-hati di sana, Kevin. Jika kau butuh sesuatu, pulanglah. Jika kau lelah, pulanglah. Pintu rumah akan selalu terbuka.”

Aku tak kuasa menahan tangis. Langsung kupeluk Ibu dengan erat. Kehangatan Ibu perlahan menjalar ke seluruh aliran darahku. “Aku akan merindukan Ibu,” ucapku tulus. Ibu menangis tersedu. “Ibu maafkan aku, sudah sebesar ini, aku tetap membuatmu menangis dan kerepotan.”

Ibu menggeleng. “Tidak, Kevin. Semua usahaku memang kulakukan untukmu. Hanya untuk putraku.”

Itu adalah saat-saat menyedihkan. Sebelum aku terbang menuju Shanghai. Tempat dimana, aku akan masuk trainee untuk memulai karirku. Tapi, semua tak semudah itu. Aku merasa kehampaan luar biasa. Hampir setahun, aku masih belum berhenti trainee dan tetap berlatih vocal. Setiap hari, waktu habis hanya untuk latihan dan masa mudaku habis tanpa terasa.

Tahun kedua, saat itu Ibu menghubungiku. Tapi aku tidak mengangkatnya. Aku cemas dan takut. Jika aku mengangkat maka aku akan menangis dan menyerah kepada mimpiku. Sebab, aku takut, jika aku menyerah aku akan kembali kepada Ibu dan aku akan kehilangan kemampuan bicaraku dengan selamanya akibat tekanan Ibu.

Tapi, malam selanjutnya aku tak biasa mendiamkan Ibu. Aku mengangkatnya. Suara Ibu mengalun merdu. “Kevin, bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja?”

Setiap Ibu menelpon. Ibu akan selalu bertanya kabarku, dan aku akan menjawab baik-baik saja.

“Kevin, jika kau lelah, pulanglah. Ibu akan selalu ada untukmu. Semuanya akan baik-baik saja.” Akhirnya, saat itu untuk kedua kalinya aku menangis tanpa berkata apa-apa. Ibu akhirnya tahu, aku sedang tidak apa-apa.

Tetapi, aku tetap bertahan. Hingga tahun ketiga. Aku resmi merilis lagu. Albumku terjual bersih. Dan aku merasa hidup saat itu. Semua ini berkat Ibu. Sebab, Ibu selalu membuatku kuat dan tegar. Mendidik diriku agar mampu hidup dalam tekanan dan tentunya belajar bersabar. Ibulah sebab utama aku di sini, di atas panggung, di depan ribuan manusia. Pelarian dari Ibu pula lah, yang menyebabkan diriku di puncak karir yang indah. Untuk itu, aku mensyukurinya walau satu sisi aku mengharapkan sosok ibu yang hangat.

Beberapa bulan setelah rilis album. Ibu datang ke Shanghai. Saat itu, Ibu berbeda. Tak kutemukan sosok Ibu yang keras seperti dulu. Ibu yang kini adalah sosok hangat yang selalu mendekap diriku saat aku lelah. Mendekap diriku saat aku ingin menyerah. Karena tak kusadari, ternyata menjadi idol tak semudah bayangan mata.

Aku pun menyadari, ternyata berpisah adalah satu-satunya cara memperbaiki keadaan yang pelik. Sehingga perpisahan itu menanamkan kerinduan hingga dapat menghargai artinya kehadiran seseorang.

Ibu selalu mengatakan kepadaku. Bahwa sepelik apapun kehidupan semuanya akan baik-baik saja.

-Tamat –

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here