Aku Kira Suamiku Mencintaiku #03

0
224
views

Tanpa berpikir panjang aku taro lagi hp nya ke dalam tas dan aku langsung mencuci pakaian suami, pakaian nya wangi parfum campur sama bau keringatnya. Aku cium bau keringatnya, ini adalah bau keringat yang mencari rizki untukku, yang mencukupkan kehidupanku.

Selesai nyuci aku siap masak buat makan malam nanti, menunya tidak ada yang spesial hanya saja yang jadi spesial dia yang menyuruhku menyajikan masakan paling enak, Ya Allah ini pertama kalinya dia menyuruhku masak, aku sangat semangat. Aku adalah wanita yang sangat bahagia untuk saat ini setelah satu tahun lamanya merana.

Jam 19.30 kita makan bareng, tak terasa air mataku menetes membasahi pipi, ini pertama kalinya aku melihat suamiku Ridho makan masakanku dengan lahapnya, tenggorokanku terasa kering aku ingin menangis, semakin lama air mata ini tak bisa ku bendung, pecah dengan sendirinya, aku menangis dan ini tangisan bahagiaku yang tak pernah aku dapatkan di pernikahan satu tahun kebelakang.

“kamu kenapa?” ucap ridho.

“Hey kamu kenapa, kenapa nangis?” tangannya memegang tanganku di meja seraya mengelus dengan kedua tangannya.

“Te-te-te-terimaksih sudah makan masakan ku.” Bicaraku terbata-bata dan sesenggukan.

Ridho memeluk erat tubuhku dari belakang, dia mencium kepalaku, dagunya di taro di kepalaku, tapi dia tidak berbicara sepatah katapun.

“Sayang terimakasih untuk hari ini kamu kadikan aku orang yang paling bahagia, selama ini kamu acuhkan aku, kamu tak pernah menganggap aku ada, bahkan ketika aku pura-pura tidur di lantaipun kamu tak tegur aku bahkan kamu asyik dengan handphone mu sampai tidur, andai kamu tau saat itu hatiku hancur berkeping-keping di tambah lagi hubunganmu dengan si Nesa, ingin rasanya aku pergi dari dunia ini, tapi Agama yang menguatkanku.” Aku ungkapkan semuanya mumpung dia ada di dekatku.

Ridho duduk di kursi sebelahku, dia memegang kedua tanganku, aku lihat mata nya memerah dan berkaca-kaca.

“Sayangku Aisyah, maafkan atas perlakuanku selama satu tahun ini, maafkan juga, aku belum bisa sepenuhnya mencintaimu, karena cintaku masih untuk…. ” Ridho tidak melanjutkan bicaranya dan langsung memalingkan muka.

Tangiskupun serasa berhenti, tangis yang tadinya bahagia berubah menjadi tangisan yang nyata.

“Lalu apa artinya selama ini kamu menggauliku, apa hanya untuk nafsumu saja? betapa bodohnya aku, ya aku memang bodoh, bodoh dan sangat bodoh, untuk apa menikahiku jika cintapun tidak ada? kenapa mesti minta restu kedua orang tua, sedangkan perasaan kamu sendiripun tak bisa merestui pernikahan ini.” ucapku berdiri di depan ridho.

Bersambung

Baca sebelumnya

by:Yuliyan

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here