Aku Kira Suamiku Mencintaiku #01

0
234
views

Satu tahun sudah pernikahan ini kami jalani, seperti pada umumnya kami menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai suami istri, tapi ada yang membuat hati ini selalu teriris sakit menusuk dada. Suamiku Ridho masih sering chatingan sama mantan pacarnya, entah hanya menanyakan kabar atau sekedar becanda cekaka’an.

Sore itu dia lagi mandi, aku lihat hp nya tergeletak di meja makan, tak biasanya dia lupa atau bahkan mandi pun di bawa hp nya.

[##**] pesan masuk melalui messenger facebook.

Aku heran ini siapa, kenapa pesannya gak jelas begini, nama facebooknya laki-laki pula. Tak ku hiraukan tapi aku penasaran.

[##**] balasan chatting ku.

“ka lagi apa?”

Hah. ini siapa? seingat aku yang suka manggil kakak itu mantan suamiku, tapi tak mungkin karena facebooknya udah aku blockir ketiga akunnya, gumamku penasaran.

“Lagi mau mandi, kamu lagi apa?” jawabku gak langsung nanya ini siapa, aku penasaran ini siapa.

“iihhh kakak, ko manggilnya kamu sih” mengirim emot sedih.

Lahh, aku mulai meradang ini pasti si Nesa mantan pacar suami, tangan mulai berkeringat nafas mulai tersenggal, detak jantung semakin kencang. Bukan karena apa, karena kalau memang dia si Nesa kenapa suamiku menghianatiku lagi, kenapa dia mau menikah denganku kalau masih ada rasa sama perempuan lain.

“sayang tolong ambilkan handuk, aku lupa bawa handuk,” suara itu terdengar dari kamar mandi.

“sayangmu palsu ridho, aku benci, kau jahat, kau penghianat!” gumamku dalam hati sambil ku hapus pesan itu.

Ku ambilkan handuk dan langsung bergegas ke dapur untuk masak, peralatan dapur serasa ngajak perang, ku bolak balik masakan dengan kekuatan super. Trengkontreng kontreng kontreng. Jujur aku orangnya cemburuan.

“Sayang maaf, tadi aku gak sengaja lihat hp kamu, ada pesan masuk namanya Jono, tapi gak jelas sih pesannya kaya kode gitu?” aku pura-pura tanya, padahal nafas tersengal.

“Lah. Kan sudah aku bilang jangan buka-buka hp suami, hp suami ya privasi suami, hp kamu ya privasi kamu, siapapun yang mengirimkan pesan kamu gak berhak membuka pesan itu!” ucapnya dengan nada tinggi.

Aku tak kuasa menahan tangis, tangisku pecah, aku memang lebay, hati ini sangat rapuh bila di bentak sedikitpun, aku berusaha menaha suara tangisanku. ini salahku, aku terlalu cemburu padahal belum tentu si Jono itu si Nesa.

Dua hari kita gak banyak bicara, hanya seperlunya saja, tapi aku pikir kalau begini terus gak nyaman hidup ku, aku harus ngapain? karena ini hanya masalah sepele, hanya saja hatiku yang lebay. Tapi nanti dia pasti ngulangin lagi, aku harus beranikan diri minta maaf.

Baca selanjutnya

by:Yuliyan

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here