Aku dan Maduku #02

0
463
views

Mendengar kedatanganku ke kota, Bapak mertuaku langsung mencari keberadaanku. Beliau tidak mengizinkan aku tinggal di kontrakan. Bagaimanapun juga aku sudah melahirkan cucunya, aku harus mendapatkan hak ku sebagai menantu. Bapak memaksa agar aku mau tinggal dirumah besarnya, dan aku menurut saja.

Belum terdengar berita tentang mas Tio dan Inah, tapi pasti semua itu tidak akan berlangsung lama. Lambat laun pasti keluarga mas Tio akan mengetahuinya.

Ku jalani hari-hariku sebagai menantu dirumah besar mas Tio, Mas Tio mulai mengurangi jatah belanja harianku. Aku tau sebabnya, dia juga harus menghidupi Inah dan anaknya. Tak ada protes yang keluar dari mulutku, hanya saja hatiku kadang masih tak rela menerima kenyataan.

Benar saja, tidak sampai sebulan berita tentang Inah sudah sampai ke telinga Bapak. Beliau sangat marah, tapi berbeda dengan Ibu, terlihat biasa saja. Mas Tio meminta izin untuk menikahi Inah kepadaku dan keluarga besar. Aku tak mengiyakan, tapi juga tak menolaknya. Aku bisa apa..

Pernikahan mereka berlangsung sederhana, dan hanya disahkan oleh dua saksi dan seorang penghulu. Sudahlah hari harus tetap berjalan, aku tetap menjadi menantu di keluarga besar mas Tio. Begitupun Inah, dia juga diterima dengan baik olah keluarga Mas Tio.

Hari-hari yang penuh sesak itu ternyata bisa kulewati selama lima tahun. Berulang kali sebenarnya aku meminta mas Tio menceraikanku. Tapi mas Tio selalu menolak, katanya dia masih sangat mencintaiku. Sempat beberapa kali juga aku mencoba untuk kabur dan ingin pulang kerumah emak, tapi mas Tio selalu berhasil menemukanku. Begitu juga hari ini, aku berencana untuk kembali melarikan diri bersama Yanti. Tapi lagi-lagi aku tertangkap. Dan sesampainya dirumah mas Tio mengurungku di kamar sampai seharian.

Keesokan harinya ,kurasa pusing dan tak enak badan. Mungkin ini karna aku tak makan sejak kemarin. Perutku rasanya mual, Bapak yang mendengar suaraku dari kamar mandi menyuruh mas Tio untuk membawaku ke dokter untuk berobat. Sebenarnya aku menolak, tapi karna ini perintah bapak, aku terpaksa menurut saja.

Dokter memberi tau mas Tio bahwa aku sedang hamil, dan usia kandunganku sudah masuk tiga bulan. Aku hanya bisa terdiam dan menangis, entah airmata bahagia atau air mata duka.Disaat Aku ingin mengakhiri semua penderitaan ini, justru Alloh memberikan aku amanat hamil.

***

Beberapa bulan kemudian aku sudah melahirkan, bayi laki-laki yang tampan berhasil mencuri perhatian mas Tio. Sejak kelahiran putra keduaku yang ku beri nama Rahmat, Mas Tio jarang sekali menemui Inah. Dia sangat manyayangi Rahmat, setiap akhir pekan selalu Rahmat diajak untuk mengelilingi kota, pergi berbelanja, dan berkunjung ke tempat-tempat wisata.

Aku merasa mas Tio kembali menjadi milikku, dan tak ingin terbagi lagi akupun memberanikan diri untuk meminta mas Tio menceraikan Inah dan mengantarnya kembali ke desa. Toh selama ini Inah juga tak kunjung hamil dan memiliki anak dari mas Tio.

“Lihat mas, anak-anak kita sudab tertidur lelap”.

“Mereka butuh kamu mas, untuk menemani mereka tumbuh, kembalilah mas, keluarga kecil kita sudah lengkap”.

Tak ada jawaban dari Mas Tio, tapi ternyata dua hari setelah itu Mas Tio mengantarkan Inah untuk pulang. Aku menang, aku kembali mendapatkan suami seutuhnya. Aku bahagia, akan ku buat mas Tio semakin mencintaiku dan melupakan Inah.

Ditengah rasa bahagia itu, ada juga kabar buruk. Bapak mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Tapi ternyata sebelum bapak mengalami kecelakaan, Bapak sudah membelikan rumah kecil untukku. Diatas namakan untuk anakku Rahmat.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here