Aisyah Mawarku #25

0
60
views

Antara Cinta


Percayalah, roda kehidupan itu selalu berputar. Adakalanya duka datang merundung kepiluan kepada kita, dan adakalanya juga bahagia datang dengan pelangi kehidupan yang indah.

Bola matanya yang indah, serta jari kecilnya yang lentik, membuatku merasa melayang melintasi ruang kesedihan menuju ruang kebahagian. Dipangkuanku, kini hadirlah rembulan yang selama beberapa bulan aku tunggu-tunggu. Bayiku, telah sehat dan bisa dibawa pulang hari ini. Semua anggota keluarga datang ke rumah sakit, termasuk Kak Ahmad dan sang istri.

Mereka membinarkan cahaya kebahagian, tatkala melihat buah hatiku dan Aisyah. Puji syukur, bayiku sehat dan tanpa cacat sedikitpun. Air mata haru berburu, menganak sungai mengalir membelah garisan wajahku. Bukan air mata duka, melainkan air mata bahagia yang tak terkira.

Tak lama, suara menangisnya mengalun bagaikan irama lagu. Membuat ulu hatiku nyeri seketika. Seakan aku berharap, tangisannya dapat membangunkan ibunya yang kini tengah berjuang melewati ruang dan waktu kehidupan.

Berulang kali, aku menenangkannya seraya mengecup setiap sudut wajahnya dengan bacaan shalawat.

“Mad, kayaknya dede laper. Soalnya kan, belum disusui.”

Ujar Umi seraya mengelus pucuk kepada bayiku yang sedang ku gendong. Seketika, aku melupakan sesuatu penting. Bahwasannya, aku ke Rumah Sakit tidak membawa peralatan bayi. Karena, awal niat aku kesini untuk menggantikan Mba Lulu dan Indah. Namun, tepat diperjalanan, pihak rumah sakit menelpon dan berkata bahwa bayiku bisa dibawa pulang. Keterkejutan, membuatku lupa untuk sekedar berbalik ke rumah. Malah langsung menancap gas, bergegeas ke Rumah Sakit.

“Iya Umi. Botol susu dede di rumah,” lirihku seraya menatap Umi memelas.

“Mending kamu pulang deh Mad, biar Umi sama kakak disini. Kasian, dede pasti laper.”

Kak Ahmad ikut mengusulkan kepadaku. Seketika aku merenung. Kendati, aku tidak bisa apa-apa mengurus bayi. Apalagi, bayi baru lahir. Bahkan, tanganku ini masih bergetar memangkunya.

“Muhammad mending disini aja Kak. Lebih baik, Umi pulang bersama Kakak dan yang lainnya. Kakak tau kan, Muhammad belum bisa apa-apa dalam mengurus bayi.”

Umi mangut-mangut mendengar usulanku. “Nah iya, lebih baik Umi pulang ya. Sini, biar Umi yang gendong dede.”

Aku bahagia, melihat binaran mata kebahagian dari Umi saat menggendong putriku. Berulang kali, Umi mengulum senyuman dan bahkan mengajak ngobrol dede.

‘Aisyah, bangunlah, lihatlah, mereka bahagia. Inilah kehagian kita. Bangunlah, walau tidak untukku tapi setidaknya untuk putri kita,’ gumamku dalam hati.

Kini, mereka semua pamit izin pulang kepadaku, termasuk Mba Lulu dan Indah ikut serta pulang ke rumah. Ruangan Aisyah, tampak sepi. Hanya sahutan bunyi, dari alat-alat medis yang bersuara.

Ku tarik kursi tepat di samping ranjang Aisyah. Dan duduk, seraya mengulum senyuman untuknya. Paras wajahnya selalu saja meneduhkan serta menarik untuk dipandang. Sudah hampir hari ke empat, Aisyah belum sadarkan diri. Air mataku kembali berlomba. Membuat aku terisak dalam keheningan.

“Kumohon, janganlah pergi seperti Umi dan Abi. Temanilah aku, temanilah sampai kita pulang bersama-sama kepadaNya. Aku tak bisa tanpa mu lebih lama lagi, aku tak bisa menahan derita kesendirian untuk lebih jauh lagi. Bangunlah, akan ku korbankan segalanya untukmu, sayang.”

Dengan lirih, aku berusaha mengungkapkan semua derita yang selalu aku tahan. Setiap aku datang ke ruangannya, air mata tak pernah kering untuk kembali mengalir. Aku rindu segalanya tentang, tanpa terkecuali.

Ku raih, Al-Qur’an yang berada dinakas samping ranjang Aisyah. Al-Qur’an berukuran kecil berwarna hitam ini adalah Al-Qur’an yang selalu Aisyah gunakan ketika di rumah. Aku membawanya, dan setiap menemaninya di rumah sakit aku baca bahkan sampai beberapa juz Al-Qur’an.

Kini, aku kembali membacanya dengan irama yang indah. Dahulu, ketika aku mondok. Aku pernah belajar qiro’ah. Setidaknya, nadaku tidak berantakan dan asal.

Ayat demi ayat membuat hatiku tersayat. Hingga, yang keluar dari suaraku bukan lagi ayat tapi isakan tangisan. Aku bagaikan dihujam dengan ribuan belati dihatiku. Tak tahan, sungguh tidak tahan.

‘Ya Rabb… adakah titik terang yang akan menyelamatkannya. Ya Rabb… sungguh dengan sifat Rahman dan RahimMu, sembuhkanlah dia,’ lirihku dalam hati.

Aku semakin terisak dalam tangisan. Kepalaku akhirnya tersungkur dibibir ranjang. Menenggelamkan luka dan duka yang bersamaan datang. Aku tak tahan, untuk bisa berdiri dan berjalan menjalani hari-hari tanpanya. Sakitnya, cukup menjadikanku menderita.

Tidak ada yang lebih memahami dan mengerti selain pujaan hati. Tidak ada yang lebih sabar dan ikhlas kecuali teman kehidupan.

***

Sudah hampir sepuluh hari, aku menjalankan peranku sebagai Abi. Sampai hari ini, putriku belum ku beri nama. Aku hanya ingin, istriku Aisyah yang akan memberinya nama. Tak terasa, aku kembali teringat. Sudah empat belas hari Aisyah masih terbaring koma. Walau harapanku sempat menciut, namun… dengan do’a aku kembali berharap. Bahwa, tak ada yang mustahil semua terjadi. Roda kehidupan haruslah aku hadapi dengan keikhlasan. Datang dan perginya seseorang bagian dari takdirNya, begitupun dengan Aisyah.

Pergerakannya selalu lincah, membuat dunia ku berubah indah. Pagi ini, putriku telah aku mandikan. Sekitar, beberapa hari kemarin. Aku belajar dengan giat, membuat susu, menggantikan popok, dan bahkan memandikan. Sementara yang mencuci pakaian ada Mba Lulu dan Indah. Umi Aisyah, sampai hari ini masih menginap di Depok. Kecuali, Kak Bayu. Karena beliau harus kerja dan di rumah juga ada istrinya. Jadi, kemarin beliau izin pamit pulang ke Bandung.

Terkadang, jika aku lelah. Putriku akan diurus oleh Amalia atau Umi. Sementara Mba Lulu dan Indah harus bergantian menjaga Aisyah di Rumah Sakit. Aku kembali, bergelut menjalankan usaha Abi yang kemarin-kemarin di urus Kak Ahmad. Sementara waktu, aku menolak jadwal tausiah di luar kota atau dalam kota. Karena, jujur aku tak bisa membagi waktu dan tentunya lelah.

Usaha Abi cukup membuat perekonomian untukku. Ada tiga bengkel yang akan diurus oleh aku dan Kak Ahmad. Tentunya, bukan bengkel kecil. Melainkan, bengkel besar. Dua untuk mobil, satu untuk bengkel motor. Kedua bengkel berada di Depok, satunya bengkel mobil paling besar ada di Jakarta.

Tanganku telaten, melekatkan pakaian untuk putriku. Dia nampak tenang, sementara bibirnya malah mengemut. Sepertinya, dia lapar. Seperti itulah bayi, biasanya kalau sudah dimandikan selalu langsung minta hak susu.

Aku terkekeh geli melihat bibirnya yang mengemut. Rasa bahagia, menyeruak dalam rongga dada. Aku menikmatinya, sangat. Bahagia, sangatlah bahagia. Hingga, sekelebat bayangan hadir. Seandainya, Aisyah ada. Pasti akan lebih membahagiakan.

“Rindu Umi gak de?” tanyaku seraya menirukan suara anak kecil.

‘Pasti kamu rindu ya de. Jangankan dede, Abi lebih rindu de,’ gumamku dalam hati.

Akhirnya, pakaian berwarna hijaunya dengan gambar bear telah selesai melekat pada tubuhnya. Aku terkagum, putriku teramatlah cantik. Wajahnya, sangat mirip Aisyah. Setidaknya, melihatnya mnyalurkan kerinduanku.

“Kita temui Nenek, ya. Biar Abi buatin susu buat dede.”

Dengan hati-hati aku gendong putri kecilku dan membawanya ke ruang keluarga, dimana ada Amalia dan Umi yang sedang duduk lesehan diatas karpet seraya menonton televisi.

Mereka langsung bahagia menyambutku dari arah kamar membawa putriku.

“MasyaAllah… cucu Umi. Sini, Umi gendong ya.”

Dengan hati-hati, Umi membawa putriku dari pangkuanku. Tak lama, Umi kembali duduk di karpet seraya mengajak ngobrol putriku. Amalia antusias untuk ikut serta bercengkrama bersama-sama.

Tak lama, netraku buyar tatkala mendengar deringan bunyi ponsel dari arah kamar. Bergegas, aku melenggang ke kamar. Saat membuka pintu, netraku menyapu. Mencari-cari benda pipih itu. Ternyata, benda pipih itu berada diatas nikas. Aku berjalan, dan menyambarnya. Nama Mba Lulu tertera, dengan cepat aku menggeser layar untuk menerima panggilan telepon.

“Assalamua’laikum. Ustadz.”

Ucapan Mba Lulu seperti tergesa-gesa. Dahiku berkerut, sepertinya ada yang tidak beres.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah. Ada apa Mba?” ucapku.

“Ustadzah… Ustadzah telah sadar Ustadz.”

Seketika aku tersentak mendengar ucapan Mba Lulu disebrang sana. Seperti ada kupu-kupu yang menyeruak dalam dada. Aisyah? Telah sadar? Aisyah istriku.

“Saya akan ke Rumah Sakit sekarang.”

Langsung ku akhiri panggilan dari Mba Lulu dan bergegas meraih dompet yang tak jauh, berada diatas nakas didepanku.

Aku bergegas keluar, menemui Umi dan Amalia. Aku tak langsung mengatakan kabar Aisyah. Aku hanya izin, ke Rumah Sakit. Mereka mangut dan mengizinkanku.

Sepanjang perjalanan, hatiku menggebu-gebu. Dua sudut bibirku menarik, membentuk senyuman. Aku rindu, sangat teramat rindu. Akhirnya, pertemuan dengan sang pujaan telah tiba.

Tak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai di parkiran Rumah Sakit. Aku sedikit berlari, menyusuri lorong demi lorong untuk menuju ruangan Aisyah.

Seketika, aku mematung. Semua anggota badanku kaku, tak bergerak bersamaan hembusan nafas yang tersenggal. Dengan detak jantung yang lebih cepat berirama daripada biasanya. Aku langsung berhambur, memeluknya dengan erat yang sedang terduduk diatas ranjang. Sungguh, aku berasa ingin terbang sekarang. Akhirnya wajah yang kemarin terkulai lemah kini bisa memberikan seulas senyuman yang selalu menggetarkan jiwa.

Tangan Aisyah menepuk-nepuk lembut pundukku. Pelukan kami, menyalurkan kerinduan tak tertahankan. Sehingga pada akhirnya, kami berdua hanyut dalam tangisan. Berulang kali aku mengucap maaf. Aku merasa manusia paling salah atas kesakitannya.

Tak lama, aku mengurai pelukan. Berganti, menjadi kecupan disetiap sudut wajah, tangan, dan kepalanya.

“Alhamdulillah…,” ucap Aisyah lirih seraya mengulum senyum.

Bibirnya nampak pucat. Jariku bergerak, meraba bibir ranumnya. Seketika, Aisyah kembali luruh dalam tangisan. Dengan lembut, aku mengecup bibir ranumnya.

“Maafin… Kakak. Maafin….”

Aku terus mengulang kata maaf tanpa lelah. Namun, Aisyah malah menggeleng keras. Seakan semua ini bukanlah salahku.

Aku merasakan ruang dan waktu terhenti. Memberi ruang untukku dan Aisyah saja. Bahkan, aku tak sadar ada Mba Lulu dan Indah yang masih setia berada di ruangan. Menyaksikan dua insan yang saling menganyam rindu dan kini terbayar dengan temu.

“Semua ini bukan salah kakak.”

Aku menggeleng keras mendengar suara lirih Aisyah. Netraku menatap manik matanya yang sayu.

“Mulai sekarang, cerita segalanya tentang sakitmu sayang. Jangan dipendam. Aku bersedia mendengar keluhan dan sakitmu.”

Aku kembali mendekap Aisyah ke dalam pelukan. Menenggelemkan kepalanya didada bidangku. Ku kecup pucuk kepalanya berulang-ulang.

Tak lama, dokter datang. Dokter yang sama waktu menangani Aisyah di ruang operasi. Dokter memberiku seulas senyuman, namun ia langsung menuju Aisyah untuk pemeriksaan.

Tangannya aktif memeriksa segalanya. Bertanya-tanya apa saja keluhan Aisyah yang dirasakan.

“Sepertinya satu hari lagi, Ibu boleh pulang. Tapi, dia harus konsul setiap satu bulan sskali. Oya… Bapak bisa ikut ke ruangan saya. Ada yang harus saya sampaikan.”

Sejenak aku melirik dulu Aisyah, meminta persetujuan untuk sebentar izin mengikuti dokter. Aisyah mengangguk, yang artinya dia mengizinkan. Akhirnya, aku pergi beiringan dengan dokter menuju ruangannya.

***

“Ibu memang sudah cukup membaik. Tapi, perlu bapak ketahui. Bahwa hidup dengan satu ginjal akan teramat sulit. Saya hanya harap, semoga kondisi sebelah ginjalnya tidak ada masalah seperti hasil meriksaan waktu itu. Karena ginjal yang bermasalah telah saya angkat.”

Seketika aku tertegun. Itu artinya, akan banyak rintangan lagi untuk Aisyah.

“Bagaimana kalau saya donor ginjal dok?”

Dokter menatapku tajam. “Untuk saat ini kondisi Ibu masih lemah. Ada baiknya, beliau istirahat terlebih dahulu yang banyak dan jangan menganggkat hal yang berat-berat. Masalah donor… kita akan periksa jika keadaan ibu kembali down,” jelas Dokter dengan tegas.

“Apakah ada efek yang lain?” tanyaku antusias.

“Ada. Itu pasti ada Pak. Bahkan mungkin rasa sakit akan terjadi sewaktu-waktu. Tapi, untuk saat ini meminum obat dan istirahat menjadi hal utama. Ibu cukup lemah, untuk melakukan sejumlah pemeriksaan lainnya. Pasalnya, saat dioperasi kondisinya terus turun dratis.”

Aku hanya bisa terdiam. Memikirkan segudang cara agar bisa membuatnya terus kuat dan bertahan. Tak lama, kami akhiri perbincangan kami berdua dan aku kembali ke ruangan Aisyah.

***

Setelah dua hari kemarin Aisyah masih dirawat. Hari ini, sepertinya kebahagian telah berpihak kepadaku dan Aisyah. Pasalnya, dokter telah mengizinkan Aisyah pulang.

Binaran kebahagian tergambar jelas dari sudut wajahnya yang teduh. Sepanjang perjalanan, Aisyah bertanya-tanya bagaimana aku mengurus putriku. Awalnya aku katakan, semua sulit. Namun, semua terasa mudah karena terbiasa. Aisyah mangut-mangut, kadang pula terkekeh mendengar hal konyol saat aku mendapati putriku mengempol atau pup.

Tak terasa, akhirnya aku dan Aisyah sampai di pelataran rumah. Mba Lulu dan Indah membantu Aisyah keluar dari mobil. Sementara aku membawa beberapa tas dibagasi, yang dulu dibawa ke Rumah Sakit.

Aisyah masih berjalan dengan sangat lambat. Perut yang sakit serta kondisi yang masih lemah benar-benar membuatnya membatasi setiap gerak-geriknya.

Tepat saat langkah kami memasuki ambang pintu rumah. Umi yang sedang menimang putriku, langsung memekik geringan. Amalia, yang tepat disamping Umi langsung berubah ekspresi membinarkan kebahagian. Semua orang mengerumuni Aisyah.

Aisyah dengan lembut, menyalami Umi. Hingga saat ia mencium punggung Umi. Isakan terdengar darinya. Aku tertegun melihat keadaan yang ada. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Tak lama, Aisyah mendongkang. Menatap, malaikat kecilnya sedang tertidur lelap dipangkuan sang Umi.

Aisyah menjatuhkan kecupan bertubi-tubi di wajah mungil dan sesekali ia mencium tangan mungil putrinya. Aku turut larut dalam suasana. Mereka harta berharga yang aku punya.

“Maafin Umi ya. Ninggalin dede.”

Dengan lirih Aisyah membuka suara. Membuat suasana seketika sunyi. Semua orang bungkam. Meresa tengah saling merasakan, bahwa kerinduan Aisyah dan putrinya tengah benar-benar dipuncak.

Aku menenteng tas yang akhirnya, ku simpan di kursi ruang tamu dan kembali bergabung mendekati mereka yang masih di berkerumun. Aku berjalan mendekati Aisyah yang masih menatap haru putrinya. Ku dekap bahunya dari samping. Seraya memberi kekuatan untuknya.

“Aisyah lebih baik kamu istirahat. Ini dede biar sama suami kamu,” seru Umi seraya mengulum senyuman.

Aisyah hanya mangut seraya membalas senyuman Umi.

Perlahan, Umi memberikan putriku kepadaku. Masih seperti pertama, aku masih kaku jika menggendongnya.

“Umi, Muhammad dan Aisyah izin ke kamar dulu,” ucapku.

Umi tersenyum sebagai jawaban. Aku dan Aisyah perlahan menuju kamar. Alangkah, bahagianya sekarang. Dunia terasa milik kami bertiga. Aisyah tak henti-henti mengecup putrinya yang sudah ku baringkan di ranjang. Aku ikut bergabung, menaiki ranjang.

Sekarang putriku menjadi penengah untuk aku dan Aisyah tidur. Kami melempar candaan hingga terdengar gelak tawa kami berdua menepis rasa hampa yang kemarin hilang.

“Dede mirip kamu ya sayang,” ucapku seraya memandang Aisyah yang tengah menggenggam sebelah tangan putrinya. Netranya masih fokus memandangi putri cantiknya yang kini netranya tengah terjaga.

Seperkian detik Aisyah melirikku hingga pandangan kami beradu. “Alhamdulillah jika dede mirip Umi. Hehe.”

Tak lama, Aisyah kembali menjatuhkan kecupannya di kening putriku. Hingga kini aku menyadari, ada kecemburuan menyeruak dalam dadaku.

“Kok dede terus yang dicium sayang? Kakak enggak?”

Tanyaku ketus seraya mengerucutkan bibirku agar tampak manja. Sekali-kali, belajar manja tidaklah salah.

Aisyah terkekeh melihat wajahku. Aku akui, aku manis, lucu dan tampan. “Biasa aja mukanya dong Abi.”

“Habis Uminya nyebelin.”

Perlahan Aisyah bergerak mendekatiku. Tak ingin melewatkan kesempat, aku menguncinya didalam pelukan hingga kami saling berhadapan. Sesaat, kami melupakan putri kami.

Ada rasa yang telah lama tak tersalurkan namun kini tak bisa lagi tertahankan. Sudut bibirnya selalu terukir, membuat debaran dalam dada.

Kami saling memandang tanpa melakukan sesuatu. Sudut bibir terukir, tangan yang saling bergelayut manja dalam pinggang masing-masing.

“Makasih. Untuk tetap ada. Selamanya, aku mencintaimu wahai istriku.”

Layaknya penyair, ucapan itu seakan-akan terurai begitu saja.

“Terima kasih. Telah menjadi surgaku yang indah.”

Balasan Aisyah membuatku seperti terbang menuju nirwana. Perlahan, aku mengikis jarak. Mengecup keningnya dengan sangat lama. Menyalurkan cinta yang selalu tersusun rapih dalam ulu hati terdalam.

Aku mengurai kecupan. Sedikit aku mendongkang, mendekatkan bibirku ke telinganya. “Tak ada hal seindah rumah tangga yang dibalut dengan cinta yang suci dan ketulusan,” ucapku seraya mengecup daun telinganya.

Hasratku menggebu. Kerinduan ini benar-benar membuat waktu terhenti. Aku kembali menatapnya. Namun, kini dengan jarak yang teramat dekat dengan sehingga nafas kami beradu. Membuat desiran-desiran semakin kuat.

“Tak ada cinta yang diawali dengan ucapan tanpa perjuangan. Pernikahan adalah bukti cintamu dan menjagaku adalah bukti perjuanganmu.”

Ucapan Aisyah terdengar lirih namun mampu membuat hatiku menyeruakkan bunga-bunga yang ingin ku tebarkan disetiap sudut ruangan. Sesaat aku terkesiap, kecupannya kini benar-benar terasa dibibir ranumku.

Aku tersenyum lebar, mendapatkan kecupan romantis ini. Dengan do’a aku kembali menghujani Aisyah dengan kecupan disetiap unci tubuhnya. Walau, kini tak bisa melukan sesuatu yang lebih dibagian sensitifnya. Hanya bisa bercumbu dari ujung rambut dan ujung kakinya sudah cukup bagiku. Aku mengerti dan tak akan melakukan hal yang lebih.

Setiap sentuhan hanya berharap Sang Semesta meridhoi kami. Memupuk cinta dalam dada agar selalu subur dan berbunga. Siang ini, kami kembali menyalurkan cinta walau sang buah hati harus menjadi saksinya.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here