Aisyah Mawarku #24

0
86
views

Melepaskan


Senandung rasa yang telah menggumpal pada lapisan daging. Tidak akan pernah bisa keluar. Baik dia ada atau tidak. Rasa akan tetap selalu tergambar. Adanya jasad tak membuktikan cinta akan pupus. Karena nyatanya, cinta itu akan tetap hidup baik dia ada atau tidak, didepan mata.

Sudah hampir tiga hari berlalu, Aisyah masih terbaring koma. Aku, Indah, Mba Lulu dan tentunya Umi bergantian menunggu Aisyah. Bahkan, bayiku sampai saat ini masih harus tetap di rawat dalam inkubator. Karena, kondisinya masih lemah.

Aku menghela nafas gusar, pandanganku beredar melihat kondisi rumah yang kian hari kian sepi. Semalam, aku benar-benar tak bisa tidur di rumah sakit. Rasa lelah dan rasa sakit bergelut dalam jiwa.

Setiap malam, aku mengadu, membisu di dalam luka diatas hamparan sejadah. Berharap, setitik cahaya datang memberi kabar akan kebaikan untuk istriku tercinta.

Pikiranku menjelajah ruang dan waktu. Rumah ini, mengingatkanku akan dua pintu surga yang kini telah berpindah ke dalam ruang dan waktu yang berbeda. Hanya do’a yang menjadi perwakilan dari sebaris rindu yang setiap saat datang dalam dada. Seandainya mereka ada, saat ini aku ingin sekali meminta do’a dan duduk diantara mereka seraya berucap rasa yang selalu ada tentang cinta kepada keduanya.

Bulir bening menjadi perwakilan kerinduan saat bibir hanya bisa membisu. Namun, adanya Umi Aisyah membuatku sedikit tenang. Bahkan hari ini, beliau senantiasa mendampingiku pulang dan Mba Lulu, Indah berjaga di rumah sakit. Tentunya, aku tak bisa pulang sendiri. Mengingat ada Amalia, yang bukan mahram dirumah ini.

Seseorang membuatku tersadar dari lamunan. Tangan lembutnya, menepuk pundakku hingga spontan aku mendongkang. “Umi.”

Umi Aisyah hanya tersenyum seraya duduk disofa tepat disampingku. “Ada yang kamu pikirin Mad?”

Aku hanya menggeleng seraya mengulas senyuman. Tak ada kata yang bisa menjadi perwakilan rasa yang kini kian terbang bersama luka dan derita.

“Dulu… Umi takut sekali. Aisyah sedari pulang dari Tariem banyak perubahan. Dia sering puasa daud, yang menurut umi puasa itu jauh berat. Terus dia sering diam dikamar seraya ibadah sampai pernah berhari-hari gak keluar. Waktu umi nengok di jendela kamarnya dari luar, ternyata Aisyah masih tetap diatas sejadah. Mad… Umi dan Abi Aisyah bukanlah orang sholeh. Tapi….”

Sejenak Umi terdiam. Namun tak disangka bulir bening, keluar begitu indah dari pelupuk matanya yang teduh. Aku hanya terdiam memandang Umi. Memfokuskan diri mendengar bait demi bait ucapannya.

“Tapi… entah dan bagaimana? Umi bisa memiliki Aisyah yang begitu luar biasa. Umi yakin dia bukan perempuan biasanya, Mad. Bahkan, Aisyah selalu makan hanya dengan air putih, kurma dan roti. Saat Umi tanya, jawabnya enteng. Katanya, roti mengingat dia kepada Rasulullah. Ah… entahlah Mad. Umi kagum sekali padanya. Hingga… kerap sekali Aisyah sakit dan bahkan sering mimisan. Umi pikir dia hanya demam. Karena mungkin terlalu lama duduk dan kurang minum air bila dikamar. Jadi… bisa jadi Aisyah ginjal itu karena hal tersebut, Mad.”

Aku hanya terdiam membisu seraya menunduk menatap lantai rumah. Namun… akalku menyetujui paparan Umi. Bahwa Aisyah sakit karena hal-hal yang mungkin sudah Aisyah lakukan untuk berjuang dekat dengan Allah. Aku malu… mendapati diriku tak bisa mengejar derajat kemuliannya. Dia jauh… jauh daripada diriku yang hina.

“Namun… semua ini hanya kesimpulan Umi. Kabarnya, dokter akan menjelaskan semuanya setelah Aisyah siuman. Karena katanya, masih ada yang harus diperiksakan. Tapi… jujur Umi sedih Mad. Kenapa dokter sampai angkat sebelah ginjal Aisyah?”

Seketika tangisan Umi pecah. Menggema disudut rumah. Aku bergegas menggenggam kedua tangan Umi. Setidaknya untuk berusaha menguatkan beliau. Walau… aku sendiri masih tertatih menerima kenyataan yang ada.

Setelah, operasi Aisyah selesai tepat setelah aku mengadzani putriku. Umi dan Kak Bayu datang. Memberitahukan bahwa dokter yang melakukan operasi kepada Aisyah memintaku untuk menemuinya di ruangannya.

Dengan tergesa, aku menuju ke ruangannya. Namun… kendati pendapati kabar yang membuat diri hampir tak sadarkan diri. Seketika aku luruh dalam isakan. Dokter menjelaskan, bahwa Aisyah sepertinya sudah lama mengidap sakit ginjal. Sehingga pada saat melahirkan kemarin, ginjalnya harus diangkat agar kerusakan ginjalnya tidak berpengaruh kepada ginjal sebelah kanannya. Ginjal yang diangkat tepatnya ginjal sebelah kiri dan sudah tidak berfungsi. Bahkan Dokter bertanya-tanya. Apakah aku tidak memperhatikan Aisyah sehingga baru ketahuan sekarang?

Aku memang tidak tau. Karena setiap Aisyah sakit, tepat saat ia hamil. Dan… aku hanya menganggap itu adalah efek kehamilan. Dokter sampai tak percaya, jika Aisyah bisa menahan sakit yang teramat dahsyat itu. Bahkan seharusnya, Aisyah melakukan cuci darah. Namun… dia menahannya sehingga kini berujung mengenaskan. Seketika aku merutuki kebodohanku sebagai suaminya. Namun… Dokter sedikit menghela nafas tatkala ingin melanjutkan ucapannya. Bahwasannya, orang yang telah kehilangan satu ginjal akan mendapati kesakitan yang serius. Dia akan menjadi sering sakit dan harus tetap melakukan pengobatan.

“Apapun… hasilnya aku harap Aisyah sehat Umi. Muhammad siap, donor ginjal Muhammad demi Aisyah,” lirihku seraya menatap Umi yang masih berderai air mata. Beliau hanya terdiam, aku yakin umi pasti setuju. Aku rela… teramat rela ginjalku harus ku donorkan. Semoga cocok….

***

Setelah shalat subuh berjama’ah di Masjid, aku dikejutkan dengan panggilan suara dari Zahra. Awalnya dia meminta maaf atas perlakuannya kepadaku dan dia juga memberi kabar bahagia padaku. Bahwasannya, kapanpun aku mau. Anak dalam rahim Zahra akan Zahra izinkan untuk aku temui. Walau kini tak ada status diantara kami. Tetapi, hubungan darah aku dan anak dirahimnya akan tetap tersambung.

Namun… aku juga sedikit memberinya kabar mengenai Aisyah. Seketika Zahra terkejut, di sebrang sana.

“Do’akan yang terbaik buat Aisyah ya, Zah.”

“Tentunya, Mas. Aku hanya pertama kali bertemu dengan Mba. Namun, kini berita yang didapat sungguh tak bisa ku terima. Kalau ada waktu Zahra pengen ke Depok,” ucapnya disebrang sana.

“Gak apa-apa Zah. Kamu gak perlu ke Depok. Kamu juga lagi hamil, gak baik sering-sering keluar rumah. Jaga kandungannya baik-baik,” ujarku tenang. Sebenarnya, setelah beberapa bulan aku berpisah dengan Zahra. Rasa sayangku sudah sedikit terkikis. Mengingat sebentar lagi Zahra akan ada yang meminang.

“Oh iya Mas. Makasih ya, Mas. Zahra tutup dulu, Assalamua’laikum.”

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah,” jawabku yang tak lama sambungan telah diputus oleh Zahra.

Zahra, kenangan yang pernah ada. Yang pernah mengukir dan memotret sebagai drama.

***

Umi Aisyah dan Amalia sedang sibuk memasak menyiapkan bekal untuk Mba Lulu, Indah, dan tentunya kami bertiga yang siang nanti akan ke rumah sakit. Amalia, memohon-mohon kepadaku agar ia bisa pergi ke rumah sakit. Sebenarnya aku khawatir, karena dia juga tengah mengandung. Tapi, kasian juga dia sering ditinggal di rumah. Ada baiknya, sekali-kali aku ajak dia.

Suara ketukan pintu nyaring di telingaku yang sedang duduk di sofa ruang keluarga. Dengan santai, aku berjalan membukakan pintu ruang tamu.

Seketika, netraku menatap asing sang tamu. Walau banyak pertanyaan dalam tanya. Aku harus tetap menyimpan dalam dada. Nyatanya, tamuku kali ini seseorang yang mirip konglomerat. Mereka datang bertiga, dua laki-laki dan satu perempuan. Kedua laki-lakinya ada yang tua dan muda. Kira-kira yang muda seusiaku. Walau dia terlihat lebih dewasa karena memakai jas. Sementara laki-laki yang tua hanya memakai kaos putih dan celana hitam panjang. Mataku kembali menelisik, melihat sosok wanita dengan gamis berwarna maroon dengan kerudung cream. Namun, dari raut wajahnya dia nampak sudah tua.

“Permisi, ini rumah Pak Muhammad,” ucap laki-laki muda itu.

“Iya. Dengan saya sendiri. Maaf ada keperluan apa?”

Sejenak laki-laki muda itu menghela nafas dengan tatapan yang masih menatapku lamat.

“Saya-”

Belum sempat dia berucap, wanita itu langsung memotong. “Kami keluarga Amalia.”

Seketika dahiku mengerut. Keluarga Amalia? Bukannya kedua orang tuanya telah meninggal.

“Bisakah kami membicarakannya didalam Pak?” tanya laki-laki muda itu yang langsung diangguki olehku.

Aku mempersilahkan masuk kepada mereka. Sejenak, aku beranjak ke dapur untuk membuatkan teh untuk mereka. Umi Aisyah dan Amalia nampak bertanya-tanya di dapur siapa tamu yang datang. Namun aku hanya menjelaskan tamu biasa.

Setelah membuat tiga gelas teh, aku kembali menemui mereka di ruang tamu. Satu persatu, aku sodorkan untuk mereka seraya meminta untuk segera dinikmati.

Aku duduk tepat di sebrang mereka yang dihalangi meja lebar berwarna hitam. Mataku masih menelisik kepada ketiganya.

“Maaf pak. Saya datang kesini tanpa memberitahu bapak. Saya kesini ada maksud membawa Amalia,” ucap laki-laki muda itu dengan intens.

Seketika alisku menaut. “Sebenarnya kalian siapa? Bukannya kedua orang tua Amalia telah meninggal?”

“Iya. Kedua orang tua Amalia telah meninggal. Saya bibinya, saya mencari-carinya karena dia pergi dari Bogor dan tidak lagi melanjutkan kuliahnya,” timpal wanita itu dengan pelan.

Aku masih terdiam tak melontarkan pertanyaan. Bahkan dia kembali menjelaskan jika ia mendapati alamatku karena mencari alamat ke Tasik dan kabar ia tahu Amalia di Tasik karena katanya ada salah teman kampusnya mengatakan bahwa Amalia akan pondok. Sudah dipastikan, alamat bocor karena orang pondok memberitahu.

“Kami… ingin membawa Amalia untuk saya nikah Pak.”

Seketika aku tersentak mendengar ucapan laki-laki muda itu. Mataku terbelalak, dan derup jantungku derdetak kencang tak terima. Belum sempat aku berucap dia kembali melontarkan ucapan.

“Maaf… dulu saya khilaf telah menodai Amalia. Saya dari dulu telah tertarik kepadanya sejak sering melihatnya di bar. Hingga… waktu dia ke Jakarta saya melihatnya. Pikir saya, saya tak ingin kehilangan dia. Hingga… saya memaksa menggauli dia.”

Benar-benar tak habis pikir. Seenteng itukah dia berucap. Dia tidak tau bagaimana derita Amalia yang bahkan di pernah defresi.

“Saya tau dia hamil pak. Saat saya ke Tasik, seseorang memberitahu saya. Saat saya tanyakan bagaimana keadaan Amalia.”

Seketika aku menarik nafas panjang dan menatapnya tajam. “Saya tidak akan izinkan kamu mengambil Amalia.”

Ucapku tegas dengan penekanan. Seenaknya sekali dia, setelah membuat orang terluka dia datang.

“Saya mohon pak. Saya ayah dari kandungan dalam rahimnya. Amalia membutuhkan saya.”

Lirihnya diiringi isakan. Dia menatapku. Aku sama sekali membuang muka tak melihatnya. Bagiku, Amalia sudah jadi keluargaku. Walau kini dia masih belum aku sunting. Namun melihatnya terluka sungguh aku tak rela.

“Lalu, kenapa waktu itu kamu membiarkan Amalia luntang-lantung dijalan tengah malam setelah kamu menyiksa dan juga melecehkan dia?”

Tanyaku tegas. Dadaku mulai gemuruh. Berulang kali, aku berucap istigfar untuk menenangkan aliran darah yang mulai memanas.

“Saya gak suruh Amalia pergi Pak. Amalia kabur dari apartemen saya tepat ketika saya sedang membersihkan diri dan-”

Belum sempat ia melanjutkan ucapannya. Aku terlebih dulu memotongnya seraya memberi tatapan geram. “Dan kamu menyiksanya dia untuk memenuhi nafsu hewanmu itu dan sekarang-”

Tepat saat ingin melanjutkan ucapaku, suara pecahan piring nyaring disudut ruangan. Membuat kami menoleh dan mendapati Amalia yang sedang berdiri dengan wajah yang nampak sangat terkejut. Sehingga nampan berisi hidangan untuk mereka, ia tak sengaja jatuhkan. Tentu, Amalia pasti sangat terkejut.

Perlahan aku beranjak dan mendekatinya yang masih berdiri menatap kami. Seperkian detik, Amalia menatapku seperti tengah meminta penjelasan.

Tepat, setelah Amalia duduk disampingku. Wanita itu, berhambur memeluk Amalia seraya berucap maaf diiringi deraian air mata. Satu persatu dari mereka meminta maaf. Bahkan Amalia ikut hanyut dalam tangis. Mereka adalah paman dan bibinya Amalia. Yang dulu sering menyuruh Amalia menjual dirinya. Namun… mereka bilang telah berhenti dalam hal itu dan kini mereka tengah sibuk kembali merintis usaha membuka warung warteg dekat kampus Amalia dulu.

Namun… di sorot mata Amalia atau Nico. Ada dua binaran cinta yang tertuang. Aku tau, baik aku atau Amalia, kami memang saling tak ada rasa. Tatapan Amalia ke Nico sangat berbeda saat menatapku. Ada aura yang hanya bisa dirasa oleh semua orang penikmat cinta. Ya, laki-laki itu namanya Nico, ucap Amalia mengenalkan kepadaku.

Setelah hampir beberapa perundingan dan penjelasan panjang lebar dari kedua belah pihak. Nico kembali mengajukkan pertanyaan ingin menikahi Amalia. Walau berat, tapi semua tetap pada keputusan Amalia. Beratnya itu, karena aku merasa takut sesuatu buruk menimpanya. Namun… tidak ada yang salah bisa jadi mereka telah bertaubat.

“Saya terserah Amalia saja.”

Seketika Amalia melirik seraya menatapku dan aku membalas tatapannya. Aku tau, Amalia seperti meminta izin untuk kembali kepada mereka. Bagaimanapun mereka adalah keluarganya.

“Kapan kamu akan menikahi Amalia?” Tanyaku tegas seraya menatap Nico tajam.

Nico mengulas senyum lebar. “Setelah dari sini. Saya ingin menikahi Amalia Pak.”

“Bagus. Karena menikah saat sedang hamil tidak apa-apa dan tetap sah menikahnya. Tapi, sepertinya saya tidak bisa mengizinkan sekarang. Karena saya masih sibuk. Saya ingin pernikahan Amalia, saya hadir.”

Walau berat, akhirnya mereka setuju dan tetap membiarkan Amalia disini untuk beberapa waktu. Tepatnya, saat Aisyah sudah pulang. Aku akan datang mengantar Amalia menikah. Bukan apa-apa, hanya memastikan bahwa pernikahan itu terjadi. Bukan sekedar, bualan saja. Tak berlangsung lama, mereka pamit pulang. Akhirnya Umi keluar dari dapur dan menemui kami berdua yang masih berdiri diambang pintu keluar. Setelah melihat mobil mereka melaju pergi.

Awalnya Umi tak percaya dan bahkan tak mengizinkan. Namun… setelah beberapa aku yakinkan akhirnya Umi setuju walau berat katanya. Ya, kehadiran Amalia bukan semata menjadi calonku. Tetapi, telah kami terima lapang dada untuk menjadi anggota keluargaku.

Walau kini, senyumku sedikit terbit. Bahwasannya, aku tak akan pernah lagi berucap ijab. Sehingga hatiku sempurna tanpa berbagi. Akan ku suguhkan, kesempurnaan cinta yang telah terpupuk dan tertata dalam dada untuk istri tercinta, Aisyah.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here