Aisyah Mawarku #21

0
155
views

Lara


Waktu berlalu dengan cepat, memberi ukiran-ukiran didalam daging yang tertutup dalam rongga jiwa. Aku tersadar, bahwa kehidupan ini hanyalah drama yang sementara. Bahkan cinta yang selalu menjadi pemuja bagi setiap jiwa, peralahan akan padam. Entah itu karena takdir adalah kepuasan keegoisan.

Zahra, kini namanya sebatas kenangan yang membuat ronggaku terasa sempit. Dua bulan telah berlalu, setiap itu juga aku pulang ke Tasik Zahra selalu melayangkan surat peceraian dari kementrian agama. Aku mulai tak sadar, jika Zahra akan tetap teguh kepada keinginannya untuk berpisah. Bahkan ia sudah lebih jauh melangkah.

Berulang kali, aku meyakinkan untuk tetap sabar dan kuat tetapi dia selalu enggan dan kini menyerah. Tak bisa memaksa terlalu jauh, tak ingin pula memaksa seseorang untuk tetap tinggal disisiku. Aku resmi mentanda tangani surat perceraian yang tergeletak diatas nakas.

Dengan gontai, ku bereskan beberapa pakaian dan barang-barang yang ada dilemari untuk dibawa masuk ke dalam koper. Padahal, aku terlalu enggan melakukan semua ini. Mengingat Amalia belum aku nikahi sampai saat ini. Aku telah memutuskan untuk menikahi Amalia setelah dia melahirkan. Namun keadaan itu tak bisa melunakan hati Zahra untuk tetap menjadi istriku. Dia tetap tak ingin dibagi.

Air mataku luruh bersamaan dengan tangan yang cekatan yang sedang membereskan pakaian ke dalam koper. Hatiku terasa tercabik-cabik dan nafasku benar-benar terasa tercekat. Tidak ada yang bisa mengerti, sekalipun harus berteriak.

Semua telah selesai ku kemas. Sejenak, netraku mengedarkan kepada setiap sudut kamar yang akan ku rindukan. Ku hirup aroma ruangan kamar ini dalam-dalam, seraya menghela nafas berat.

Ku turuni setiap anak tangga dengan gontai, pandanganku terhenti melihat sosok yang tengah hamil enam bulan dengan memakai gamis hitam sedang duduk diantara keluarganya.

“Muhammad … duduklah disini,” ucap Pak Warta tetua dikeluarga Zahra.

Aku menuruti, duduk tepat disamping Pak Warta seraya menunduk lemah. Berulang kali aku berusaha tegar, namun nyatanya tak bisa.

“Maafkan Zahra Mad, karena harus melakukan perceraian ini. Semoga Muhammad kuat dan memaafkan Zahra …,” tutur Pak Warta lembut seraya menggenggam tanganku erat.

Aku hanya mengangguk sebagi jawaban.

“Semua urusan Zahra akan diurus oleh bapak, kamu tenang saja. Bahkan bayi dalam kandungan Zahra, tidak perlu kamu cemasi,” lanjut Pak Warta.

Lagi-lagi aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Zahra akan selalu kami perhatikan. Mungkin Zahra terlalu labil untuk menerima kenyataan kamu akan menikah lagi,” jelas Pak Warta sontak membuatku mendongkang menatapnya.

“Adapun keputusan Muhammad itu belum terjadi pak, bisa saja pernikahan Muhammad gagal dengan Amalia. Mengingat Amalia itu tengah hamil dan Muhammad akan menunggu pada saat ia melahirkan,” timpalku tegas.

Pak Warta menghela nafas berat seraya melirik seorang wanita disebrang sana yang tengah menunduk disamping Bu Risma, istri Pak Warta.

“Keputusan ada pada Zahra, namun berulangkali Zahra tetap menolak dan tetap yakin untuk berpisah,” sahut Pak Warta menghela nafas gusar.

Aku tersenyum tipis. “Tidak apa-apa pak. Semua sudah menjadi ketentuan-Nya, lagian … talak Muhammad sudah jatuh dan hari ini Zahra resmi bukan istri Muhammad. Adapun jika Zahra memerlukan biaya atau apapun mengenai kehidupannya dan anaknya … Muhammad siap bantu.”

Walau berat, akhirnya kata-kata itu berhasil meluncur dari mulutku. Pak Warta menepuk pundakku berkali-kali seraya mengulum senyum. Aku tentu membalasnya dengan senyuman manis.

Kini, sosok Zahra bukanlah istriku dan tak ada hak lagi bagiku menatapnya. Tak ada sepatah katapun baik aku atau Zahra yang menjadi perwakilan perpisahan antara kami berdua.

Aku berjalan gontai didampingi Pak Warta keluar dari rumah Zahra. Pak Warta tak henti-henti meminta maaf atas sikap Zahra. Para santri telah mengerumuni rumah Zahra, seraya menyalami takdzim untuk mengiringi kepergianku. Mungkin, inilah terakhir aku akan melihat mereka.

Pak Irwan menungguku didekat mobil di pelataran pondok. Aku tersenyum saat bertemu dengan Pak Irwan, untuk berpura-pura kuat tentunya. Tak banyak pertanyaan ataupun ucapan yang Pak Irwan utarakan. Kami bergegas masuk dan pergi melaju pulang. Bukan untuk pulang ke Depok atau Bandung melainkan ke pondokku, Malang.

***

Sesampainya di Malang, seperti biasa aku mengikuti serangkaian jadwal para santri. Setidaknya luka dan laraku hilang tatkala berbaur dengan mereka. Sebenarnya, ada seseorang yang ingin ku temui. Fahri, sahabatku.

Walau garisan kelelahan nampak diwajahku, namun Fahri tak sedikitpun bertanya-tanya. Kami fokus menatap orang yang berlalu lalang di alun-alun kota Malang dari kursi taman. Setelah jum’atan kami tak memutuskan langsung ke pondok, dikarenakan hari jum’at para santri libur dan ada sedikit waktu untuk bisa tenang.

Awalnya aku tak yakin untuk bercerita. Namun … hanya Fahri yang bisa mengerti bagaimana keadaanku. Aku mencoba menceritakan segala yang terjadi. Walau awalnya ia nampak tak percaya dan berkali-kali menggeleng pelan.

“Yakin sama keputusanmu Mad?” tanya Fahri seraya menatapku nanar.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Kenapa? Antum kan tau kalau perceraian yang paling dibenci sama Allah?”

Aku meliriknya seraya tersenyum tipis. “Bukan kemauan ana Fahri. Ana hanya ikut skenario aja.”

“Terus?”

Aku menunduk lemas. “Zahra yang mau itu. Setiap aku pulang ke Tasik, surat perceraian telah diatas nakas yang telah ditanda tangani Zahra. Aku mencoba menahannya dan terus menolak, tapi Zahra lebih keras dari yang aku duga. Setiap hari dia memintaku untuk tidak tidur seranjang, aku faham dan mengalah. Namun kemarin … aku merasa lelah dan … baiklah aku terima dengan lapang dada. Walau … jauh dari lubuk hatiku itu berat.”

Fahri menghela nafas berat seraya menepuk pundakku. “Lalu bagaimana dengan Amalia?”

Ku tatap pemandangan orang yang berlalu lalang didepanku, dengan tatapan kosong. Karena, tentunya pikiranku tengah menjelajah entah kemana.

“Aku belum menikahi Amalia sampai dia melahirkan. Lagian … dia masih harus berobat ke psikolog dan alhamdulillah … keadaanya membaik.”

“Kalau Aisyah bagaimana?”

“Aisyah masih di Depok nemenin Amalia. Usia kandungannya udah tujuh bulan. Alhamdulillah … kondisinya baik, walau sering pingsan.”

Seketika Fahri tersentak. “Emang kenapa?”

“Dia kekurangan hemoglobin, jadi sering pingsan. Terus, dia emang lemah kandungan juga. Tapi … aku salut. Dia selalu kuat apalagi untuk melindungi orang lain,” ucapku seraya mengulas senyum tipis.

“Semoga antum kuat ya Mad,” ucap Fahri dengan memberiku seulas senyuman.

“InsyaAllah.”

***

Satu minggu berlalu membuat lukakku sedikit mengering, sebelum pulang ke Depok. Aku beristirahat sejenak di masjid agung Malang untuk menunaikan shalat dzuhur bersama Pak Irwan. Setelah selesai, sejenak ku mainkan gawai untuk berselancar di media sosial di teras masjid.

Tak lama derap kaki anak kecil membuatku mengalihkan pandanganku kepadanya. Anak kecil kira-kira usia tujuh tahun tengah sibuk mencari botol plastik bekas minuman.

Aku mulai tertarik mendekatinya, perlahan aku mendekat dan menatapnya lamat seraya terus mengembangkan senyuman.

“Assalamu’alaikum,” ucapku.

Manik matanya menatapku, walau bibirnya masih terdiam.

“Mmm … lagi ngapain disana? Om … boleh ikut gabung gak?”

Perlahan ku mendekat, menatapnya sedikit membuat ulu hatiku nyeri. Pakaiannya robek dan lusuh, rambutnya ikal, dan kulitnya kusam.

“Mamahnya dimana?” tanyaku lembut.

Dia langsung menunjuk kepada wanita yang sedang menggunakan pakaian lusuh tengah mencari botol bekas di tong sampah sebrang sana yang tak jauh dariku.

Aku mengulas senyum menatap anak itu yang sedang berdiri didepanku. Untuk bisa sejajar dengannya, ku mencoba jongkok dan menatapnya.

“Mau jajan tidak? om ingin ajak dede jalan-jalan.”

Dia langsung menyengir, membuat hatiku terenyuh seketika. Ku hampiri perempuan yang disebut ibunya itu.

“Maaf bu, ini putranya?” tanyaku pelan.

Ibu itu hanya mengangguk sebagai jawaban.

Aku membuka tas selendangku seraya membawa uang lima lembar berwarna merah. Ku berikan kepada ibu itu seraya memberi seulas senyuman. Ibu nampak terkejut, bahkan beliau masih terdiam membisu.

“Terimalah bu … belikan apapun yang bermanfaat.”

Dengan gemetar tangan ibu itu menerima. Hingga air matanya menetes deras. “Terima kasih pak, terima kasih.”

“Sebenarnya saya ingin mengajak putra ibu jalan-jalan namun saya harus pulang. Ini untuk putra ibu,” kembali ku berikan tiga lembar uang berwarna merah. Kini deraslah, air mata ibu itu hingga bibirnya terus berucap terima kasih.

Aku hanya tersenyum sebagai jawaban.

***

Sudah hampir tiga hari aku fokus memperhatikan gerak gerik Aisyah. Perutnya kini telah membuncit membuatku tak sabar menanti buah hati kami. Terkadang dia sangat lincah bergerak membuat Aisyah tertawa riang merasakannya.

“Sayang … kamu mulai sesak gak? Kan itu dedenya udah besar,” ucapku seraya mengelus perut Aisyah yang membuncit.

“Alhamdulillah … sedikit. Lagian gak apa-apa dong kak, sudah menjadi resikonya,” balasnya seraya tersenyum lebar.

Seketika aku menatapnya lamat, mungkin apa yang di alami Zahra sama dengan Aisyah.

“Kakak kenapa?” tanya Aisyah dengan raut wajah cemas.

Aku menggeleng pelan. “Gak apa-apa sayang. Kakak cuman khawatir sama Aisyah.”

“Bagaimana dengan Zahra?” tanya Aisyah membuat hatiku tertohok seketika. Aku menunduk lemas. Sebenarnya, aku enggan berbicara untuk masalah ini terlebih dahulu. Namun, kondisi memaksaku. Lagian, Aisyah memang perlu tau segalanya.

“Kakak dan Zahra telah bercerai,” walau berat itulah kata-kata yang lolos dari bibirku.

Aisyah luar biasa terkejut, semburat kekhawatiran nampak pada wajahnya. “Innalillahi … kenapa bisa kak?”

Aku menggeleng pelan. Aku sendiri, tidak mengerti dan tidak tau jawaban yang tepat. Aisyah membelai rambutku lembut. “Sepertinya Zahra sangat tersiksa karena keputusan pernikahan kakak. Mengingat Zahra itu anak yatim piatu dan tentunya Zahra ingin perhatiannya kakak hanya tertuju kepadanya.”

Aku melirik sejenak sosok disampingku. “Kakak salah … kakak memang salah Aisyah.”

Seketika aku luruh dalam tangisan dan pelukan Aisyah. Tenggelam dalam pelukannya membuatku menyalurkan luka-luka yang aku tahan selama ini. Dengan lembut Aisyah terus mengusap punggungku seraya berucap sabar. Aku semakin terisak dan tak bisa apa-apa.

“Kita lihat kedepannya kak … ini talak pertama. Jikalau Zahra suatu hari ingin kembali, kakak bisa mengajukkan rujuk kepadanya. Aisyah akan selalu mendukung apapun yang terbaik untuk kakak,” bisik Aisyah tepat didaun telingaku.

“Seharusnya … disinilah Aisyah yang harus lebih terluka. Mengapa Aisyah selalu pura-pura kuat untuk kakak?” ucapku dengan terbata-bata.

Aisyah menggeleng pelan. “Kebahagian kakak adalah kebahagian Aisyah. Justru Aisyah bahagia … kakak bisa berbagi dengan adil. Diri kakak bermanfaat untuk wanita-wanita lemah seperti Aisyah dan Zahra.”

Aku mengurai pelukan dan menatapnya lamat. Manik matanya berkaca-kaca membuat ulu hatiku nyeri. Dia wanita terkuat, terhebat yang belum pernah ku temukan. Entahlah, hati apa yang tengah bersemayam didalam jiwanya.

Dengan lembut aku mulai mendekat dan mencium keningnya begitu lama. Menyalurkan gejolak luka dan rasa cinta yang begitu dalam nan suci terbungkus dalam jiwa.

Setelah menciumnya, aku melihat dua sudut bibirnya menarik senyum simpul yang membuat hatiku berdesir.

“Jangan pernah pergi ya sayang … tetaplah disamping orang lemah seperti kakak.”

Aisyah hanya tersenyum sebagai jawaban.

“Kakak akan selalu menunggu Zahra untuk bisa kembali. Kakak justru tak tega melihatnya … tapi katanya urusan Zahra dan pondok akan ditangani oleh Pak Warta,” jelasku seraya menghela nafas berat.

“Aku yakin Zahra tengah dalam emosi memutuskan semua ini. Kita ikuti alur kedepannya,” sahut Aisyah lembut.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. “Bagaimana dengan kondisi Amalia?” tanyaku seraya melirik kesana kesini mencari sosok Amalia. Kebetulan kali ini aku dan Aisyah tengah duduk di sofa ruang keluarga.

“Alhamdulillah … kondisinya baik dan kandungannya juga sehat. Sepertinya Amalia sedang istirahat,” seru Aisyah yang masih menatapku dengan senyuman manisnya.

“Alhamdulillah … berapa usia kandungannya sekarang?” tanyaku lagi.

Aisyah nampak berfikir sejenak. “Sepertinya lima bulan kalau tidak salah.”

“Berarti hanya berbeda dua bulan dengan Aisyah. Semoga semuanya sehat,” ucapku.

“Aamiin ….”

Aku baru sadar selama hamil Aisyah selalu menggunakan gamis abaya hitamnya. Baik sedang tidur atau tidak. Padahal aku begitu khawatir, bajunya membuatnya merasa tak nyaman. Dengan hati-hati aku mencoba ingin bertanya.

“Aisyah … kenapa pake gamis terus? Kan Aisyah bisa pakai daster.”

Aisyah memberiku seulas senyuman. “Gak apa-apa kok kak. Soalnya, kadang kalau sudah wudhu bisa langsung baca qur’an gak perlu lagi ganti baju. Lagian, kayaknya Aisyah harus lebih banyak bacain dede qur’an biar dede jadi anak sholeh gak kayak uminya.”

“Uminya? Sayang … jelaslah kamu itu sholehah. Pasti anak kita kalau perempuan kayak uminya,” seruku.

“Enggak kakak. Uminya masih suka males hehe,” Aisyah terkekeh membuat diriku mengikuti iramanya.

“Yang paling males ini abinya. Pokonya … dede harus lebih dari umi dan abi ya,” ucapku seraya mendekatkan ke perut Aisyah. Menirukan suara anak kecil yang seakan-akan ikut mengajak ngobrol bayi diperut Aisyah. Aisyah hanya terkekeh melihat tingkahku. Sungguh, hatiku terenyuh. Inilah kebahagian yang sederhana namun menghangatkan jiwa.

***

Kepergian Zahra tentunya menyisahkan puing-puing luka yang tak bisa disembuhkan dengan waktu sekejap mata. Namun, dengan sabar aku mencoba menjalani dan mulai menerima keadaan. Setiap hari waktu terasa cepat berlalu, hingga tak sadar dua minggu telah berjalan mengiringku.

Kini rumah di Bandung aku kosongkan, mengingat Amalia sendirian di Depok kami telah memutuskan untuk tinggal di Depok. Mba Lulu ikut datang ke Depok mengurus rumah, ada dua wanita hamil tentunya tak bisa diandalkan untuk mengurus rumah karena akan membuat kelelahan bagi keduanya.

Sementara kini jadwal tausiahku mulai padat. Bahkan tak jarang aku pulang larut malam atau bahkan subuh dini. Dengan setia, Pak Irwan selalu menemaniku setiap perjalanan antara wilayah. Menyebarkan ilmu Allah dan mengingatkan untuk terus berpegang kepada sunnah-sunnah yang dibawa Rasulullah. Sebenarnya, aku bukanlah guru bukan pula sebagai tauladan. Aku hanya sekedar penyampai, yang tidak pantas dijadikan contoh bagi siapapun, mengingat aku adalah pendosa hebat. Tauladan tetaplah harus berpusat kepada Rasul sebagai penyempurna akhlak manusia.

Setelah shalat ba’da isya berjama’ah sejenak aku mengobrol dengan warga. Tentunya, membahas ilmu dan tak jarang ada yang bertanya atau meminta do’a kepadaku. Hingga tak terasa obrolan kami sampai lupa waktu. Sekitar pukul sepuluh malam, kami berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Sesampainya didepan rumah, seketika langkahku terhenti. Melihat sosok yang mengundang laraku kembali. Iya, sosok Pak Warta keluarga Zahra mantan istriku datang ke rumah semalam ini. Tanda tanya besar dalam pikiranku mulai berjatuhan. Tak ingin terlalu menyimpulkan hal lain. Aku mendekat dan menyapanya.

“Assalamu’alaikum …”

“Wa’alaikumssalam warohmatullah. Alhamdulillah Muhammad ada,” ucapnya. Aku sedikit curiga, saat menatap semburat kekhawatiran tergambar diwajahnya.

“Ada apa pak?” tanyaku hati-hati.

“Dari tadi saya sudah datang ke sini. Tapi, kata orang rumah saya gak boleh masuk soalnya gak ada ustadz, katanya.”

Aku mengulas senyum tipis. “Tentu saja mereka tak akan mengundang masuk. Soalnya, semua hanya perempuan disini dan didalam ada istri saya. Istri saya tidak biasa bertemu laki-laki lain selain saya. Mohon maaf bapak harus menunggu. Mari kita masuk …,” seruku seraya melenggang masuk bersamaan dengan Pak Warta.

Aku mempersilahkan duduk Pak Warta diruang tamu. Setelah kami duduk, tak lama Indah datang membawa dua gelas minuman dengan jamuan lainnya.

“Silahkan Pak,” seruku seraya mengulas senyuman.

“Ada hal yang perlu bapak sampaikan kepada Muhammad,” ucap Pak Warta dengan wajah nampak gelisah.

“Iya. Tentang apa pak?” tanyaku.

“Tentang Zahra,” jawabnya seraya menatapku lamat.

Seketika hatiku mencelos. Membuat debaran kuat didalam dada. Namun sebisanya aku harus menahan apapun yang Pak Warta sampaikan. Ada apa tentang Zahra? batinku terus bertanya-tanya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here