Aisyah Mawarku #20

0
115
views

Gerimis


Pagi ini Aisyah telah sibuk membereskan barang-barangnya. Mengingat hari ini baik aku, Aisyah dan keluarga kak Ahmad akan pulang. Aisyah akan pulang ke Bandung, sementara aku akan pulang ke Tasik.

Aku dan Aisyah saling tak melempar suara, sibuk membereskan barang yang akan dibawa. Saking fokusnya, aku tak menyadari jika Aisyah telah selesai dan duduk diranjang sebari menatapku.

Aku menghela nafas panjang, setelah tas yang akan ku bawa telah siap. Seperkian detik gerak tanganku berhenti, saat menangkap sorot mata Aisyah yang terus melihatku.

Aku duduk disamping Aisyah diatas ranjang seraya menatapnya lamat. Sepertinya ada sesuatu yang ingin Aisyah sampaikan. Terlihat jelas dari sorot matanya.

“Ada yang perlu Aisyah sampaikan?” tanyaku seraya menghapus jarak antara kami berdua. Deru nafas Aisyah mulai bisa ku cium.

Aisyah menunduk. “Ada ….”

“Baiklah … katakanlah Aisyah,” ucapku lembut.

Aisyah kembali menatapku dengan tatapan yang nanar. “Bagaimana dengan Amalia? Apakah dia akan sendirian selamanya disini?”

Lidahku terasa kelu untuk berucap. Dadaku terasa sesak, mengingat jawaban lewat mimpi Aisyah belum aku laksanakan.

Aku menarik nafas dalam-dalam. “Entahlah … tapi, jikapun kakak menikahinya. Bagaimana dengan Aisyah?”

“Aisyah akan baik-baik saja.”

“Apakah tidak ada cara yang lain selain menikahinya. Jujur … kakak merasa berat melakukan semua itu. Mengingat Zahra dan Aisyah yang tengah mengandung,” lirihku seraya menunduk lemas.

“Aisyah tidak tau kak. Hanya … bagaimana bisa dia sendirian disini? Sedangkan jika Amalia berpergian keluar tentu tidak akan aman.”

Aisyah mengalihkan pandangannya dariku, menatap jendela kamar seraya meremas jari-jemarinya. “Aisyah sering memperhatikan Amalia. Entahlah … Aisyah hanya merasa dia sangat terluka. Dia sering menyendiri dan tak banyak bicara. Bahkan sejak kepergian umi dan abi Amalia selalu sedih dan terpuruk. Apakah ada yang tidak kita ketahui setelah kejadian buruk menimpa Amalia waktu itu?”

Aku menggeleng pelan dengan tatapan yang masih sama. Aisyah menatapku yang hingga akhirnya pandangan kami kembali beradu, namun Aisyah memberi jarak duduk antara kami berdua.

“Sebaiknya … kita harus mengetahui segalanya sebelum kakak dan Aisyah pergi dari sini.”

Aku mengernyit bingung.

“Aku akan coba bicara dengan Amalia ya kak,” ucapnya seraya beranjak dari ranjang dan melenggang keluar kamar.

Entahlah, aku memang tak pernah memikirkan Amalia. Bahkan, saat bersama Aisyah jangankan Amalia … memikirkan Zahrapun tidak pernah. Aisyah telah membuat ruang dan waktuku menetap padanya.

Aku berbaring diatas ranjang menatap lamat langit-langit kamar seraya menghela nafas berat. Aku mulai merasakan rindu kepada abi dan umi. Sebenarnya aku masih tak begitu yakin saat kehilangan mereka. Namun, takdir memaksaku untuk mempercayainya. Cairan bening kembali luruh dari pelupuk mataku. Walau sebisa mungkin cairan itu tidak keluar nyatanya tetap tidak bisa.

Tak lama, jeritan seorang wanita membangunkan. Aku beranjak berdiri dari ranjang dan bergegas keluar kamar. Aku berlari, saat mendapati suara jeritan itu berasal dari kamarku yang dipakai, Amalia.

Nafasku terengah-engah sesampainya di kamar Amalia. Namun, sesaat aku benar-benar langsung dibuat terkejut. Ketika netraku mendapati Amalia tersungkur dilantai seraya memeluk erat kakinya. Netraku melirik, mendapati Aisyah yang begitu ketakutan didekat pintu.

“Aisyah ada apa?” tanyaku panik.

Aisyah melirik kepadaku, tanpa jeda dia langsung berhambur memelukku. Aisyah mulai terisak didalam pelukkan. Aku yakin ini ada yang tidak beres.

Aisyah mengurai pelukan denganku, menatapku nanar. “Amalia depresi hebat kak.”

Aku tersentak, dengan mata yang membulat. “Kenapa bisa?”

“Amalia … hamil,” Aisyah menunduk lemas didepanku.

Nafasku terasa tersenggal. Jantungku merasa berhenti berdetak. Ada apa ini? Mengapa masalah kian datang bertubi-tubi dalam hidupku?

Aisyah menghampiri Amalia yang masih duduk tersungkur dilantai. Aisyah membelaian rambut Amalia lembut. Perlahan badan Amalia tak kembali bergetar, wajahnya mendongkang melihat Aisyah dan aku bergantian.

“Kita akan mencari jalan yang terbaik untukmu ya,” lirih Aisyah yang masih membelai rambut Amalia.

“Aku takut … mba,” ucap Amalia terbata-bata.

Hatiku merasa tercabik-cabik. Bagaimanapun kehadiran Amalia membuat ulu hatiku nyeri. Penderitaannya begitu bertubi dan silih berganti.

Aisyah menatap Amalia iba. Tanpa izin, Aisyah merengkuh tubuh ringkih Amalia ke dalam pelukannya. Aku terdiam membisu, menyaksikan mereka yang sedang terbalut luka.

***

Aisyah begitu mahir membuat Amalia tenang. Setelah kejadian tadi pagi, Amalia langsung istirahat setelah Aisyah menenangkannya. Aku menunggu Aisyah diruang keluarga, karena Aisyah masih berada di kamar Amalia. Ku mainkan handphone seraya menunggu kedatangan Aisyah. Namun tak lama derap kaki seseorang mendekatiku. Aku mendongkang, melirik seseorang yang datang. Ternyata Aisyah, dia duduk tepat disampingku seraya memberi seulas senyuman. Tentu aku membalas senyuman itu.

“Bagaimana?” tanyaku setelah Aisyah duduk.

“Apakah kakak akan menikahinya?”

Aku mengalihkan pandanganku ke benda pipih yang sedang dipegang. Hati dan akalku benar-benar menolak untuk semua kejadian ini.

“Kakak ….”

Aku masih menghiraukan sahutan Aisyah. Berpura-pura asik memainkan gawai dan berselincur di media sosial.

“Apakah kakak udah gak mau dengerin Aisyah?” aku langsung meliriknya spontan, ada embun dipelupuk matanya yang ku yakini embun itu akan turun dipipi cantiknya.

“Iya … ada apa Aisyah?” lirihku seraya menyimpan benda pipih itu dimeja. Kembali netraku menatapnya.

“Bagaimana dengan Amalia?”

Ku genggam kedua tangan Aisyah seraya menatapnya dan memberi seulas senyuman. “Kakak akan bicarakan dengan Zahra. Kalau itu keinginan Aisyah, kakak akan berusaha menerima dan menanggung semuanya.”

Aisyah menunduk, air matanya mulai berlinang membasahi pipi cantiknya. Dengan sigap, tanganku bergerak menyeka air matanya.

“Aisyah … kuatlah untuk hidup bersama kakak. Maafin kakak yang banyak memberi luka untuk Aisyah.”

Air mata Aisyah kian banjir seraya tak memberi suara. Aisyah mulai terisak dalam tangisannya. Ulu hatiku merasa nyeri melihatnya terluka, dengan lembut ku rengkuh tubuh ringkihnya ke dalam pelukan.

“Aisyah … akan disini dulu kak. Aisyah, gak tega pulang meninggalkan Amalia.”

Sebenarnya, aku kurang setuju Aisyah disini. Mengingat Aisyah sedang hamil. Apalagi Aisyah perlu banyak istirahat mengenai kandungannya yang lemah. Namun, apalah daya ini juga keinginannya. Lagian ada Indah yang akan mengurus semuanya. Aku mengangguk pelan sebagai jawaban.

Ku kecup pucuk kepalanya berulang-ulang. Memberikan ketenangan untuknya dan tentunya diriku.

‘Ya Rabb … bagaimana dengan Zahra? Mungkin Aisyah kuat. Tetapi, entahlah … bagaimana dengan Zahra,’ gumamku dalam hati.

***

Ku tatap lekat-lekat tawa renyahnya, senyumnya yang mempesona. Melihatnya sedikit membuat hilang rasa gugup yang tak menentu. Seperti biasa, aku dan Zahra sedang asik berbicara diranjang. Bukan hal romantis, tetapi mengenai hal-hal yang biasanya lucu dilakukan para santriwati. Perlu diketahui, Zahra termasuk wanita yang cerewet.

“Zahra seneng banget ya?” tanyaku seraya menyunggingkan senyuman.

“Iya mas, Zahra seneng banget. Apalagi waktu makan-makan sama Nia yang cerewet itu.”

“Cerewet? Zahra juga sama.”

Zahra mencebik kesal. “Enggaklah beda. Jangan disama-samain.”

Aku tertawa renyah saat mendapati wajahnya yang bringsut. Namun seketika tawaku terhenti, saat satu nama melintas dipikiran. Ya, hari ini aku ingin berbicara mengenai Amalia kepada Zahra. Walau sebenarnya aku tak sanggup, sangat tak sanggup.

“Zah?” seruku yang masih menatapnya lekat.

“Hmmm …”

Aku menelan salvina ragu. Menghela nafas panjang mencoba menghilangkan debaran didada.

“Bisa mas bicara serius sebentar?” lirihku.

Zahra menatapku tanpa jawaban. Melihat sorot matanya saja, rasanya aku tak sanggup.

“Zahra taukan Amalia?” tanyaku. Jelas saja, itu pertanyaan bodoh. Namun, entahlah hanya itu yang bisa menjadi awal perbincangan kami berdua.

“Iya tau lah mas. Kenapa?”

Aku mulai gusar tak menentu. “Amalia hamil.”

Seketika mulut Zahra menganga, matanya membulat. Aku yakin dia tak percaya.

“Terus gimana keadaannya?” tanyanya panik seraya memperdekat jarak denganku.

Ku genggam tangannya untuk menetralisir kegugupan yang melanda.

“Zahra mau gak nerima Amalia dikehidupan kita?” lirihku.

Zahra menatapku lamat. “Maksud mas?”

Aku berdehem seraya memalingkan pandangan melihat langit-langit kamar. Entahlah, melihat langit-langit seperti tempat jawaban yang tak bisa ku temukan.

Aku menghela nafas berat seraya kembali menatap Zahra lamat. “Zahra siap kalau mas kembali madu?”

Seketika raut wajah Zahra memanas dan bibirnya terdiam membisu. Dia langsung beranjak dari ranjang dan menerawang jendela besar dikamar.

“Kalau begitu ceraikan Zahra ….” ucapnya dengan suara parau. Walau samar, gendang telingaku benar-benar jelas mendengar Zahra meminta talak. Seketika jantungku berpacu dengan cepat, nafasku tersenggal, peluh bening mulai timbul dipelipisku.

Aku beranjak dari ranjang mendekati Zahra yang menghadap jendela. “Jangan seperti itu Zah … bukan maksud mas ingin seperti itu. Tapi …”

Belum sempat aku melanjutkan pembicaraan, Zahra telah memotongnya.

“Tapi apa? Tapi mas sayang sama Amalia? Apakah mba Aisyah sama Zahra masih belum cukup bagi mas?” tanyanya seraya sedikit menaikan volume suara membuatku kaku seketika.

“Astagfirullah … Zahra coba tenang sebentar. Dengarkan dulu maksud mas,” ucapku seraya menatap Zahra nanar dari belakang.

Zahra berbalik menatapku dengan tajam. “Istigfar … mas … apa yang harus Zahra dengarkan? Jelas! Semua ini udah jelas mas cinta sama Amalia.”

Tak enak hati mendapat bentakan Zahra. Ku cekal kedua pergelangan tangannya seraya menghimpitnya ke dinding. Deru nafas Zahra mulai gusar walau tatapannya masih tajam kepadaku.

“Mas sayang sama Zahra dan mas gak cinta ataupun sayang sama Amalia. Zahra … Amalia itu kondisi psikisnya sedang tidak baik. Lagian, dia tidak bisa sendirian di Depok,” jelasku seraya menatapnya. Pandangan kami beradu walau saling memancarkan ketajaman. Sebenernya, ulu hatiku nyeri. Benarlah dugaanku, berbicara dengan Zahra bukanlah solusi terbaik.

“Ohhh … jadi mas mau nikahin wanita gila? Hah?” bentaknya.

Hatiku melemah seketika, wanita yang ku sayangi ternyata mempunyai perangai yang buruk. Jauh … semua ini jauh sama sekali dengan Aisyah.

“Jaga ucapanmu Zahra,” ku lepaskan cekalanku pada Zahra dan berjalan gontai keluar kamar. Entahlah, harus kemana kaki ini melangkah.

Mataku menyapu mobil putih yang terparkir dipelataran pondok. Segera ku menaiki mobil yang ku bawa waktu pulang dari Depok dan melaju entah kemana. Hatiku masih teramat sakit saat mendapati Zahra yang begitu berontak. Walau sebenarnya, ini termasuk hal wajar. Namun, sepertinya … menikahinya adalah sebuah kesalahan.

Sepanjang jalan pikiranku menjelajah. Menahan hati yang mulai porak poranda menanggung derita. Aku mulai rindu umi dan abi, rasanya aku mulai tak sanggup menapaki kehidupan ini.

Ku berhenti dipinggir jalan, seraya melepas bulir bening dari pelupuk mata yang ku tahan sedari tadi. Ujian silih berganti berdatangan tanpa jeda.

Kini kesunyianlah yang menemaniku. Disambut dengan rinai hujan yang menjadi lukisan hatiku yang sedang gerimis. Berulang kali bibirku melafadzkan dzikir untuk memberi ketenangan jiwa yang sedang rapuh. Berharap ada kekuatan yang menjelma datang menata hatiku.

‘Umi … abi … ajaklah Muhammad. Muhammad sudah merasa tak sanggup untuk berjalan di esok kemudian,” lirihku dalam hati yang masih terisak dalam tangisan.

***

Langit gelap menyambutku, semilir angin menusuk ragaku. Walau berat, aku sudah putuskan untuk berusaha tenang tatkala bertemu Zahra. Perlahan ku buka daun pintu dan sedikit mendorongnya untuk masuk kamar.

Ku dapati tubuhnya yang sedang meringkuk diranjang dengan ditutupi selimbut tebal. Perlahan, ku beranjak seraya berbaring disampingnya. Ku peluk tubuh ringkihnya seraya mengecup pucuk kepalanya yang menyeruakkan wangi shampo yang ku suka.

Zahra masih terdiam tak membalas perlakuanku. Ku belai rambutnya yang indah, hingga tak sadar sudut bibirku melengkung sempurna.

“Maafkan mas ya Zah,” bisikku mendekati daun telinganya. Zahra masih tak berusik. Aku tau, Zahra mendengar ucapanku. Namun, Zahra memilih diam dan membisu.

“Jangan pergi dari mas, mas akan berusaha adil untuk semuanya. Percayalah, semua orang telah mendapatkan tempat dihati mas.”

Ku rengkuh tubuh ringkihnya untuk menghadap kepadaku. Matanya nampak sembab, mungkin telah banyak air mata yang keluar mewakili lukanya. Ku peluk erat tubuhnya seraya menenggelamkan kepalanya didada bidangku.

Zahra akhirnya terisak, badannya gemetar. Berulang-ulang ku kecup pucuk kepalanya seraya berucap maaf. Walau kata maaf itu tak akan bisa menghapus luka yang sudah terukir dihatinya.

***

Aku masih sibuk menatapnya yang tengah merias diri untuk mengajar. Walau hanya sebatas sayang, aku selalu kagum dan tertarik tatkala melihat wajah cantiknya.

“Jangan mengajar Zah … temani mas ya,” pintaku yang masih duduk diatas ranjang.

Zahra hanya terdiam membisu, menghiraukan pintaku. Sebenarnya, aku yakin dia masih marah. Namun, jika terus saling egois itu hanya akan memperburuk keadaan yang ada. Aku beranjak dari ranjang dan memeluknya dari belakang. Ku hirup dalam-dalam aroma wangi tubuhnya yang menenangkan.

“Tolong lepasin mas …” ketusnya.

Tanpa izin ku kecup pipinyanya dari belakang. Seketika ku dapati raut wajah zahra membeku. Tentu saja itu mengundang gelak tawaku.

“Gak lucu mas,” gerutunya seraya melepas paksa pelukanku.

“Baiklah jika Zahra tidak suka,” aku mengurai pelukanku padanya. Seketika Zahra melenggang pergi, namun insting jahilku muncul. Tepat saat Zahra akan keluar, ku cekal tangannya dan menariknya ke ranjang. Berulang kali Zahra meronta, namun tak ku lepaskan.

Akhirnya kami berbaring bersama diranjang dengan saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat. Hembusan nafas Zahra nampak gusar. Wajahnya nampak tegang. Tak ingin membuang kesempatan, ku raih dirinya tenggelam ke dalam pelukan. Berharap setiap sentuhanku dapat meleburkan amarah masing-masing kami berdua. Pagi ini, tentunya menjadi saksi pergulatan kami. Deru nafas yang beradu setidaknya menjadi ungkapan bahwa baik aku atau Zahra tak ingin saling melepaskan.

***

Zahra nampak malu-malu saat ku tatap wajahnya. Tentunya saja, dia malu dengan kondisinya yang sedang telanjang polos di balik selimbut. Ku kecup pucuk kepalanya, seraya kembali merengkuh tubuh ringkihnya.

“Gimana … Zahra gak mau kan tinggalin mas?”

Zahra menghela nafas panjang seraya memilin rambutnya. “Gak tau.”

Alisku menaut. “Kok gak tau? Harus jawab dengan pasti Zahra.”

“Beri Zahra waktu untuk berfikir,” lirihnya.

Aku menghela nafas berat seraya melepaskan pelukanku. “Baiklah. Tapi ingatlah Zah … ada anak kita yang beberapa bulan lagi akan lahir. Kita harus menyambutnya sama-sama.”

Zahra hanya terdiam membisu. Tak ingin memaksakan dirinya lebih dalam, aku beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here