Aisyah Mawarku #19

0
122
views

Jeritan Jiwa


Berulang kali Zahra memaksa ingin ikut ke rumah sakit namun aku tak mengizinkan. Zahra tak memahami betul, bagaimana diriku. Jangankan membawa orang lain ikut, sebenarnya tak kuasa aku pergi seorang diri.

Ditengah kegelapan seusai shalat isya, aku kembali meneruskan perjalanan seorang diri memecah keheningan. Sepanjang jalan tubuhku terasa gemetar, pikiran terbang entah kemana. Air mataku terus luruh, deras bak anak sungai. Tak bisa ku hentikan. Hingga aku akhirnya terisak dalam keheningan.

Menurut orang yang tadi menelpon, abi dan umi dibawa ke rumah sakit Cikampek. Keterangan tambahan, bahwa mereka kecelakaan di jalan tol Cikampek. Aku tak ingin mendengar lebih jauh penjelasannya sebelum aku sampai kesana.

Setelah melakukan perjalanan cukup jauh, tepat saat aku sudah sampai diparkiran rumah sakit. Bumi menangis, menguyur semua hirup pikuk orang yang masih berlalu lalang di depan rumah sakit.

Aku berlari menyusuri koridor, dengan perasaaan yang begitu menyesekkan. Mataku terus berembun, walau rasanya aku tak tahan ingin teriak, meraung, namun kekuatan yang Maha Rahman mengunci rapat bibirku agar tidak melakukan semua itu.

Perlahan langkah kakiku, gontai. Netraku menatap sosok yang pernah ku kenali, Amalia. Amalia menunggu diruang operasi. Seorang diri, dengan mata yang sembab dan wajah yang pucat. Perlahan aku mendekat, netraku berpaling ke arah pintu berwarna putih yang menjulang besar dan lebar. Lampu merah menyala disudut pojok dekat pintu.

Jantungku berdebar hebat, air mataku terus luruh. Aku mulai tak merasakan keseimbangan kali ini. Membiarkan jiwa diambang kelemahan. Aku ambruk didepan pintu itu, dengan badan yang gementar.

‘Umi … Abi … Ini Muhammad. Umi dan abi harus kuat ….’ rancuku dalam hati.

Tak lama derap kaki seseorang mendatangiku, ia kakakku Ahmad. Kak Ahmad spontan memelukku yang masih terduduk lemas didepan pintu dengan air mata yang berderai.

“Umi dan abi pasti kuat kok Mad,” seraya menepuk-nepuk punggungku.

Aku mengangguk pelan dalam pelukan kak Ahmad. Entahlah, tak bisa aku menjabarkan hati yang benar-benar hancur berantakan saat ini.

Sepanjang malam, aku tak ingin menutup mataku. Kak Ahmad memintaku istirahat namun aku enggan, akhirnya aku menurut untuk istirahat di mushola. Kak Ahmad dan istrinya, tentunya Amalia menunggu abi dan umi.

Ku mengambil wudhu untuk menenangkan hati, seraya melakukan shalat mutlak. Ku mengadu, mengeluh pasrah tak terkendali. Diatas hamparan sejadah merah, aku menangis dalam balutan do’a.

‘Ya Rabb …

Biarlah Muhammad yang terluka,

Biarlah Muhammad yang menderita,

Tapi Muhammad mohon,

Janganlah kepada kedua orang tua Muhammad,

Ya Rabb,’

Aku memekik dalam hati, menahan kesakitan yang tak bisa ku lukiskan dalam pena. Menahan luka yang tak bisa ku gambarkan dalam kertas.

Aku tersentak, Amalia datang ke mushola membangunku yang tengah berderai air mata diatas sejadah. Wajahnya begitu ketakutan luar biasa.

“Ada apa?” tanyaku terbata-bata dengan suara yang serak.

“Umi … Abi ….”

Tak pikir panjang, aku langsung beranjak dan berlari sekuat tenanga. Namun langkahku terhenti melihat kak Ahmad dan istrinya menangis terisak diruang tunggu.

‘Tidak … Tidak … Tidak ada apapun yang terjadi!’ batinku berceloteh.

Kak Ahmad meraung, tangisannya pecah didalam kesunyian ruangan. Lidahku terasa kelu untuk sekedar bertanya ada apa.

“Kamu kuat Mad, kita semua kuat …,” ucap Kak Syifa seraya menatapku sendu.

Aku masih terdiam memperhatikan semua orang termasuk, Amalia. Apa yang terjadi saat ku tak ada? Aku menjabak rambutku frustasi. Ku usap wajahku dengan kasar, menguatkan diri untuk sekedar bertanya apa yang terjadi.

“Ada apa?” suaraku parau. Berat rasanya walau hanya mengucapkan beberapa huruf itu.

“Abi … dan umi … Mereka tak selamat Mad,” lirih kak Syifa seraya menunduk lemas.

Aku tertawa hambar, aku yakin itu hanya lelucon saja. Tidak! Tidak mungkin abi dan umi meninggal. Itu pasti lelucon!

“Kalian jangan buat sesuatu yang lucu saat seperti ini!” dengan sisa-sisa tenaga ku naikan nada suaraku.

Kak Ahmad menggeleng pelan dengan posisi yang masih terduduk seraya menunduk lemas.

Kini, air mataku tak bisa lagi terbendung. Luruh, deras tak tertahan. Aku meronta, meraung di ujung ruang tunggu. Tubuhku bergetar, hatiku merasa tertohok, bahkan aku merasa jantungku tak lagi berdetak. Tidak! Aku tak bisa percaya dengan keadaan ini!

Tak lama pintu lebar itu terbuka, mendorong dua brangkar yang diatasnya malaikat kepunyaanku. Aku berlari, menahan brangkar itu agar tidak berjalan lagi.

Wajah yang selalu membuatku tenang, kini begitu pucat. Matanya terus menutup lelap. Tanganku mulai bergerak, meraba setiap inci wajahnya. Aku menggeleng keras, berita ini sungguh tak bisa diterima oleh akalku.

“Umi pasti cuman sakit kan? Ayo … kita pulang, Muhammad akan rawat umi dan abi,” rancauku yang masih menatap mereka bergantian.

“Tolong pak, ijinkan kamu secepatnya mengurus jenazah bapak dan ibu untuk segera dimandikan,” ucap seseorang yang memakai baju berwarna putih.

Spontan aku menatapnya tajam. “Tidak! Saya akan membawa mereka pulang! Saya tidak izinkan siapapun memandikan kedua orang tua saya selain saya!”

Mereka terdiam menatapku. Bergegas aku berlari, mengurus segala prosedur rumah sakit untuk membawa umi dan abi ke Depok. Dengan tangan yang bergetar, aku terus mentanda tangani beberapa berkas untuk membawa merek pulang.

Tak lupa, aku menghubungi Aisyah dan Zahra untuk datang ke Depok. Mereka tampak begitu terkejut dengan berita ini. Karena tak kuasa melanjutkan obrolan ini, langsung ku matikan secara sepihak.

***

Sepanjang perjalanan didalam mobil ambulance aku menangis seraya menatap kosong pemandangan disetiap perjalanan. Mobil yang ku pakai dibawa oleh Amalia. Sementara mobil yang Amalia bawa dari depok dibawa kak Syifa, dan kak Ahmad membawa mobil sendiri.

Aku masih diam diantara ketidak percayaan yang menggebu. Ku gigit ibu jariku untuk menahan luka demi luka. Hingga aku tersadar, aku tak boleh begini. Ku usap wajah dengan pelan dan melafadzkan beberapa kalimat dzikir.

Sesampainya di Depok, suara sirine ambulance membangunkan para tetangga yang mungkin tengah sibuk sarapan. Kedatangan umi dan abi di Depok sekitar pukul enam pagi. Dikarenakan mengurus data-data untuk membawa jenazah umi dan abi sangat lama, serta perjalanan yang cukup jauh.

Semua warga berkerumun, membantuku menganggkat jenazah abi dan umi memasuki rumah. Sementara ibu-ibu lainnya membantu menyiapkan beberapa keperluan lainnya. Bergegas, aku dan anggota keluarga mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu. Karena saat adzan subuh, kami sedang didalam perjalanan.

Aku mulai merasa lemah, tak kuasa berjalan mendekat kepada umi dan abi yang telah tertutup kain batik coklat di tengah rumah. Segera ku ambil yasin dan membaca dengan tertatih-tatih. Bulir bening kembali berlari menyusuri pipiku. Tak hanya pipi dan pakaian yang basah karena tetasan air mata, melainkan relung hati yang terasa banjir olehnya.

Semua anggota keluarga ku mulai berdatangan, entahlah siapa yang memberitahunya. Kami semua terisak bersama, memandang kondisi abi dan umi yang sudah tak berdaya. Hatiku menjerit luar biasa, ku gigit bibir bagian bawahku sehingga tak terasa ada tetesan darah yang keluar akibat gigitan itu.

Tak lama seseorang datang membangunkanku dari isakan air mata. Ia, mawarku Aisyah. Dengan lambat serta selang infus yang masih menempel ditangannya Aisyah menghampiriku setelah bersalaman dengan satu persatu anggota keluarga.

Pandangan kami beradu, tanpa suara aku langsung terjatuh memeluk di riba Aisyah. Kini, air mataku berderai hebat. Ku luapkan semua luka dan kesakitan yang ku tahan semasa di rumah sakit sampai rumah. Aisyah mengikuti ritmeku, kami terisak bersamaan. Dengan lembut, Aisyah membelai rambut di kepalaku.

“Sabar kak … Kuat,” itulah yang terus Aisyah katakan padaku. Namun aku tak bergeming, terdiam menangis sendu di ribanya.

“Kakak … gak rela Aisyah.”

Aisyah membiarkanku terdiam di ribanya, setidaknya semua itu memberiku sedikit tenaga untuk kembali bangkit. Namun aku tersadar, tangan Aisyah sedang dipasang infusan.

Aku menatapnya lamat, ada cairan bening dipelupuknya. Jari tangan Aisyah bergerak, mengusap lembut air mata diwajahku.

“Tanganmu tidak apa-apakan?” lirihku seraya menarik lembut tangan Aisyah.

“Tidak. Aisyah baik-baik saja. Biarkan Aisyah yang memandikan umi yah.”

“Lalu bagaimana dengan tangan Aisyah?”

“Biarkan infusannya dipegang oleh Indah, dan sebelah tangan Aisyah akan membantu memandikan umi.”

Tanpa izin, ku rengkuh tubuhnya ke dalam pelukan. Ku eratkan pelukanku seraya merancu tak jelas. Aisyah mengusap punggungku lembut, membuatku terbuai menangis sejadi-jadinya.

Tak lama Zahra datang, menyalami semua anggota keluargaku hingga Zahra bertemu dengan Aisyah untuk pertama kalinya dan begitupun sebaliknya. Bedanya, raut wajah Zahra nampak sayu sementara Aisyah tersenyum lebar dan memberikannya sapaan yang hangat.

Entahlah, hati apa yang bersemayam didalam tubuh Aisyah. Aku tersadar, hanya ada ketulusan didalam bola mata Aisyah. Walau aku tak yakin, hatinya akan kuat bertemu seseorang yang telah membuatnya harus berbagi.

“Maaf mba Aisyah,” itulah yang ku dengar dari suara lirih Zahra seraya menunduk didepanku dan Aisyah.

Aisyah tersenyum seraya memegang pundak Zahra. “Tataplah mba … Zahra,” Zahra menurut, pandangannya beradu dengan Aisyah. “Tidak ada yang salah disini. Mba senang atas hadirnya Zahra yang bisa merawat kak Muhammad.”

Entah aku harus kembali menangis? Menyalahkan diri sendiri? Atau memeluk Aisyah ?

“Lebih baik kita segerakan memandikan umi dan abi,” ucap Aisyah seraya bergantian menatapku dan Zahra.

Aku menangguk pelan.

Kami mulai beranjak berdiri, menganggkat abi dan umi bergantian dibantu dengan warga sekitar serta anggota keluarga. Aku, Kak Ahmad, dan anggota keluarga memandikan abi. Sementara Aisyah, Zahra, Amalia dan dibantu anggota keluarga lain memandikan umi.

Aku terus menangis seraya tangan yang bergerak memandikan abi. Walau sebenarnya aku tak kuasa, tetapi inilah bakti terakhirku kepada abi.

***

Ku tatap gundukan tanah yang bertaburan bunga mawar dan bunga lainnya. Aku terduduk lemas, seraya mengusap pelan kayu nisan yang tertera nama abi dan umi. Sudah hampir satu jam, aku tak beranjak pergi. Rasaku masih berat meninggalkan abi dan umi.

Aisyah mengusap punggungku lembut, seraya memberi seutas senyuman padaku. “Ayo kita pulang kak.”

Walau berat aku mengangguk pelan, Zahra menatapku nanar melihatku dengan Aisyah yang berjalan saling berdampingan. Meski ku tau ini berat, tapi apalah daya mengontrol jiwa, aku pun tak bisa.

Sesampainya di rumah Zahra izin pulang ke Tasik bersama beberapa santri khidmah. Aku mengangguk mengizinkan ia pulang, Zahra menyalamiku takdzim. Tak lupa, ia bersalaman dengan Aisyah. Kini perawakan Zahra tak lagi ku lihat. Mobil berwarna putih telah membawanya melaju pergi.

***

Setelah pembacaan surat yasin bersama warga dan anggota keluarga, aku berjalan gontai ke kamar. Dari kemarin, aku tak tidur. Walau merasa lelah, entah kenapa mata ini enggan terlelap. Aku masuk ke kamar tamu, karena kamarku telah digunakan Amalia sejak dia tinggal disini.

Aisyah menyusul masuk ke kamarku, pandangan kami bertemu. Aisyah mulai mendekat, menaiki ranjang dan ikut berbaring disampingku. Tangannya bergerak, mengusap lembut rahang kekarku. Hingga, derai air mataku kembali keluar.

“Aisyah … apakah Aisyah akan meninggalkan kakak?” dengan suara yang parau aku membuka suara.

Aisyah terdiam tak menjawab.

“Kakak hanya tak bisa membayangkan jika suatu hari Aisyah meninggalkan kakak, kakak lebih baik kehilangan segalanya … tapi tidak untuk Aisyah.”

Aku menghela nafas berat, seraya memandang langit-langit kamar berchat putih dengan ukiran disetiap ujungnya.

“Jika ada pilihan dimana Aisyah atau kakak yang pergi, kakak lebih memilih untuk pergi. Karena kakak tidak akan sanggup untuk Aisyah tinggalkan.”

Aisyah menarik lembut daguku sehingga pandangan kami kembali beradu. “Jika kakak pergi … Aisyah akan lebih menderita. Walau sebenarnya kita tidak tau siapa yang akan pergi terlebih dulu … percayalah, baik hati Aisyah atau kakak tetap menyatu diantara ruang dan waktu.”

Ku kecup kening Aisyah dengan begitu lama. Menyalurkan cinta yang selalu tumbuh setiap harinya. Tak pernah berkurang ataupun mencair. Semua tetap utuh, terbungkus dan tertata rapih diulu hati.

Ku mengurai kecupan dikening Aisyah, menatap lamat netra Aisyah yang selalu cantik dan indah.

“Jangan pernah tinggalkan kakak … jikalau nanti Aisyah pergi, berdo’alah agar kakak ikut pergi ….”

Aisyah memberiku kecupan hangat dibibirku. Walau debaran kuat terus menyeruak, entah kenapa air mataku malah terus berderai tanpa jeda.

“Jangan begitu … tetaplah kuat kak. Aisyah ataupun kakak akan baik-baik saja ….”

Aku menenggelamkan kepalaku dalam pelukan Aisyah. Seraya merasakan debaran-debaran didalam dada. Ku hirup aroma tubuh Aisyah yang menenangkan jiwa. Hingga akhirnya aku terpejam dan terlelap.

***

Kedatangan Aisyah ke Depok tentunya menjadi kekuatan bagiku. Serta kehadiran Kak Ahmad dan istrinya memberiku sedikit ketenangan. Katanya sampai acara tujuh hari umi dan abi, Kak Ahmad tidak akan pulang.

Aku telah membawa Aisyah ke dokter setempat untuk memeriksa kondisi Aisyah. Katanya, kondisi Aisyah telah membaik dan telah mencopot selang infus ditangannya.

Kami berdua menikmati teh hangat didepan teras rumah seraya menghirup kesegeran udara dipagi hari. Wajah Aisyah nampak lebih sehat seiring berjalannya waktu.

“Aisyah … kakak, ingin punya anak yang banyak bersama Aisyah.”

Aisyah melirikku, dengan wajah yang cukup terkejut . Melihatnya kaku, itu sangat menggemaskan. Ku simpan gelas teh dimeja dan beranjak bangun mendekati Aisyah yang terduduk.

Aisyah masih menatapku penuh tanya. “Maukan menjadi ibu dari anak-anakku?”

“Kan sebentar lagi Aisyah juga bakal jadi ibu.”

“Tapi … kakak pengen punya anak yang banyak.”

Aisyah membulatkan mata, dengan spontan langsung ku cium bibir ranumnya walau hanya sebentar.

“Kakak … ini diluar,” gerutunya.

Aku terkekeh seraya kembali duduk dikursi. “Gak apa-apa … kakak mau nya sekarang soalnya.”

“Mau apa?” nada suara Aisyah sedikit tercekat. Aku yakin dia sedang gugup sekarang.

“Ya … pengen bibir Aisyahlah,” jawabku enteng.

Aisyah melirik menatapku, tanpa segan tanganya mencubitku pelan.

“Awwww … sakit dong sayang. Sebagai gantinya … karena mencubit kakak. Mas pengen jatah malam nanti atau sekarang aja ya,” tanganku bergerak seraya berfikir.

Tanpa izin ku membopong tubuh Aisyah ke kamar. Aisyah terhenyak, tangannya memukul-mukul dada bidangku pelan. Aku terkekah melihatnya. Membuat debaran kuat menjalar didada.

Segera ku baringkan Aisyah dengan pelan, dan bergegas menutup pintu dan menguncinya. Aku menaiki ranjang dengan terkekeh. Bukan apa-apa, lucu luar biasa melihat wajah Aisyah yang panik.

“Muka kamu kenapa Aisyah?”

“Ihh … kakak aneh deh ah,” wajahnya gusar entah kenapa. Membuatku terdiam beberapa saat menatap lamat netranya.

Perlahan ku raih tangannya, ku genggam erat tangannya agar Aisyah terdiam dan tenang. Dengan beberapa do’a yang ku rapalkan, Aisyah terpejam seraya meng’aminkan do’aku.

Tanganku bergerak, melepas kerudung fasmina yang melekat di kepala Aisyah. Rambutnya kini tergerai indah, aku menciumnya seraya menyesap harum yang menggairah.

Gerimis turun membuat suasana teras mendominasi pergulatanku dengan Aisyah. Dengan bismillah, ku kembali menyentuh setiap tubuhnya tanpa sisa. Meninggalkan setiap tanda cinta dikulit putih mulusnya. Dengan berharap, setiap sentuhan menjadi pelebur dosa dan menjadi ladang pahala yang tercurah atas ridho-Nya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here