Aisyah Mawarku #17

0
149
views

Bodoh


Dalam gelap ku merintih, mengadu kepada sang Maha Rahman. Berharap belas kasih serta kelapangan hati. Air mataku terus berlari menetes di sejadah.

Walau berat, aku akan mengambil keputusan kali ini. Setelah shalat subuh, aku menunggu kehadiran Amalia untuk membicarakan perihal yang semalam terjadi.

Amalia bersama umi mendatangiku dengan gontai. Wajah Amalia nampak begitu sendu, aku tau dia terluka hebat. Tak sedikitpun aku menatapnya, menatap keramik dibawah lebih menenangkan daripada menatap yang bukan mahram. Abi menepuk pundakku seraya duduk di samping.

“Nak Amalia … bagaimana sudah baikan?” Tanya abi lembut.

Amalia tak membuka suara, ia hanya mengangguk pelan.

“Alhamdulillah. Mohon maaf nak, jika kami harus ikut campur berbicara kepadamu. Namun … bisakah kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi semalam?” Tanya abi lagi.

Aku menatapnya ragu namun hanya sebentar, Amalia tampak menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk memberinya tenaga.

“Bismillah … Kemarin malam saya begitu senang akan ikut haul ke Jakarta, bersama para ustadz dan beberapa santriwati yang lain. Namun saat di sana saya sangat haus, saya coba ajak Sinta tetapi dia mau shalat dzuhur dulu. Saya benar-benar haus saat itu … jadi saya putuskan untuk keluar mencari warung. Saya duduk didepan warung menikmati minuman yang saya beli … tapi …”

Aku masih mendengarkannya dengan seksama, namun suaranya kian terasa serak. Aku menatapnya sebentar, dia tertunduk, badannya gemetar.

“Aku bertemu dengan Pak Alfa, dia adalah … Orang yang selalu memakai saya setiap malam. Tanpa belas kasih dan penuh dengan siksaan. Saya lari … Namun karena saya pakai gamis, saya terjatuh dan … Akhirnya saya ditarik paksa masuk ke mobilnya. Saya di bawa ke hotel setelah itu … Dia gila, dia seperti monster saat itu … menyerang saya, merobek pakaian saya, meniduri saya tanpa ampun. Saya takut …”

Amalia begitu tertekan, tangannya menarik pakaiannya, Jeritan demi jeritan terus keluar bersamaan dengan air mata kepedihan. Aku, abi, dan umi ikut panik. Amalia mengamuk. Berulang kali umi menenangkan namun sulit hingga akhirnya tangan umi terluka karena cakarannya.

Akhirnya, dalam kondisi mendesak aku memohon abi umi dan abi untuk memegangi Amalia. Ku rapalkan beberapa do’a dan sedikit menekan bagian tubuhnya di pundak agar ia lemas. Tak lama, Amalia pingsan. Bergegas kami menidurkannya di sofa.

“Mad … Bagaimana ini Mad?” Rancau umi seraya terus mengusap lembut pucuk kepala Amalia.

Aku terdiam membisu. Betapa pedih melihat korban pelecahan yang secara langsung berada didepan mataku. Aku mengusap kasar wajahku seraya beristigfar.

“Mad, coba kamu bilang kepada Aisyah atas semua ini,” seru abi menatapku nanar. Aku masih terdiam dan membisu. Mencoba memikirkan segalanya tanpa dengan menyakiti siapapun.

“Umi apakah Amalia boleh tinggal disini?” Aku terduduk lemas di sofa seraya menatap umi iba. “Aku tak yakin akan menikahi Amalia. Aisyah dan Zahra sedang hamil muda, aku khawatir kepada mereka. Biarkan Amalia disini. Apakah boleh?”

Umi tampak melempar pandangan kepada abi. Namun abi hanya tersenyum. Apakah mungkin mereka mengizinkan?

“Baiklah Mad. Lagian kasian jika Amalia harus ke pondok, dia akan trauma di sana,” tutur umi menatapku seraya menyunggingkan senyuman.

“Iya umi. Itulah pikirku. Muhammad janji setiap sebulan sekali akan menengok keadaan Amalia dan memberinya segala keperluannya. Jika Amalia butuh sesuatu katakan kepada Muhammad saja umi, dan biarkan dia menempati kamar Muhammad.”

“Iya Mad. Kamu tenang saja, jagalah kondisi Zahra dan Aisyah.”

“InsyaAllah umi.”

Tentunya melegakan. Walau aku tau, tak selamanya dia akan disini. Waktu demi waktu pasti Amalia akan butuh seseorang, entah itu aku atau suaminya. Berusaha tenang, inilah saatnya.

***

Aku sudah izin ke Pak Irwan untuk membawa mobilku pergi ke Tasik. Zahra pasti cemas aku tak pulang sejak dari kemarin. Beberapa panggilan masuk aku hiraukan. Bukan marah, hanya ingin memberi pelajaran agar Zahra bersikap dewasa.

Sepanjang perjalanan, aku memikirkan Amalia. Bukan karena rasa atau ketertarikan. Hanya.. aku tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya dia saat ini dan kemarin. Dunia ini memang keras … Tak bersahabat dengan manusia. Untuk sementara waktu, akan ku biarkan ia tinggal bersama umi dan abi. Disana dia pasti terjaga. Aku yakin itu.

Sesampainya di pondok, netraku menangkap sosok Zahra yang sedang melamun di kursi teras rumah. Wajahnya begitu sendu, dan sedikit pucat.

“Assalamu’alaikum,” ucapku seraya berjalan mendekatinya.

Zahra terperanjat kaget, matanya membulat melihat aku yang sedang berdiri didepannya.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah, Mas” Zahra berhambur memelukku hingga air matanya luruh.

“Mas kemana aja? Zahra khawatir … Zahra kangen mas,” ucapnya seraya tersedu-sedu.

“Maafin mas ya Zah. Mas kemarin ngurusin Amalia. Dia telah dilecehkan oleh seseorang Zah.”

Zahra mengurai pelukannya dan menatapku, mulutnya mengangga, tak percaya.

“Innalillahi … Ya Allah mas, lalu dimana Amalia?” Tanyanya panik.

“Dia dirumah umi di Depok Zah. Mas gak mau dia mondok lagi. Mas rasa disana dia jauh lebih tenang dan aman. Apalagi … Setelah kejadian itu sepertinya dia sangat terpukul.”

Zahra mengangguk pelan, “Mas tapi gak apa-apakan?”

Aku memberinya seutas senyuman, “Enggak Zah mas baik-baik saja. Yaudah kita masuk yuk, mas cape banget nih Zah.”

Zahra tampak antusias berjalan masuk beriringan denganku. Bahkan sebelum masuk kamar dia sudah banyak bertanya, udah makanlah, udah mandilah semuanya dia tanyakan. Tak ingin membuatnya terus bertanya, ku tarik tangannya untuk menemaniku berisitirahat di ranjang.

***

Hampir dua bulan semua terasa mudah ku lewati, usia kandungan Zahra sudah berjalan dua bulan dan usia kandungan Aisyah sudah mau berjalan ke tiga bulan. Tentunya itu sangat membuatku bahagia, setiap hari begitu tak sabar menanti mereka yang akan hadir menemani kehidupanku.

Namun aku kembali dihadapkan penderitaan yang berliku. Pagi tadi, aku dapat kabar dari mba Lulu jika Aisyah jatuh sakit. Aku begitu panik seketika, nafasku tersenggal, dadaku terasa sesak. Untungnya hari ini memang jadwalku pulang ke Bandung.

Aku menancap gas begitu tinggi, memecahkan kesunyian dipagi buta. Tak sabar, aku ingin menemui kekasih tercinta. Saat aku pulang, Aisyah memang selalu sakit karena kandungannya sangat lemah. Namun, kata mba Lulu hari ini lebih parah dari hari yang lain.

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, tepat pukul delapan pagi aku sampai. Bergegas aku lari masuk rumah, dan mengetuk kamar Aisyah. Tanpa menunggu Aisyah membukanya, aku langsung membuka pintu kamar.

Rasanya jantungku benar-benar terasa tak berdetak, Aisyah terkujur lemas di atas ranjang. Wajah begitu pucat. Aku berjalan gontai mendekatinya. Akalku terus menolak jika Aisyah sakit.

Perlahan ku naik ke atas ranjang, duduk disampingnya seraya menatapnya lamat.

“Sayang … Bangun yu sayang, kakak sudah datang …” lirihku bersamaan dengan air mata yang ikut menetes.

“Sayang … kakak kangen, sayang kangen gak sama kakak?” Ku cium setiap sudut wajahnya.

Tak lama Aisyah membuka kelopak matanya. Aku tak pernah tau, bagaimana bisa Aisyah tersenyum saat melihatku dalam keadannya yang begini.

“Sayang … mas udah dateng kita ke rumah sakit ya,” seraya mendekatkan bibirku ke daun telinganya.

Aisyah menggeleng lemah.

Aku beranjak keluar, memanggil Indah dan Mba Lulu. Mereka yang sedang sibuk menyiapkan makanan, terpaksa harus menemuiku dulu. Mereka menunduk tak berani melihatku.

“Mba Lulu dan Indah, tolong carikan dokter atau bidan yang bisa dibawa ke rumah,” titahku.

Tanpa membantah, mereka langsung berlalu keluar rumah. Aku kembali duduk di samping Aisyah.

“Sayang … makan dulu yah. Pasti kamu belum makan kan?” Tanyaku. Berulang kali aku menahan air mataku, nyatanya semua menolak. Hingga satu bulir air mataku harus menetes tepat di kening Aisyah.

“Maafin kakak sayang …” ucapku lirih seraya mengecup kening Aisyah lembut.

Aisyah masih tak membuka suara. Aku yakin dia sangat lemah dan menderita. Ya Allah.. berilah kesakitan Aisyah padaku, asalkan jangan kepadanya.

***

Cukup lama menunggu kedatangan dokter yang telah dipanggil mba Lulu dan Indah. Namun tak lama, bel rumah berbunyi. Mba Lulu bergegas membukakannya. Aku memperhatikannya seraya duduk disofa, ternyata dokter. Untungnya juga dia seorang perempuan.

“Silahkan dok masuk,” aku mengajaknya masuk ke kamar untuk mengecek kondisi Aisyah. Dokter bergegas mendekat kepada Aisyah dan memeriksanya dengan teliti.

Dokter berdiri, aku yakin dia ingin membicarakan sesuatu kepadaku.

“Alangkah baiknya istrinya harus dibawa ke rumah sakit. Kondisinya sangat lemah pak,” dokter menatapku nanar.

Aku tampak gundah, membiarkan Aisyah di rumah tentu hanya akan menyakitkannya. Namun aku enggan Aisyah dirawat karena tempat itu tidak akan membuat Aisyah nyaman.

“Dok … bisakah jika Aisyah dirawat di rumah. Mmm … maksud saya, bisakah dokter kesini setiap hari mengeceknya, saya ingin dia di rawat dirumah.”

Dokter nampak menimang-nimang perkataanku namun tak lama dokter mengangguk setuju.

“Saya akan membeli infusan serta keperluan istri bapak, setelah itu saya akan kembali lagi kesini dan ada beberapa obat yang harus dibeli,” seraya memberiku kartu namanya. “Ini kartu nama saya, bapak bisa panggil saya jika perlu dan maaf … apakah tidak apa-apa dirawat di rumah karena … biayanya cukup mahal.”

“Itu tidak keberatan bagi saya, yang terpenting istri saya nyaman dan kembali sehat.”

“Baiklah … saya permisi pak,” seraya melenggang pergi keluar.

“Iya dok.”

Berapapun biaya yang akan aku keluarkan semua itu tak sebanding apa-apa dengan hati yang Aisyah korbankan. Apapun akan ku lakukan untuk Aisyah. Aku berjalan gontai masuk ke kamar, seraya menaiki ranjang dan ikut berbaring menemani Aisyah.

Ku tatap wajahnya yang pucat itu, seraya mengelus pipinya lembut. “Sayang … kamu makan dulu ya. Kakak akan buatkan bubur.”

Aisyah masih enggan membuka kelopak matanya. Dengan lembut ku bangunkan dia, walau hatiku perih karena harus mengganggunya. Perlahan kelopak mata Aisyah terbuka, dia menatapku sendu.

“Makan ya sayang … kakak mau bikinin bubur.”

Aisyah hanya terdiam tak menjawab.

“Jika diam itu artinya mau,” aku beranjak dari ranjang dan pergi ke dapur.

Aku mulai berkutat membuat bubur dengan toping ayam suir. Bubur ini lebih lembek dari sebelumnya, karena aku yakin Aisyah sangat lemah tak bisa banyak mengunyah. Bersamaan dengan tanganku yang terus mengaduk bubur, disaat itu juga air mata mengalir dari pelupuk mataku.

Ulu hatiku nyeri. Betapa menyakitkan, mawar kesayangangku harus melayu saat aku pulang. Betapa bodoh dan hinanya aku, membiarkannya malang sendirian.

Akhirnya, aku hanya mampu terisak dalam sepi. Merutuki diri yang bodoh tak bisa merawat kekasih hati. Aku hanya bisa berharap, sakit itu berpindah kepadaku, sekarang.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here