Aisyah Mawarku #16

0
124
views

Kesalahan


Ba’da dzuhur aku sampai di pelataran pondok pesantren. Bergegas aku masuk ke rumah, untuk sekedar ingin beristirahat sejenak.

Aku sedikit tersentak, melihat Zahra yang sedang mematung diambang pintu seraya memberikanku senyuman manisnya. Alisku menaut, “Ada apa Zah?” Tanyaku ragu.

Zahra memberiku sebuah alat pengecek kehamilan. Deg.. garis dua terpampamg jelas disana. Dadaku menghangat, segera ku tarik Zahra ke dalam pelukan.

“Alhamdulillah Zah… Alhamdulillah..” ucapku berulang-ulang.

Bibirku terus mengembang, betapa bahagianya mendapat karunia dalam kondisi yang bersamaan, dimana Aisyah dan Zahra sama-sama tengah hamil muda.

“Mas seneng gak?” Celetuknya seraya mengulum senyum.

Aku mengangguk cepat, “Seneng Zah .. alhamdulillah. Allah titip amanat pada mas dan Zahra.”

Sebenernya aku ingin berkata kebahagianku yang lain, tentang Aisyah yang sama-sama tengah mendangung. Tetapi tabiatku tak suka membahas seseorang didepan orang lain. Terutama Zahra, sifatnya yang sangat kekanakan. Dia jelas akan cemburu mendengarku membahas Aisyah.

“Mas, Zahra pengen jalan-jalan dong,” sahutnya seraya mengurai pelukanku.

Aku menghela nafas dengan gusar, seraya menimang-nimang┬ákata demi kata yang siap ku katakan, “Ada hal yang penting hari ini Zah, kita masuk dulu untuk duduk. Aku ingin berbicara sesuatu..”

Zahra hanya terdiam walau wajahnya sudah mulai beringsut, dia mengikutiku duduk ditepi ranjang.

“Ada sesuatu yang harus aku ceritakan padamu..”

Aku mencoba menceritakan segalanya tentang Amalia dari mulai kami bertemu hingga kejadian saat dikampus malam itu. Zahra nampak sedikit terhenyak, mendengar setiap kata demi kata yang keluar dari bibirku.

“Ya Allaah.. kasian banget ya mas. Yaudah, gak apa-apa dia mending mondok aja disini daripada nikah sama mas,” sahutnya santai.

“Iya.. sepertinya dia akan sampai sore nanti.”

“Mas sudah cerita ke mba Aisyah?” Tanyanya.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku tak mungkin menjelaskan perihal jawaban Aisyah mengenai pemikiranku untuk memondokan Amalia.

“Mas, dedeknya mau dicium sama abinya,” Sikap Zahra memang selalu manja hal itu tak membuatku kaget.

Aku turun dari ranjang, menghadapkan diri tepat didepan Zahra. Wajahku mendongkang, seraya mencium perut Zahra yang masih datar. Dalam hati, ku panjatkan do’a-do’a terindah. Aku akui, rasaku semakin tumbuh seiring berjalannya waktu. Zahra masih belum bisa menduduki rasa cinta yang hanya terpahat satu nama saja, Aisyah. Tetapi rasa sayang, selalu terus mengembang.

***

Aku dan Zahra siap menyambut Amalia yang sudah berjalan masuk dari gerbang pondok. Dia hanya memakai fasmina hitam, celana jeans hitam, serta baju hitam dan memakai masker.

Amalia mulai masuk ke dalam rumahku, disambut hangat oleh Zahra. Tak lama, seorang santri khidmah memberi jamuan kepada Amalia.

“Maafkan saya ustadz, saya jadi merepotkan..” suaranya lirih seraya terus menunduk tak berani menatapku.

“Tidak apa-apa Amalia. Semua itu sudah menjadi kewajiban sebagai saudara semuslim.”

Zahra hanya mengamati pembicaraan kami tanpa membuka suara. Ku amati Amalia sepertinya tak punya apa-apa untuk dibawa kesini, dia hanya membawa tas selendang kecil.

“Zahra kamu punya berbagai baju gamiskan? Tolong berikan pada Amalia,” titahku.

“Oh iya ada mas, Zahra ambilkan dulu.” Zahra beranjak meninggalkan ku dan Amalia di ruang tamu. Suara derap kaki tak lama terdengar nyaring, rupanya Zahra telah datang. Dia membawa beberapa pasang baju gamis dengan berbagai warna serta kerudung yang senanda.

“Amalia.. ambillah ini,” sahut Zahra seraya memberikan pakaiannya.

“Terima kasih ustadzah.”

“Sama-sama Amalia, saya antar kamu ke kobong ya. Mas.. Zahra mau nganterin dulu Amalia ya,” aku mengangguk seraya memberi senyuman.

Mereka mulai beranjak keluar meninggalkanku diruang tamu. Seharusnya aku merasa tenang, tetapi justru aku merasa cemas. Karena, nyatanya kejadian ini dilakukan dibelakang Aisyah.

“Maafkan aku Aisyah,” gumamku dalam hati.

***

Sudah dua hari Amalia tinggal dipondok, dan sudah dua hari juga Zahra sangat rewel dan manja. Dia tidak ingin aku tinggal walau hanya mengambil makanan di dapur. Sepanjang hari Zahra terus mual dan pusing. Zahra terus memintaku disampingnya setiap saat. Padahal banyak sekali kelas yang harus aku isi.

“Mas.. luangin dong waktu buat Zahra. Mas itu gak sayang ya?” Rengeknya diatas ranjang.

Aku tak menggubris rengekkannya. Sudah setengah jam santri kelas enam pasti menunggu kedatanganku. Aku bergegas menyiapkan kitab dan merapihkan gamis serta peciku.

“Mas dengerin Zahra gak sih?”

Aku melirik, menatapnya seraya terdiam membisu.

“Yaudah sana keluar.. sana. Mas gak sayang sama Zahra,” Zahra langsung menarik selimbut menutupi seluruh tubuhya. Tak lama isak tangis nyaring terdengar.

Aku berjalan mendekati Zahra yang tertutup selimbut. Ku kecup kepalanya sesaat dan langsung bergegas keluar.

***

Pak Irwan kembali menjemputku untuk mengisi kajian di Ciamis dan Banjar. Walau Zahra tak lagi marah kepadaku, tetap saja wajahnya masih ditekuk. Perlahan ku menghela nafas, melihatnya yang masih asik menyisir rambutnya di depan cermin.

Perlahan ku mendekatinya, berdiri tepat dibelakang seraya memegang pundaknya, “Zahra jangan kemana-mana ya, mas harus ngisi dulu tausiah di Ciamis dan Banjar, jadi sepertinya akan sore entah malam pulangnya.”

Tak ada jawaban apapun dari Zahra, dia tetap serius menyisir rambut.

“Zahra masih marah sama mas?” Tanyaku lembut seraya berbisik mendekati daun telinganya.

Zahra menggeleng pelan, tak sedikitpun ia membuka suara.

“Baiklah, mas harus berangkat dulu. Cup…” Ku kecup pucuk kepalaya seraya melenggang pergi keluar kamar. Aku menghela nafas panjang, nyatanya Zahra masih marah bahkan dia lupa menyalamiku.

Ingin rasanya aku membandingkan Zahra dengan Aisyah. Tetapi, semua itu hanya akan menambah luka bagi Zahra dan tentunya perasaan sayangku akan terus mengikis jika terus menilai mereka. Alangkah baiknya aku bijaksana, menerima dengan tulus. Sebagaimana mereka menerimaku apa adanya. Lagian, Zahra ataupun Aisyah tetap harus memiliki perhatian yang sama.

***

Perjalanan, ke Ciamis berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Kami kembali melakukan perjalanan ke Banjar. Namun, ada yang mengganjal dihatiku. Sedari tadi entah kenapa perasaanku tak enak. Apakah karena aku tak bilang perihal Amalia kepada Aisyah? Atau mengenai Zahra?

Setelah tausiah di Banjar sekitar pukul delapan malam, aku kembali menuju perpulangan ke Tasik. perasaanku masih tak enak dan tidak karuan. Sepanjang perjalanan aku masih terus was-was, cemas tak menentu. Tak lama handphoneku berdering, ku menyambar benda pipih itu tepat disaku.

Tertera nama Mualim Zaki disana, segera ku angkat panggilannya.

“Assalamu’alaikum ustadz,” suaranya terdengar tak biasa, seperti terkecat dan gemetar.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah, ada apa Mualim Zaki?”

“Ustadz… Mohon maaf… Amalia,” suaranya tercekat di sebrang sana.

Deg, aku panik seketika, “Ada apa dengan Amalia?”

“Amalia hilang pada saat acara di Jakarta,” jawabnya terbata-bata.

“Mengapa bisa? Mengapa kalian ke Jakarta?” Tanyaku panik.

Nafasku terasa tersenggal seraya menunggu jawaban dari orang disebrang sana.

“Kami sedang datang ke haol ustdz.”

“Kirimkan alamat kalian berada sekarang,” titahku.

Aku mulai tak konsen, ku putuskan panggilan dari Mualim Zaki sebelah pihak. Ku coba mencari kontak bernama Zahra. Segera ku hubunginya dengan panik.

“Assalamu’alaikum, Zahra apakah hari ini santri berangkat ke Jakarta?” Tanyaku tergesa-gesa.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah, iya mas. Kenapa?” Tanyanya santai.

“Kenapa Zahra tak bilang kepada mas akan ke Jakarta? Zahra.. pondok itu tanggung jawab mas. Apakah kamu sudah mulai tak hargai mas?” Nada suaraku meninggi. Ada nyeri di kedua ronggaku, tanpa tau menau para santri akan pergi ke Jakarta. Apakah aku tak sepenting itu?

“Memangnya kenapa mas? Kemarin para mualim dan ustadz ingin hadir ke haol di Jakarta. Tidak semua santri ikut, hanya ada beberapa. Mereka berangkat juga dengan para mualim dan ustadzah jadi Zahra pikir itu aman,” jelasnya disebrang sana.

“Amalia hilang.”

Berulang kali Zahra mengucap istigfar. Akhirnya, ku putuskan akan menyusul mereka ke Jakarta seraya meminta izin kepada Zahra. Tak lama, kami memutuskan sambungan telepon.

“Pak, kita ke jakarta sekarang,” titahku.

Pak Irwan hanya mengangguk sebagai jawaban.

***

Sekitar pukul satu dini malam, akhirnya aku sampai di Jakarta. Mualim Zaki memberitahu alamat tempat titik kumpul mereka. Dari kejauhan ku sudah bisa melihat mereka yang tampak begitu panik.

Segera ku turun dari mobil, “Mualim Zaki,” sahutku seraya berjalan mendekat.

“Ustadz,” mereka semua berhampur menyalamiku.

“Sejak kapan Amalia hilang?” Tanyaku seraya menatapnya lamat.

“Sejak siang ustadz, saat kami sedang shalat dzuhur. Sinta bilang, Amalia izin untuk beli air. Tetapi, setelah acara haol selesai. Amalia tak kunjung kembali. Akhirnya, kami mencari. Namun… Sampai sekarang belum menemuinya,” Jelas Mualim Zaki.

“Baiklah, kita kembali mencari Amalia,” titahku.

Mereka mengangguk, kami bergegas mencari lagi Amalia. Setengah perjalanan mencari Amalia, aku ingat dia sering datang ke tempat hiburan malam waktu dulu. Aku dan Pak Irwan terus menyusuri tempat hiburan namun hasilnya nihil, tak ditemukan. Jarum jarum terus berjalan, sekitar pukul set tiga dini hari aku masih belum menemukannya.

Deg… Netraku menangkap sosok wanita pinggir jalan. Dia memakai gamis yang pernah dipakai Zahra. Walau sebenarnya aku tak yakin itu percis gamis Zahra, karena gamisnya nampak koyak. Banyak robekan dimana-dimana. Dia berjalan begitu gontai, aku hanya melihatnya dari belakang.

“Pak coba lihat, ayo kita turun,” segera kami beranjak turun dari mobil. Aku begitu tergesa-gesa mendekatinya, dan…. Benarlah dia Amalia. Wajahnya begitu merah seperti bekas tamparan, matanya sembab, rambutnya begitu berantakan. Namun yang membuat ulu hatiku nyeri, bajunya begitu koyak. Nampaknya… Zahra telah mendapat siksaan dari seseorang atau bahkan kekerasaan seksual lagi? Hatiku terus bertanya. Tetapi, aku harus menahannya. Bertanya sekarang hanya membuat Amalia stres berat.

“Ayo kita pulang,” Amalia hanya terdiam seraya mengikuti masuk ke dalam mobil. Ku raih handphone, mengirim pesan kepada Mualim Zaki bahwa Amalia telah ditemukan.

Sepanjang perjalanan baik Amalia ataupun aku tak melempar pertanyaan. Sesekali ku meliriknya yang duduk dibelakang, dia nampak begitu stres. Kepalanya terus menunduk. Tak lama, isak tangis terdengar nyaring ditelingaku.

Aku dan Pak Irwan saling melempar pandangan, kami tak berani membuka suara. Membiarkannya hanyut didalam duka.

Pikiranku berkelana, memikirkan setiap kata demi kata yang pernah Aisyah katakan mengenai Amalia. Apakah inilah maksud mimpi Aisyah? Dan apakah benarlah bahwa aku harus menikahi Amalia?

Aku memalingkan pandangan ke luar jendela. Seraya terus berkelana menjelajah pikiran. Hatiku menggebu, nafasku terasa teramat sesak. Bingung, sedih, marah, kesal semua bercampur menjadi satu.

Tak mungkin membawa Amalia ke Tasik, akhirnya aku putuskan membawa Amalia ke Depok, rumah umi dan abi. Awalnya, umi dan abi sangat terkejut. Sebisa mungkin ku menjelaskan kepada mereka. Namun, tak ingin membuat Amalia tak enak. Aku mengantarnya tidur dikamarku.

Abi dan umi menungguku di ruang keluarga. Aku beranjak menemui, “Bagaimana dengan Zahra Mad?” Tanya umi ragu sesaat setelah aku duduk.

Aku hanya berdiam, memikirkan segalanya. Semua begitu buntu. Nafasku benar-benar sesak, tak bisa berkata banyak. Bayangan Zahra dan Aisyah hadir dikedua netraku.

Tak terasa, air mataku luruh. Mereka menyadari hatiku begitu nyeri sehingga keluar tanpa ragu. Ku gigit bibir bagian bawahku, seraya menahan luka demi luka yang terus menyayat hati. Tak ada yang bisa memberiku jawaban. Akhirnya, aku tergantung menatap langit-langit rumah dan membisu didepan umi dan abi.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here