Aisyah Mawarku #15

0
123
views

Duri mawar


“Apa? Siapa Mad?” Tanya umi seketika.

“Namanya Amalia, usinya masih 18 tahun dan …” Ku jelaskan panjang lebar semua tentang Amalia tanpa berani mengurangi atau melebihkannya.
Semua kembali tersentak, mendengar setiap kata yang lolos dari bibirku. Kami membisu, tenggelam didalam masing-masing pikiran.
“Ya Allah.. kasian sekali Mad,” umi Aisyah membuka suara. Netranya berembuan, sepertinya umi Aisyah benar-benar merasakan kepedihan Amalia.
“Mad.. semua ini terasa berat adanya. Tetapi, mungkin kamu tau Mad, kini Aisyah tengah hamil muda. Jikapun kita bicara, dia akan semakin tersiksa. Lebih baik kamu jangan berikan jawaban apapun kepada Amalia,” Abi menimpali.
Aku melirik semua anggota keluarga berharap respon dari semuanya. Kak Bayu menarik nafas gusar, “Iya Mad, ana setuju dengan pendapat abi.”
“Sebenarnya Muhammad sedang memikirkan sesuatu. Satu sisi Muhammad ingin menolongnya, tetapi tidak untuk menikahinya. Muhammad ingin ajak Amalia mondok di Tasik. Secara tidak langsung, disana akan aman terjaga,” seruku percaya diri dengan pemikiran yang kurasa cukup matang.
“Umi tak bisa berbicara banyak Mad, semua ini tentunya berada pada tangan Aisyah,” Umi Aisyah bersuara lirih.
“Umi satu pemikiran.. kami semua akan selalu dukung atas pilihan Aisyah dan Muhammad, jika semua itu baik. Kami tak ingin berikut campur terlalu dalam,” umiku menimpali.
Aku semakin resah, pikiranku runyam bahkan bibir ini terasa kelu apa yang harus dilontarkan sekarang. Bagaimana rasanya aku berkata pada Aisyah ? Aku tak ingin melihat Aisyah kembali terkujur lemah di brangkar seperti sebelumnya. Itu tidak akan lagi terjadi.
***
Akhirnya dua pihak keluargaku dan Aisyah telah pergi meninggalkan pelataran rumah. Bibir Aisyah melengkung memberi senyuman manisnya seraya menatap mobil yang tak kelihatan lagi wujudnya.
Netraku memandang Aisyah dengan lamat, seraya memikirkan segala hal yang rumit ku jelaskan. Ku sunggingkan senyuman saat netra kami beradu.
“Kenapa kak?” Tanyanya pelan.
“Gak apa-apa kok sayang. Yuk, masuk. Kamu jangan sampai kedinginan ini udah sudah malam.”
Aisyah hanya mengangguk sebagai jawaban. Ku gandeng tangannya seraya berjalan masuk ke dalam rumah. Saat kami sampai di ruang keluarga, Aisyah langsung duduk disofa dan disusul olehku. Kami menangkap sosok Indah dan mba Lulu yang sedang sibuk membereskan oleh-oleh dari umi dan abi. Ku lirik Aisyah, dia seperti sedang menimang-nimang sesuatu yang belum ku ketahui.
“Mba Lulu, itu oleh-olehnya bagiin saja ke tetangga. Mba Lulu sama Indah masing-masing bawa satu,” Aisyah membuka suara seraya menatap Indah dan mba Lulu bergantian.
“Kalau ustadzah bagaimana?” Mba Lulu membuka suara bertanya pada Aisyah dengan sedikit merendahkan suaranya.
“Sisakan satu saja, itu cukup untukku dan suamiku,” seraya melirikku meminta persetujuan dengan senyuman manisnya.
Tentunya aku langsung mengangguk setuju. Melihatnya yang selalu ingat kepada tetangga, dan menyedikitkan makan membuatku terkagum-kagum.
“Dan.. Indah, tolong berikan ini kepada Yasir,” seraya menyodorkan satu amplop putih kepada Indah dengan sopan Indah menerimanya.
“Dia seorang pemulung, di persimpangan dekat masjid itulah rumahnya. Sepertinya dia sedang kelaparan, berilah beberapa makanan berat dari kulkas untuknya,” lanjut titah Aisyah.
Aku tersentak, mataku terbelalak menatap Aisyah spontan. Setauku, setelah Aisyah menikah. Dia tidak pernah keluar rumah. Semua kebutuhan telah terpenuhi dan dibelikan oleh Indah dan mba Lulu. Kecuali, pada saat kajian pertama setelah menikah sewaktu di Malaysia dan itu telah lama sekali. Bagaimana Aisyah bisa tau ? Bahkan aku yang ditinggal di rumah ini lebih dulu tak tau siapa itu Yasir, batinku bertanya-tanya. Tak ingin membuat kesimpulan, ku buka suara untuk bertanya.
“Aisyah kok tau Yasir?”
Aisyah hanya menjawabnya dengan senyuman membuat dahiku mengernyit kebingungan.
Indah dan mba Lulu seperti merasakan hal yang sama denganku. Berulang kali ku menangkap mereka saling melempar pandangan. Namun, tak lama mereka beranjak meminta izin untuk pergi keluar melaksanakan perintah Aisyah.
Aisyah kembali lagi memainkan tasbihnya seraya berdzikir. Aku masih belum menerima jawaban pasti darinya.
“Jawablah sayang, kamu pernah keluar?” Tanyaku penasaran.
Aisyah menatapku, bibirnya tersenyum. Namun tak lama, gelak tawa yang kecil menyusul dari bibirnya.
“MasyaAllah kakak penasaran banget ya…”
Spontan bibirku mengerut.
“Atas izin Allah semua itu Aisyah ketahui,” jawabnya santai.
“Aisyah gak lagi main-mainkan?” Kini aku mulai serius. Akhirnya sedikit demi sedikit sesuatu yang aneh mulai menonjol dari diri Aisyah.
“Udah kak, jangan bahas hal ini. Aisyah malu.. benarkan nak? Kalau walid liatin kamu terus malu yah?” Nada suaranya menirukan suara anak kecil.
Aku dibuat gemas dengan tingkah lakunya, tanpa izin ku kecup bibir ranumnya.
“Loh kok main langsung dicium?” Spontan Aisyah menatapku.
“Habis bibir Aisyah itu melambai-lambai pengen dicium,” sebisa mungkin aku santai menjawabnya walau sebenarnya aku ingin mengaku gemas kepadanya.
“Nak.. walid kamu jail,” Aisyah meraba perutnya seraya terus mengajak bicara buat hati kami.
Ku beranjak dari sofa, dan duduk walau sedikit mendongkangkan wajahku ke perut Aisyah. Tanganku bergerak, meraba perut Aisyah yang masih datar seraya mengucapkan do’a-do’a terbaik untuk buah cintaku dan Aisyah. Aisyah terhanyut mengikutiku dengan menjawab setiap rapalan do’aku dengan “aamiin”.
“Jadilah Aulia min Wali Allah nak, jadilah hamba sebaik-baiknya hamba,” do’a penutupku diakhir.
Tak terasa kami berdua terhanyut sampai kami tak menyadari air mata luruh dari masing-masing netra kami. Segera ku hapus air mata di wajah cantik Aisyah dengan lembut.
“Makasih sayang atas segalanya untukku,” Seraya mengecup keningnya dengan lembut.
“Makasih telah menjadi istri terbaikku… Cup,” kembali ku kecup di pipi kanannya.
“Makasih telah menjadi teman hidupku yang terbaik… Cup,” kecupan kembali mendarat di pipi kirinya.
“Dan.. terima kasih hadiah terindahnya… Cup,” tepat kecupanku mendarat di bibir ranumnya.
Aisyah tersipu mendapati diriku memperlakukannya demikian, hingga rona merah terlihat jelas dipipi putihnya. Pandanganku terus beradu, menciptakan debaran yang kuat yang tak bisa ku tahan. Tanganku bergerak, menggenggam tangan Aisyah erat seraya beranjak mengajaknya masuk kamar. Tentunya, kami rindu untuk saling menyalurkan rindu dalam setiap sentuhan yang kini terus-menerus menjadi hujan pahala.
Kami kembali berburu hujan pahala dibawah naungan langit-langit kamar yang berwarna putih. Bisa merasakan aroma nafas Aisyah adalah kenyamanan tak berujung dan tak bertepi. Bahkan aku paling suka mencium aroma tubunya yang selalu menyeruakkan kewangian. Entah parfum apa yang ia pakai, walau setuaku Aisyah sama sekali tak punya alat rias atau make up walau hanya sekedar memanjankan dirinya. Dia terlampau cantik, tak memerlukan polesan muka sedemikian rupa.
Akhirnya, dibawah naungan kekuasan Allah. Hari ini kami bisa kembali menyalurkan geloran kerinduan. Ah, rasanya inilah surga duniaku. Bahkan rasanya semua terasa berhenti berputar. Merasa ruang dan waktu memberi kami waktu yang lama untuk terus saling memadu kasih. Tak henti, bibirku mengucapkan pujian syukur setiap saat kulitku bersentuh langsung dengan kulit Aisyah.
***
Sinar pagi menerobos masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka, menyeruakkan kesegeran udara yang sejuk. Beberapa manusia kembali melakukan aktivitas kesehariannya, atau bahkan ada yang sibuk dengan bencengkrama dengan keluarga. Pagi ini, Indah dan mba Lulu sedang sibuk membereskan rumah, sementara Aisyah sedang sibuk membaca maulid, tentunya aku hanya mengamati Aisyah dari sebrang sofa sambil melafadzkan shalawat.
Tak lama bel pintu masuk berbunyi, bergegas aku ke depan untuk membukakan pintu. Seorang wanita dengan memakai gamis berwarna coklat tua dengan kerudung yang senada, usianya sekitar empat puluh tahunan.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya tepat saat aku membuka pintu.
“Wa’alaikumssalam Warohmatullah, maaf ada perlu apa bu?” Tanyaku seraya tersenyum.
“Maaf ustadz, saya ingin bertemu dengan ustadzah,” aku mengangguk pelan seraya mempersilahkan duduk di ruang tamu.
Aku melenggang mendekati Aisyah, “Sayang.. ada tamu didepan.”
Aisyah langsung menatapku, “Oh iya kak,” seraya beranjak dari duduknya dan berjalan ke ruang tamu.
Aku hanya bisa mengamati mereka berdua dari sofa. Seraya menghembuskan nafas kecil. Aisyah nampak begitu ramah sekali dengan tamu itu. Sering kali Aisyah bulak balik ke dapur membawakan jamuan untuk untuk ibu itu. Hatiku menghangat, Aisyah selalu saja mampu membuatku kagum.
Aku kurang begitu mendengar apa yang sedang dikeluhkan oleh ibu itu, namun tak lama dia berhambur menangis memeluk Aisyah. Tangan Aisyah begitu telaten untuk menenangkan ibu itu. Tak lama, Aisyah mengurai pelukan itu dan mendo’akan sebotol air yang telah dibawa oleh ibu itu dan kemudian memberikannya seraya tersenyum.
Sekitar berpuluh-puluh menit, ibu itu izin pamit. Aku bergegas mendekati Aisyah yang membereskan jamuan yang setengahnya telah dicicipi oleh ibu itu, jari-jari lentiknya begitu indah saat sedang membereskan gelas serta piring-piring.
“MasyaAllah, istriku ini baik banget… Sini kakak saja yang simpan ke dapur,” sahutku seraya ikut andil membereskan jamuan.
“Jangan.. kakak duduk saja yah,” bergegas Aisyah beranjak ke dapur. Padahal, aku ingin sekali membantunya. Dia selalu tak pernah berbakti kepadaku. Saat bersama Aisyah ku merasakan ni’matnya menjadi seorang Raja. Aisyah membuatku selalu bahagia, tak pernah ia mengeluh apapun tentang sakit dan perihnya.
Saat kembali duduk disampingku, “Ibu tadi kenapa sayang?” Tanyaku seraya menatapnya.
“Anaknya sudah koma sekitar satu minggu, kak. Beliau meminta do’a kepadaku. Aku tidak bisa apa-apa, hanya berharap semoga Allah segera menyembuhkan anaknya.”
“Aamiin.”
Kami kembali bercengkaram, melempar candaan dan rayuan gombal, inilah paling menarik dan paling membahagiakan bagiku. Melihatnya tertawa, tersenyum adalah kebahagian bagiku.
***
Senja mulai terlihat di cakrawala. Semburat warna jingga itu kini menghiasi langit Bandung. Aku dan Aisyah saling menikmati teh panas yang dibuatkan oleh Indah di kursi teras rumah.
Sebenarnya pikiranku terus merasa berat, memikirkan solusi untuk menolong Amalia. Akhirnya, tak ingin berasumsi dan memutuskan sebelah pihak akhirnya aku buka suara kepada Aisyah. Tak sedikitpun aku mengurangi atau melebihkan semua cerita tentang Amalia.
“Jadi, kakak ingin agar Amalia mondok di Tasik saja. Disana menurut kakak aman,” ujarku.
Aisyah nampak hanya manggut-manggut, tak membuka suara. Dia seperti menimang-nimang sesuatu yang berat seraya terus melafadzkan wiridannya. Kemudian, raut wajah Aisyah berubah dia menatapku dengan senyuman yang mengembang. Membuatku merasa tak enak. Aku sudah mencoba katakan saat bercerita tentang Amalia mengajak menikah itu menurutku hanya sekedar candaan, dan akupun tak berfikir hal itu selebihnya.
“Kok senyum sayang?” Tanyanya penuh tanya.
Kemudian Aisyah berpaling, seraya menyeruput teh hangatnya. Aisyah masih terdiam sesaat, alisku semakin menaut penasaran.
“Aisyah percayakan cinta kakak hanya buat Aisyah, lagian ucapan Amalia itu hanya sekedar bercanda,” ucapku meyakinkan.
Aisyah menatapku seraya membuka suara dengan lirih, “Tidak kak, dia tidak sedang bercanda. Aisyah merasa tak yakin akan menjawab apa kali ini. Lebih baik, nanti malam Aisyah shalat dulu. Berharap jawaban terbaik untuk menolong Amalia. Walau sebenarnya Aisyah telah mempunyai jawaban, tapi Aisyah takut itu hanya dari nafsu belaka. Aisyahkan bukan wali, langsung mendapat jawaban.”
Aku mengangguk setuju, “Memang apa jawaban Aisyah?” Kembali ku menelisik netra Aisyah dengan lekat.
“Tidak jadi kak… Itu belum pasti.”
“Baiklah, semoga ada jawaban terbaik ya Aisyah. Kakak juga sebenarnya kasihan, disaat seseorang harus menerima perlindungan, satu sisi ada banyak orang yang justru tega berbuat demikian, naudzubillah.”
“Aisyah turut bersedih atas semua yang menimpanya.”
Aku hanya mengangguk seraya mengulas senyuman. Netra Aisyah berpaling melihat pelataran rumah yang cukup luas. Melihat bulu matanya yang lentik ada dorongan kuat yang mengharuskan diriku mencium pipi Aisyah. Seketika, Aisyah menatapku insten. Dia cukup terkejut dengan perilakuku.
“Kakak..” ucapnya menggemaskan.
Akhirnya aku beranjak berdiri dari kursi dan menarik lembut tangan Aisyah untuk mengikutiku. Tanpa izin, ku dekap tubuhnya erat. Menyalurkan kehangatan yang selalu hinggap di dalam jiwa. Aisyah nampak tenang berada dipelukanku, tanganya mengeratkan pelukanku. Ujung bibirku melengkung membentuk senyuman.
Aku ingin ruang dan waktu berhenti, memberi kesempatan ini agar terus seperti ini. Aku enggan beranjak. Telah cukup lama ku menahan kerinduan, menahan sesuatu yang selalu membuatku terasa sesak. Aku rindu segalanya tentu Aisyah meski kini kami saling bersentuhan.
***
Sudah hampir satu minggu aku berada diBandung, kewajiban memaksaku untuk kembali ke Tasik. Semalam Aisyah menyampaikan kepadaku jika ia sudah mendapat jawaban. Pagi ini, aku begitu antusias akan mendengar jawaban Aisyah. Aku yakin jawaban Aisyah terbaik, dia bukan wanita sembarangan yang hanya menggunakan segala kata “mungkin” tetapi dia selalu berharap langsung kepada Allah dan memohon kepada Allah.
Aku sudah nampak siap akan bersiap pulang ke Tasik, kami saling mengobrol dikamar. Karena bagaimanapun tak enak jika bicara diluar takutnya ada Indah dan mba Lulu yang akan mendengar.
Setiap hari Aisyah semakin cantik, seperti biasa dia memakai gamis abaya hitam dengan fasmina warna merah. Warna kulit Aisyah yang putih, nampak begitu cocok dengan warna merah dan hitam, sangat cantik.
Kami duduk ditepi ranjang saling menatap satu sama lain, “Bagaimana telah ada jawabannya?” Tanyaku lembut.
Aisyah menyunggingkan senyuman manisnya, “Kakak siap mendengarnya?”
“InsyaAllah.”
Aisyah menarik dan menghembuskan nafas perlahan, ada yang membuatku sedikit merasakan suasana mencengkem. Aku tau senyuman yang masih tergambar jelas dibibirnya sedikit dipaksakan membuat hatiku sedikit menciut.
Aisyah menunduk, “Hampir tiga malam sejak kakak meminta jawaban itu, Aisyah bermimpi. Didalam mimpinya, Aisyah terbaring lemah tapi tidak ada kakak disana. Disana ada Zahra di sebelah kiri, walau Aisyah belum pernah bertemu dengan Zahra, tetapi sesuatu itu berkata itu adalah Zahra. Dia menunduk lemas melihat Aisyah terbaring lemas. Lalu, disebelah kiri Aisyah melihat seseorang yang tak Aisyah kenali tetapi sesuatu berkata meyakini itu Amalia. Dia sedang menggendong anak Aisyah. Wajahnya sedang menangis sendu melihat Aisyah terbaring. Mimpi itu terus terjadi sampai tiga kali disetiap malam. Lalu, Aisyah mentakwilkan mimpi itu…” Ucapnya menggantung membuatku semakin penasaran.
Aisyah menatapku dengan tatapan sayu, aku semakin dibuat khawatir. Dadaku bergemuruh tak menentu.
“Sepertinya kakak harus menikahi Amalia..”
Seperti petir di siang bolong. Aku benar-benar terkejut. Aku terus menggeleng, menepis segala hal yang membuat hatiku teramat nyeri.
“Sepertinya dia akan membantu Aisyah dikemudian hari. Aisyah tidak tau kak, tapi cobalah fahami dunia ini tanpa terus mengedepankan kemauan diri sendiri. Mungkin saran kakak untuk memondokkan dia masih kurang tepat, dan mungkin tidak baik disisi Allah,” lanjutnya.
Air mataku luruh seraya terus menggeleng pelan, ku genggam jari-jemari Aisyah seraya menatapnya intens, “Aisyah tau kakak cuman cinta dan sayang sama Aisyah ? Bahkan sedikitpun kakak gak ada rasa cinta sama Zahra. Zahra hanya mendapat rasa sayang kakak.. kenapa Aisyah berkata demikian?”
“Kak.. semua ini bukan keinginan Aisyah. Kakak meminta jawaban dari Aisyah dan itulah jawabannya,” ucapnya lirih.
Akalku terasa berhenti berfikir, tak habis pikir bagaimana mungkin menikah menjadi solusi terbaik. Disaat hatiku masih belum tertata sempurna kini hadirlah sesuatu yang membuat tataan itu kembali roboh. Aku menunduk lemas diiringi air mata yang berlomba keluar dari netraku.
Tak ingin membuat suasana keruh diantaraku dan Aisyah. Ku rengkuh tubuh ringkih itu ke dalam pelukan. Tak tega jika disaat kepulanganku, harus menyisakan luka. Kami kembali tenggelam didalam air mata. Berharap, semua ini hanyalah mimpi.
***
Kepulanganku kali ini Pak Irwan datang menjemput. Aku memberi tau Pak Irwan tentang segalanya termasuk jawaban Aisyah. Awalnya Pak Irwan tersentak mendengar semuanya.
“Tidak pak, menikah itu tidak akan pernah aku kabulkan,” ucapku penuh penekanan.
Tak ingin berlarut didalam kesedihan, aku memberi pesan kepada Amalia agar datang ke Tasik tempat pondok pesantren Zahra. Suara handphoneku kembali berdering, satu pesan diterima. Amalia siap pergi ke Tasik hari ini.
“Ustadz yakin akan melakukan itu?” Tanya Pak Irwan pelan.
Aku memalingkan pandanganku ke jendela mobil, “Iya pak, saya tak ingin melukai Aisyah terlalu jauh walau itu jawabannya. Saya akan tetap memondokkan dia di Tasik. Biar saya yang menanggung segala kebutuhannya disana.. tanpa perlu ada ikatan pernikahan.”
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here