Aisyah Mawarku #14

0
113
views
Dadaku bergemuruh, tak ingin lagi rasanya ku lihat jasadnya didepanku. Walau berat, aku berpaling sebisa mungkin. Pak Irwan nampak mengerti bahwa aku benar-benar tidak nyaman sekarang.
“Jika kami boleh tau? Berapa umur mba?” Tanya Pak Irwan ragu.
Wanita itu membuka suara dengan lirih, sedikitpun dia tidak memandang kami berdua, “delapan belas tahun Pak.”
Delapan belas tahun? Jelas itu membuatku terhenyak. Dia masih terlalu muda untukku bahkan jikapun dia cantik tak ada sedikitpun aku berniat poligami lagi. Mengingat Zahra dengan segala sifatnya yang membuatku beristigfar juga terasa pusing.
“Lalu alasannya mengapa mba ingin dinikahi ustadz?” Celetuk Pak Irwan membuat mataku membulat seketika menatapnya.
Terdengar jelas digendang telingaku, dia terisak. Tak sedikitpun aku ingin memperdulikannya. Mengapa harus aku yang menikahinya? Sepengetahuanku dunia ini luas, tak bisakah mencari yang lain?
“Se.. belumnya sa.. ya minta .. maaf ustadz. Sa.. ya akan ceri.. ta kan semuanya. Kedua orang tua saya telah meninggal sejak saya sekolah dasar. Mereka meninggal karena kecelakaan. Karena saya tidak mempunyai siapa-siapa, akhirnya saya tinggal bersama bibi, adik ibu saya. Awalnya dia menerima saya dengan baik, setelah saya tumbuh dan telah sekolah menengah akhir. Bibi saya…” Nada suaranya berat, nafasnya terasa tercekat.
“Lanjutkan mba,” seru Pak Irwan dengan pelan. Mencoba memberi kekuatan kepadanya untuk kembali bercerita.
“Bibi saya menawari saya bekerja, alasanya agar saya bisa membayar sekolah sendiri. Karena bibi saya bilang, dia sudah tidak mampu membiayai saya. Saya percaya, akhirnya saya ikut diajak ke sebuah tempat hiburan malam. Disana banyak orang yang clubing, minum minuman keras, main bar. Awalnya saya menduga saya akan menjadi pelayan. Namun…”
Kembali dia menjeda pembicaraanya, mencoba menenangkan gejolak pada dirinya. Dia menghirup nafas dalam-dalam dan kembali membuka suara dengan lirih, “Namun, bibi saya malah menjual saya. Dari sana yang harus berganti baju, hanya memakai sehelai kain untuk tidur yang terbelah bagian tertentunya dan itu tanpa memakai pakaian dalam. Dia juga memaksa saya memakai alat pengaman katanya agar saya tidak hamil. Saya tidak terima, saya ingin lari dari sana. Namun usaha saya gagal. Laki-laki berperawakan besar dan tinggi, tangannya kekar, memakai jas hitam, menyentuh saya dengan kasar dan paksa.”
Seketika ulu hatiku nyeri, mendengarnya saja membuatku merasa sangat terluka. Apalagi dia yang secara langsung mengalaminya. Tentunya dalam usia yang belia. Hal itu pasti akan mengganggu kondisi mentalnya. Bagaimanapun dia layak mendapatkan haknya sebagai perempuan. Dia terhanyut dalam tangisnya, aku dan Pak Irwan hanya mampu melempar pandangan. Tak ada satupun yang dapat kami lakukan. Seperti menjadi orang yang ambigu.
“Dari sanalah, saya terbiasa melakukan semua itu sampai saya kuliah dan semua biaya itu hasil dari pekerjaan saya. Namun.. takdir mempertemukan saya dengan seseorang. Dia mengajari saya tentang uang halal, tentang agama walau hanya sebentar jika ada waktu kosong ketika keluar kelas. Seiring berjalannya waktu, saya berusaha mengikuti kajian dimanapun termasuk kajian ustadz dan saat itu pula dia pergi saat mengetahui saya pelacur. Saya tidak mengapa, itu hal wajar bukan?” Lanjutnya seraya melempar gelak tawa yang menyakitkan. Tawa yang begitu hampa. Tawa yang seakan-akan dia menertawakan dirinya sendiri.
“Namun, hati saya kembali terbuka dan tak membiarkan memikirkan dia yang pergi. Kajian ustadz membuat dorongan bagi saya. Akhirnya saya ingin berubah, ingin lagi kembali kepada Allah. Saya malu ustadz..” kini tangisannya pecah. Kesunyian malam yang mencekam menjadi gambaran hatinya. Tak bisa lagi ia menahannya. Luka dan duka telah meradang menjadi tetesan yang deras bak air sungai. Melihatnya terluka hatiku begitu iba.
“Saya bisa ajarin kamu.. tapi untuk menikahi saya rasa itu tidak mungkin,” ucapku hati-hati.
“Saya lupa.. ada suatu alasan yang belum saya katakan,” balasnya terbata-bata seraya terisak.
“Apa? Katakanlah,” titahku lembut. Netraku menelisiknya yang masih tertunduk dalam deraian air mata.
“Karena pekerjaan itu, bibi saya menjadi keenakan. Setiap saya pulang pasti dia meminta uang kepada saya. Bahkan saya selalu berusaha kabur darinya. Tapi sayang, dunia ini seakan jeruji besi yang memaksa saya diam terpenjara. Mungkin ustadz masih ingat, jika saya pernah lari dan hampir tertabrak. Pada saat itu, saya mencoba kabur agar saya bisa tenang dari bibi saya. Nyatanya, bibi saya melapor ke tempat saya menjual diri itu. Tak lama, beberap orang pria mencari dan mengejar saya. Hari itu… Nasib berkata lain bahkan sampai saat ini saya tidak bisa apa-apa.”
Aku merasa kembali tersentak. Benar dugaanku, waktu itu memang sedikit aneh. Nyatanya, dia memang sedang lari.
“Lalu kamu dimana sekarang?” Tanyaku penasaran.
“Saya masih seperti biasa, tinggal dengan bibi. Tetapi… Setiap malam saya harus memuaskan nafsu para setan yang kelaparan,” seraya mengangkat nada suaranya.
“Terus kenapa malam ini bisa ke kampus?” Tanyaku lagi.
“Saya sempat bertengkar karena mau kesini. Namun, akhirnya bibi saya mengizinkan, walau… Syaratnya besok saya harus kembali berkerja. Jadi.. saya ingin ustadz menolong saya, bukan karena saya hanya ingin diajari. Tapi tolong .. lindungi saya. Saya lelah… Saya lelah.. ustadz, saya ingin … dilindungi,” air matanya kembali luruh. Tubuhnya gemetar, sepertinya rasa sakitnya kini memuncak. Bahkan isakan tangisnya semakin nyaring terdengar.
Aku melempar pandangan kepada Pak Irwan berharap menemukan jawaban untuk menengahi masalah ini. Pak Irwan mengangguk, mungkin dia sudah menimang beberapa pertanyaan yang siap dilontarkan.
“Jika kami boleh tau, mba namanya siapa?” Tanya Pak Irwan seraya menerawang ke wanita itu.
“Amalia Pujiyanti,” jawabnya lirih.
“Rumahnya dimana?” Pak Irwan kembali mengajukkan pertanyaan.
“Tak terlalu jauh dari kampus.”
“Sebelumnya, saya mewakili pak ustadz. Jika beliau tidak bisa memberi jawabannya. Mungkin mba tau jika pak ustadz sudah menikah, dan tentunya itu hal yang tidak bisa dijawab dengan gegabah,” Pak Irwan mencoba menjadi penengah masalah ini. Dia nampak menenangkan Amalia.
Amalia menatapku nanar. Wajah dan bibirnya pucat pasi. Beberapa anak rambutnya ia selipkan di daun telinga seraya bersiap membuka suara.
“Maaf jika saya lancang ustadz. Saya mau izin pamit, terima kasih,” belum sempat kami menjawab dia sudah beranjak pergi.
Aku hanya bisa menatap kepergiannya yang semakin tak menampakan perwakannya lagi di netraku. Pandanganku beralih, menatap setengah mangkuk bakso yang kini terasa menjadi hambar. Beda dengan Pak Irwan, dirinya kembali memakan setengah sisa baksonya tanpa beban.
Sebenernya, aku malas melanjutkan makan bakso yang sudah kenyang disuguhi berbagai masalah kehidupan. Tetapi, takut akan mengundang murka Allah dengan menyinyiakan rezekinya. Seraya memakan bakso pikiranku terus berkecambuk.
***
Pukul tiga dini hari, aku baru sampai di Bandung. Begitupun dengan Pak Irwan ia kembali melaju untuk pulang ke Depok. Segera ku masuki pintu rumah seraya menekan bel. Tak lama, seseorang membukanya. Hatiku bersorak bahagia, kekasih yang selalu ku rindu muncul di balik pintu dengan memakai mukena putih. Wajahnya bercahaya, bibir ranumnya berwarna pink, manik matanya jernih mengkilat. Sudah ku katakan berkali-kali dia memang bidadari dan mungkin sekarang habis shalat malam.
Segera Aisyah berhambur mencium tanganku, seraya menyuguhkan senyuman yang selalu manis. Hatiku merasa damai. Akhlaknya tak pernah berubah walau dimakan jarak.
“Habis shalat ya sayang?” Tanyaku seraya memberi senyuman manis untuknya.
“Iya kak.. Aisyah hampir selesai kok.”
Kami beranjak duduk di sofa secara berdampingan, namun tak lama Aisyah pergi ke kamar menyimpan mukenanya, dia kembali melenggang berjalan menuju dapur. Aku hanya memperhatikannya dengan senyuman yang masih terukir dari ujung bibirku.
Tak lama, Aisyah datang membawa dua cakir teh manis panas. Sungguh, perlakuannya membuat hatiku menghangat.
“Silahkan kak,” ucapnya membuka suara.
Netraku masih menatapnya lamat. Dia nampak lebih cantik akhir-akhir ini. Dari yang ku perhatikan tubuhnya sedikit berisi.
“Aisyah kayaknya bahagia banget sekarang-sekarang,” celetukku.
Aisyah sedikit tertohok, dia menetapku dengan senyuman, “Tidak kak. Bahkan Aisyah sering tak enak badan akhir-akhir ini.”
Dadaku gemuruh, hatiku terasa begitu nyilu merasakan Aisyah semakin kesakitan ditinggalku, “Kok Aisyah gak bilang?” Tanyaku spontan.
“Aisyah gak mau ganggu kakak. Lagian disini ada Indah dan mba Lulu yang jagain Aisyah.”
Ku ambil segelas teh panas yang disimpan diatas meja untuk menyeruputnya seraya menetralisir rasa yang berkecambuk didada, setelah merasa cukup kembali ku menyimpan gelas itu ditempat semula.
“Kakak gak akan pernah ke ganggu sama Aisyah. Aisyah gak boleh nyimpen sesuatu yang kakak gak tau, jangan buat kakak menjadi cemas,” sahutku menatapnya lamat. Aku makin tak kuasa menahan pandanganku padanya. Entah bagaimana bisa ku gambarkan kecantikan Aisyah, rasanya pena dan pewarna tidak bisa menjadi alat untuk menggambarkannya. Wajahnya cantik, bibirnya yang kecil dan mungil, dagunya ada tahi lalat yang kecil menjadi pemanis untuk Aisyah, rambut Aisyah lurus diatasnya namun jika ke bawah sedikit ikal atau bisa disebut kriting gantung. Tetapi, keindahan rambutnya hanya bisa ku lihat saat kami bercumbu diatas ranjang. Karena sekalipun aku duduk disisinya, dia selalu memakai kerudung fasmina.
“Iya kak. Kedepannya Aisyah akan cerita kepada kakak,” seraya mengukir senyuman untukku.
“Sini sayang.. kakak peluk. Kakak udah kangen sama Aisyah,” perlahan Aisyah mendekat, tak ingin menyianyiakan kesempatan. Ku rengkuh tubuh ringkih itu ke dalam dekapanku seraya menyalurkan kehangatan. Terukir dari ujung bibirku senyuman. Akhirnya, kami bisa menghapus jarak dengan pertemuan.
***
Pagi, ini Aisyah sedikit membuat alisku menaut. Pasalnya, ada beberapa hal yang berubah dari dirinya. Dia lebih terlihat lesu, lemas bahkan wajahnya lebih terlihat pucat.
Bandung kembali diguyur hujan sejak pukul enam pagi, membuat aku dan Aisyah masih terus berkutat dibalik selimbut. Sedikitpun, tak ku palingkan pandangan ini melihat yang lain. Melihatnya yang terkulai lemas membuat ulu hatiku nyeri.
“Kakak pijitin ya sayang,” tawarku seraya menatapnya lamat.
Aisyah hanya tersenyum seraya menggerakkan kepalanya enggan. Pelipisnya berkeringat, tanganku menari mengusap keringat dipelipisnya. Rasanya melihatnya begini, aku juga ikut merasakan sakit.
Aisyah beranjak berlari ke kamar mandi. Aku begitu tersentak, dan beranjak mengikutinya. Untungnya kamar mandi bersatu didalam kamar, hal itu tentu membuat mudah bagiku dan Aisyah. Aku semakin cemas, Aisyah muntah-muntah.
Bahkan dia sangat lemas sekali. Aku terkesiap saat tubuh Aisyah mulai tak seimbang. Segera ku menangkapnya kepelukanku. Jantungku berpacu lebih cepat, hatiku merasa gerimis. Apakah semua ini aku penyebabnya sakit ?
Segera ku memangku Aisyah dan menidurkannya diatas ranjang. Netraku berembun, tak kuasa menahan sakit mendapati Aisyah sakit. Ku lenggangkan keluar, memanggil Indah agar segera menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah sakit.
Sekitar 40 menit akhirnya kami sampai di rumah sakit dan selama itu pula netra Aisyah masih terpejam. Perasaanku semakin tak karuan. Mba Lulu membantuku memangku Aisyah dan menidurkannya di brangkar, beberapa suster mendorong brangkarnya dan membawanya ke igd. Pintu igd terbuka, dan tak lama kembali ditutup. Suster tak mengizinkanku ikut masuk ke dalam dan memintaku untuk menunggu membuatku semakin merasakan ketakutan yang memuncak. Tanganku basah karena keringat yang sedari tadi keluar.
Aku, Indah dan Mba Lulu terpaksa menunggu diluar. Bibirku tak henti-hentinya merapalkan do’a, berharap Aisyah sehat dan tidak terjadi apa-apa. Aku tak bisa membayangkan bagaimana deritanya selama ini.
Hampir setengahnya berlalu, tak lama dokter keluar. Dia menatapku seraya memberi seutas senyuman membuat dahiku mengerut.
“Alhamdulillah, selamat pak. Istri bapak hamil, usia kandungannya sudah satu minggu. Hanya saja, kandungan di dalam rahimnya lemah. Tentunya, istri bapak harus lebih banyak beristirahat,” bagaikan petir disiang bolong, aku benar-benar terkejut luar biasa. Ada rasa bahagia yang bercampur dengan kesedihan. Tak bisa ku jabarkan, pujian syukur ku panjatkan berulang kali kepada sang Maha Rahman. Ternyata, Aisyah sedang mengandung anakku. Buah cinta kami berdua.
“Alhamdulillah Ya Allah.. terima kasih dok, terima kasih,” ucapku kegirangan.
Dokter hanya membalas dengan anggukan seraya melenggang meninggalkanku. Air mataku luruh, bersama dengan segala rasa yang menyeruak di dalam dada.
Tak sabar rasanya aku ingin menemui Aisyah. Pintu kembali di buka, akhirnya Aisyah keluar. Namun, sesaat netraku kembali berembun. Aisyah masih terpejam, dia begitu terlihat lemas tak berdaya. Seorang suster mendorong brangkar Aisyah untuk dipindahkan ke ruangan. Sementara aku meminta Mba Lulu untuk mengurusi administrasi Aisyah.
Aku ikut andil membantu sang suster mendorong brangkar. Tak lami kami sampai pada ruangan yang berwarna cream, ruangan itu terlihat bersih dan nyaman. Setidaknya hal itu tidak membuat Aisyah sengsara. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk istriku tercinta, Aisyah.
Setelah selang oksigen dan infusan terpasang. Akhirnya sang suster keluar, memberiku keleluasaan untuk langsung menghampiri, mendekati Aisyah. Ku tatap lamat wajah yang selalu cantik itu. Bahkan saat sedang sakit wajahnya masih cantik dan menarik.
Kini alir mataku luruh seraya menggenggam erat jari-jari lentik Aisyah. Berulang kali ku ciumi jari-jari itu seraya membaca sholawat berharap Aisyah segera bangun.
Tak lama, kelopak matanya terbuka. Senyumku mengembang bersiap menyambutnya sehangat mungkin. Pandangan Aisyah menatapku yang sedang menatapnya membuat bibirnya melengkung dengan indah.
Akhirnya kami saling melempar pandangan, seakan ruang dan waktu memberi kami jeda untuk saling menikmati keindahah masing-masing. Namun, aku mulai kembali tersadar saat Aisyah membuka suara.
“Kak, Aisyah kenapa?” Lirihnya.
“Aisyah telah berhasil membuat kakak tak ingin lagi berpaling,” ungkapku seraya menelisik manik matanya yang indah.
Alis Aisyah menaut, “Maksudnya kak?”
“Sayang.. jaga diri baik-baik ya,” tanganku bergerak dan meraba perut Aisyah yang masih datar. “Disini.. ada buah hati kita yang telah Allah titipkan untuk kita jaga,” lanjutku.
Mata Aisyah berbinar, bibirnya tak henti berucap puji dan syukur. Matanya berembun, ku pastikan air matanya akan luruh saat ini.
Matanya terpejam, seraya meraba-raba kedua tanggannya diatas perutnya. Merasakan setiap detik kehadiran yang menjadi pelengkap kehidupan kami berdua. Aisya membuka netranya perlahan, ku mendekat. Mencium keningnya dengan sangat lama. Menyalurkan kebahagian yang tak terhingga. Menyeruakkannya di semesta. Bahkan kehadiaran Indah, sedikitpun tak membuat kami terusik. Kebahagian ini membuat kami melayang terbang melintasi nirwana.
***
Sudah dua hari Aisyah dirawat di rumah sakit, namun hari ini kondisinya membaik dan dizinkan pulang. Siang ini, perasaanku begitu bahagia. Bahkan saat Indah dan mba Lulu menawarkan diri untuk membantuku memasak, aku menolaknya halus. Aku begitu sangat antusias membuatkan bubur dengan campuran ayam goreng suir serta potongan sosis goreng.
Setelah cukup lama berkutat didapur, akhirnya bubur untuk Aisyah tersaji. Ku ambil sebuah nampan dan meletakan mangkuk bubur serta satu gelas air diatasnya. Ku melenggang menuju kamar, saat satu langkah kakiku masuk diambang pintu. Hatiku terenyuh, mendengar lantunan pembacaan ayat-ayat al-qur’an keluar dari bibir Aisyah dengan indah. Seperkian detik, ku menatapnya dari kejauhan. Nampaknya, Aisyah mengetahui keberadaanku. Dia langsung mengakhiri dan menyimpan al-qur’an diatas nakas.
Perlahan ku langkahkan kaki mendekatinya, duduk ditepi ranjang seraya menatapnya lamat.
“MasyaAllah, adem banget kakak dengernya.”
Aisyah hanya diam tersipu dengan ucapanku.
Ku gerakkan sendok diatas mangkuk bubur, “Kakak suapin ya.”
Aisyah hanya mengangguk sebagai jawaban. Dengan lahapnya Aisyah memakan bubur buatanku membuat dada ini terenyuh bahagia. Tak lama, akhirnya satu mangkuk bubur telah tandas habis dilahap Aisyah. Jelas, semua itu membuatku senang. Ku kembali menyodorkan segelas air, Aisyah meneguknya dengan perlahan sebanyak tiga kali tegukan sesuai sunnah nabi. Aku meraih gelas yang disodorkan Aisyah seraya kembali beranjak untuk ke dapur untuk menyimpannya di wastafel.
Kembali ku beranjak menemani Aisyah dikamar, nampaknya dia lebih sehat dari sebelum-sebelumnya.
“Aisyah mual tidak?” Tanyaku lembut seraya mengulas senyuman.
“Tidak kak, Aisyah lebih baik sekarang-sekarang.”
“Kakak sudah memberi tahu kedua orang tua kakak dan umi serta kak Bayu tentang Aisyah. Mereka bahagia, dan katanya mereka kompak besok akan kesini,” seruku.
“Alhamdulillah, Aisyah juga sudah kangen,” jawabnya kegirangan.
Sebenernya jauh dari hal itupun, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada umi dan abi dan pihak keluarga Aisyah.
“Aisyah kalau khatamin qur’an suka berapa lama?” Tanyaku kembali mencarikan suasana.
Aisyah nampak berfikir sebelum menjawab pertanyaanku, “Kalau kakak pulang, paling Aisyah khatamnya satu minggu tetapi jika kakak ke Tasik sekitar dua hari Aisyah sudah khatam.”
Hatiku berdesir, aku faham betul ucapannya. Mungkin jika tidak ada aku dia sibuk dengan ibadahnya. Bahkan jika aku pulang hampir setiap akan tidur Aisyah selalu bertanya apakah aku butuh padanya atau tidak ?
Jika tidak, ia akan pergi ke kamar sebelah dan menunaikan ibadah sampai subuh tiba. Jika iya, dia akan kembali menemaniku sepanjang malam.
“Alhamdulillah, Aisyah selalu rajin. Kakak selalu saja kalah,” ucapku terkekeh. Netra Aisyah berbinar, seraya mengikuti diriku yang sedang terkekeh dengan ucapan yang seakan meledek diriku sendiri.
“MasyaAllah.. enggaklah. Kakak tetep paling terbaik hehe..”
“Iya .. untungnya Aisyah selalu mengakui kakak terbaik.”
Kami tertawa renyah diantara ruangan berchat putih. Nuansa modern dengan tataan yang rapih membuatku nyaman apalagi berada disamping Aisyah.
***
Pagi ini, abi dan umi telah sampai dirumahku di Bandung. Banyak sekali oleh-oleh yang mereka bawakan untukku dan Aisyah. Bahkan umi, langsung berhambur memeluk Aisyah setelah tak lama sampai rumah.
Udara Bandung kali ini cukup panas, jadi kami memutuskan untuk duduk dikursi teras rumah. Rumah pagarku cukup tinggi, jadi jika Aisyah keluar rumah untuk ngobrol diteras tidak perlu menggunakan niqob. Kami semua tenggelam di dalam obrolan hangat seputar masa kehamilan namun akhirnya obrolannya menjadi kurang menarik bagiku. Saat umi, mulai menceritakan masa kecil dan aib-aibku. Abi ikut menjadi kompor untuk umi bercerita. Bahkan, sering sekali ku lihat gelak tawa Aisyah yang renyah.
Walau rasanya malu memutar memori masa kecilku, tetapi melihat Aisyah bahagia itu tidak masalah. Kebahagiaannya adalah bahagiaku dan, kesedihannya adalah sedihku. Tak berlangsung lama, keluarga dari Aisyah datang, umi, kak Bayu dan istrinya. Aku berhambur mencium tangan umi dan kak Bayu. Indah datang membawa beberapa minuman dan cemilan untuk kami dan menghidangkannya dimeja.
Kami semua kembali tenggelam didalam percakapan yang panjang seraya meleburkan kerinduan yang telah lama tertahan.
***
Waktu terus bergulir, setelah shalat dzuhur berjamaah di masjid. Aku, abi dan kak Bayu kembali pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku menengok kamarku. Kata umi, Aisyah tadi mual dan kepalanya terasa pening jadi dia izin untuk tidur beristirahat. Pikiranku langsung berkenalana, akhirnya aku putuskan untuk berkumpul membicarakan hal penting bersama dua pihak di teras halaman belakang yang terdapat kolam renang didepannya.
“Mad ada apa? Sepertinya sangat mendesak?” Tanya umi antusias. Perlahan ku menarik nafas sedalam mungkin. Aku harus bersiap menceritakan sesuatu yang sudah membuat pikiranku terasa berat belakangan ini.
“Ada seseorang wanita yang ingin dinikahi Muhammad, umi.” Mereka tersentak, dan aku hanya bisa menunduk lemas.
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here