Aisyah Mawarku #11

0
198
views

Mawar yang baru


Akhirnya, jiwaku telah kembali ditempat bersemayamnya jiwa paling ni’mat. Setelah melaksanakan shalat dhuha, aku kembali ke Bandung memakai mobil pondok.

Aku menghirup dalam-dalam aroma yang selama ini ku rindu, seperti biasa rumah ini bersih dan indah. Sebelumnya aku memang tak berbicara akan pulang pada Aisyah, jadi pantas jika Aisyah tidak menyambutku pulang.

Ku tekan bel masuk, tak lama seseorang membukakan pintu. Tentunya bukan istriku, sepertinya dia yang aku perintahkan lewat Pak Irwan.

“Assalamu’alaikum..” ucapku seraya melenggang masuk.

“Wa’alaikumssalam,” ucapnya sambil menunduk.

Netraku mengedar ke sudut ruangan, sama sekali tak ku temukan sosok yang membuat diri ini ingin pulang, “Dimana Aisyah?” Tanyaku.

“Maaf Ustadz, Ustadzah sedang dikamar,” ucapnya pelan.

Aku bergegas masuk kamar, tapi nyatanya Aisyah tidak ada. Perasaanku mulai tak karuan, segera ku beralih memasuki kamar sebelah. Ku pegang knop pintu dan membukanya. Deg.. aku terkejut, melihat Aisyah yang tertidur diatas sejadah.

Aku berlari menghambur kepadanya, meraih tubuhnya, menyandarkannya dalam pelukanku. Ada nyeri diulu hatiku, nafasku terasa tersenggal, detak jantungku berpacu dengan cepat. Aisyah terbangun, matanya sayu, bibirnya pucat pasi.

“Aisyah…” Ucapku gemetar.

Aisyah hanya tersenyum sebagai jawaban.

“Kenapa tidur disini sayang?” Tanyaku panik dengan suara pelan.

“Aisyah ketiduran,” jawabnya lemas.

Netraku menangkap tangan Aisyah yang nampak kurus, lebih kurus dari pertama kali menikah. Dia pasti menderita olehku. Tak terasa air mataku luruh, mengecup pucuk istriku tanpa henti. Seraya menyalurkan luka yang merobek hati.

“Aisyah maafin kakak..” hanya itu yang mampu ku ucapkan seraya terus mengulangnya.

“Aisyah gak apa-apa kak.”

“Aisyah boleh marah sama kakak, pukul kakak, silahkan Aisyah. Kakak ridho..” ucapku terbata-bata.

Aisyah tersenyum manis, tangannya meraba wajahku, “Bagaimana Aisyah bisa marah kepada kakak? Kakak itu surga Aisyah.. dan kakak itu cintanya Aisyah..”

Kini hatiku benar-benar nyeri. Tak bisa ku jabarkan segala rasa yang menjalar. Batinku berteriak samar. Tentang sebuah rasa yang menyeruak didada.

“Aisyah tidur dikamar ya, kakak gendong..”

Tanpa menunggu persetujuan, aku mengangkat tubuh Aisyah dan pergi ke kamar kami berdua. Menidurkannya secara perlahan, seraya terus mengecup keningnya lembut.

“Istirahat ya Aisyah,” perintahku lembut.

Aisyah hanya mengangguk pelan. Ku raih selimbut untuk menutupi tubuhnya. Tak lama matanya terlelap, segera ku keluar kamar. Ada hal yang ingin ku tau selama aku tak ada.

Ku cari seseorang yang tadi membukakan pintu, rupanya dia sedang didapur dengan satu temannya sedang sibuk membuat makanan.

“Maaf, nama kalian siapa?” Tanyaku sedikit membuatnya terhenyak.

“Nama saya Indah ustadz, dan yang satu lagi Mba Lulu. Saya masih umur 19 dan mba Lulu 21 tahun,” jawabnya pelan.

Kepalaku mangut-mangut mengerti, “Ada yang ingin ku tanyakan. Mari kita duduk di sofa jangan didapur,” seraya melenggang dari dapur.

Akhirnya kami telah duduk bersama, aku duduk disofa sementara mereka duduk dibawah. Berulang kali ku meminta mereka duduk diatas tetapi enggan. Baiklah, aku tak bisa memaksa.

“Apakah Aisyah sakit?” Tanyaku.

“Ustadzah sakit waktu minggu kemarin ustadz. Tetapi, ustadzah jarang keluar kamar,” tutur Indah.

Aku berfikir sejenak, “Apakah Aisyah selalu makan?”

“Ustadzah jarang makan ustadz. Ustadzah hanya makan dihari yang ganjil. Jika hari ini beliau makan, esoknya tidak. Pernah saya bertanya, beliau menjawab karena sedang puasa” Indah kembali bersuara.

“Tetapi ustadz, saya merasa heran kepada ustadzah. Karena beliau jarang keluar kamar. Jika saya lancang mohon maaf,” sanggah mba Lulu.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku penuh tanya.

“Awalnya kami kira ustadzah sakit di kamar. Namun setelah esoknya, kami sedikit khawatir pasalnya ustadzah belum keluar kamar pada hari itu, tak lama beliau keluar dan memerintah kami jangan mengetuk pintu kamar bahkan jika ada tamu kecuali ustadz dan setelah hari itu sampai hari ini, ustadzah sama sekali tidak keluar baik makan atau minum. Kami berdua khawatir, akhirnya kami mengintip keluar dibalik jendela. Ternyata…” Ucap mba Lulu menggantung.

“Ternyata apa?” Tanyaku antusias seraya menatap mba Lulu.

“Ternyata ustadzah sedang duduk diatas sejadah. Pipinya basah seperti sedang menangis, tetapi bibirnya bergerak seakan sedang melafadzkan dzikir. Sedikitpun beliau tidak berusik. Disampingnya ada handphone dan selain itu ada sepiring kurma dan segelas air putih penuh,” jelasnya.

Indah menimpali, “Pikirku itu mungkin kebetulan, esoknya kami mengintip lagi dengan waktu yang berbeda. Ternyata ustadzah tetap duduk diatas sejadah. Semakin hari wajahnya semakin pucat dan airnya hanya berkurang sedikit demi sedikit. Esoknya kami terus melihat kondisi ustadzah sampai tadi pagi kami tetap melihat, dan ustadzah masih tetap duduk.”

“Baiklah silahkan kalian kembali ke dapur,” titahku. Mereka melenggang seraya membungkuk didepanku dengan pelan.

***

Aku berfikir sejenak, dan sedikit terhenyak. Apa karena diriku Aisyah begini. Sesaat aku terus berfikir, hingga aku putuskan mengambil wudhu dan shalat mutlak dua rakaat ditempat Aisyah terbiasa ibadah. Lama aku merenung, meminta petunjuk dari Allah. Mencoba menerka apa yang sebenernya terjadi.

Tak lama, pikiranku tersadar, hatiku teramat nyeri tak tertahankan. Aku mulai bisa menjawab teka-teki kehidupan ini. Bahwasannya ujian ketika aku memadu Aisyah itu bukan ujian untukku. Semua itu ujian untuk Aisyah.

Allah mengujinya dari seseorang yang Aisyah anggap penting dan itu aku. Bahwasannya apakah Aisyah akan berpaling dari ibadahnya yang dilakukannya siang malam hanya karena dimadu olehku atau malah menjadi lebih dekat kepada Allah. Hingga nyatanya, Aisyah malah lebih dekat kepada Allah, malah lebih asik beribadah siang dan malam.

Aku menunduk lemas, sangat diwajarkan jika Aisyah terbiasa beribadah demikian. Dia menuntut ilmu di negeri para Wali Tariem yang waktu siang dan malamnya sibuk mencintai Allah dan beribadah. Jika Aisyah tak belajarpun dia tetap akan terkena kucuran barokah yang membuat dirinya sholehah. Bahkan guru Aisyah pasti bukan wanita biasa, hubabah disana tentunya seorang wali perempuan. Seperti yang sering ku dengar kisah-kisah Tariem dipondok.

Aku hanyalah peran yang membantu menguji Aisyah, apakah ia kuat atau justru lemah dan semuanya telah sempurna diatur oleh Allah. Karena sesungguhnya aku tak bisa mengungguli ibadah Aisyah. Semakin tinggi derajat seseorang, semakin berat pula ujian hidupnya. Aku mulai mengerti sekarang, Hatiku terasa menciut, istriku bukanlah wanita sembarangan.

Air mataku semakin luruh, terisak malu didepan Sang Maha Rahman. Mendapatkan Aisyah jauh lebih membuatku malu daripada sekedar berjalan tak memakai baju.

***

Ku tatap wajahnya yang sayu, tetap tak berkurang keindahan eloknya baik sedang tidur atau terjaga. Bibirku mendekat, mencium setiap inci diwajahnya seraya membaca shalawat.

“Allahumma sholi alaa sayyidina muhammad wa’alla alli sayyidinna muhammad.. cup,” terus-menerus ku lakukan.

Ku raih tangannya yang mulai kurus seraya mengecup membacakan shalawat. Tak pernah luntur senyuman terukir dari bibirku. Mengembang tak terukur. Ku hirup aroma tubuhnya yang wangi, aroma haramain dari Arab.

Netraku menelisik setiap inci yang membuatku rindu. Terus ku ulang menciumnya tanpa lelah. Aisyah tak berusik. Membuatku gembira tak kepayang.

Tak lama netranya terbuka, menangkap wajahku yang tengah fokus menatapnya. Senyumnya merekah, membuat dadaku menyeruakkan kupu-kupu cinta menggema disemesta.

“Masyaallah.. istri siapa sih? Cantik banget…” Godaku seraya mengusap pipinya lembut.

“Mmmm.. istrinya… Orang yang paling ganteng di Bandung, yang sedang disamping Aisyah, yang pake gamis putih, yang rambutnya indah, yang… ”

“Yang apalagi….” Bibirku mengerucut.

“Yang paling bisa buat Aisyah jatuh hati,” jawabnya malu-malu.

Tentu saja aku dibuat tersipu, serasa melayang disemesta. Bibirku merekah, “Kangen gak?” Godaku lagi.

Aisyah tampak berfikir, “Jujur atau tidak yah…”

Rasanya gemas sekali ketika setiap Aisyah berkata, membuatku dimabuk kepayang. Saking gemasnya, aku meraih jari telunjuknya dan menggigitnya lembut.

“Kok jari Aisyah digigit?” Seraya menatapku sambil tersipu.

“Habisnya gemas …”

Aisyah malah tertawa kecil, dia memainkan hidungku.

“Kakak pengen dicium dong sama Aisyah,” pintaku menggoda. Mata Aisyah membulat, pipinya merona.

“Malu ah…” Aisyah bersuara.

“Yaudah kakak akan minta jatah malam ini,” aku mencoba merenggang kedekatan memberi jarak padanya.

Aisyah tersenyum, ia meraih sebelah tanganku lalu menciumnya, “Iya.. Aisyah siap.. kapanpun kakak mau,”

Spontan aku melirik menatapnya, “Sekarang aja deh.”

Tak lama, kami kembali memadu kasih, melepas rindu disetiap hembusan nafas yang beradu, menyalurkan cinta setiap kali kulit kami bersentuh padu. Rinduku kini telah memuncak dengan seiringnya waktu bergulir memadu kami dalam balutan pahala.

***

Setelah melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, aku bergegas mengajak semua orang makan sama-sama tanpa terkecuali Indah dan mba Lulu. Kini mereka sama, bagian keluargaku.

“Makan yang banyak Aisyah,” ucapku melihatnya yang terlihat lesu.

“Iya kak. Indah dan mba Lulu tambah lagi nasi dan lauknya. Sisakan beberapa potong dan berikan kepada tetangga kita jika belum makan,” ujar Aisyah seraya memasukan nasi ke mulutnya.

Aku, Indah dan mba Lulu saling melempar pandangan. Sedikit perasaan ini tersinggung, betapa diri ini tak mengingat itu semua.

Seusai makan bersama, mba Lulu dan Indah bergegas pergi keluar sambil membawa rantang. Ku dapati Aisyah sedang duduk disofa sambil membaca kitab Anwarul Muhammadiyah.

“Hmmmm,” gumamku membangunkan Aisyah. Dia langsung meletakan kitabnya dimeja dan menatapku.

“Kak, Aisyah ingin bertanya sesuatu? Boleh,” alisnya menaut.

“Tentu. Ada apa Aisyah?” Tanyaku santai.

“Apakah kakak sudah menggauli Zahra?” Tanyanya membuat aku terhenyak. Netraku menatapnya lekat-lekat.

“Kenapa Aisyah bertanya seperti itu?” Tanyaku ragu.

Perlahan Aisyah menghembuskan nafas, “Jangan cuekan Zahra kak, beri Zahra hak yang sama. Kakak telah mengemban tanggung jawab yang berat… Jangan sampai kakak diadili di depan Allah..”

Aku terhenyak, seraya malu dan terus melafadzkan istigfar, “Ya Allah… Aisyah.. kakak benar-benar telah jahat sama Zahra. Banyak hal yang telah membuat kakak lelah berada disana selain dengan jadwal yang padat dan membimbing para santri sehingga sampai saat ini….” Aku tak kuasa melanjutkan pembicaraan.

Aisyah mengusap tangaku lembut, memberi seutas senyuman yang hangat, “Tidak apa-apa. Jika nanti kakak pulang, perbaikilah hubungan kakak. Aisyah.. tidak mau… Kakak diadili di akhirat.”

Aku menunduk lemas.

“Jangan pernah lelah membuatku kagum, suamiku.”

Aku menatapnya, perlahan ku dekap tubuh ringkahnya. Tak hanya waktu yang kau korbankan istriku, melainkan hati yang seluas lautan tak bertepi kau berikan untukku… Gumamku dalam hati.

***

Sepertinya halnya di Tasik, aku memberikan waktu untuk Aisyah hanya satu minggu. Hari ini waktuku telah habis, saatnya berpulang ke Tasik. Aisyah menemaniku diteras rumah, seraya menunggu mobil yang ku hidupkan mesinya panas.

“Aisyah, kak Bayu menitip pesan. Kak Bayu akan menikah kabarnya,” ucapku seraya menatap Aisyah.

Mata Aisyah langsung berbinar, “MasyaAllah ,iyakah? Alhamdulillah.. barakallah. Kalau begitu Aisyah ingin izin ke rumah umi nanti ya kak.”

Aku mengangguk menyetujui pintanya, “Tolong sampaikan salam untuk umi dan kak Bayu. Juga tolong beri kabar kepada orang tua kakak mengenai kak Bayu. Ini amanat dari kak Bayu,”

“InsyaAllah.”

“Yasudah, kakak mau pergi dulu ya. Jaga kesehatan ya istriku,” seraya memberi kecupan hangat keningnya.

“Assalamu’alaikum,” ucapku seraya berjalan masuk ke dalam mobil.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah,” jawabnya.

Akhirnya perlahan harumnya tak lagi ku cium. Sadar, aku telah melaju jauh dari pelataran rumah. Sepanjang perjalanan hanya mampu terdiam membisu. Berfikir, merenung, membayangkan semuanya.

***

Setengah perjalanan, aku teringat untuk memperbaiki hubungan dengan Zahra. Ku tepikan mobil disebuah toko oleh-oleh makanan khas Bandung. Aku membeli cukup banyak makanan, khususnya untuk Zahra dan selebihnya untuk santri khidmah.

Kembali aku menancap gas, melajukan mobil pergi ke tempat diri akan bersemayam. Pada diri Aisyah aku begitu banyak belajar, tentang segala makna kehidupan yang terkadang terlalu dipikirkan. Padahal, benar adanya semua hanya sementara.

Sekitar beberapa jam diperjalanan, akhirnya aku sampai dipondok. Para santri berhamburan menyalamiku setelah keluar dari mobil. Setelah, para santri melenggang pergi ke kobong aku kembali berjalan memasuki rumah.

Zahra menyambutku hangat, dia nyalamiku dengan senyuman. Langsung ku sodorkan oleh-oleh dari Bandung. Wajah Zahra berubah seketika, dia nampak bahagia dengan senyuman yang tak berhenti merekah.

“Terima kasih, mas. Oh iya.. mas sudah makan?” Tanya Zahra menatapku.

“Sudah sewaktu sebelum berangkat. Zahra sudah makan?” Tanyaku balik.

Zahra mengangguk, “Kalau begitu mas lebih baik istirahat pasti lelah.”

“Nanti saja, sebentar lagi adzan dzuhur berkumandang. Mas juga sebentar lagi akan pergi ke mesjid. Mas hanya mau memberikan ini dulu kepada Zahra,” sahutku.

“Baiklah. Zahra terima dengan senang hati… Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Benar saja dugaanku, tak lama adzan dzuhur berkumandang. Aku langsung bergegas berjalan ke masjid pemimpin shalat dzuhur berjamaah. Seusai shalat berjamaah, aku kembali mengisi kelas. Mengajar kitab Nashohibul Ibad dan tentunya hanya mengajar di kelas santri bukan santriwati.

***

Jadwal kegiatan dipondok seperti biasanya, tak terasa langit kembali gelap. Menebar udara dingin yang memasuki rongga. Aku memasuki kamar setelah memakna kitab di masjid, ku dapati Zahra telah tertidur terlebih dahulu.

Ku duduk ditepi ranjang, perlahan mendekat menatap lekat wajah Zahra. Tanganku bergerak, mengusap lembut pipinya. Seketika Zahra terhenyak, “Mas,” ucapnya.

Ku hiraukan kekagetan Zahra, aku mulai menghabiskan jarak dengannya. Memperdekat jarak sampai bisa ku cium aroma tubuhnya. Padangan kami beradu, matanya Zahra tampak takut. Ku pegang ubun-ubun kepalanya seraya merapalkan do’a untuk kebaikan baginya. Perlahan ku cium keningnya lembut dengan cukup lama. Netraku terpejam menyalurkan semua rasa. Sepertinya Zahra mulai mengikuti ritmeku. Dia mulai memejamkan matanya mengikutiku.

Ku mulai menjatuhkan bibirku mencium pipinya, hidungnya, kedua matanya, dan bibir ranumnya. Akhirnya kami saling terbuai untuk terus memadu kasih, menyalurkan gejolak dihati, berburu nafas satu sama lain. Mengejar pahala dibalik ibadah yang halal.

Tak lain dan tak bukan, semua ini adalah persembahan sebagai kewajibanku dan hak yang harus diterima oleh Zahra. Aku telah ikhlas, bahkan tak sedikitpun ku campurkan ibadah ini dengan luka. Bukan pula karena perkataan Aisyah, walau sebelumnya Aisyah sempat memerintah. Tetapi, sesaat setelah aku pulang tadi siang. Ada sesuatu getaran dan dorongan yang ingin ku lakukan. Mungkin inilah seruan, untuk mendapatkan pahala. Zahra ataupun Aisyah berhak mendapat kehangatan. Bedanya, kehangatanku pada Zahra berupa kasih sayang dan kehangatanku pada Aisyah berupa cinta.

Baca selnjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here