Aisyah Mawarku #07

0
101
views

Rinai Hujan


Setelah memadu kasih dengan Aisyah tadi malam, rasanya tubuhku begitu lelah. Ku tatap lekat-lekat wajahnya. Parasnya yang menenangkan, akhlaknya yang menyenangkan, membuat hatiku sedikit meletup-letup hebat. Desiran kuat membuat tanganku kembali bergerak, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah eloknya.

Seketika netra Aisyah terbuka, wajahnya langsung merona, sehingga ku sunggingkan senyuman lebar untuknya, “Sakit?” Godaku.

Aisyah langsung mencubit pelan tanganku yang sedang membenarkan anak rambutnya. Aku tertawa geli dengan perlakuannya, “Jangan dicubit-cubit Aisyah.”

“Jam berapa sekarang kak?” Aisyah membuka suara.

Ku raih handphone diatas nakas. Saat dilihat, beberapa pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Alisku menaut.

“Kenapa kak?” Tanya Aisyah lagi.

“Ohh .. mm, jam tiga Aisyah,” jawabku gelagapan.

Ku simpan kembali benda pipih itu diatas nakas, dan belum sempat ku baca beberapa pesan yang masuk itu.

Aku menatap Aisyah yang kesulitan bangun, “Kakak dulu yang ke kamar mandi ya, biar nanti kalau kakak udah selesai bisa bantu Aisyah.”

“Bantu apa?” Tanyanya bingung.

Aku segera melucuti pakaian yang berserakan dan memakainya seraya berjalan ke kamar mandi, “Bantu memandikanmu.”

Tak lama, aku mendengar Aisyah teriak kecil. Lucu, mendengar teriaknya yang malu-malu. Merengek-rengek bagaikan anak kecil.

***

Pagi ini kami disibukkan dengan berbagai bawaan yang akan dibawa. Setelah memesan tiket dari jauh hari. Aisyah begitu bersemangat untuk kepergian kali ini hingga tak heran senyuman di wajah cantiknya selalu terukir.

“Senyum-senyum sendiri,” sindirku seraya memakan cemilan sambil duduk di sofa kamar.

“Aisyah senang saja kak, bisa bertemu lagi guru Aisyah dari Tariem.”

Aku mengangguk mengiyakan, “Kenapa pakai terus kerudung jika didepan kakak?” Seketika Aisyah berhenti dari pekerjaanya.

Aisyah memang unik. Bahkan setelah semalam memadu kasih, sudah saling mengetahui satu sama lain, tetap saja masih malu dihadapanku. Tapi, harus aku akui Aisyah teramat cantik jika berkerudung, wajahnya yang oval membuat terasa begitu pas.

“Hanya belum terbiasa,” jawabnya ragu.

“Tapi,, aku suka. Gak apa-apa Aisyah lakukanlah apa yang Aisyah suka karena berkerudung saat berdzikir dan sholawat lebih beradab,” terangku.

“Apa saja yang kakak perlukan biar Aisyah bawakan?” Seraya melihat-lihat barang bawaanku.

“Mmm.. sudah cukup sepertinya.”

Aisyah mengangguk, dia melenggang keluar kamar entah mau apa. Tak lama, dia datang membawa satu mangkung berisi salad buah.

“Coba cicipi salad buahnya kak,” serunya seraya memberiku satu mangkuk salad buah.

Aku menyunggingkan senyuman padanya, “Aisyah gak mau?” Tanyaku.

“Kakak dulu saja yang makan.”

Aku menarik nafas berat seraya mengambil mangkuk itu dari tangannya, “bawakan aku satu sendok lagi Aisyah,” titahku.

Aisyah segera pergi ke dapur dan mengambilnya. Setelah dari dapur aku langsung menyuruhnya agar duduk disampingku, “Kita makan sama-sama,” seruku.

Aisyah dengan malu-malu memakan salad buah didepanku hingga terkadang satu suapan begitu lama ia kunyah.

***

Deru mobil terdengar dari dalam, aku dan Aisyah bergegas keluar dan mengunci pintu rumah. Untuk sampai di Bandara mungkin butuh beberapa jam, karena antara Bandung dan Jakarta cukup jauh.

Sepanjang perjalanan baik aku atau Aisyah hanyut didalam pikiran masing-masing. Bedanya dengan Aisyah yang sedang asik melihat pemandangan, aku sedang sibuk memainkan gawai. Mengecek pesan yang tadi malam belum ku baca.

“Maaf, ustadz hari ini kajian dimana?” Isi pesannya.

Pikiranku mulai merenung. Sepertinya dia adalah mahasiswi yang meminta nomorku saat dikantor.

Tanganku bergerak membalasnya,”Di Kebon Jeruk, Jakarta. Jam satu siang.”

Tak lama suara pesan masuk berbunyi.

Dia kembali membalas pesanku, “Baik. Terima kasih ustadz.”

Aku hanya melihatnya tanpa membalas.

Ku perhatikan Aisyah yang sedang sibuk di pikirannya hingga mengundang rasa tanda tanya, “Aisyah gak apa-apa?”

Aisyah sedikit terkejut, dia langsung menatapku, “Tidak kak, hanya teringat umi. Biasanya umi yang selalu temani Aisyah mengisi kajian.”

Nafasku gusar, “Maaf jika kakak tidak bisa mengantar Aisyah.”

Aisyah membuat lengkungan manis dibibir ranumnya, “Tidak apa-apa kakak. Sudah jadi kewajiban kakak harus terus mengayomi masyarakat yang membutuhkan kakak.”

Aku hanya membalasnya dengan senyuman.

***

Akhirnya kami telah sampai di bandara, selama itu juga Aisyah tidak melepaskan genggamannya dariku. Aku benar khawatir kali ini, seringkali aku menatapnya gusar.

“Fi amanillah ya habibaty,” ucapku seraya mencium pucuk kepala Aisyah.

“Syukron Jazillaan ya habibi,” balasnya malu-malu.

“Laa syukron alal wajib.”

Perlahan Aisyah melepaskan genggamannya, berjalan perlahan seraya melambaikan tangan. Ulu hatiku nyeri, hingga membuat netraku mengikuti ritmeku. Tak terasa netraku berembun.

Segera aku dan Pak Irwan meninggalkan bandara, melaju ke tempak kajian. Tak terasa di perjalanan adzan dzuhur berkumandang, kami akhirnya sepakat akan melaksanakan shalat di Kebon Jeruk, mesjid tempat kajian. Karena jarak dari bandara tak cukup jauh sekitar satu jam.

***

Setelah melaksanakan shalat dzuhur berjamaah, aku langsung menaiki mimbar untuk memulai tausiah. Tak lama, ku tangkap sosok wanita yang kemarin menemuiku di kantor. Ia tampak bersemangat hadir kali ini. Hanya saja, seperti biasa dia hanya menggunakan celana jeans hitam yang ketat, dengan kaos hitam senada dan kerudung fasmina cream yang hanya menempel. Jadi, seringkali rambutnya tergerai keluar.

Segera ku berpaling darinya, memfokuskan diri untuk terus melanjutkan tausiah. Berharap setiap kata dapat menjadi dorongan mendekatkan diri kepada Allah, menjadi jalan datangnya hidayah dan taufik.

Seusai tausiah, aku dan Pak Irwan di jamu masyarakat kaum adam disana seraya mengobrol menanyakan perkara-perkara ilmu atau bahkan pribadi. Selalu ada saja yang bertanya mengenai kehidupanku, seperti sudah punya diistri dan lain-lain.

***

Tak terasa senja menyambut kepulanganku, dengan segudang kerinduan dikalbu yang menggebu. Ku tatap bangun-bangun yang tingginya menjulang. Jiwaku terbangun, jantungku berpacu dengan cepat, saat mendapati mobil yang di bawa Pak Irwan akan menabrak seseorang. Bersamaan, segera kami turun untuk memastikan korban tidak apa-apa.

Betapa terkejutnya, saat ku dapati yang hampir di tabrak oleh Pak Irwan adalah wanita yang dikantor kampus waktu itu. Matanya sembab, bibirnya bergetar, nafasnya tersenggal, sepertinya dia sedang lari.

Aku segera menghampirinya, “Kamu tidak apa-apa?”

Dia hanya menggeleng cepat sebagai jawaban. Seperti orang ketakutan, beberapa kali dia melirik ke arah bekalang, kanan dan kiri.

“Ada yang kamu cari?” Tanyaku lagi.

“Saya harus permisi, ” jawabnya seraya melenggang meninggalkanku.

Ada yang aneh, firasatku.

***

Aku putuskan untuk menunggu Aisyah dibandara, sekalian untuk menunaikan shalat magrib dan isya. Seperti biasa, setelah shalat aku melakukan wirid dan dzikir.

Kejadian tadi sore terus berputar dalam roda pikiranku, mengusik hatiku. Tapi, biarlah tak ada hak bagiku ikut campur.

Hampir 7 jam aku menunggu Aisyah. Tak lama, handphoneku berdering. Segera ku raih benda pipih itu didalam tas kecil selendangku.

“Assalamua’laikum, Aisyah dimana?” Tanyaku. Ya, Aisyahlah yang menelponku.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah, Aisyah sudah di bandara kak, kakak dimana?” Tanyanya disebrang sana.

“Tunggu di pintu masuk utama, kakak kesana sekarang.” Seraya mematikan handphone dan bergegas menuju pintu masuk bersama Pak Irwan.

Tak lama, ku temukan sosoknya. Dengan gamis hitam bermotif bunga dan kerudung fasmina pink serta cadar poni yang ia kenakan.

“Assalamu’alaikum,” ucapku tepat dibelakangnya.

Aisyah menoleh, “Wa’alaikumssalam Warohmatullah,” jawabnya seraya meraih tangaku untuk disalami.

“Ayo, kita pulang.”

Aisyah hanya mengangguk sebagai jawab. Bergegas Pak Irwan berlalu membawa mobil.

***

Rinai hujan membuat jendela kamar berembun. Mendorong diri untuk memasuki selimbut dengan kekasih hati. Ku lirik sejenak Aisyah yang masih terdiam menatap beberapa lembar kertas. Aku tak tau apa isinya, yang jelas Aisyah nampak begitu serius.

Netraku menelisik, apa yang sedang Aisyah baca. “Itu apa?” Tanyaku.

“Soal untuk diberikan anak-anak MDA.”

Aku hanya mangut-mangut.

“Kakak pengen cerita?” Aisyah nampak mengerti.

“Ada sesuatu yang mengganjal. Percayalah Aisyah, aku tak berani menyembunyikan sesuatu darimu. Sewaktu aku pergi mengisi kajian di Bogor. Seorang mahasiswi datang padaku meminta nomor handphoneku. Gaya pakaiannya sepertinya dia memang terbiasa tidak berhijab,”

Belum sempat melanjutkan percakapan Aisyah langsung memotong, “Kenapa yakin dia tidak berhijab?”

Aku memutar bola mata berpikir,”Ya… karena pada saat kakak melihatnya dia hanya pakai celana jeans dan cardigan. Bahkan cara berkerudungnya belum benar. Tapi yang buat kakak sedikit terusik, saat kakak pulang dari Jakarta, kami kembali bertemu. Pak Irwan hampir menabrak wanita itu untungnya masih bisa direm.”

Aisyah terhenyak, matanya membulat,”Innalillahi.”

“Tapi tidak apa-apa. Pada saat kakak liat dia nampak cemas, nafasnya tersenggal, seperti sedang dikejar seseorang. Kakak sih salut kepadanya.. dia meminta nomor handphone kakak katanya agar bisa ikut jadwal kajian,” terangku.

Netraku menatap heran, pasalnya secara otomatis terukir senyuman dibibir pink mudanya.

“Kenapa?” Tanyaku bingung.

“Aisyah suka kalau tausih kakak bisa mengetuk hati seseorang. Aisyah bangga, berarti perjalanan kakak tidaklah sia-sia,” pujinya seraya terus mengulum senyum.

“Itu kehendak Allah Aisyah.”

“Ajaklah dia selalu kak, dia butuh seseorang yang membimbing. Selalu sematkan kata-kata motivasi seusai kajian,” sarannya.

Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Tak lama, suara handphoneku berbunyi dengan cekatan Aisyah mengambilnya diatas ranjang.

“Terima kasih,” ucapku seraya melenggang pergi dari Aisyah.

Aku terhenyak, mendapati kabar Kyai orang Tasikmalaya yang pernah mengundangku tausiah di kabarkan sakit bahkan sekarang sedang di rawat di rumah sakit. Burhan, adiknya Kyai mencoba memberitahuku karena mendapat titah dari Kyai.

“Ada sesuatu yang mengharuskan ustadz datang ke Tasik,” ucapnya disebrang sana.

Aku menimang-nimang sejenak, “Insyaallah besok saya datang ke Tasik.”

Tak lama Pak Burhan menutup sambungan telpon. Hatiku terus bertanya-tanya, apa yang akan Kyai sampaikan sehingga aku harus datang. Nada suaranya yang disampaikan Pak Burhan seperti memang sangat diharuskan dan begitu sangatnya di tunggu kehadiranku.

Aku langsung menghampiri Aisyah, mencoba memberitahukan kabar yang baru diterima. Seperti biasa, Aisyah selalu menyuguhkan senyuman manisnya. Dia tidak pernah jutek kepadaku. Bahkan Aisyah berpikir harus membeli bingkisan untuk dibawa ke Tasik.

Sejenak aku merenung, pikiranku tersadar. Bahwa Aisyah memang sosok partner hidup terbaik.

“Mau beli?” Tatapannya menelisik netraku.

“Boleh. Tapi sudah malam,” sahutku seraya melihat jam dinding.

“Besok aku antar sebelum kakak pergi ke Tasik.”

Tatapan Aisyah kini berbeda, seraya mengigit bagian bawah bibirnya, “Ada apa?”

“Mmmm.. apakah hari ini kakak perlu aku temani tidur?” Tanyanya malu-malu.

Jantungku berpacu cepat, ada desiran yang menjalar. Jika harus bertanya, setiap suami pasti ingin istrinya menemaninya untuk tidur. Namun pikiran jailku selalu datang tiba-tiba, “Kalau tidak mau apa?”

Aisyah menunduk, “Aisyah mau pindah lagi ke kamar sebelah.”

Bibirku mengerucut, tentunya Aisyah memang kurang peka sama sekali.

“Mau ngapain di kamar sebelah?” Tanyaku lagi.

Aisyah tertawa geli, “Mau shalat, mau khatamin beberapa juz qur’an, mau lanjut shalawat yang belum tuntas hari ini.”

Nafasku tercekat, seketika aku mematung menatap lekat netranya. Perlahan ku dekap tubuh ringkih Aisyah didada bidangku, “Temani kakak malam ini ya, izinkan kakak memberi nafkah batin untuk Aisyah. Izinkan kakak memberi kehangatan untuk Aisyah.”

Setelah kami berwudhu, kami kembali memadu kasih dalam balutan cinta. Setiap sentuhan yang mengandung pahala. Berburu nafas menyeruakkan cinta disemesta. Berharap semoga Sang Maha Pemberi segera memberi kami buah dari cinta kami berdua.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here