Aisyah Mawarku #06

0
269
views

Jam Dinding


Aku tak menyangka Aisyah gadis lugu itu akan bersikap begitu. Tetapi, mengapa dia demikian? Bahkan senyumannya sangat irit sepanjang pernikahan tadi siang. Disaat orang-orang di malam pertama mereguk madu sedangkan aku hanya mereguk rasa bingung.

Aku berjalan mundar-mandir di ambang pintu 2 kamar yang dulu menjadi kamar tamu dan kamarku. Tak lama suara derap kaki seseorang masuk dari pintu belakang, itu pasti Aisyah firasatku.

Aisyah berjalanan menunduk, jalanya gontai tak bersemangat. Wajahnya sayu dan lemas aku tau di lelah. Langsung ku cekal sebelah tangannya saat ia hendak melewatiku.

“Apa apa kak?” Tanyanya gugup.

Aku menatapnya, “Kamu itu kenapa Aisyah?” Nada suaraku sedikit tinggi.

Senyuman dibibir mungilnya itu terbentuk, “Bukannya kakak tidak siap menikah denganku?”

“Maksud?” Aku semakin dibuat bingung oleh setiap kata-kata yang ia lontarkan.

“Maaf jika Aisyah dengar kakak waktu ngobrol bersama teman kakak, tapi Aisyah mohon… niatkan semua ini demi ibadah. Aisyah juga tidak memungkiri jika Aisyah belum ada rasa kepada kakak. Tetapi, setelah kakak melakukan ijab qobul dengan kak Bayu. Disana Aisyah berjanji telah sepenuhnya memberikan diri dan hati Aisyah untuk kakak.”

Bagaikan ditusuk belati, ucapan Aisyah membuat hatiku teriris,”Begitupun aku Aisyah, pernikahan ini semua ku lakukan untuk ibadah. Tapi, jangan pernah berbuat sesuatu yang tidak aku suka.”

Aisyah masih membisu seraya menatapku nanar.

“Bolehkah aku egois?” Tanyaku.

Aisyah terdiam.

“Kamu boleh tidur sendirian, tapi tolong barangmu jangan sampai berpisah denganku. Pakaianmu simpan satu lemari di lemarku. Bahkan alat make-upmu tolong simpan dinakas kamarku. Kamu hanya boleh tidur ditempat yang berbeda tapi tidak boleh melepas sesuatu yang tidak aku suka,” tegasku.

Aisyah tersenyum manis seraya mengangguk pelan.

Ku menggenggam tangannya pelan, mengajak masuk kamar,”Sekarang kamu masukan pakaian kamu, dan tolong yang kakak juga.”

“Iya,” jawabnya pelan.

Aisyah begitu cekatan membereskan semua pakaianku dan dirinya. Sejenak aku bingung, semua pakaian yang dibawa Aisyah gamis abaya hitam. Pakaian yang berwarna hanya pakain dalam seperti celana tidur dan lainnya.

“Aisyah mau tidur pake gamis?” Tanyaku membuat tangan Aisyah berhenti bekerja.

“Aisyah sudah terbiasa kak, tak enak jika pakai baju kaos saja,” jawabnya.

“Nanti kakak belikan.”

Tak ada jawaban dari bibir mungilnya itu. Tiba-tiba perutku merasa lapar, karena makan siang hanya tadi saja setelah akad.

“Aisyah mau makanan apa? Kakak mau beli keluar,” ucapku.

“Terserah kakak saja.”

Aku mengangguk, ku lenggangkan kaki keluar seraya mengucapkan salam yang langsung di jawab oleh Aisyah.

Tiba-tiba saat kakiku telah melangkah mau keluar pagar, Aisyah meneriakiku. Dia berlari-lari ke arahku dengan menggunakan niqob yang mungkin baru ia kenakan. Karena aku tau, Aisyah tak ingin ada yang melihat wajahnya selain mahramnya.

“Ada apa Aisyah?” Tanyaku sambil berdiri mematung.

“Aisyah lupa,”

Tak lama Aisyah mendekat, dan meraih tanganku. Dia mencium tangannya. Hatiku bergetar, ada desiran yang terasa menjalar. Bahkan netra ini seakan tak ingin berpaling dan waktu terasa terhenti seketika.

“Maaf,,, Aisyah tadi sibuk beresin pakaian jadi lupa,” ucapnya kikuk.

Aku tertawa geli, padahal hanya hal sepele.

“Gak apa-apa, kan Aisyah lupa juga karena beresin baju kakak, udah masuk lagi,” sahutku.

Aisyah mengangguk dan berjalan memasuki rumah. Aku menggeleng, merasa lucu dengan adegan barusan.

“Ada-ada saja Aisyah,” gumamku.

***

Setelah membeli dua potong ayam bakar disertai nasi. Aku langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah berulang kali aku ucapkan salam tetapi tak ada yang menjawab. Akupun segera masuk untuk memastikan. Nampaknya Aisyah telah selesai beres-beres. Dia duduk santai di ruang keluarga sambil memegang tasbih putih. Aisyah mengenakan baju abaya hitam bercorak dengan kerudung fasmina warna dongker. Sepertinya dia telah berganti pakaian. Karena sebelumnya bukan baju itu yang ia pakai.

“Assalamu’alaikum,” ucapku.

Aisyah terperanjat kaget, “Wa’alaikumssalam Warohmatullah, kakak sudah pulang?”

“Aku dari tadi ucap salam gak ada yang jawab.”

“Maaf, Aisyah sedikit mengantuk.”

Wajahnya nampak lesu, tak tega membuat dia menungguku membeli makanan.

“Makan dulu baru tidur,” ujarku.

Aisyah mengangguk, dia segera melenggang pergi ke dapur. Tak lama Aisyah datang membawa dua piring dan dua sendok. Segera Aisyah menuangkan nasi dan lauk pauknya ke piring. Aku hanya terdiam memperhatikannya. Setelah menuangkan makanan, Aisyah berdiri dan kembali ke dapur. Kali ini dia membawa dua gelas air.

“Terima kasih,” ucapku.

Aisyah hanya tersenyum sebagai jawaban.

***

Rasa kantuk mulai menyerangku, namun sesaat semuanya hilang. Saat aku melihat, Aisyah mulai berjalan ke kamar sebelah yang berdampingan dengan kamarku.

Aku menarik nafas pelan, seraya mengusap wajah dengan kasar. Semua ini memang salahku, tak pandai menjaga lisan yang pada akhirnya harus ku telan pil pahit kehidupan.

Pikiranku mulai melayang, menelusuri lorong hati yang selalu gelap. Masih bertanya siapakah yang kini kian bertahta. Masihkan adakah sosok Aliyah atau Aisyah.

Ku pejamkan netra ini dengan paksa. Berharap tidur menjadi obat untuk suka lara.

***

Mataku terbuka perlahan, memandang remang seisi ruangan. Ku turun dari ranjang serya pergi ke kamar mandi mengambil wudhu.

Aku terkejut setelah keluar dari kamar mandi. Ku lihat jam dinding masih pukul 12.00 malam. Kalaupun waktu tahajud aku biasanya melaksanakan pukul 03.00 dini hari sambil menunggu adzan, ini terlalu malam.

Namun hatiku mengusik, aku penasaran apakah Aisyah telah tidur?
Aku mengendap keluar dan melihat Aisyah di balik jendela. Mataku terbelalak, menangkap sosok Aisyah yang masih terjaga dengan memakai mukena. Dia duduk diatas sejadah seraya memegang tasbihnya.

Hatiku berdesir merasakan guncangan yang kian merusak pertahanan diri. Rupanya, Aisyah istriku seseorang yang luar biasa, yang ia habiskan siang dan malamnya mengabdi kepada yang Maha Kuasa.

Aku belum sekuat Aisyah dalam menahan kantuk. Ada rasa bahagia yang memuncak tat kala mendapatinya sibuk beribadah kepada Allah. Tak henti-hentinya bibir ini berucap syukur. Pantas saja wajahnya sangat cantik, karena dia adalah sang wanita penghuni surga. Surgaku didunia dan akhirat.

***

Kali ini aku ingin berusaha seperti Aisyah, ku buka kitab Ihya Ulumudin. Memang aku sudah pernah khatam sewaktu dipondok. Tetapi, daripada memantung tanpa diisi dengan ibadah sayang rasanya. Jam dinding mungkin akan menjerit, karena tak rela dirinya berputar untuk hamba Allah yang bermaksiat. Karena sesungguhnya segala sesuatu akan bersaksi diakhirat kelak.

Jam dinding menujukkan pukul 03.00 dini hari, segera ku gelar sejadah untuk shalat malam. Tapi rasanya, tak enak shalat malam sendirian. Ku ketuk pintu kamar Aisyah, tak lama ia muncul dengan mukena yang masih melekat.

Tatapannya sayu, aku tau dia lelah. Dia tersenyum manis kepadaku, akupun membalasnya.

“Shalat malam berjamaah ya,” ucapku.

Aisyah hanya mengangguk.

Dia mengambil sejadahnya dan mengikutiku menggelar sejadah di kamarku.

Suasana terasa syahdu, setelah mengucapkan salam. Aisyah mendekat dan menarik tanganku. Jika kami bersentuhan tentunya akan membatalkan wudhu, jadi aku gunakan ridakku untuk menghalangi kulitku.

Hingga tak terasa waktu berjalan dengan cepat, aku segera keluar untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid.

***

Pagi ini ada yang berbeda tentunya, Aisyah sudah sibuk berkutat didapur untuk memasak sarapan. Sementara aku, siap-siap akan pergi ke Bogor untuk kajian nanti siang.

Tak menunggu lama, Aisyah segera menghidangkan sarapan. Ku cium aroma masakan yang menyeruak menggundang rasa lapar. Setiap ku menangkap sosok Aisyah tak hentinya bibirnya berucap. Dia pasti sedang shalawat dan berzikir. Karena terkadang aku bisa mendengar walau samar.

“Ayo makan,” ajakku.

Aisyah menggeleng seraya tersenyum manis.

“Kenapa?” Tanyaku.

“Aku selalu melaksanakan puasa daud. Karena kemarin tidak puasa, hari ini aku berpuasa.”

Aku mengangguk malu. Jika aku yang hanya puasa senin dan kamis, Aisyah malah lebih rajin. Netraku menatap tangan Aisyah yang putih dan mulus. Perlahan ku raih tangannya. Awalnya Aisyah kaget, namun dia tidak berkutik.

“Kalau buka puasa, makanlah yang sehat. Tanganmu perlu asupan yang lebih,” ucapku.

“Aisyah kurus?” Tanyanya gugup.

Aku menggeleng, “Tidak. Hanya sedikit kering dan ya…” Aku menggantukan ucapan.

“Ya apa kak?”

“Ya sedikit kurus, aku ingin kalau kamu sedikit berisi. Bukan karena tak suka, tapi aku takut kamu sakit.”

Seketika ku temukan rona merah dipipi putihnya. Dia menunduk menyembunyikan rasa malunya.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Sepulang aku dari Bogor, insyaAllah aku belikan buah-buahan dan cemilan. Kamu pasti bosan harus di rumah terus,” lanjutku.

“Kak besok Aisyah mau pergi ke Malaysia.”

Aku lupa. Iya benar, besok Aisyah akan pergi ke Malaysia. Tiba-tiba rasa sakit menyeruak didada. Ada apakah ini?

“Kakak akan usahakan pulang cepat dan kakak tidak izinkan Aisyah menginap disana.”

“Kenapa?”

Aku menatap matanya, “Disana belum tentu aman Aisyah. Bagaimanapun kamu tanggung jawabku sekarang. Kakak akan jemput kamu dibandara jam berapapun kamu pulang. Acaranya siang atau malam?”

“Siang,” jawabnya seraya menunduk.

“Itu bagus. Karena kebetulan kakak besok ada jadwal kajian di jakarta. Waktunya siang juga, jadi Aisyah bisa bareng sama kakak,” jelasku.

Aisyah hanya mengangguk.

***

Setelah melaksanakan shalat dzuhur, bergegas aku siap-siap. Tak lama, Aisyah masuk ke kamarku.

“Boleh bantu merapihkan?” Tanyanya gugup.

Aku menangguk seraya tersenyum.

Aisyah mendekat, merapihkan gamis putih yang ku kenakan.

“Sudah,” ucapnya.

“Mau ikut?” Tanyaku lembut.

“Tidak kak, Aisyah hari ini harus ngajar anak-anak di masjid,” jawabnya.

“Mmm.. iya.”

“Kakak pulang jam berapa?” Seraya mengambil tas untukku bawa.

“Malam, jangan tunggu aku pulang. Karena di khawatirkan pulangnya larut malam.”

Aisyah terdiam sejenak, “InsyaAllah Aisyah akan tunggu kakak pulang.”

“Baiklah.”

Tak lama suara deru mobil terdengar. Pasti itu Pak Irwan. Segera ku keluar rumah yang didampingi Aisyah namun aku tak mengizinkannya keluar rumah. Cukup sampai antarkan aku diambang pintu rumah. Seperti biasa Aisyah menyalamiku sebelum pergi.

***

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, kini kakiku telah berpijak disebuah tempat perkuliahan di kota Bogor. Ya, jadwal kajian kali ini adalah mengisi kajian di perkuliahan. Katanya, hari ini adalah ulang tahun kampusnya dan katanya juga ingin ada istigosah sebagai wujud syukur.

Saat kakiku melangkah menuju aula tempat kajian, terdengar seruan dan teriakan beberapa anak gadis. Hmmm.. perlu aku akui memiliki wajah tampan memang kadang harus banyak istigfar. Karena banyak sekali yang kadang mencoba mendekati dengan berbagai cara.

Bahkan saat pertama kali aku buka suara untuk memulai tausih, hampir semua kaum hawa bersuara riuh sampai-sampai mc harus memberi sedikit titah agar mereka diam dan mendengarkan dengan seksama.

Tausiah yang ku sampaikan kali ini mengenai taubat, setelah hampir satu jam menyampaikan tausiah, netraku menangkap satu sosok perempuan yang terus sesegukkan terhanyut dalam tangisan.

Warna kulitnya putih, dia memakai cardigan panjang berwarna hitam, dengan kerudung fasmina warna hitam senanda. Rambutnya sedikit terlihat karena sepertinya dia tidak menggunakan jarum difasminanya.

Dia duduk di paling depan pojok kiri. Ku perhatikan dengan seksama, semua memang terlihat ada yang menangis. Tetapi, yang ku lihat pada dirinya ada yang berbeda. Seperti menyimpan ribuan luka yang tak bisa diobati.

Tak terasa, dua jam aku memberi tausiah akhirnya selesai. Seperti biasa, aku dijamu terlebih dahulu di kantor kampus.

Aku mengistirahatkan raga ini diatas sofa hitam, sambil berselancar di media sosial. Saat semua sedang keluar, tak lama aku mendengar derap langkah yang mendekat. Langsung ku alihkan pandanganku ke arah suara itu dan ternyata gadis tadi yang sempat ku perhatikan saat tausiah.

Matanya sembab, bibir ranumnya sedikit bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu.

“Maaf ustadz, apakah ada waktu?” Tanyanya penuh dengan hati-hati.

Aku mengangguk sebagai jawaban.

“Bisakah saya mendapatkan nomor telpon ustadz? Saya ingin bisa mengikuti kajian-kajian ustadz lainnya..”

Belum sempat dia melanjutkan segera ku potong pembicaraanya,”Untuk?”

Dia menarik nafas sebari mengusap bulir bening dipipinya, “Setiap saya mendengar tausiah yang ustadz sampaikan. Saya mulai terhanyut didalamnya. Tolong ustadz, berilah cahaya agar saya dapat bebas dari kegelapan ini.”

Takut mengundang fitnah, segera ku berikan nomor handphoneku dan memintanya untuk keluar. Bukan karena benci atau tidak suka, dikhawatirkan ada fitnah. Karena melihat pakaiannya yang kurang begitu baik merasa perlu hati-hati.

***

Sekitar pukul sembilan malam aku pulang ke rumah, dengan membawa satu kantung kresek besar buah-buahan dan satu kantung kresek lagi cemilan.

Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba Aisyah keluar dan menyalamiku santun.

“Assalamu’alaikum,” ucapku seraya melangkah masuk ke dalam rumah.

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah,” Aisyah langsung mengunci pintu dan duduk disampingku di ruang keluarga.

Ku sodorkan dua kresek yang telah ku bawa “Ini.”

Raut wajah Aisyah sedikit kebingungan.

“Ini buah-buahan dan cemilan yang tadi pagi aku katakan,” jelasku.

Aisyah tersenyum menatapku, “Terima kasih kak. Kakak mau mandi, Aisyah sudah siapkan air hangat,” tawarnya.

Aku menangguk sebagai jawaban. Sementara Aisyah langsung membawakan handuk untukku.

***

Setelah melakukan ritual untuk membersihkan diri, Aisyah kembali melakukan hal yang tak ku suka. Dia mau masuk kamar yang kemarin. Pasti, dia tak ingin tidur denganku.

Walau hatiku masih abu-abu, tetapi aku tak suka Aisyah yang menghindar seperti itu. Aku kepala rumah tangga merasa tak dihargai, merasa seperti hidup sendiri.

Kembali ku cekal tangannya saat hendak memegang gagang pintu kamar,”Jangan tidur lagi disana,” titahku.

Aisyah terdiam diam menatapku dengan penuh ketakutan, hingga ku tarik perlahan tangannya. Ku bawa ia ke kamarku agar tidur bersama. Ku dudukan ia dipinggir ranjang.

“Mari kita lakukan ibadah Aisyah,” ucapku bersamaan saat meraih tangan mungilnya itu.

Raut wajahnya berubah, aku yakin dia pasti terkejut. Tapi tak sedikitpun ia membantah. Perlahan, ku rapalkan doa saat menyentuh ubun-ubunnya seraya memejamkan mata.
Netraku mulai terbuka, menangkap sosok ia yang teramat cantik jelita. Perlahan ku tatap ia lekat-lekat. Sering kali Aisyah memalingkan pandangannya namun ku tarik pelan dagunya untuk tetap diam.

Aisyah terdiam menerima perlakuan manisku. Hingga perlahan ku menciumnya. Mulai dari keningnya, sebelah pipi kanan dan kirinya, hidungnya, kedua matanya, dagunya, sampai tiba dibibir ranumnya.

Perlahan tapi pasti, kini ku rasakan mereguk madu bersamanya. Seakan terbang melintasi nirwana. Berharap semoga ridho Sang Maha Kuasa terlimpah untuk kami berdua.
Melintasi ruang dan waktu yang seakan terhenti. Tak berhenti ku ucapkan puji dan syukur atas pernikahan yang semoga Allah meridhoi.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here