Aisyah Mawarku #04

0
156
views

Mawar


Mengapa air mata ini tetap mengalir

Padahal sudah ku katakan “Berhentilah!”

Dan mengapa hati ini tak tenang

Padahal sudah ku katakan “Tenanglah!”

Beberapa hari setelah memutuskan acara pernikahan aku dan Aisyah. Aku sudah mulai sibuk oleh jadwal kajian hingga hampir setiap malam harus pulang larut malam. Badan rasanya terasa sakit semua, hatiku mulai sedikit mereda pasalnya kesibukan mengisi jadwal membuat lupa tentang lara hati yang menerpa.

Sudah hampir 3 hari, selama itu juga aku sama sekali tak mengikuti kesibukan keluarga dalam mempersiapkan acara pernikahanku nanti. Bahkan sekedar bertanya bagaimana dan apa saja yang diperlukan. Enggan, itulah alasannya. Lagian abi sama umi pasti faham perihal kesibukanku.

Esok hari aku harus segera pergi ke Tasikmalaya, ada dua jadwal yang harus diisi disana. Segera ku bereskan beberapa pakaian dan berbagai kebutuhan lainnya untuk dibawa. Tak lama terdengar suara seseorang yang masuk kamarku.

Aku menoleh, “Umi?” Sahutku.

Seperti biasa umi selalu tersenyum padaku, “Lagi siap-siap ya mad?”

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Kamu harus jaga kesehatan, tujuh hari lagi kamu akan menikah,” tutur umi seraya ikut membantu ku memasukan barang ke koper.

“Mad?” Tanya umi pelan.

Aku masih terdiam.

“Kamu gak keberatankan soal menikah ini?” Tanya umi lagi.

Aku tersenyum kecil, “Tidak umi. Muhammad ikhlas, lagian sudah takdirnya.”

“Kamu seperti banyak pikiran Mad. Umi dan abi tak tega melihatmu seperti ini. Apakah begitu menyakitkannya Aliyah meninggalkanmu?” Tanya Umi yang lolos membuatku membisu.

Ragu, harus bagaimana ku menjawab.

“Umi, Muhammad sudah gak apa-apa perihal tentang Aliyah. Lebih baik umi tak perlu membalasnya.”

Umi menatapku, “Yakin?”

Spontan ku anggukkan kepala.

“Kemarin, Aisyah telpon umi. Dia menanyakan perihal apa saja yang perlu disiapkan. Aisyah ingin memilih dekorasi untuk acara nanti. Umi rasa kamu perlu pergi ke Bandung..”

Belum sempat umi melanjutkan pembicarannya, seketika aku langsung memotongnya, “Umi, umi kan tau kalau Muhammad sibuk. Apalagi besok harus segera pergi ke tasik dan malam ini Muhammad mau istirahat agar besok tidak terlalu kecapean.”

Tentu saja semua itu hanyalah alasan. Bagaimana mungkin aku pergi ke Bandung seorang diri? Itu hanya akan membuatku semakin menderita.

“Mmm, baiklah Mad gak apa-apa. Lagian Aisyah gak memintamu datang, ini cuman saran dari umi agar kamu lebih kenal sama Aisyah,” tutur umi lembut.

“Perkenalan bisa setelah nikah kok umi,” ujarku sebari tersenyum.

Umi membalas dengan senyuman, “Yasudah, umi pergi dulu ke dapur. Besok umi sama abi juga mau berangkat. Mau pesen undangan soalnya kata umi Aisyah terlalu sibuk disana. Jadi masalah undangan biar umi dan abi yang urus.”

Aku mengangguk sebagai jawaban. Tak lama umi pun keluar dari kamar. Sebenarnya, aku merasa kasian abi dan umi harus sibuk mengurus segalanya. Tapi apalah daya untuk saat ini aku tak bisa berbuat banyak.

“Tolonglah mengerti,” batinku.

***

Mobil telah dipanaskan oleh Pak Irwan, koperku semua telah dimasukan ke dalam bagasi. Umi dan abi menatapku, tak ketinggalan senyuman manisnya yang selalu mengundang rasa rindu. Kali ini, hanya menggunakan koko putih dan celana hitam, tak lupa peci putih yang menjadi ciri khasku.

Ku tarik pelan tangan umi terlebih dahulu untuk dicium, ku tatap lekat-lekat netranya yang begitu indah.

“Do’ain Muhammad ya umi,” ucapku sebari tersenyum.

Umi mengangguk pelan, “Pulanglah dengan sehat dan selamat ya Mad, hati-hati di jalan dan jangan lupa jaga pola makan.”

“Iya umi.”

Ku lepas tangan umi dan bergantian menarik tangan abi yang akan ku cium.

“Jaga diri disana ya Mad, awas bentar lagi kamu kan mau jadi pengantin,” goda abi.

Aku hanya tersenyum sebagai jawaban, “Yasudah, Muhammad mau berangkat, jaga kesehatan juga ya umi, adi. Jangan terlalu sibuk mengurusi pernikahanku. Assalamualaikum,”

“Wa’alaikumssalam Warohmatullah,” jawab keduanya.

***

Sepanjang perjalan mengundang rasa yang tak bisa ditahan. Ada gelisah yang membuat duduk tak nyaman. Tak pernah ketinggalan aku selalu membawa tasbih kaukah berwarna coklat kemanapun dan dimanapun. Tentunya sebagai seorang hamba wajiblah mengingat penciptanya, yang selalu memberikan ni’mat yang tak terhingga dan tak bisa dihitung.

Tak lama, suara handphoneku berdering sepertinya ada pesan masuk. Ku raih handphone di dalam tas selendang yang sedang dikenakan.

Satu pesan masuk tanpa nama.

“Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakaatuh, afwan kak Muhammad mau pergi? Sebelumnya maaf Aisyah sms kakak. Ada sesuatu yang harus Aisyah sampaikan.”

Rupanya Aisyah yang mengirim pesan kepadaku, tapi darimana dia tau nomorku?

Ah, pastinya kak Bayu memberitahukannya. Tapi ada apa ya? Pesannya mengantung. Sesuatu apa yang harus disampaikan?

Tak lama satu pesan masuk.

“Aisyah, sepertinya harus pergi ke Malaysia. Ada undangan kajian yang harus Aisyah isi dan acara kajian kali ini cukup penting. Tetapi, acara itu tepat pada saat hari pernikahan Aisyah dan kakak. Aisyah ingin meminta pendapat dari kakak?”

Pergi? Ke Malaysia?

Apa aku akan ditinggalkan untuk kedua kalinya?

Ku balas cepat pesan dari Aisyah, “Waalaikumssalam Warohmatullahi Wabarakaatuh. Bersama siapa kamu akan pergi? Sepenting apa itu Aisyah?”

Tak menunggu lama balasan Aisyah masuk, “Masalahnya guru Aisyah dari Tariem akan hadir. Aisyah mau sekali bertemu dengan guru Aisyah, jadi menurut Aisyah ini lebih penting.”

Aku menarik nafas gusar sebari mengetik balasan kepada Aisyah, “Baiklah kita percepat pernikahan kita? Bukannya pernikahan sekitar 7 hari lagi? Sepulang aku dari Tasik kita langsung saja menikah. Aku tak mau ada sesuatu yang terjadi pada saat hari pernikahan kita.”

Sebenarnya aku sedikit kesal terhadap Aisyah seenaknya dia mau pergi. Walaupun dalam hatiku masih belum memiliki rasa apapun terhadapnya. Aku tak ingin hati ini kembali menderita. Setidaknya pernikahan ini menjadi penyelamat dari kemaksiatan hatiku.

Satu pesan masuk dari Aisyah, “Dipercepat? Tapi kak bagaimana persiapannya?”

“Kita lakukan ijab kabul terlebih dahulu, masalah persiapan bagiku cukup untuk masak-masak. Dekorasi sederhana dan tak banyak tamu undangan dan tolong batalkan pembuatan undangan apapun. Tamu yang hadir hanya ada keluarga kita dan teman dekat,” balasku cepat.

Itu salahmu Aisyah. Seandainya kamu bilang terlebih dahulu saat memutuskan tangga kalau hari itu kamu akan pergi, rancuku dalam hati.

Aisyah kembali mengirim balasan, “Tapi kak?”

Aku menelan salvina, seraya menenangkan hati yang mulai tak tenang, “Tolong patuhi aku Aisyah ”

Kembali ku simpan handphone ke dalam tas setelah membalas dengan singkat kepada Aisyah. Aku yakin Aisyah tak mungkin berani membantahku. Lagian kepergianku di Tasik tak akan lama Sekitar tiga hari. Menurutku, persiapan selama tiga hari cukup untuk mempersiapkan segalanya.

Untung saja hatiku sayang, kalau tidak ingin rasanya memarahinya.

***

Perjalanan ke Tasikmalaya cukup melelahkan. Sebenarnya hanya perlu dua hari untuk berada disini. Tetapi, karena sudah di tasik lebih baik aku berziarah kepada waliyuLLaah. Semoga mendapat barokah untuk pernikahan dan rumah tanggaku nanti.

Ku tatap langit yang mulai menyeruakkan sinarnya. Sekilas terbayang, saat hal-hal yang menyakitkan yang belum bisa aku lupakan. Mengingat betapa kejamnya sebuah pengharapan. Aku tak ingin gagal dalam kedua kalinya, mengingat rasaku pada Aisyah yang masih hambar tetapi untuk terus berlarut dalam kesedihan itu gila.

Mengingat boleh saja asal jangan kembali.

Aku dan Pak Irwan bergegas masuk ke hotel. Pak Irwan sibuk membereskan barang bawaannya, sementara aku langsung membersihkan diri rasanya sudah sangat gerah dan lengket sekali.

Waktu berlalu meninggalkan aroma rindu.

Setelah berkutat dengan barang bawaan, tak terasa adzan magrib berkumandang. Bergegas aku dan Pak Irwan pergi ke mesjid terdekat hotel untuk shalat berjamaah.

Seperti biasa aku dijadikan imam shalat kali ini, ada rasa haru saat membacakan surat al waqiah. Ya, kali ini aku membaca surat al waqiah di rakaat pertama. Bagaimana tidak, angan-angan dan harapan hanyalah sebuah impian ketika sang maut berkata kembali. Adakalanya manusia sibuk dengan persiapan ini dan itu tetapi melupakan persiapan untuk datangnya ajal.

Padahal, apakah diri ini yakin akan selamat didalam tanah?

Seorang diri? Dengan memakai beberapa helain kain putih tanpa jahitan.

Apakah amal-amal yang telah dilakukan akan menjamin keselamatan diri?

Tidak, semua itu terlalu jauh dari harapan.

Bayangkan saja, seseorang yang hidupnya penuh dengan ilmu dan hikmah bahkan telah dinyatakan orang yang pertama masuk surga saja masih ada rasa gelisah, masih terus menerus di dalam sujudnya kepada yang Maha Kuasa. Lantas siapa diri ini?

Nabi bukan? Rasul bukan? Tetapi sudah santai menghadapi setiap waktu yang terus bergulir ini.

Waktu mengiringi shalat yang begitu syahdu ini. Setelah ucapan salam, aku melanjutkan dengan wirid dan dzikir yang diikuti puluhan jama’ah untuk menunggu waktu isya.

“Bibir ini tak ada hentinya memanggil namaMu, Wahai dzat sang pemilik.

Tetapi panggilanku sungguh hina, karena namaMu harus ku sebut menggunakan bibir yang kotor dengan penuh dosa ini,” batinku.

Tak terasa adzan isya kembali berkumandang, segera kami semua merapatkan shap. Segala puji bagi Allah, aku kembali diizinkan menjadi imam shalat isya. Setelah shalat dan wirid, tepat pukul delapan malam aku dan Pak Irwan bergegas menuju ke lokasi mengisi kajian.

Jarak antara hotel dan tempat kajian cukup jauh, memakan waktu sekitar 40 menit. Sesampainya disana, suasana begitu ramai dengan iringan shalawat. Setela turun dari mobil, aku di kawal oleh beberapa orang untuk dijamu dulu di pesantren. Ya, aku mengisi kajian di pondok pesantren.

Sesampainya di rumah Kyai pemilik pondok, aku langsung di jamu langsung oleh Kyai Mashuddin. Raut wajahnya tenang, dan terlihat ada cahaya di wajahnya. Dengan dzonku, beliau adalah orang ahli ibadah dan amal.

“Alhamdulillah ustadz sampai dengan selamat,” ucapnya lembut.

Aku mengangguk seraya membalas dengan senyuman, “Alhamdulillah Kyai, ana selamat berkat do’a dari semuanya. Khususnya dari Kyai.”

“Hanya sendiri ustadz datang kemari?” Tanya Kyai sebari menuangkan air teh untukku.

“Sendiri Kyai.”

Kyai menengok ke arahku, “Belum menikah?”

“Belum,” jawabku dengan seulas senyum simpul.

Kyai mengangguk sebagai jawaban.

Perlu diketahui walau aku sudah merencakan akan menikah dengan Aisyah. Nyatanya aku memang belum menikah. Semua itu hanya rencana dan menurutku jawabaku tidak salah sama sekali.

“Silahkan ustadz minumnya,” tawar Kyai.

Aku mengangguk dan segera menyeruput hidangan teh hangat dari Kyai. Tak lama seorang perempuan datang mendekati Kyai sambil membisikan sesuatu kepada Kyai. Aku tak tau apa yang sedang di bicarakan.

Dari yang kulihat, sepertinya perempuan itu anaknya terlihat dari wajahnya mirip. Warna kulitnya putih, matanya sipit dan hidungnya mancung. Bibirnya kecil berwarna merah. Dia memakai kerudung fasmina berwarna maroon dengan baju gamis abaya hitam. Cantik, menurutku.

Setelah mengirim pesan ke Aisyah siang tadi, aku teringat belum mengecek handphone. Walau sedari tadi handphone ini berasa disaku, tapi jariku lebih asik memegang tasbih dibandingkan benda tipis itu. Sebari untuk melihat jam, ternyata ada dua pesan masuk.

“Maafkan aku kak, maafkan Aisyah salah. Seharusnya Aisyah tak seegois ini pada kakak. Baiklah keputusan apapun yang kakak mau Aisyah akan menurut.”

Satu lagi pesan yang belum ku buka, “Aisyah harap kakak tidak marah. Semoga perjalanan dakwah kakak lancar dan selamat. Semoga Allah memberikan barokah serta rahmat dan tak lupa semoga kakak menjadi jembatan datangnya hidayah dan taufik.. aamiin.”

Hatiku berdesir, jantungku bertalu-talu. Tak terasa bibir ini menyunggingkan senyuman. Sudah ku duga, Aisyah memang sholehah, aku yakin dia tak mungkin menolak apalagi ini perintahku.

Suara Kyai membangunkanku, “Ustadz ada apa?” Tanyanya keheranan.

“Oh.. tidak ada apa-apa Kyai,” jawabku gelagapan.

“Tadi itu putri saya, namamya Zahra anak pertama. Beliau tidak mondok keluar, dia saya didik langsung di rumah,” ucapnya.

“Masyaallah, itu sangat baik Kyai. Mendidik anak dan istri adalah kewajiban suami bukan orang lain,” timbalku.

“Usianya sekarang dua puluh tahun, lima tahun berada di bawah ustadz.”

Aku mengangguk seraya tersenyum.

Ya, umurku sekarang dua puluh lima tahun, sedangkan Aisyah umurnya dua puluh tiga tahun. Aku tau sewaktu silaturahmi yang lalu.

“Kalau ustadz mau, saya mau menikahkan ustadz dengan zahra,” ucap Kyai sebari menatapku.

Deg, jantungku berdegup kencang. Nafas ini seakan tersenggal. Dengan sigap segara ku ambil nafas dalam-dalam, “insyaallah saya akan menikah dalam waktu yang dekat ini Kyai.”

Kyai tersenyum semakin membuatku bingung, “Tak apa, Zahra bisa jadi istri kedua ustadz.”

Istri kedua?

Tidak! Aku belum berpikir sampai sana. Walau secara nafkah aku mampu tapi itu terlalu jauh. Bahkan bahtera nikah dengan Aisyahpun belum aku arungi.

“Tak usah cemas ustadz. Pikirkan dulu baik-baik. Saya berkata demikian bukan bermaksud ingin menyerahkan semena-mena tanpa tujuan. Umi Zhara telah meninggal sewaktu zahra usia sepuluh tahun. Zahra adalah anak tunggal saya, sampai saat ini saya tak ingin menikah lagi dan usia saya sudah tua. Sehingga yang saya harapkan dari pernikahan ustadz dan Zahra untuk bisa mengasuh pondok pesantren ini,” lanjut Kyai.

Seketika aku terdiam, bingung, gugup dan tentunya khawatir. Pikiranku melayang, dimana aku hanya ingin mawar. Satu mawar sudah membuatku cukup, tapi untuk dua mawar rasanya aku takut membuat salah satu dari mereka menjadi layu.

Setelah berbincangan tadi, akhirnya Kyai mengajaku naik ke atas panggung untuk menyampaikan tausiah. Bagiku, ini penyelamat kondisi. Dimana mulut dan pikiran tak lagi bekerja salah satunya pergi dari kondisi tadi.

Netraku menatap kagum dengan jama’ah yang begitu membanjiri kawasan pondok pesantren. Suara shalawat mengiringi langkahku naik ke atas panggung. Banyak orang berebut tangan ini sehingga terkadang harus extra hati-hati agar tak jatuh.

Tak lelah dan tak lengah. Bibir ini berucap syukur atas hujan ni’mat dari Rabbi. Bagaimana tidak? Aku manusia pendosa ini bisa duduk ditempat mulia. Aku yakin orang yang hadir adalah orang yang sholeh. Karena tidak mungkin hadir ke tempat yang mulia kecuali orang yang mulia.

Setelah lantunan sholawat dan membaca Ratibul Hadad, Kyai melanjutkan membacakan maulid. Pembacaan maulid tak mampu membuat mulutku bersuara, karena sungguh jika mengetahui arti dan makna dari dibacakannya maulid pasti akan meraung meneteskan air mata. Kisah suka dan duka Rasulullah yang teramat mulia.

Pembacaan maulid terasa begitu haru sampai tak terasa kini giliranku memberikan tausiah-tausiah yang tentunya bukan hanya untuk mereka melainkan untuk diriku.

Salam dan shalawat ku panjatkan tak lupa do’a pembuka. Beberapa kalam hikmah yang ku sampaikan mengenai Rasulullah. Memang tak akan pernah bisa dan tak akan ada habisnya pujian-pujian untuk Rasulullah. Waktu bergulir dengan cepat. Akhirnya semua rangkaian acara selesai tepat pukul satu malam lebih.

Lelah dan letih itu pasti. Namun semua tergantung niat. Ketika semua diniatkan karena Allah maka dengan otomatis Allah kembali yang akan menguatkan.

Pukul dua dini hari aku telah sampai di hotel. Setelah mengambil wudhu, segera ku baringkan badan ini. Sejenak untuk istirahat karena waktu shalat tahajud sebentar lagi.

Bayanganku terbang bersama lelahnya jiwa. Ada sosok bayangan yang ku lihat tak bukan dan tak lain dia Aliyah. Aku sempat sedikit terluka, mengingat setiap malam do’a yang ku rapalkan disemesta untuk pujaan hati tercinta yang kini hanya angan-angan belaka dan kenangan yang membuat derita.

“Aliyah pergilah dari semua tentangku,” rancuku dalam hati.

***

Hari kedua di Tasik banyak pelajaran yang bisa di ambil. Tentang sebuah rasa, komitmen dan perjuangan. Adakalanya perjuangan tak harus mendapatkan hasil yang dimimpikan karena tak semua keinginan baik adanya. Seperti pernah jiwa ini setiap malam menyebut nama seseorang yang terus aku mimpikan, namun kini nama itu malah jadi yang paling membuatku kesakitan.

Perasaan ini kian melebur, dengan beberapa kabar dari umi dan abi perihal pernikahan yang dipercepat menyebabkan mereka kewalahan. Awalnya aku akan kembali esok, tetapi mengingat acara pernikahan rasanya tak tega melibatkan terus orang-orang.

Jadi sebelum berangkat ke jadwalnya kedua, aku mengajak Pak Irwan untuk pergi ziarah karena jadwal kedua akan dilangsungkan nanti malam jadi waktu siang bisa ku pakai.

Pak Irwan begitu antusias saat ku ajak ziarah, bahkan sesampainya disana beliau begitu khusyuk. Akhirnya kami larut dalam rapalan do’a yang semoga di ijabah berkat barokahnya orang sholeh.

Suasana begitu syahdu, menggetarkan relung hatiku. Seutas harapan mengenai pernikahanku dengan Aisyah. Berharap pernikahan ini senantiasa membawa kepada ridho dan ampunanNya. Karena sungguh pernikahan itu adalah tali penolong daripada hinanya kemaksiatan rasa.

Mengatas namakan cinta dengan nafsu belaka, padahal semua itu hanyalah dorongan syaitan. Perlahan dan halus, tak terasa dorongan syaitan menuntun manusia ke lembah kehinanaan bahkan zina. Hingga banyak manusia berucap cinta tanpa didasari iman dan takwa. Padahal cinta itu sendiri anugrah yang teramat suci yang bisa menjadi jembatan keselamatan antara hamba dan Tuhannya.

Perumpamaan rumah tangga adalah perahu. Agama adalah dayungnya dan suami istri adalah nakhodanya. Saat sang suami sendiri menahkodai perahu maka sang perahu akan lama dan lambat sampai di pelabuhan. Tetapi ketika sang istri ikut sama-sama mendayung perharu maka perahu akan lebih cepat sampai di tujuan.

Maka carilah pasangan yang ingin sama-sama mendayung kehidupan, menahkodai perahu sama kepada tujuan.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here